Showing posts with label sok-sok ngeliput. Show all posts
Showing posts with label sok-sok ngeliput. Show all posts

Friday, February 12, 2016

Epic Family Trip to Bandung

Meski sudah lewat setahun, kenangannya masih berkesan di ingatan. Waktu itu, gue dan keluarga berkesempatan untuk menikmati libur di bulan Juli tahun 2015. Kami memilih Bandung sebagai destinasi untuk di-eksplore. Seluruh personil keluarga lengkap ikut trip kali ini. Ada Bapak, Ibu, Bagas, gue, dan Prita, juga satu orang supir.

Itinerary yang mungkin telah dibuat oleh Bapak dan Ibu sudah tertata apik di dalam kepala mereka, karena gue gak melihat ada lembaran itinerary. Jadi, gue menduga semua jadwal trip ini udah terekam di kepala ortu gue.

Perjalanan menuju Bandung dari Jakarta kala itu tidak melulu padat, jadi kami lebih cepat sampai di Bandung. Bapak langsung mengarahkan pak supir untuk ke destinasi pertama. Waduk Djuanda.



#1 Waduk Djuanda


Kami tiba di lokasi Waduk Djuanda cukup pagi, sekitar pukul 10 atau 11 gue lupa. Matahari sedang terik-teriknya bersinar. Gue udah engga peduli lagi kulit bakal tambah eksotis kalau melenggang di area waduk ini pukul segitu. Jadi, tanpa pikir panjang, gue dan keluarga langsung berjalan santai di area Waduk sambil menikmati semesta Bandung yang indah niah di kanan dan kiri kami.


Area waduk ini cukup sepi karena berdekatan dengan pemukiman warga sekitar yang mungkin tak lagi terpesona dengan keberadaannya. Mungkin juga bukan jadi destinasi favorit turis lokal yang traveling ke Bandung. Gue sih tetep suka. Justru yang sepi begini yang eksklusif dan bikin lebih puas. 

Sayang disayang, kami gak bisa masuk ke Waduk, karena menurut satpamnya sih sedang ada perbaikan gitu. Akhirnya, kami cukup berpuas diri dengan dimanjakan alam di sekitar waduk yang engga bikin nyesel. Puas berfoto di sekitaran Waduk Djuanda, kami meneruskan perjalanan untuk mencari "tempat ngadem" untuk menikmati bekal makan siang yang sudah disiapkan Ibu dari rumah. Biar travelling ini tetap fun dan terkontrol pengeluarannya. Hehehe.

By the way, untuk masuk Waduk Djuanda seharusnya tidak dikenakan biaya, menurut Bapak, karena tidak tercantum biaya masuk juga di sekitar pintu masuk waduk. Tapi, berhubung sedang musim liburan dan pak satpam di sana seperti melihat "peluang", maka ia minta Rp. 50.000 sebagai biaya masuk untuk kami semua, beserta mobil. Baiklah.




Tidak begitu jauh dari Waduk Djuanda, kami menemukan rerumputan luas berdekatan dengan danau. That looked suitable for our lunch place. Di bawah rindang pohon besar, kami menggelar tiker yang kami bawa, you know, "tiker" is a must for family trip, isn't it? Makanan dan minuman juga digelar. Ibu dengan telatennya menuangkan nasi beserta lauk, juga meracik kopi dan minuman lainnya untuk kami. Nah, that was a good idea to always bring your coffee sachets and a bottle of hot water wherever you travel to, I guess. That would perfect your moment.








Pemandangan di depan kami, juga semilir angin menjadi teman makan siang kami yang apik. Gue tidur-tiduran terlentang sebentar. Nikmatnya wajah diterpa sinar matahari yang menembus celah-celah dedaunan. Menatap ke kehijauan dedaunan di atas gue, gue bersyukur mudah sekali menikmati semesta.

Selesai dengan makan siang, kami melanjutkan destinasi. Berhubung kami tiba di Bandung lebih awal dari jadwal di dalam kepala Bapak. Jadi, kami masih punya cukup banyak waktu dan rencana diubah, dari yang harusnya langsung ke hotel menjadi meluncur langsung ke Ciwidey, Kawah Putih! YASSSS!!!!

Cukup jauh perjalanan yang ditempuh untuk menuju Kawah Putih. But, I really enjoyed it! Because travelling isn't all about arriving at the destinations, but being on the way to the destinations. So, sejak saat itu gue menyukai kata "on the way." Hahaha.

Ah! Bandung, I love you! Udara menuju Ciwidey dingin dan sejuk. Mata terus dimanjakan dengan hijaunya tanaman liar dan milik warga, kebun stroberi, pepinusan, menyambut kami, "WILUJENG SUMPING!"




#2 Kawah Putih


Here we go. Kawah Putih. Kami tiba cukup sore sekitar pukul 4, tapi lokasi wisata Kawah Putih belum ditutup. Malam sedikit, Kawah Putih ditutup untuk siapapun. Tak sabar, tak sabar!

Dari pintu masuk tempat membayar tiket, kami harus melalui jalanan berkelak-kelok terlebih dahulu untuk tiba di pelataran parkir Kawah Putih. Ramai, iya tempat parkirnya ramai. Berbeda dengan Waduk Djuanda sebelumnya.

Gue langsung turun dari mobil, cengar-cengir sendiri, muka otomatis sumringah kalau disuguhin tempat macem begini. Jaket sudah membalut badan gue dengan hangatnya, tak lupa bawa masker jaga-jaga kalau gak kuat dengan bau belerangnya.


Belum tiba di kawah, tukang foto keliling sudah menawari kami foto di tulisan besar Kawah Putih. Maka, berfotolah dulu kami. Lalu, langsung kami menuruni tangga kayu menuju kawah. Duh, ramai.

OMG! OMG! OMG! Is this Indonesia? This is amazingly aweeeeeesome!!!!!!! Pekik gue dalam hati. Saking takjubnya mungkin gue engga sadar mulut gue nganga dan aroma belerang dengan leluasanya masuk ke tubuh gue. Gue sungguh dibuat terpesona dan terkagum-kagum dengan keindahan alam Kawah Putih. Seperti di film-film, seperti di dunia peri, even like I'm in the heaven!

Pasir putih terhampar luas, air kawah yang terlihat berwarna kehijauan muda, pepohonan hanya berranting tanpa daun, bebatuan besar hitam nan kokoh berdiri di sekitaran kawah seperti seorang raja yang siaga dengan kedua lengan kekarnya menjaga permaisuri kecilnya yang cantik jelita, Kawah Putih. Perfect blend! Beautifully artistic colors blend! How could GOD have a good taste of art when HE created it? How great Thou Art!


My words aren't enough to describe how wonderful Kawah Putih is, no words could describe it though. Tuhan Maha Keren! AlamNya indah banget banget banget!!!

Tak lupa kami berfoto bersama di Kawah Putih, dan juga gue berfoto sendiri dan motoin alamnya. The best camera is my eyes anyway. Thank GOD, then, thank You so much.

Sebelum hari bertambah gelap, kami merelakan permaisuri cantik kembali ke pelukan sang raja dan kami kembali menelusuri Bandung menuju hotel. Selamat datang, kemacetan.




Hari berikutnya. Selamat pagi, Bandung. Kami siap menuju Tangkuban Perahu. WOOHOO!!!

Jalanan yang menanjak dan berkelak-kelok harus kami lalui sebelum sampai di tujuan. AC mobil kami matikan, lebih seru dan sejuk pakai AC alam. Gak pernah bosen gue menemui pepohonan dan sawah selama di jalan, karena pemandangan yang kayak begini yang dikangenin dari bosennya rutinitas di Jakarta, kan. Dan, semesta yang kayak gini yang bikin lupa semua beban di Jakarta, termasuk kerjaan, kemacetan, polusi, dan keriweuhan lainnya.




#3 Tangkuban Perahu




Setibanya di lokasi wisata Tangkuban Perahu, kami segera meng-eskplore. Berfoto dan berjalan. Ada tracking buatan untuk menuju lebih dekat melihat ke kawah dan bentuk gunung Tangkuban Perahu. Kalo tracking, tetep seruan ngedaki gunung beneran, lebih challenging. Hehehe.


Ramai waktu itu. Tapi, kami masih dapat ruang yang leluasa untuk berjalan dan berfoto. Pegunungan yang kokoh, aroma makanan dan minuman khas di pinggiran jalan menambah khas wisata Tangkuban Perahu. Memandang jauh ke bebatuan besar mengingatkan betapa kecilnya manusia. Kecil banget manusia di hadapan gunung, apalagi di hadapan Tuhan Pencipta semesta raya ini. Kadang kita harus ke gunung untuk mengecilkan segala ego, kesombongan, kesotoyan, dan kebesaran-kebesaran palsu buatan manusia.


Tak hanya turis lokal, banyak turis mancanegara juga turut menikmati keindahan Tangkuban Perahu. Kami bertemu dengan sepasang turis muda dari Jerman. Seperti biasa, Bapak yang begitu bangganya dengan negaranya dengan sukarela dan modal bahasa Inggris alakadarnya menceritakan legenda Tangkuban Perahu yang terkenal itu. Dan, pasangan turis ini mendengarkan dengan seksama sambil mengangguk-anggukkan kepala, entah benaran mengerti atau engga. Hahaha. Lalu, kami berfoto bersama untuk merayakan pertemanan.

Lelah berjalan menyusuri area setapak di sekitaran Tangkuban Perahu, kami rehat di sebuah warung kecil di pinggiran jalan, masih di area Tangkuban Perahu. Menikmati minuman dan cemilan hangat khas tempat dingin, bandrek dan ubi dan pisang goreng. Mak Nyessss!




Sisa hari kami di Bandung dihabiskan untuk wisata belanja dan beli oleh-oleh di Ciampelas. 

Dari semua destinasi wisata di Bandung, favorit gue adalah Kawah Putih, karena it felt like I was brought to a fairy world!^^ However, I loved all those tourism objects we visited. That was an epic family trip! Thank God for that!

Kami tutup family trip ini dengan ucapan syukur untuk kesempatan traveling bareng keluarga yang bikin lupa sama Jakarta ini. Katanya, liburan yang sukses itu liburan yang berhasil bikin kita lupa sama kerjaan. And, we, especially I did it! 



Selamat berkunjung ke Bandung! ^^
GOD bless you.

Thursday, May 1, 2014

Jakarta Under 3 Hours

Badan masih sehat, pikiran juga. Jadi, tidak ada salahnya jika esok hari libur, lalu malam sebelum esok diisi dengan travelling atau bahasa gaulnya “ngebolang”. Udah lama ga ngebolang, rasanya otot-otot kaku (padahal karena jarang olah raga :p). Tapi, tetap gue jabanin yang namanya ngebolang, apalagi ngebolang di tengah rutinitas harian yang… mengempetkan (halah bahasa apa itu -,-“).

Oke, ngebolang gue kali ini ga perlu jauh-jauh, karena memang waktunya tidak memadai, selain karena kocek juga gak merestui. Jadi, destinasi gue kali ini adalah Jakarta. Bosen ya sama Jakarta? Kalau dari orok sampe gede di Jakarta emang wajar sih kalau bosen, secara yang disuguhi ibukota ini cuma 3 hal: macet, polusi, dan paket macet plus polusi. Ya sudah lah ya, disyukuri aja. Berhubung gue bukan anak darah Jakarta, jadi masih banyak tempat di kota ini yang belum gue sambangi, salah duanya adalah Plaza Festival Kuningan dan Taman Suropati, yang mana menjadi target ngebolang gue.

Kali ini, gue bukan single bolang-er, tapi double alias gue pergi bareng sohib kerja, panggil aja dia miss Ina. Miss Ina ini adalah peta gue, karena kalau gak ngintilin dia, gue udah terdampar nunggu taksi karena aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulaaaaaaaang yeah~ (oke, Rumor, jangan lama-lama nyanyi di blog gue ntar pada galau).

Sepulang kerja, setelah disirami dengan santapan rohani, kita melenggang menaiki bus kota. Puji Tuhan, kami dapet duduk dan otomatis terlelap dibuai semilir angin berdebu dari jendela bus yang terbuka. Lumayan, mengistirahatkan mata. Setelah bus kota, kami berdesak-desakan di bus primadona Jakarta, bus apalagi kalau bukan BUSWAY.

Karena jam pulang kerja, alhasil kami harus rela dempet-dempetan dengan penumpang lain. Ilmu keseimbangan tubuh sangat berguna dalam kondisi ini. Gimana bisa dapet ilmu itu? Sering-sering aja naik busway di sore hari.

Oh iya, salah satu perlengkapan perang kalau kalian memilih naik busway adalah masker. Jangan lupa, selalu sedia dan pakai masker, karena lebih baik menghirup bau sendiri daripada bau orang-orang di busway yang beraneka rupa, ya kan?


Busway menibakan kami di destinasi pertama, Plaza Festival, Kuningan. Kata miss Ina, plaza ini udah berubah banget dari yang ia kunjungi dulu, sekarang bentuknya mall. Tapi, untung berubahnya jadi mall, bukan kebun binatang ya. Nah, biar gak sia-sia hanya ketemu mall, akhirnya kami melancong ke toko buku bekas. Toko buku bekas adalah toko yang jarang kami temui di daerah tempat kerja, jadi wajib kami kunjungi.

Pemilik toko buku bekas ini pasti orangnya rapi, karena buku-buku di toko ini tersusun rapi semua sampe gak tega mau ngambil bukunya. Takutnya pas gue ngambil satu buku di antara tumpukan buku lainnya, buku-buku lain langsung jatuh berantakan, terus gue disuruh rapihin lagi satu-satu. Kan males kan? Ya udah gue gak jadi ngambil buku, apalagi beli. Haha! Alasan yang bagus, bukan? (BUKAN! >.<)

Puas bernostalgia dengan buku-buku lama, kami melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya, Taman Suropati. Kami naik bus kota lagi.

Di dalam suatu perjalanan, sudah tidak aneh lagi kalau kita bisa bertemu siapa saja. Kalimat bijak berkata, “people come for a reason” bisa jadi mereka datang untuk menjadi teman, pengalaman, pelajaran, atau… cobaan.

Kayak kenek bus satu ini. Bersyukur kami dipertemukan dengan kenek bus ini karena dia memberi petunjuk jalan dan kendaraan mana yang harus kami tumpangi untuk sampai ke destinasi kedua, tapi gak pake ngejek juga keleeees. Masa doi cengar-cengir pas tau gue ngidam Suropati gegara belum pernah ke sana. Tau deh yang kenek, udah kemana-mana. Sabar… sabar… lalu, gue terpikir menjadi kenek biar bisa travelling kemana-mana (PLAK! -.-“).

Untuk sampai ke taman Suropati, kami perlu jalan beberapa meter dulu. Itung-itung jalan sehat. Setibanya kami di taman, alunan asik saxophone menyambut kedatangan kami. Wah! Bentuk taman ini memang serupa dengan alun-alun di beberapa kota di Jawa Tengah sih. Letaknya di tengah kota, sehingga menjadi spot favorit untuk nongkrong.


Agak kaget juga, di tengah hiruk pikuk Jakarta dengan gedung-gedungnya yang berusaha menyentuh langit dan merobek lapisan ozon, masih ada pepohonan rindang dan besar di taman ini. Bagai mata air di gurun sahara atau es teh pas kepedesan di bawah panas terik matahari.

Taman ini cukup luas. Banyak bangku dan ada kolam, juga sarang burung daranya. Entah kenapa ada burung dara di sana, mungkin biar jadi tambah rame aja, tapi semoga gak ditambahi rusa ya, bisa-bisa jadi kebun binatang nih taman.

Oh iya, kenapa ada saxophone? Karena memang ada orang yang memainkan saxophone di sana (Yaiyalaaaaah). Asiknya dan bedanya taman ini dengan alun-alun yang gue temui di Jawa Tengah adalah orang-orang yang nongkrong di taman ini kreatif-kreatif. Ada yang jogging sendirian, ada yang duduk sambil mainan hape sendirian, tentunya ada yang pacaran, ada juga komunitas-komunitas yang sedang beraktivitas di taman ini seperti komunitas dance, musisi, bahkan ada komunitas rohani yang lagi ibadah di tengah keramaian taman. Nah, semua perbedaan aktivitas dan komunitas tersebut tetap berjalan masing-masing dengan harmonis. Indah loh! Engga ada yang mengganggu satu sama lain, semua boleh beraktivitas positif masing-masing.

Bedanya lagi, taman ini bersih dari pedagang kaki lima. Tapi, kalian tetap bisa makan nasi goreng. Loh kok bisa? Bisa dong, karena  ada beberapa orang yang menjajakan menu makanan ke para pengunjung taman ini. Lalu, jika kita pesen, pesanan kita akan dibawakan ke taman ini. Gue belom liat juga sih mereka itu masak makanannya dimana, pastinya di tempat lain di luar taman.

Nah, bagi pelancong seperti kami, asiknya adalah sembari kami duduk santai dan ngobrol, telinga kami dimanjakan dengan alunan saxophone gratis dari sekelompok anak muda. Pasti saat pagi atau sore taman ini jadi lebih asik lagi. Kalau malam, gelap soalnya.

Mengingat perjalanan pulang kami masih jauh, jadi kami gak berlama-lama di taman ini. Setidaknya, rasa penasaran sudah terpuaskan. Kami pun menunggu bus kota yang mengantar kami pulang.

Jakarta oh Jakarta, memang satu-satunya ibu yang engga pernah tidur seharian. Sudah hampir tengah malam, masih banyak orang seperti kami, menunggu bus kota yang tak kunjung tiba di halte daerah Gambir, Merdeka Timur. Bosan dengan menunggu dan menahan lapar, akhirnya kami foto selfie, hahaha habis mau ngapain lagi.

Untunglah masih ada bus dan lebih untungnya lagi masih ada bangku kosong. Segera kami ambil posisi untuk meletakkan pantat dan kepala, lalu terlelap. Beneran deh, engga bisa nolak tidur kalau naik bus kota, kecuali kalo pas gak kedapetan tempat duduk.

Rasanya bahagia tiba di daerah kekuasaan kami (area kost-an) dengan sehat selamat. Buru-buru kami mencari apapun yang bisa kami makan karena lapar yang tak tertahankan. Sepiring nasi goreng ikan asin plus telur ceplok setengah mateng yang bersanding dengan segelas teh tawar hangat menjadi penutup sederhana yang memuaskan perut gue.


Terimakasih Tuhan untuk pengalaman melancong beberapa area di ibukota, terimakasih miss Ina sudah menjadi rekan ngebolang yang handal, saya senang bekerja sama dengan Anda. Hahaha. Next, ngebolang kemana lagi ya? Hmm… J

Saturday, August 18, 2012

Malam Takbiran di Salatiga, Hebring!

Kota orang, Salatiga, sekitar pukul 8 malam, di sana lah gue gak mau ketinggalan melewati malam takbiran bersama dengan teman-teman sepelayanan. Ini kali kesekian gue ber-malam takbiran di kota orang. Agak sedih sih karena malem takbiran kali ini gak kecium bau opor ayam bikinan nyokap yang sedap dan ketupat yang padet. Tapi, coba kasih tepuk tangan yang meriah dulu buat Tuhan karena Dia udah ngebuktiin keadilanNya. Gue tetap diberikan sukacita untuk menikmati malam takbiran yang menyenangkan dan berbeda di Salatiga.

Malam ini, gema takbir mengumandang dimana-mana, letupan-letupan kembang api gak berhenti pecah di udara, perasaan gue pun tiba di suatu moment yang sama tiap tahunnya hanya saja tempat dan kondisinya yang berbeda. Dan terasa sekali sukacita menyambut hari raya Idul Fitri yang tinggal menunggu jam, hari yang sudah dinanti-nanti untuk saudara-saudara yang beragama Islam. Selamat malem takbiran yaaa! :D

Waspada Gudang Celotehan Bajakan!

Belakangan ini gue iseng buka blog gue setelah sekian lama gak terjamah. Gue iseng aja ketik keyword "Gudang Celotehan" di Googl...