Tuesday, June 28, 2011

senang-senang semu


Aku melompat kegirangan seirama alunan nada-nada yang terangkai indah dalam sebuah kotak elektronik. Kepalaku seakan tidak cukup kuasa menahan sendi-sendi yang ingin turut berdansa. Bak bermain trampolin dan awan menangkapku dengan gumpalan-gumpalannya yang selembut foam cappuccino, namun cukup kuat untuk menahanku di atasnya. Seakan logika tak lagi berkuasa dan imajinasi naik tahta menjadi raja. Rasanya aku ingin menjatuhkan tiketku untuk kembali ke alam nyata, dan melanjutkan perjalanan di nirwana. Tapi, aku hanya melompat untuk melarikan diri. Aku menarikan tarian palsu. Aku berada di atas awan yang sekuat apapun dirinya tapi tak mampu menahan beban tubuhku walau hanya untuk sedetik. Aku bersenang-senang dalam kesemuan. Sekalipun langkahku ringan terbawa angin, namun luka perih di lutut masih terasa. Banyak hal yang kulakukan untuk menyenangkan diri dengan berbagai hiburan yang tersedia hanya untuk sekelebat, sekejap mengedipkan mata, semu. Dalam arti serta mertanya aku bersenang-senang untuk menutupi ketakutan yang ada. Aku bersorak-sorak bersamaan dengan nyanyian artis hanya untuk menutupi keragu-raguan, kekalutan, dan segala rona-rona negatif yang hadir sesukanya tanpa meminta persetujuan pemilik perasaan, hingga susah payah dia berusaha mengatasinya, tapi malah jatuh dalam kegiatan bersenang-senang semu. Menghela nafas dan selesaikan. Hhhhh....

Sunday, June 26, 2011

Ulang Tahun (-ku)

Setiap insan yang berpijak di bumi ini pasti mengalaminya dan selalu, setiap tahun. Ulang tahun hampir selalu menjadi salah satu nominasi moment yang paling ditunggu dan dirayakan, menyaingi hari-hari besar keagamaan. Ulang tahun kalau diartikan secara gamblang seperti mengulang satu tahun lagi dalam hidup ini karena tahun memang selalu berulang, Desember 2010 akan berganti Januari 2011, Desember 2011 akan berganti Januari 2012, mengulang tahun dengan arti eksplisitnya sebagaimana namanya yang ga pernah berubah dalam kalender. Ulang tahun itu ibarat merenovasi rumah si kaya yang tak pernah merasa puas. Tahun ini pintu rumahnya kurang lebar dan megah, lalu merombaknya sesuai keinginan hatinya. Tahun depan sepertinya akan terasa sejuk bila ada sebuah kolam renang dan gazebo di taman belakang rumah, lalu dengan serta merta tak mau tahu menciptakan apa yang menjadi kepuasan hatinya. Tahun depan berbeda lagi, ada saja hal yang kurang, ataupun hanya untuk memperindah saja, lalu diwujudkan dengan segenap usaha. Selalu ada yang diperbaiki ataupun baru untuk menciptakan keindahan yang lebih dari sebelumnya. Ulang tahun itu merenovasi diri.

Wednesday, June 22, 2011

sebuah hal kecil yang disebut cinta

I dunno. I've just watched a Thai movie entitled 'a little thing called love'. It was great, fabulous, and romantic! haha! Shone was so gorgeous. And Nam was ugly, but very nice at the end. She was the prime character in it. Umh, I feel that we have a same plot of love story. haha! silly! Only, different ending. It remembered me to a moment in my junior high school, something about secret admirer. So stupid of monkey love! :p. Anyway, after watching it, I realized that there was a single-forgotten thing in my life, hope. In this movie, it talked about hope in love. But, in my opinion, a hope could be about everything of course. However, love made a hope, and a hope made a strong love, both made life became more wonderful, more alive. Then, suddenly, I remembered about Buzz. Umh, I chose to stop whispering his name maybe for awhile. I lost a hope about him. There were many things that I should think and do first. I couldn't divide my focus to be two, I didn't know why, but that was me. I thought that surely there would be a time when everything was beautiful at the end, there would be a time he would come, I hoped he was Buzz, but I surrendered to Him. I believed when I did my priority well, He would take me to him well, in well time, well place, well one.
Hope someday still I wanted u to know that I 'ever' wrote this about and for u.
Grrr, I dunno! ><

Tuesday, June 21, 2011

Manusia Bermata Mentimun

Baru aja gue ngebuka folder foto yang judulnya "camdig" dan menemukan beberapa foto yang dulu gue rencanain buat dibuat kisahnya di blog ini tapi belom kesampean. Berhubung engga enak sama si foto-foto itu, takut mereka ntar malem ngegrayangin mimpi gue, jadi mumpung inget dibuatin deh.

Seperti biasa paragraf pertama gue pasti ga nyambung sama judul postingannya, huff. Yahh, anggaplah itu ciri khas dari blog ini (maksa><). Betewe, sebenernya gue tergelitik geli geli lerrr lerrr gimanaaaa gituu pas lagi seru-serunya liat-liat foto di folder camdig itu. Gue nemu satu foto yang bikin kepala gue asik geleng-geleng. Apa yang kalian pikirkan tentang foto di bawah ini? Korban serangan mentimun? Atau manusia bermata mentimun?


Well, ini ade gue yang lagi asik ngerujak timun di wajah dengan inovasi cara memakan timun terbaru, lewat mata. Mungkin pertama-tama irisan timun itu diletakkan di atas mata, lalu diamkan beberapa abad sampai timun berubah menjadi air seutuhnya atau mungkin menguap, dan akhirnya sari timunnya bisa dinikmati melalui celah saluran pengeluaran air mata. Hmh, inovasi memakan timun yang agak ekstrim memang ya. Tapi, sebenernya seinget gue, ade gue bilang kalau dia nempelin timun di mata biar mata bisa terlihat lebih segar, gitu. Nah, kalau mata sudah segar, timunnya bisa dimakan (Lho?? ga ding ga ding :p). Engga tau juga dia bisa dapet wangsit itu darimana, mungkin keseringan ngegosip sama temen-temennya. Kalau gue sendiri sih, lebih milih irisan timun itu gue letakkan di atas himpunan nasi goreng, di sebelah telor ceplok setengah mateng, itu baru engga hanya bisa bikin mata segar, tapi perut juga kenyang. Masalah menyegarkan mata, gue lebih milih cuci mata aja di mall, apalagi pas lagi ada 'cuci gudang' alias diskon besar-besaran! cuci mata paling seger tuh! (dasar wanita *gelenggeleng, anggukangguk*).

Keterangan tambahan: ade gue sempet mau ngamuk pas gue jepret dia, tapi keinginannya untuk mengamuk undur ketika dia sadar kalau lagi pake masker timun gitu, muka ga boleh gerak-gerak. Kasihan. Kali ini aku yang jadi juaranyaaaaaaa (nada lagu Malaikat Juga Tahu :D)!!! Gotcha!!!

Beginilah gue dan ade gue, kita bisa berantem lewat media apa aja, dari face to face sampe lewat blog. Maklum, berantem yang sehat ya begini ini (padahal biar lebih menohok :p)

Makasih sudah singgah dan membaca :)
Gbu :)

Saturday, June 18, 2011

Sabar

Ini suratMu. Panggilan jelas untuk dilakukan. Awalnya memang aku belum cukup tingkat tinggi untuk mengerti. Aku hanya menerima mentah dan mencoba menaatinya karena aku ingin  melakukan apa yang tertulis, ya ku ingin menyenangkanMu. Ketika mulai kumencoba menjalaninya, tidak mudah, memang. Ini melawan arus aliran siapa diriku. Bagai berjalan menerpa hembusan angin ribut, menantang, dan itu melemahkan tulang. Melihat diri tak cukup kuasa untuk melawan diri, di situlah kadang aku terjatuh. Tapi, berkali-kali ku baca, ku dengar, ku rasa, Engkau membangkitkan kembali semangat yang patah. Menuntunku jalan kembali, meski tergopoh-gopoh dengan sisa rasa enggan. Sekali lagi, aku mencoba taat, mungkin ya tak sempurna dan hanya seperti seorang murid mengerjakan pe-ernya, hanya sebatas sebuah tugas, tidak serius dan tidak dengan hati. Saat sadari hal itupun, berulang kali linangan air keluar dengan mulus berkecamuk dengan rasa sesal, malu, ampun, dan kemanusiawian. Bukan sekali, tapi lebih. Mungkin cicak bosan melihatnya, detik jam pun lelah bergulir dalam hal ini, entah apakah Kau juga merasa seperti mereka? aku hanya merasa bersalah tidak menjalaninya dengan hati yang utuh seutuh-utuhnya, hingga kinipun, sampai detik kutulis ungkapan lubuk hati aku merasa terlalu bodoh untuk tak kuat melawan, diri.

Friday, June 17, 2011

Detik

tik tik tik
cepat nian kau berlalu
ketika kubutuh kau tak perlu buru-buru
tik tik tik
lambat sekali kau berpacu
manakala ragaku lelah menunggu
tik tik tik
kau ini makhluk macam apa
hingga membuatku tergesa-gesa
menyipi indahnya kesukaan
mencibir asamnya kewajiban
tik tik tik
kau ini benda atau apa
dengan sukses memutar rekaman tiap scene dalam hidup
untuk dikenang untuk disesali untuk dihina
bergulir bak seirama detak denyut nadi
meninggalkan jahanamnya tragedi
menggeletakannya begitu saja sembarangan
mengizinkan kaki menginjak, tangan mencabik
hingga tak kunjung lagi ada rasa, mati
tik tik tik
kau ini hewan atau apa
pernah kukecap manis anggur dalam bibir cawan
ingatku akan tawa pujangga
lambungkanku tinggi ke nirwana berawan
tak akui keberadaan logika
hilang akal sehat atas nama sukacita
tik tik tik
gulirmu terlalu seenak hati
mengombang-ambingkan diri
siap tak siap
hingga saatnya...
kau berhenti
tik tik tik
tik tik
tik

Inspired by the fast running time to stop 'ol' :P

Sunday, June 12, 2011

should I stop it, Beh? :'(

Day by day, another things to think and do move my attention from you. It was also because I was too bored to just watch you from your back. Moreover, I felt my Creator was so far away from me, there was something to be fixed soon in my intimacy to Him. So, I ever thought that I would stop this 'activity' and fix my connection to God first. Then, sometimes the word of 'stop' came up in my mind again and again. Should I stop it, Beh? You're so silent, boy! It was looked like idle. I was stuck in the middle. I wanted but it seemed wrong. I stopped it but I really wanted to carry on it. Argh! Well, I'll carry on it. Let Babeh shows His want about it. Yet, in the priority, I'll try to keep strong connection to Him, do my under-deadline jobs, and in the lonely night, I still whisper your name. The most important is I tell Him about the criteria. Afterwards, wait His answer faithfully.

Once more. Living in hope.

Thursday, June 9, 2011

Anak Kongkow (Part II)

Taddaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!
Kami dari "Anak Kongkow" (kayak nadanya band2 gt). We're back!
Hari ini Anak Kongkow beraksi lagi, bukan untuk membasmi kejahatan atau hama padi, tapi makaaaaaaannnnn. Seperti layaknya manusia-manusia lain, Anak Kongkowpun manusia dan butuh makan. So, malam ini kita, sekumpulan anak kos yang sedang lapar, makan malam bersama, di TKP yang berbeda dengan TKP kongkow sebelumnya. Kita makan di Foodcourt depan gereja Katolik, SALATIGA.

Personil kongkow malam ini bertambah, ada Jennifer alias Jenni, Dian PUSPITA (soalnya ada banyak nama Dian jadi harus ada yang di-emphasize), Tika, Yuyun, Zilpa, dan gue. Yang menarik-narik tangan gue untuk menorehkan lagi entri tentang anak kongkow (part II) ini adalah dimulai dari menu yang gue dan Dian pesan, nasi goreng item. Nasi goreng item? Black fried rice? Nasi goreng iteung? gue pun bertanya hal yang sama "apaan tuh nasi goreng item? nasi goreng kelamaan berjemur ampe keling? apa nasi goreng eksotis yang diimpor dari Nigeria?" dan dugaan gue barusan semuanya FATAL SALAH! Si ibu tukang nasi goreng item pun menjelaskan dengan tenang asal usul si nasi goreng item yang ternyata warna hitamnya itu berasal dari tinta cumi-cumi (bukan tinta pulpen loh ya). Gue pun penasaran, baru pertama kali denger dan tau, alhasil gue pesen satu porsi. Di kios ibunya itu juga menjual aneka nasi goreng lain yang unik-unik kayak nasi goreng merah dan nasi goreng putih. Nah lo, bingung lagi kan itu nasi goreng apa crayon? Kalo nasi goreng merah itu pake saos aja tanpa kecap, kalau putih.... nasi biasa kali ya, gue juga lupa tadi ibunya bilang apa. Anyway, setelah gue cicipi nasi goreng item yang gue pesen, ternyata ajibb juga, tapi emang porsinya lumayan banyak jadi cukup membuat eneg di suapan-suapan terakhir.

Hal lain yang membuat kegiatan kongkow ini makin aneh dan gak jelas adalah ketika kita kehabisan bahan topik obrolan, gue yang hobinya meratiin orang kalo lagi gak ada kerjaan, bersama dengan Dian yang kayaknya sehobi juga, menangkap sebuah adegan yang bikin mulut ga mau berhenti nyengir. Kita menangkap sesosok bapak yang lagi menjilat es krim malam-malam dengan tangan tertopang di atas dagangannya dengan ekspresi nikmatnya surga kayak mbak-mbak yang di iklan Magnum, padahal es krim yang bapaknya jilat itu es kenong gitu, tapi berasanya tuh kayak engga ada bedanya sama Magnum. Beralih dari bapak si penjilat es krim, ke penampakan lain yang kita liat dimana ada sekumpulan orang tua (orang yang sudah tua), jadi ada oma-oma opa-opa gitu, ada yang bule, ada yang indo, dan kita pun berdialog bodoh (lagi).

Dialog I
gue: Yan, itu opanya yang bule pasti lagi ke-ge-eran.
Dian: Lha, kenapa?
gue: mukanya merah
Dian: *diem sesaat, baru ngeh* haha, iya dia abis dicengin temen-temennya pasti.
kenyataannya: emang itu opa-opa mukanya merah, kayak kulitnya suku Indian.

Dialog II
gue: Yan, itu oma-omanya pasti abis ditonjokin
Dian: Kok bisa?
gue: matanya biru
Dian: iya bener-bener
kenyataannya: omanya itu pake eye-shadow biru tua, matching sama bajunya.

Ternyata kehabisan bahan obrolan bisa bikin otak konslet juga. Seusai perut tak lagi kosong, Anak Kongkow pun beranjak dari foodcourt kembali ke alam kos masing-masing dengan menyisakan satu adegan saat di perjalanan pulang, saat melewati sebuah SD dan TK di samping gereja Katolik, di tengah jalanan yang sepi, di bawah penerangan lampu jalan yang oranye, dipayungi langit gelap yang berawan, dan kita teriak bareng (bukan untuk melepas uneg-uneg, tapi karena parno sendiri). Alhasil kita ditegur satpam.

Tuesday, June 7, 2011

today?

no words, except congratulations!

I don't see any significant blooming
Yet, still living in hope.
God bless you.

Hair Dryer

Siang tadi gue sukses terhasut temen-temen gue yang inisialnya Zilpa Saraswati dan Damay Rahmawati untuk  melakukan hair spa. Gue sih taunya cuma creambath dan ternyata hair spa itu ya creambath (hedehhh udah ganti nama ternyata. Maklum, gak update perkembangan persalonan). Si hair spa ini pun secara otomatis merubah menu makan malam gue menjadi Indomieo Gorengnyo Lezato Jugo Ko, sejenis pasta Italia gitu (ngawur --") karena mengingat gue sudah merelakan beberapa puluh ribu untuk kegiatan yang satu itu.
Postingan kali ini bukan untuk mengupas apa itu hair dryer karena gue yakin pembaca pasti udah pada tau kan itu apa? Itu loh, pistol-pistolalan buat ngelempar maling, engga ding, tapi alat pengering rambut. Well, entri ini cuma sebagai buah dari imajinasi gue pas rambut gue lagi dikeringin pake hair dryer. Jadi, pas lagi di hair dryer-in, gue sempet bengong sambil ngayal kok hair dryer ini bisa bikin bentuk rambut jadi bagus ya? Padahal ini alat kan panas (belom pernah megang juga sih, tapi kayaknya lumayan bikin tangan lecet-lecet juga kalau dipegang pas hair dryer-nya lagi dicolokin ke steker), terus gue pikir-pikir kok sama kayak hidup ini ya (sok philosopher banget, kabuuurrrrr!!!).
According to imajinasi gue, hair dryer itu ibarat masalah di dalam hidup, dimana masalah-masalah tersebut ada di dalam hidup untuk membentuk hidup itu sendiri, termasuk pemiliknya, menjadi lebih indah. Kayak hair dryer panas yang dipakai sedemikian rupa untuk mengeringkan rambut dan membentuk rambut menjadi indah bergelombang misalnya (kalo rambut gue sih indah berombak angin ribut pake petir pula). Seperti kata orang kalau hidup itu tak selamanya mulus-mulus aja, pasti ada masalah yang datang silih berganti dan rasanya ga enak mampus! (gaol jadoel getoh) karena masalah ada hanya untuk membuat hidup yang udah berat jadi tambah berat, bikin capek otak dan perasaan, dan bikin stress sendiri, apalagi kalau masalah yang datang bagaikan gelundungan bola salju yang makin lama makin besar, rasanya mau bener-bener metong (bahasa salon --mentang-mentang judulnya hair dryer--) aja. However, seperti ada kata-kata bijak 'di balik setiap masalah pasti ada hikmahnya' dan 'setiap masalah yang ada itu engga ada yang melampaui batas kemampuan kita', pasti ada hal yang bisa kita pelajari dari masalah-masalah tersebut yang bertujuan untuk membentuk kita menjadi orang yang lebih hebatlah, kuatlah, ga gampang menyerahlah, menghargai hiduplah, pokoknya hasil akhirnya membentuk kita menjadi pribadi yang lebih indah cause life is never flat! It's beautiful, isn't it? (itu juga kalau kita mau untuk positive thinking sama masalah). Seperti hair dryer yang panas yang dapat membentuk rambut menjadi indah.

Tak bosan-bosan mengucapkan terima kasih sudah membaca :)
GBU :)

Sunday, June 5, 2011

Aturan 30 Detik

Penulis terkenal, Les Parrott berkata, "Katakan sesuatu yang membesarkan hati seseorang dalam 30 detik pertama dala sebuah percakapan." Kebiasaan baik yang dikenal dengan "aturan 30 detik" ini sangat baik diterapkan dalam membangun hubungan yang bermakna dengan banyak orang. "Aturan 30 detik" akan menguatkan banyak hubungan.

Aturan 30 detik ini bersumber dari Melvin Maxwell, ayah John Maxwell yang adalah seorang rektor. John Maxwell mengisahkan bagaimana ayahnya menghidupi aturan 30 detik, "Bertahun-tahun yang lalu beliau menjadi rektor di sebuah perguruan tinggi, dan saya sering berjalan melintasi kampus itu bersama ayah. Beliau terus-menerus berhenti berjalan untuk mengucapkan hal-hal yang membesarkan hati para mahasiswa. Saat merasa tergoda memprotesnya, saya memandang wajah para mahasiswa dan saya sadar bahwa ayah telah menanamkan kata-kata baik ke dalam diri mereka. Orang tidak akan pernah melupakan dukungan semacam itu. Kemarin saya berbincang-bincang dengan ayah lewat telepon. Beliau dengan gembira menceritakan bahwa banyak mantan mahasiswanya yang datang dari segala penjuru dunia, mereka silih berganti datang ke Florida untuk menemuinya. Beliau tidak menyangkan mereka datan dari jauh hanya untuk menemuinya, tetapi saya tidak heran. 'Aturan 30 detik' yang ayah praktekan kepada setiap orang di setiap hari, telah kembali kepadanya dengan berlipat kali besarnya."

Ketika bertemu dengan seseorang, ambillah waktu untuk berpikir sejenak guna memikirkan hal-hal yang akan membesarkan hatinya, dan sampaikan itu dalam bahasa yang sederhana. Kata-kata itu bisa berisi ungkapan terima kasih untuk sesuatu yang mereka perbuat bagi kita, keluarga, atau teman terdekat kita; bisa juga memuji penampilan mereka yang baik; atau memuji kualitas kepribadian yang mereka tunjukkan. Hal ini tidaklah terlalu sulit, hanya membutuhkan usaha untuk mendisiplin pikiran agar mau melakukan "aturan 30 detik" secara teratur di banyak kesempatan.

"Aturan 30 detik" bisa menjadi obat bagi orang yang kita temui. Mary Kay Ash berkata, "Setiap orang punya tanda tak terlihat yang tergantung di lehernya. Tulisannya: Buat saya merasa penting!" Artinya banyak orang yang merasa suasan hatinya lebih baik tatkala kita memberi perhatian dan apresiasi atau penghargaan .

"Aturan 30 detik" memberi orang extra energi. Apakah kita menyadari bahwa ketika seseorang memuji kita, level energi di dalam kita meningkat, sedangkan ketika dikritik energi itu akan menurun? Sikap dan perkataan memang mempunyai kekuatan yang hebat!

Lingkungan seperti apa yang ingin kita ciptakan? Mulailah dari diri kita sendiri supaya ketika orang merasakan dampak positif dari sikap dan perbuatan kita, mereka terinspirasi untuk berubah ke arah yang jauh lebih baik!

Orang yang bijak membuat orang lain merasa mereka berada di jantung segala sesuatu, bukan di pinggir.

(Ams. 16:24; 25:11)
Manna Sorgawi -Senin,16 Mei 2011-

Friday, June 3, 2011

It's a No! No, I don't want it

Like what I've said before that I desired to pray a name to be someone special and I feel that He starts to show His answer. Days ago, there was a headway which I had a chat with him, not a real chat actually. It felt like an ice cream that made me glad and I was enthusiastic to write it on my obsolete diary book. I felt that my Father permitted me. I was so glad. However, in the next day, there was a single case that was contrary with that day. My pal gave me a candy which there were words at the back of the candy's wrap which was "It's a No!". Suddenly, I felt like losing my energy, I was sad, I didn't know. At that moment, it looked like He didn't permit me, it was His answer, a very clear answer, but I didn't wanna believe it! I teared it sadly. No, God, it was so fast, it was less than a month and I would pray him for 2 months, please...... Since that, nothing's happen, no chat, no message, but I still pray for you till He really really and really shows me what His actual answer bout you. Even so, actually I feel that It's a No is true, but I am still hoping something yes. I have a hope cause I live in hope. Yeah, whatever You want, Dad. I know You know what I want and always give what the best. Living in hope.

Anak Kongkow

Wah belom jadi gacoan blogger udah jarang ngentri nih gue, maklum otak lagi sumpek bikin mampet. Setelah hampir 3 hari gue melarikan diri ke komik serial Leave It to Alice dimana dengan membaca komik itu gue serasa memecahkan rekor membaca komik seumur-umur hidup gue, 10 seri habis dalam waktu 2 setengah hari saja sodara-sodara, itu juga karena jatah waktu sewanya cuma 2 hari dan gue udah kena denda 800 perak karena telat sehari. Yap! Lain kali gue akan memecahkan rekor lebih baik lagi, 10 seri 2 hari lalu nanti 1 hari lalu 1 jam saja (tentu saja.. IMPOSSIBLE--"). Tapi sepertinya membaca komik itu jurus yang ampuh buat mengusir kepenatan karena memang dasarnya gue orang yang sangat suka berimajinasi, suka ngayal siang sampe tengah malam bolong, dan lucky me tokoh utama pria di komik yang gue baca kemarin itu, si Katsumi mirip samaaa piiiiiiiippp (sensor ceritanya. mau dikira priwitannya tukang parkir juga gak masalah :D), mirip begonya, konyolnya, gak jelasnya, tapi ya itu yang bikin beda. Sudah! Lupakan!

Aduh maaf ya intronya aja udah ga nyambung sama judul postingannya (kluk kluk.. nunduk-nunduk minta maaf kayak orang Jepang gitu <--- efek komik), tapi gue usahakan isi postingan ini disambung-sambungin ke judulnya deh. Well, karena gue bingung mau ngentri apa jadi malam ini gue masukin rongsokan hati gue lagi aja tentang satu moment menarik yang sudah gue lakukan hari ini. Semoga engga bosen bacanya ya, kalo bosen tivi-nya boleh dimatiin atau bakar aja blog ini bakar bakaaaaarrrrrrrrrr... depresi dadakan, maaf.

Istilah 'anak kongkow' gue yakin kalau pembaca udah tau semua kan apa artinya? Yang pasti kalau kalian anak muda udah gak usah diraguin lagi pasti tau istilah ini atau malah ini termasuk aktivitas favoritnya anak muda di tengah keruwetannya rutinitas hidup. Jadi, kongkow itu sama artinya dengan nongkrong (berati kalo lagi di kamar mandi aku suka kongkow ya? bukannnnnnnn hhhuhuhuhuhu :'(), maksudnya kumpul bareng sama temen-temen, ngobrol-ngobrol, makan-makan, makan-ngobrol, ngobrol-makan, begitulah. Ibarat kata aktivitas ini kayak asupan gizinya anak muda cuz bisa ngobatin stress, bosan, suntuk, penat, menggugah inspirasi, bikin semangat, dll. Jujur gue akui kalo gue salah satu orang yang kekurangan asupan gizi yang satu ini, makanya pas ada moment bisa kongkow bareng temen-temen rasanya kayak terbang ke langit menuju rasi bintang paliiiiiinggg cantik (korban iklan--") kayak yang barusan gue lakuin bareng temen-temen kuliah.

Sepulang nonton acara fakultas gue, ED Voice Concert yang sayangnya gue ga nonton sampe abis, gue dan segenap temen-temen yang terdiri dari Zilpeng alias Zilpa, Yuyun alias Pembayun, Devi alias tetep Devi, dan gue sendiri terdorong hasrat perut lapar langsung ngacir ke Sako, tempat kongkow kita malam itu. Kongkow kita kali ini seperti kongkow-kongkow pada umumnya. Begini kronologisnya:

1. Sampe di rumah makan sambil cekikikan sampe lupa ambil menu (menu ambil sendiri, tulis sendiri, masak sendiri ehhh ehh ehh Om-nya ding yang masakin)
2. Mesen makanan dan minuman (memakan waktu sekitar 15 menitan lebih, cuma bolak-balik menu sambil kebingungan mau pesen apa)
3. Nunggu pesanan jadi, kita ngobrol-ngobrol lagi dari topik 'kepribadian manusia' (beraaaattt euyyy.. entah, entah kenapa bisa sampe sana), jadi kita ngobrolin tipe-tipe kepribadian seseorang yang tergolong menjadi 4, yaitu Plekmatis, Sanguin, Kolerik, dan Melankolis, sampe ke topik clubbing dengan satu dialog lucu dari salah seorang temen gue yang namanya ga mau dieksisin.

temen I: aku sama temenku kapan nanti mau main ke Semarang loh. Kalo kalian mau ikut, gapapa.
gue: ikuuuuuttttt
temen II: emang mau kemana, temen I?
temen I: mau clubbing
gue: *glek. nelen ludah*
temen III: Ihh aku pengen sih, tapi gak punya baju seksi
gue: *ngakak* korban sinetron deh nih
temen I: yah, ga harus baju seksi kali, temen III. Asal kamu ga pake kaos sama celana jins doang aja.

Selang beberapa menit dari obrolan yang di beberapa dialognya bikin gue ngakak sampe sakit perut sebelum makan, pesanan datang. Lima menit setelah makan dateng, senyaaapppp, doa dulu, abis itu langsung sikaaaaattttttt sambil lanjut ngobrol lagi dengan topik yang berbeda pula. Di sela-sela obrolan kami, sesosok ehh dua sosok temen yang kami kenal ternyata makan di rumah makan yang sama juga dan langsung join sama kita. Herannya, satu temen kita yang baru join itu, yang namanya Chris, langsung ngeblend sama obrolan kita. Topik kita saat itu emang jujur gue gak suka, gak suka banget, tentang horor. Jadi, kita saling bagi pengalaman horor pribadi atau orang lain dan si Chris ini yang baru dateng malah paling semangat cerita-cerita horornya, sementara gue tersiksa karena otak gue ini secara otomatis membayangkan kejadiannya (apess..). Tapi, lagi-lagi sepotong ucapan temen gue ngebuat gue ga bisa nolak untuk ga ngakak (lagi). Gue lupa dialog temen gue apa, tapi ucapan yang ngegelitik itu kayak gini.

temen III: Terus hantunya mukanya gimana? bolong-bolong gitu?
gue: ngakak sambil langsung ngebayangin muka hantunya kayak jaringnya tukang ikan, bolong-bolong (boros dong napasnya kalo banyak bolongan di mukanya, haha)

Kegiatan anak kongkow inipun berakhir ketika perut kita semua sudah full tank. Obrolan kita sebenarnya masih lanjut selama perjalanan pulang menuju kos masing-masing, tapi bukan topik horor. Well, demikian kisah anak kongkow versi gue, emang sih agak basi, tapi ya gapapa deh asal hari ini udah nyetor entri dan mengumbar isi curahan hati (ceileeeeeehhhh..)

Arigatou wes moco (bahasa galau)! ^^
Gbu :)

Waspada Gudang Celotehan Bajakan!

Belakangan ini gue iseng buka blog gue setelah sekian lama gak terjamah. Gue iseng aja ketik keyword "Gudang Celotehan" di Googl...