Showing posts with label thoughts. Show all posts
Showing posts with label thoughts. Show all posts

Saturday, September 19, 2015

Saat Gue Ngomongin Cinta, Bareng Fedi Nuril #2

Di penghujung September ini, gue lagi pengen ngomongin cinta. Bukan apa-apa sih, lagi dapet ilham aja pas nongkrong anteng di depan TV di weekend yang aduhai ini. Seperti biasa, postingan ini hanya ungkapan opini tentang cinta dari kacamata seorang awam. Iya, gue. Jadi, feel free, kalau lo punya pendapat yang berbeda. Siapa tau kita malah bisa saling melengkapi. Siapa tau kita jodoh *ehh….

Jadi, tadi pagi agak siang ya begitulah, saat kebahagiaan menjelma menjadi sebuah moment dimana gue bangun tidur tanpa dibangunin alarm, remot TV yang teronggok kesepian di atas buffet pun gue temenin. Gue duduk anteng di depan TV. Tanpa pilah-pilih lagi, gue langsung nonton program TV di NET. Waktu itu program yang lagi main adalah Entertainment News. Seorang Fedi Nuril sedang diwawancarai soal “jodoh.” Nah, gimana engga langsung konsentrasi gue nontonnya kalau disuguhin Fedi Nuril yang lagi bicara soal “cinta” gini. Engga lama sih dia bicara, tapi pendapat atau prinsip yang dia sampaikan itu cukup berkesan buat gue.


Kira-kira begini adegannya.

Mungkin Fedi ditanya begini.
Fedi, kriteria calon isterinya seperti apa?

Fedi jawab kurang lebih seperti ini.
Hmm… yang mau belajar, karena orang kalau merasa udah bisa dan sombong itu udah parah banget. Yang penting dia mau terus belajar. Yang satu tujuan. Itu penting banget, jadi jangan karena kepepet usia atau ngincer harta atau apanya, tapi yang paling penting punya satu tujuan yang sama. Kalau cantik sih… kalau udah cinta sih keliatan cantik-cantik aja ya, pengalaman gue sebelum-sebelumnya gitu….

Mungkin Fedi ditanya lagi begini.
Oke deh, Fedi, usianya kan udah 33 nih, engga kepengen merit?

Fedi jawab kurang lebih seperti ini.
Hmm… Dari beberapa buku yang gue baca ya, menikah jangan buru-buru, jangan karena umur. Toh banyak yang nikah cepet, cerai juga, malah ada yang ngasih nasehat lagi “jangan buru-buru deh, Fed.” Hahaha. Yang penting sekarang gue terus menjadi lebih baik, terus belajar, biar nanti gue juga dapet pasangan yang lebih baik. Jodoh itu kan rahasia ya. Ada yang ketemu cepet, ada yang lama. Jadi yaa, gue yakin sih menikah yang penting punya satu tujuan yang sama lah, bukan karena usia, terus buru-buru nikah. Bokap gue juga nikah di usia 42 tahun, tapi kehidupan rumah tangganya baik, nyokap gue bahagia, meskipun gue yakin ada cekcok juga tapi engga pernah diliatin ke anak-anaknya. Jadi, jangan buru-buru.

Lalu, wawancara selesai. Padahal gue masih mau mandangin Fedi Nuril, ah sudahlah. Jadi, begitu kira-kira reka tayangan yang gue tonton tadi. Ada beberapa hal soal cinta yang gue mau soroti berkaitan dengan opini Fedi Nuril.


1. Membuka dan memperluas sudut pandang lewat Tuhan dan buku.
Pertama-tama, gue mau kasih jejempol dulu buat Bang Fedi karena gue setuju dengan caranya memandang soal “jodoh” atau bisa dibilang prinsipnya soal jodoh. Gue terpukau waktu dia bilang ada beberapa buku termasuk ilmu dari agamanya dan buku-buku lain yang ia baca tentang pernikahan.


Memang ada baiknya kita memperluas wawasan dan sudut pandang akan sesuatu, apalagi sesuatu itu sangat penting dan sakral seperti pernikahan. Sisa hidup akan kita habiskan di dalam sebuah maligai pernikahan. Iya, sisa hidup. Tidak mungkin kan kita mau sisa hidup kita menjadi sia-sia? Oleh karena itu, gue setuju dengan Bang Fedi untuk mengenal terlebih dahulu tentang apakah itu pernikahan, apa tujuan kita menikah, dengan siapa kita akan menikah, seperti apa seseorang yang akan menjadi pasangan hidup kita, dan lain-lain. 

Pernikahan bukan sesuatu yang main-main--yang bermodalkan niat, umur yang “sudah waktunya”, dan materi, lalu menikahlah. Gue rasa, ada hal lain yang lebih mendalam tentang pernikahan yang kalau kita sudah mengenalnya akan membuat kehidupan pernikahan menjadi lebih baik daripada kita belum mengenalnya. 


Bagaimana cara mengenal lebih dalam soal pernikahan? Beberapa caranya adalah dengan terus mendekatkan diri pada Tuhan Sang Pencipta segala sesuatu, mencari tahu isi hatiNya tentang kita dan pernikahan, mencari tahu tujuanNya bagi kita di dalam sebuah pernikahan; dan membaca buku-buku bagus tentang marriage life atau before marriage life, dari penulis-penulis yang bagus juga pastinya, sehingga lebih banyak lagi sisi tentang pernikahan yang perlu kita kenal atau ketahui sebelum melangkah ke dalamnya. Bukan kah lebih baik mencegah daripada mengobati?


2. Satu tujuan.
Ini juga gue setuju banget. Satu tujuan. Dua kereta berbeda jurusan tidak akan pernah berjalan di jalur yang sama dalam waktu yang sama. Aduh, oke, jelek banget analogi gue. Yang jelas, tujuan itu penting. Memang sih akan seru nyasar bareng dan temukan kejutan-kejutan selama nyasar. Tapi, mau sampai kapan? Kalau kita sudah punya tujuan yang jelas, nyasar pun engga jadi masalah, karena kita bisa buka peta lagi untuk mengarahkan perjalanan ke tujuan yang tepat, kan?


Pernikahan bukan acara perayaan ulang tahun yang selesai dalam semalam, it takes the rest of your life. Perlu ada 2 jiwa dengan 1 tujuan yang sama untuk mengemudikan perahu pernikahan. Sok tau banget ya gue kayak pernah nikah aja. Ada banyak pasangan yang menikah tanpa mengenal tujuan pernikahan toh pernikahannya baik-baik aja tuh. Puji Tuhan, kalau begitu. Tuhan pasti memberkati pernikahan anak-anak yang dikasihiNya. Tapi, gue yakin sih 2 insan berbeda pasti menyelaraskan tujuannya sebelum memasuki pernikahan dan sama-sama mengerjakan tujuan tersebut. 

Tujuan seperti apa sih yang dimaksud? Gue juga masih terus menanyakannya. Bisa jadi, pasangan hidup lo adalah orang yang Tuhan siapkan dan sediakan untuk mengerjakan misi tertentu di bidang tertentu. Mana tau. Bisa jadi.


3. Jangan buru-buru.
Kita perlu mengingat pernikahan sebagai sesuatu yang sakral dan penting, bukan sebuah trend. Apalagi suatu “paksaan” usia dan komentar para makhluk penuh perhatian di sekitar kita. Yang akan menjalankan pernikahan adalah kita dan pasangan, bukan orang lain. Jadi, bener tuh, nasehatnya temennya Fedi Nuril, “jangan buru-buru deh, Fed.”


Jodoh pun rahasia, bener kata Fedi Nuril. Ada yang ketemunya cepet, ada yang lama. Waktu yang ada saat ini, gimana kalau digunakan untuk terus memperbaiki diri, terus belajar, terus mengembangkan diri menjadi lebih baik, terus berkawan dengan baik? Gue juga percaya, Tuhan itu maha ditel. Kalau saat ini kelihatannya senyap-senyap saja bukan berarti Tuhan tidak memedulikan atau melupakan bagian percintaan di hidup kita. Akan indah pada waktunya. God don’t miss a thing. Tuhan tidak melewatkan sekecil apapun urusan hidup kita, bahkan jumlah helai rambut kita pun Ia tahu.


4. Yang mau belajar dan yang nyambung.
Kriteria Fedi Nuril satu ini boleh juga ditambah ke kriteria kita, Sob. Seseorang yang mau belajar itu selalu melihat hal baru untuk dipelajari, apapun itu. Seru kayaknya kalau belajar bareng sampai ajal memisahkan nanti, hahaha. Engga sampai di situ aja, tapi juga membagikan apa yang dipelajari ke orang lain, paling tidak ke pasangannya.


Satu lagi, gue pernah baca kalimat yang intinya seperti ini, “fisik yang bagus bisa menua, tapi pasangan yang nyaman dan nyambung kalo diajak ngobrol itu lebih dari itu. Karena kita akan hidup menua bersama dengan pasangan, kalau sama fisik bisa bosen, tapi kalau obrolan tetep nyambung dan nyaman sampai kapanpun engga akan bosen.” Seperti itu.


Begitulah omongan cinta gue kali ini. Terinspirasi secara tidak sengaja (tapi engga ada yang kebetulan, hehe) dari Fedi Nuril. Akan terinspirasi dari siapa lagi ya? Hm, yang pasti siapa mengetuk, pintu akan dibukakan. Siapa mencari akan menemukan. Jadi, kalau bener-bener kepo soal cinta dan pernikahan, kepoin Tuhan terus yang Empunya segala sesuatu ya. Dia bisa ajarkan lewat apapun. Bersyukur untuk Tuhan yang luar biasa. 

Semoga bermanfaat! Selamat menikmati proses Tuhan di bagian cinta. *ajiyeeeee J 

Saturday, August 15, 2015

Journalism is My First Love, Education is the True Love.

Jurnalistik adalah cinta pertama gue. Sebelum mengenalnya, seperti kebanyakan anak kecil suka membuat deretan cita-cita yang yaa lo tau sendiri gimana akhirnya, gue pun demikian dulu. Jurnalis masuk di dalam deretan cita-cita gue. Dulu, gue masih belum mengenal kata jurnalistik, yang gue tahu adalah menjadi penulis buku atau kerja (menulis) di majalah. Seiring melangkahnya waktu, cita-cita gue itu ternyata bagian di dalam bidang jurnalistik dan gue semakin jatuh cinta padanya. Lebaynya kayak gini, gue jatuh cinta padanya bahkan sebelum gue mengenalnya. Saik kan? Hahaha.



Gue semakin jatuh cinta pada jurnalistik semenjak Tuhan mempertemukan gue dengan banyak kesempatan untuk berkecimpung di dalamnya, meski belum terlalu dalam. Saat SMA dan kuliah, gue mulai sangat menikmati menulis yang diburu-buru, dikejar-kejar deadline, dan di bawah tekanan untuk segera terbit. Intinya sama, gue menikmati bekerja di bawah tekanan. You know why? Karena engga tau kenapa, para ide menawan itu selalu datang mepet deadline. Pada jurnalistik, semakin gue mengenalnya, semakin jatuh hati padanya. Ibarat cinta pertama. The first time you are wondering "is this love? whatever! I love you." and all you wanna do is being around your first love for it's the first time you know that you're falling in love.

However, life. It goes on. And, God. You can't predict what God have for you. Sama seperti manusia pada umumnya, semakin bertambah usia, gue bertemu dengan banyak hal baru, orang-orang baru, juga pengalaman-pengalaman baru. In this case, imagine that you just break up with your first love, but because that's the first love, who can win to forget it? Lalu, gue mulai mengenal bidang lain yang ternyata tidak kalah menarik dengan jurnalistik, meskipun jurnalistik masih terbayang dan jejaknya berbekas di benak gue. Saiiiik. Bidang itu adalah pendidikan.


Untuk bidang yang satu ini, gue engga pernah memasukkannya di deretan cita-cita ababil gue. Tapi, kalau lo tau istilah "cinta karena terbiasa", I think that's what's happening between education and I. Secara gue terjerembab di fakultas Pendidikan dimana gue lebih menyukai pelajaran sastra-nya, gue mulai sedikit demi sedikit mengenal dunia pendidikan. Segala teori pendidikan yang sebagian besar gue lupa (tanpa sengaja), gue lahap di bangku kuliah. Sebagian tercerna dengan baik, sebagian lagi tersendat, karena saat itu gue emang kurang minat berkutat di dalamnya. Namun, apa yang sudah dimulai harus diselesaikan, bukan? It's like you find a cute foe and unexpectedly fall in love with him. Gue pun mulai menyukainya.

Perjalanan cinta gue pada pendidikan tidak berhenti pada "pencekokan" materi-materi kuliah, tapi terlebih pada sebuah fakta yang terdengar seperti jerit tangis di telinga gue. Fakta dimana pendidikan di Indonesia ini masih memprihatinkan. Gue engga menyoroti bagian dalamnya Pendidikan, bahkan bagian permukaan pendidikan Indonesia masih memprihatinkan. Kualitas dan fasilitas pendidikan yang belum merata di berbagai pelosok Indonesia, kemiskinan yang berdampak pada banyak anak terpaksa tidak bisa sekolah bahkan beberapa jika ditanya lebih memilih "bekerja" ketimbang sekolah, belum lagi kemerosotan moral anak-anak sekolah di beberapa tempat, dan lain-lain. That's knocking my heart, that's calling me. Lalu, melihat semua itu, apa gue harus pura-pura gak lihat? mendengar semua itu, apa gue harus pura-pura engga denger? I found that education is my vision, my true love. Does it sound bullsh*t? Everyone may judge, but I don't care, I love it, my true love. Are you wondering what I have done for it? Well, I say, not yet, hmm... or in processing.

Gue yang saat itu seperti bayi yang baru terlahir di dunia bekerja pun masih bingung menentukan langkah. Dan, dengan berani (ukuran gue), memilih bekerja di dunia pendidikan bermodal cita-cita di bangku kuliah untuk memberi sumbangsih pada dunia pendidikan Indonesia, tapi entah apa rencana Tuhan, it isn't that easy to be a teacher and I think I wanna give up. Meskipun demikian, setiap kesempatan yang gue temui gue yakini bukanlah kebetulan, paling tidak menjadi pembelajaran.


Sempat gue berpikir mimpi gue di dunia pendidikan terlalu tinggi hingga gue menyederhanakannya dengan mendidik setiap anak yang Tuhan percayakan ke gue dengan baik dan mengenalkan mereka pada Tuhan sejak dini. Dan, ternyata itu pun tidak sesederhana kelihatannya. Namun, I keep setting it 5 cm afar from my forehead, so I keep trying my best with God's help to do it. Sampai sekarang, gue masih berharap dan berdoa bisa menuntaskan, apabila terlalu mustahil, ikut ambil bagian untuk mendidik anak-anak yang belum bersekolah karena tidak ada pilihan. May it doesn't sound great, but do come true. That's why I admit that education is my true love. That involves heart, prayers, time, passion, and most of all is God, to love and work for it. Because love is a verb, a continuous verb, education is my true love. 

I put my vision on God's hand for I'm just a tool and He is The Creator. God who is activating me for the things He wants me to do. May it doesn't sound great, but do come true.

Saturday, August 8, 2015

"Gue emang gitu orangnya" Vs. "Gue mau bertumbuh lebih baik"

I used to think that being myself is all I need. But, I've just realized that being myself and being ignorant to grow up is nearly the same.

Dulu gue pernah mati-matian menanamkan dalam kepala, gue ya gue, dia ya dia, do not dare to compare! Memang setiap orang memiliki keunikkan masing-masing dan baik untuk dipertahankan. Tapi, sering kali anggapan "menjadi diri sendiri" itu digunakan dengan keliru. Pula, ternyata anggapan "menjadi orang lain" dan "pertumbuhan menjadi dewasa" nyaris sama dan sulit dibedakan. Namun, jika kita sedikit saja lebih peka dan berpikir positif, dengan sangat mudah mereka dapat dibedakan.


Gue pernah bertemu seseorang, yang gue percaya lagi-lagi setiap pertemuan dengan orang baru pun bukan hal kebetulan, dia berusia lebih tua dari gue dan memiliki lebih banyak pengalaman di bidang yang kami geluti. Secara kami adalah dua insan yang berbeda, cara kami menghadapi sesuatu pun berbeda, tapi sudah banyak "makan asam garam" pun menjadi faktor penting dan berpengaruh di dalam menghadapi segala sesuatu.

Beberapa kali kami sering saling bercerita dan berpendapat tentang banyak hal. Gue pernah sangat ngotot kalo apa yang gue udah lakukan adalah paling benar, that's me and the way I deal with a thing. Namun, di matanya cara gue salah, lalu dia sampaikan pendapat juga sarannya. Gue bersikukuh dengan pendapat gue sendiri, dan menolak untuk "mejadi orang lain" dengan mengikuti sarannya yang engga "gue banget." However, that's not the end.

Gue mikirin lagi saran sekaligus kritik darinya dan tiba pada suatu pemahaman bahwa gue sudah terlalu tinggi membangun tembok hingga menutupi diri dari semua hal yang mungkin lebih baik efeknya buat diri gue sendiri. Saran dan kritikan dari orang lain yang lebih berpengalaman bukanlah pemaksaan untuk menjadi orang lain. Mereka telah beberapa langkah di depan gue, pernah melewati jalan-jalan yang saat ini gue lewati, dan tahu bagaimana baiknya melewatinya. Mereka justru sangat baik karena mau berbagi ilmu, bahkan mungkin sedang menolong kita agar tidak jatuh di jalan dimana dulu mereka pernah jatuh. Gue akhirnya berterimakasih pada teman gue itu dan berjanji untuk gak lagi ngotot dengan pikiran "gue mau jadi diri sendiri, gue engga mau jadi orang lain."

Setelah saat itu, gue mulai membuka pikiran dan menemukan anggapan yang keliru tentang "menjadi diri sendiri". Contohnya seperti ini, gue adalah orang yang lebih suka diam. Ketika di sebuah pertemuan besar membahas beberapa hal, sering kali gue menemukan ide, namun menyimpannya dan menyampaikannya ke teman dekat. Ketika ada orang lain yang bilang, "sampein aja di forum," gue akan menolak dengan malu-malu sambil bilang dalam hati "itu kan elo, gue kan engga gitu orangnya." Padahal yang sebenarnya adalah gue sudah terlalu lama membatasi diri gue pada kemampuan sebatas menyimpan ide, belum menyuarakannya. Gara-gara paham "gue emang gini orangnya" yang terlalu lama tertanam di kepala, perkembangan menjadi pribadi yang lebih baik pun terhambat.

Itu hanya satu contoh. Tanpa sadar, mungkin ada lebih banyak lagi hal-hal baik dan membangun yang sudah kita tolak gara-gara anggapan yang keliru tentang menjadi diri sendiri. Hati-hati ya, guys. Coba dipikirkan lagi, bisa jadi hal-hal yang kita anggap berusaha mengusik kita untuk menjadi orang lain bukanlah hal-hal yang harus ditolak mentah-mentah. Lo memang akan jadi orang lain, orang lain yang lebih baik dari sekarang.

Lalu, "menjadi diri sendiri" seperti apa yang benar? Benar dan salah bukan gue yang memutuskan. Namun, bagi gue, yang terpenting adalah tidak menutup diri dan membatasi diri dengan pikiran "gue ya gini orangnya." As time goes by, we should grow up, shouldn't we? So, open our mind and grow up. When you can be better than who you are now, why get stuck to be just you? Let's be better you! :)

Tuesday, June 30, 2015

Tiny Little Miracles

Kalau lo percaya, di hidup ini ada banyak sekali keajaiban kecil yang disediakan Tuhan, yang sedikit saja lo abaikan, dia menjadi hal biasa yang lo inget aja engga.

Gue, orang yang percaya dengan keajaiban-keajaiban kecil dalam keseharian. Yang gue maksud dengan keajaiban-keajaiban kecil dalam keseharian adalah segala sesuatu yang tidak disangka-sangka terjadi di dalam hidup dan membuat gue sontak amazed dengan semua yang sudah atau sedang terjadi itu. Ini bukan kebetulan, tetapi seperti ada sebuah rancangan lain di dalam rancangan yang gue buat sendiri sehari-hari. Did you get the point? Jadi, kayak ada "sesuatu" yang merencanakan "keajaiban-keajaiban" itu terjadi di waktu yang tepat.


Keajaiban-keajaiban kecil ini biasanya akan lebih terlihat atau terasa pada seseorang yang suka bikin agenda atau perencanaan, sebutlah an organized person. Jadi, ketika lo sudah membuat rencana atau agenda tentang apa yang akan lo kerjakan dalam sehari dengan sangat rapih, eh ternyata, ada hal yang tidak berjalan sesuai rencana lo, tapi pas lo pikir-pikir lagi ternyata hal yang tidak berjalan sesuai rencana lo itu justru like "a brilliant idea" dibanding apa yang udah direncanain sebelumnya. Something like a brilliant idea itu yang gue sebut "keajaiban kecil" dalam keseharian. Dan, gue percaya itu kerjaannya Tuhan, Pencipta semesta dan seisinya ini, yang sudah sangat baik, teliti, dan peduli sama lo, gue, kita semua. Hal-hal yang "missed" dari perencanaan, ditel-ditel yang lupa kita pikirkan, Tuhan tahu itu semua dan He is working on it, even in your best plan ever, you're never best in it anyway. But, God completes you. You must be amazed and thankful.

Jadi, beberapa keajaiban yang telah terjadi di hidup gue belakangan ini cukup lengket di memori dan memohon untuk ditulis. Tapi, gue pilih 2 kejadian aja yang paling terngiang-ngiang. Oh iya, karena gue menyebutnya keajaiban kecil, jadi ini memang kejadian kecil bahkan sepele, bukan suatu kejadian besar atau wow.

1. Keajaiban kecil pertama: Batik
Semalaman gue sudah merencanakan baju batik mana yang akan gue kenakan ke kantor di Jumat Batik esok hari. Ya, batik pemberian dari salah seorang teman kantor gue sendiri. Kenapa? Karena besok adalah Jumat Batik terakhir yang gue ikuti sebelum gue pindah bekerja. Gue belum pernah pakai batik dari dia sebelumnya dan ingin sekali pakai untuk besok. Alasan lainnya sederhana, gue berharap temen gue bisa lihat dan senang kalau gue pakai batik pemberiannya yang indah tersebut. Maka, gue pakailah batik itu esoknya. Aktifitas bekerja berjalan dari pagi hingga sore. Namun, sepanjang waktu bekerja tersebut, gue belum juga ketemu dengan temen gue itu, bahkan berpapasan aja belum, mungkin karena hari itu kesibukkan merajai kami. 


Gue sempat sedikit kecewa karena niat buat nunjukkin gue make batik dari dia engga kesampean, padahal ini Jumat Batik terakhir. Tapi, ya sudahlah, gue ikhlasin aja, yang penting niatnya udah baik, begitu pikir gue. Gue lalu bersiap pulang ke kost, tapi sebelumnya mampir ke ruangan teman dahulu untuk mengembalikan barang yang gue pinjem. Sesampainya di ruangan temen gue, orangnya malah engga ada. Lalu, berbelok arahlah gue untuk kembali ke ruangan. Di ujung koridor, tanpa disangka, temen gue yang ngasih batik ini sedang ngunci pintu ruangannya, bersiap pulang. Tersenyumlah gue dengan sumringah dan menghampirinya sambil memamerkan baju batik darinya. Dirinya balas tersenyum lebar sambil bilang "bagus!" Seraya menyusuri koridor bersama, gue ceritakanlah betapa hopeless-nya gue tadi karena gue pikir engga akan ketemu dirinya sama sekali hari ini dan gagal pamer batik, tapi ternyata engga. 

Hal-hal tak terduga di luar rancangan gue, yang nyaris seperti kebetulan, tapi gue sih percayanya Tuhan tahu dan peduli dengan niat gue (yang lumayan kekanak-kanakan) itu. Maka, terjadilah semesta mempertemukan gue dengan teman gue itu saat jam pulang bekerja. Cara bekerja Tuhan terhadap hal-hal kecil atau sepele yang bikin gue amazed itulah yang gue sebut "keajaiban kecil." Dan, keajaiban kecil selalu berakhir pada kebaikan bagi diri kita sendiri.


2. Keajaiban kecil kedua: Pesan Terkirim
Gue inget banget, gue pernah bersungut-sungut karena harus mengerjakan satu hal bersama dengan teman gue. Bukan temen gue yang ngeselin, tapi cara bekerja yang melibatkan orang lain untuk satu hal tersebutlah yang awalnya gue pikir menyebalkan dan ribet.

Jadi, gue harus mengirim email berisi PowerPoint hampir setiap minggu ke teman gue ini untuk membagikan apa yang gue sudah persiapkan. Begitu juga sebaliknya, dia kirim PPT ke gue. Berjalanlah terus seperti itu pola bekerja gue dan dia. Terkadang gue merasa pola bekerja seperti ini menghambat kelancaran dan kecepatan gue dalam bekerja. Tapi, tunggu dulu.


Ada satu hari dimana gue kehilangan semua data di flashdisk gue karena flashdisknya rusak. Semua data di dalamnya tidak terselamatkan. Gue dengan sangat jenius pun tidak pernah mem-backup semua data itu ke komputer kantor atau laptop gue yang udah uzur di kost. Padahal, gue memiliki tanggung jawab untuk membuat laporan dari setiap pertemuan yang harus segera dikumpulkan. Di sini gue merasa galau sebenar-benarnya arti galau.

Di saat galau dengan musibah rusaknya flashdisk, gue inget kalo gue bekerja barengan sama temen gue dimana gue selalu share PPT ke email dia. Berasa dapet duren mateng jatoh di ember, gue bisa menyelesaikan laporan berkat nge-scroll-down-in bagian Pesan Terkirim di email untuk menyimpan PPT-PPT lama. Ternyata, Pesan Terkirim ini sudah menjadi back-up beberapa data gue, bahkan data terpenting. Ngirim-ngirim email yang dulunya nyebelin itu sekarang jadi sangat membantu.

Dari kejadian ini, gue sangat bersyukur. Tuhan mampu membuat gue melihat yang tadinya "kenapa begini? kenapa begitu?" menjadi "UNTUNG begini, untung begitu." Lagi-lagi, gue dibuat terkagum dengan cara Tuhan campur tangan dalam hal-hal kecil dan sepele di hidup gue. Itulah "keajaiban kecil."


See? Those are examples of tiny little miracles that God made. Gue yakin, setiap orang pernah mengalami keajaiban-keajaiban kecil, baik disadari atau tidak disadari. Tuhan itu penuh kejutan dan manusia itu lemah sehebat apapun dia. Untung, Tuhan baik, makanya Ia turut terlibat di dalam setiap detik yang terjadi di hidup kita. Tapi, bukan berarti kita engga perlu lagi bikin perencanaan. Melainkan, teruslah membuat perencanaan dan bawa itu ke dalam doa. Inget, Tuhan itu baik, peduli, dan teliti.

Selamat menikmati dan bersyukur akan hal-hal kecil dan keajaiban-keajaiban kecil. Tuhan bersama kita. :)

Wednesday, June 10, 2015

Kotoran Kambing Tetaplah Kotoran Kambing

Aku sudah kenyang. Kenyang dengan pemanis-pemanis buatan. Tak hanya kenyang, ini sudah sampai level muak. Ya, segala sesuatu yang berlebihan memang tidak baik, termasuk pemanis buatan yang berlebihan. Sebagai penikmat kehidupan, aku tak bisa mengatur kadar manisnya karena tugasku hanya menikmati apa yang disajikan oleh kehidupan ini.

Semua itu tergantung sudut pandang, ada yang bilang. Semua, entah itu masa-masa sulit atau hal-hal yang menyenangkan. Memang iya, semua tergantung penikmatnya. Kotoran kambing pun terlihat baik dan bermanfaat jika dipandang sebagai salah satu komposisi pupuk yang baik untuk tanaman. Dalam sudut pandang lain, kotoran kambing pun akan terlihat menjijikan dan kotor jika dipandang sebagai makanan. Namun, kotoran kambing tetaplah kotoran sebagaimana dia diciptakan. Sebaik apapun ia dipindang, kotoran kambing tetaplah kotoran kambing.

Hal-hal buruk pun tidak akan begitu menyiksa jika kita berhasil memandangnya sebagai hal yang tidak menyiksa. Yang membuatmu tersiksa akan sesuatu ialah dirimu sendiri yang menganggap atau membiarkan hal itu menyiksamu, ada yang bilang. Tapi, ada yang berbeda dengan ketidakadilan. Dari segala sudut pandang, bagiku, ketidakadilan bukanlah hal yang bisa dikategorikan ke dalam hal yang baik atau yang dinikmati saja atau yang dijalani saja. Memang bisa hal itu dianggap "biasa saja" namun ingatlah kotoran kambing tetaplah kotoran kambing sebagaimana dia ada. Oleh karenanya, aku percaya bahwa ada beberapa hal buruk di kehidupan ini yang tidak bisa dianggap atau dipandang wajar atau umum atau biasa atau dinikmati saja. 

Hei, kau penikmat kehidupan. Cara menikmati kehidupan bukan menikmati segala yang baik dan buruk menjadi hal-hal yang nikmat-nikmat saja. Pun, cara memandang kehidupan bukanlah memandang yang buruk menjadi baik-baik saja. Itu bukan menikmati ataupun memandang positif, itu membiarkan! Jika suatu saat bangsa ini menjadi bobrok dan hancur (resiko dalam skala besar), jangan kau memaki-maki dan bersungut-sungut, karena kau bagian di dalamnya yang membiarkan segala hal yang buruk itu terjadi begitu saja, bahkan kau nikmati keberadaannya, atau malah kau sedang melestarikannya. Jika kau tidak merasa di dalamnya, bersyukur dan lanjutkanlah. Jika kau sadar berada di dalamnya, bertobat dan bersuaralah melawannya. Tuhan tidak tidur. Tuhan tidak diam. Tuhan tidak bodoh.

Monday, December 15, 2014

Saat Gue Ngomongin Cinta

Ini memang bukan bulan Pebruari sih, tapi engga ada salahnya kan kalo gue ngomongin cinta di bulan Desember? Bukan kah cinta itu engga mengenal bulan, hari, bahkan detik? Asik banget ye bahasa gue. Haha. Oke, gue engga akan membawa topik "cinta" sebagai sesuatu yang pelik dan teoritis kok. Gue hanya lagi terinspirasi aja dengan sebuah film yang belakangan ini gue tonton. Engga akan gue sebut judul filmnya apa karena gue mau mencoba untuk menghargai setiap karya di negeri tercinta ini, entah itu karya dilatarbelakangi semata-mata oleh profit atau pure karya sastra yang dipersembahkan dari pelosok hati paling dalam, tanpa menaburkan serbuk opini gue ke dalamnya. Biar setiap orang menikmatinya sendiri.


Sebagai seorang penonton bioskop yang awam soal sastra dan.... cinta, gue cukup dibuat berpikir soal cinta ketika nonton film tersebut. Seakan-akan cinta adalah sebuah kumpulan benang ruwet yang sulit sekali diurai. Mungkin memang dia diciptakan bukan untuk diurai, tapi untuk dinikmati keindahannya sebagai benang ruwet.

Mungkin faktor usia juga kali, gue yang menginjak 20an engga begitu memusingkan soal cinta dan belum banyak tahu mengenai sederet teori tentang cinta. Emang ada ya teori cinta? Lalu, apa bedanya cinta dengan Matematika? atau cinta dengan Biologi? Gue hanya ngeri semakin seseorang memikirkan cinta dengan begitu rumitnya, ia malah lupa kalau tidak ada yang memintanya untuk mendefinisikan "cinta", melainkan melakukannya.

Nah ini, gue memandang cinta sebagai sesuatu yang sederhana dan ajaib. Sederhana bukan berarti bisa memainkan perasaan orang lain atas nama cinta atau merusak kesucian cinta atas nama cinta. Cinta engga pernah semurahan itu gue rasa. Sederhana sekaligus ajaib karena kita engga perlu mengenyam pendidikan setinggi menara Eiffel dulu demi memiliki, melakukan, menikmati, dan membagikan cinta. Semua orang dari kalangan manapun, siapapun dia, punya cinta di dirinya. Semua orang memiliki cinta di dalam dirinya. Ada yang hidup, tapi sayangnya juga ada yang tidur, parahnya lagi ada yang sudah mati, mati suri. Ya, gue percaya orang yang bilang kalau cinta di dalam dirinya sudah mati sebetulnya cintanya hanya sedang mati suri.

Film, buku, bahkan pengalaman orang-orang di sekitar gue cukup menjadi bukti kalau gue bisa ngomong "kenapa cinta jadi rumit ya?" Padahal, cinta adalah sesuatu yang sederhana dan dimiliki siapapun, lalu kenapa jadi rumit ya? Wait, sebetulnya yang rumit itu cinta atau manusianya? Gue emang tipe orang yang males mikir, tapi gue yakin kok yang bikin cinta jadi ribet ya manusia itu sendiri. Gini, kalau ada seorang istri muda yang selingkuh karena merasa suami dan maligai rumah tangganya tidak seindah dan semenyenangkan bayangannya, salah siapa? Siapa yang suruh ngebayangin yang berlebihan ketika kita tahu kalau kita engga pegang kunci masa depan? Jangankan kuncinya, bahkan masa depan pun engga punya jendela yang bisa dilongok orang.


Kalau cinta sama seseorang, ya tunjukkanlah. Kalau perlu, dikatakan ke orang tersebut. Tapi, kalau kau tak ingin orangnya tahu, ya nikmatilah keputusanmu untuk cukup mencintainya diam-diam. Kau sedang mencintai orang lain kan, bukan mencintai dirimu sendiri? Lalu, kenapa harus setres kalau orang yang kau cintai tak membalas cintamu atau tidak mencintaimu? Cinta yang tulus itu tidak pernah mengenal timbal balik atau balas membalas.

Kalau tidak cinta, kenapa kamu menerimanya saat dirinya mengajakmu jadian? Kalau tidak cinta, kenapa menikah dengannya? Kalau tidak cinta, kenapa pura-pura mencintainya dan bertahan dalam hubungan yang kamu sendiri engga tahu gimana ujungnya? Kalau cinta, kenapa mundur saat tahu orang tuanya tidak menyetujui hubungan kalian? Kalau cinta, kenapa harus malu dengan kebiasaan joroknya, dengan fisiknya, dengan kekurangannya?

Cinta itu anugerah. Tidak seharusnya gara-gara dia, hidup seseorang atau dua insan nelangsa. Kalaupun ada orang yang berkorban demi cinta, mungkin bagi orang lain dia menderita, tapi coba tanya hatinya, bisa jadi dia adalah orang paling bahagia sedunia karena sudah memberikan yang terbaik untuk orang yang ia cintai. Dan, satu lagi, kalau cintamu pada Tuhan jauh lebih besar dari apapun, kenapa masih memusingkan "cinta tapi beda"?

Tuesday, September 30, 2014

3 Alasan Rendah Diri itu Oke

Pernah ga ngerasa "Gue ini apa? Gue engga lebih dari seonggok daging bernyawa yang bisa jalan dan ngupil dengan handal. Bahkan upil gue aja bisa jadi lem, sementara gue merekatkan hatinya dengan hati gue aja gak bisa..." Oke, kalimat yang terakhir itu emang lebay. Gue serius, pernah ga lo ngerasa diri lo itu gak bisa diandelin, gak bisa apa-apa, cemen lah pokoknya? Pernah gak lo ngerasa gak guna, gak bisa jadi orang wow yang bisa melakukan atau menciptakan hal-hal yang wow? Pernah gak lo merasa diri lo gak lebih baik dari upil yang ternyata ada manfaatnya juga buat ngelem? Gue, pernah.

Satu istilah yang bisa mendeskripsikan wacana di atas, "rendah diri." Hal ini adalah momok hancurnya seseorang jika dibiarkan berlama-lama di dalam pikiran, perasaan, dan hidupnya. Masih mending juga nyimpen upil, daripada nyimpen "rendah diri" lama-lama. Kok dari tadi upil mulu ya? Ya, mungkin karena upil itu kasian, jarang dibangga-banggakan, gue cuma gak pengen aja dia jadi rendah diri. :(

Oke, jadi gue termasuk orang yang pernah rendah diri. Bahkan, sampai sekarang perasaan tersebut sesekali datang. Rasanya engga enak lho, seperti ingin melakukan sesuatu tapi terbentur dengan tembok yang dibangun sendiri. Gegara rendah diri kreativitas dalam berkarya jadi terhambat.

Bagi gue, rendah diri adalah merasa diri rendah. Rendah itu berarti berada di posisi bawah dari yang lebih tinggi. Merasa diri sendiri itu payah, tidak mampu, dan tidak percaya pada diri sendiri kalau bisa berbuat lebih dari yang dipikirkan.

Kalau bicara rendah diri sebenarnya ada banyak jenis rendah diri. Entah itu rendah diri dengan kemampuan, rendah diri dengan penampilan fisik, dan lain-lain. Kali ini, yang gue fokuskan lebih ke rendah diri dengan kemampuan. Tapi, kalau ada manfaatnya juga untuk kamu yang rendah diri dengan penampilan, sok atuh seraplah manfaatnya. :)

Seseorang yang rendah diri itu cenderung tidak sombong. Yaiyalah. Apa yang mau disombongin wong dia sendiri engga percaya sama dirinya. Tapi, jangan salah, orang yang rendah diri sebenarnya juga menyimpan kesombongan luarbiasa karena dia hanya berfokus pada kelemahan dirinya, engga terbuka dengan pertolongan-pertolongan di sekitarnya yang dapat membantunya maju, contoh pertolongan Tuhan.

Well, at the first time memang gue mendukung banget kalau rendah diri itu perasaan negatif yang engga bagus dipelihara. Namun, di sisi lain, ada baiknya gue merasa rendah diri. Kenapa? Bukan karena akhirnya gue bisa temenan sama upil karena merasa senasib, tapi karena alasan-alasan berikut, setelah pariwara yang satu ini..... *Eh, malah iklan. Maap. Berharap kalau pas nulis dibayar karena ada iklan lewat :p*

Alasan pertama. Tadi kan gue bilang kalau orang yang rendah diri itu sebenarnya sombong karena tidak terbuka dengan pertolongan-pertolongan Tuhan di sekitarnya. Nah, this is my point. Mengusir rendah diri itu engga semudah meniup gumpalan pasir di telapak tangan. Butuh proses. Salah satu bentuk proses adalah dengan terbuka. Seorang rendah diri yang sudah dan sedang terus mengalami pertumbuhan biasanya mulai peka melihat pertolongan-pertolongan di sekitarnya yang dapat membuatnya menjadi lebih baik. Jadi, rendah diri itu masih ada dengan kadar yang mulai berkurang. Pointnya adalah rendah diri menolong kita untuk peka dan terbuka menerima bantuan-bantuan dari Pencipta melalui ciptaan-ciptaanNya.

Alasan kedua. Rendah diri itu perlu agar kepala kita engga besar. Bukan literally, maksudnya adalah agar tidak sombong. Menyadari diri ini tidak ada apa-apanya dan perlu bantuan menolong kita untuk mengakui bahwa jika sesuatu yang baik berhasil kita kerjakan berarti itu bukan hasil kerja keras kita semata. The first point will always go to The Lord. Indeed. Karena pertolongan Tuhan melalui banyak hal di sekitar lah yang menolong dan memampukan kita mengerjakan atau menyelesaikan sesuatu. So, kita engga seharusnya membanggakan diri berlebihan karena tanpa campur tangan Tuhan hal-hal tersebut tidak akan terjadi atau selesai.

Alasan ketiga. Grace and grateful. Mereka bukan nama calon anak-anak gue nanti, tapi bagus juga ya buat jadi nama anak, hihihi, oke salah fokus. Well, as what i said before, jika kita yang rendah diri ini berhasil mengerjakan atau menghasilkan sesuatu berarti ada campur tangan Tuhan sehingga kita engga berhak sombong. Nah, in that case, we will see God's grace yang telah menolong kita melalui banyak perkara. Anugerah Tuhan dong kalau kita yang minder ini ternyata bisa melalui banyak perkara dengan baik dan masih bernafas. Anugerah adalah pemberian yang diberikan secara cuma-cuma dan tulus kepada orang yang engga layak menerimanya. Balik lagi, siapa sih kita? sering kali bahkan diri sendiri aja merasa engga lebih baik dari upil, emang layak dapat pemberian? Toh kalau kita dapat anugerah itu pasti karena Tuhan sendiri yang emang dasarnya penuh kasih dan mengasihi kita yang lemah ini. So, karena anugerahNya kita bisa mengerjakan banyak hal, melewati banyak tantangan, dan menjadi lebih baik. Bersyukurlah! Bersyukur karena bisa mencicipi manisnya kasih Tuhan dalam hidup kita. :)))

Merangkum semua alasan di atas, rendah diri menjaga kita untuk tetep menundukkan kepala mengingat siapa kita sesungguhnya dan memandang ke atas melihat, memohon, dan mensyukuri Pribadi yang sudah dengan penuh kasih menolong kita.

Jadi, siapa yang masih rendah diri? Rendah diri oke selama itu membuat kita semakin dekat dengan Pencipta. Ketika kita memiliki hubungan yang baik dengan Pencipta, kita tahu arah mana yang harus dituju dalam hidup ini. Logis bukan? Emang Allah itu luarbiasa. :)

This World is Lullaby

i have to still be awake
my eyes must keep opened
this world is lullaby
but if i sleep on it, i die.

some sleep on it, they're insane
they forget to wake up
this world is more than sleeping pills
it's a tender bed
once you lay on, forever you will sleep

this world is so nice
it is an apple with poison

we have to still be awake
our eyes must keep opened
this world is lullaby
but if we sleep on it, we die.

Sunday, June 8, 2014

Kusuka Tulus dan Lirik-liriknya


Siapa yang kenal Tulus? Nah kan, banyak yang kenal. Iya, pendatang yang cukup baru di bilantika musik Indonesia ini memang terkenal bersuara apik, adem ayem, dan jazzy banget. Belum lagi, beberapa lirik lagu di albumnya ia tulis sendiri. Ini dia yang bikin gue makin jatuh cinta sama dia. Lirik-lirik bikinannya meaningful dan positif. Nah, saking ngefansnya gue sama doi, postingan ini gue khususkan untuk menampung lirik-lirik lagu Tulus. Check 'em out!


-Gajah-

Setidaknya punya tujuh puluh tahun
Tak bisa melompat kumahir berenang
Bahagia melihat kawanan betina
Berkumpul bersama sampai ajal



Besar dan berani berperang sendiri
Yang aku hindari hanya semut kecil
Otak ini cerdas kurakit berangka
Wajahmu tak akan pernah ku lupa



Waktu kecil dulu mereka menertawakan
Mereka panggilku gajah, ku marah
Kini baru ku tahu puji di dalam olokan
Mereka ingatku marah
Jabat tanganku panggil aku gajah



Kau temanku kau doakan aku
Punya otak cerdas aku harus tangguh
Bila jatuh gajah lain membantu
Tubuhmu disituasi rela jadi tamengku



Kecil kita tak tahu apa-apa
Wajar bila terlalu cepat marah
Kecil kita tak tahu apa-apa


Yang terburuk kelak bisa jadi yang terbaik
Yang terburuk kelak bisa jadi yang terbaik



Kau temanku kau doakan aku
Punya otak cerdas aku harus tangguh
Bila jatuh gajah lain membantu
Tubuhmu disitu masih rela jadi tamengku



Kau temanku kau doakan aku
Punya otak cerdas aku harus tangguh
Bila jatuh gajah lain membantu
Tubuhmu disituasi rela jadi tamengku

courtesy of: http://www.metrolyrics.com/gajah-lyrics-tulus.html



Setau gue, lagu berjudul Gajah ini bercerita tentang masa kecil Tulus yang sering dipanggil "Gajah" oleh teman-temannya. Nah, di lagu ini Tulus kasih respon positif tentang panggilan "Gajah" tersebut, meskipun dulunya ia sempat marah dijuluki "Gajah." Wajar lah anak kecil.




-Baru-

Tak perlu kau ajak aku bicara
Tak akan pernah ku mendengar-nya
Ini aku yang dulu bahkan tak dapat sebelah dengar dari telingamu

Tak perlu pesolek berwangi bunga
Tak akan mampu luluhkan hatiku
Ini aku yang dulu bahkan tak dapat sebelah mata dari pandanganmu


(Reff)

Nikmatilah kejutanku
Ini aku yang baru
Nikmatilah rasa rindu
Tak lagi di kuasamu

Tak perlu gelitik aku tertawa
Tak lagi kulihat ada yang lucu
Ini aku yang dulu namanya terus jadi sisipan tiap leluconmu


(Reff 2x)

Dari dulu kamu tau
Patuh aku demi kamu
Dulu lalu tinggal dulu
Inilah aku yang baru


(Reff 2x)

courtesy of http://www.metrolyrics.com/baru-lyrics-tulus.html 


Lagu sepanjang 2 menit 57 detik di atas ini ditulis Tulus tahun 2013 dengan bantuan sahabatnya, Ferry Nurhayat. Aransemen musiknya ditangani langsung oleh produser Tulus sendiri: Ari Renaldi. (sumber)

Untuk sementara, dua ini dulu lirik-lirik lagu yang ditulis sendiri oleh Tulus dan gue favoritkan. Silakan kalau mau dipakai buat karaokean. Tapi, lagunya download sendiri ya. Hehehehe.

Keep Calm and Enjoy Free Time

Hai!
Salah satu penyakit dari seorang pecinta deadline yang menikmati kesibukkan di detik-detik akhir adalah "merasa ada yang salah dengan waktu lowong atau kosong." Entah penyakit ini dialami oleh semua deadliner atau cuman gue doang. Tapi, beberapa orang pecinta kesibukan di detik-detik akhir deadline yang gue tanya mengakui hal yang sama, bahwa sering kali kita merasa aneh kalau ada jam kosong.

Biasanya rempong nyelesein pekerjaan yang berceceran mepet deadline. Lalu ketika mereka sudah terselesaikan, tibalah gue di waktu-waktu lowong. Waktu-waktu lowong buat gue adalah waktu-waktu tanpa deadline, tanpa ada list pekerjaan yang harus diselesaikan satu demi satu dengan sesegera mungkin. Nah, di waktu lowong macam ini, gue sering banget ngerasa aneh atau ngerasa ada yang salah atau ngerasa "ini yakin gak ada kerjaan yang harus gue beresin? jangan-jangan i miss a thing." Nah, efek selanjutnya setelah tidak yakin dengan waktu lowong, biasanya gue mulai menduga-duga ada pekerjaan yang kelewat atau malah takut jangan-jangan ada pekerjaan yang lupa gue kerjain. Terus, gue akan berada dalam lingkaran "ngerasa ada yang salah" dan "jangan-jangan ada yang lupa dikerjain" itu melulu selama waktu lowong. Pernah ngalamin kayak gitu juga gak?

Hal di atas gue sebut penyakit karena gue jadi kurang menikmati waktu lowong yang mungkin memang sudah jatahnya atau sudah waktunya gue terima buat nyantai atau "atur nafas" sejenak. Bete kan.

Tapi, makin ke sini, gue belajar untuk ngilangin penyakit itu sih. Caranya dengan sebisa mungkin bikin things to do list, beserta deadlinenya. Jangan lupa nyentang-nyentangin hal-hal yang udah beres. Nah, kalau sudah kecentang semua berarti tanggung jawab untuk nyelesein hal-hal tersebut udah kelar. Lalu, syukuri dan nikmati waktu-waktu lowong. Kalo kemudian penyakit itu dateng di waktu lowong gue, cuekin aja. Toh gue udah berusaha bertanggung jawab nyelesein tiap pekerjaan sebaik mungkin, buktinya adalah things to do list yang udah kecentang dan pekerjaan itu sendiri. Kalau ternyata benar ada pekerjaan yang kelewat atau lupa dikerjain, berharap Tuhan memberi orang-orang yang ngingetin pekerjaan tersebut, jadi bisa segera kita kerjain. Tapi, kalau engga ada tanda-tanda ada pekerjaan yang lupa dikerjain berarti semua udah beres, penyakit itu dicuekin aja. Kadang-kadang kita emang perlu nyuekin perasaan sendiri kalau itu engga ada manfaatnya.


Lagi pula, workers, sudah menjadi hak kita kok menikmati waktu-waktu lowong setelah bekerja keras. Jadi, jangan ngerasa aneh lagi and just enjoy your FREE TIME! kayak gue sekarang ini. Waktu lowong, daripada waktu kebuang buat ngebingungin mau ngapain, mending buat ngeblog. Yuhuuuuuu!


Thursday, June 5, 2014

ada.

ada saat dimana seseorang sangat lelah, bahkan untuk memindahkan cangkir kopi. tubuhnya serasa remuk redam. apa yang ia kerjakan sebenarnya tidak seberapa karena ia tidak sedang berada dalam sebuah proyek pembangunan gedung yang menuntutnya untuk memindahkan bata-bata. tetapi, ia letih karena dirinya berkelahi. lawannya adalah dirinya sendiri. pikirannya tidak berhenti berargument, mempertanyakan, bahkan memutar ulang masa lalu. jika ia menang melawan dirinya berarti dirinya yang lain kalah. jika dirinya yang lain menang, maka dirinya kalah. lalu, makin letih lah tubuhnya ini. ketika bahkan ia lelah untuk memindahkan cangkir kopi, tapi tetap ia memindahkannya. ia tiba pada saat sebuah kata tidak ada pengaruhnya, karena saat ia berkata lelah, toh tangannya tetap harus memindahkan cangkir kopi. ia berharap bisa berdamai dengan kondisi. saat ini ada cerita yang sudah malas untuk diungkapkan karena akan sulit baginya untuk mempercayai lawan bicaranya akan mengerti atau malah menambah perih. kini, hanya ada sisa rintih yang tak terkatakan, "Tuhan, maaf, aku letih. Tolonglah aku yang lemah ini."

u wont really understand until we come to the end. now just believe that my God is good.

if u think it's easy, it isn't.
if u think im happy, im not.
if u think im proud, no.
if u think i wanna be longer here, unfortunately i dont.
the one and only reason to stay is a hope.
i still keep a hope.
that one day these tears are used to the glory of my God.
at the end, people will know and praise Him to the high.
cause this is about God's story, not mine.
im only a tool. a minor character in His whole story.
at the end those that mock me will praise Him because of His work through these painful paths.
i will not be willing to walk on the rough path if God dont go with me and put a grace of hope to keep me walking on.

Sunday, February 23, 2014

Jarak

baru kali ini aku benar-benar berterimakasih pada jarak. jarak yang tidak bermaksud kejam dengan memisahkan, karena pada akhirnya aku berterimakasih padanya. jarak yang menahan dua orang tetap berada pada tempatnya masing-masing, mengerjakan apa yang baik dalam daftar rutinitas.

bagaimana tidak? karena jarak, aku terselamatkan dari wajah melongo, hanya menatap kagum, bahkan mungkin sampai meneteskan barang setetes dua tetes liur untuk sosok yang tidak heran untuk dikagumi. karena jarak, aku terselamatkan dari fokus yang perlahan berantakan kembali pada fokus yang paling utama. karena jarak, aku didewasakan tentang usia: ia bukan lagi usia untuk membuang-buang waktu dan tenaga untuk angan-angan jaman anak-anak.

karena jarak, semua jadi terbatas. bukan bebas.

bisa jadi jarak ini adalah waktu yang Pencipta pakai dalam alur tulisanNya tentang kisah hidup manusia. semakin tiba waktunya untuk bertemu, semakin Ia perpendek jarak yang ada. entahlah, daripada menerka-nerka Sang Ahli menyembunyikan sesuatu lebih baik mengembalikan fokus pada apa yang ada di depan mata. lupakan dulu tentang jarak. siapa tahu secara tidak sadar jaraknya sudah semakin pendek, waktunya sudah semakin tiba. mana tahu.

"the moment when your old close friend will get married and you just feel 'idk how this feeling called'."

Seperti pernah kuceritakan dulu, topik skripsiku adalah seputar bukunya Raditya Dika yang berjudul Manusia Setengah Salmon. Buku tersebut intinya menceritakan tentang esensi kehidupan adalah perpindahan. Perpindahan yang terjadi ada beraneka macam bentuknya, mulai dari yang terlihat sampai yang tak terlihat, mulai dari yang terasa sampai yang tidak terasa.

Beberapa contohnya adalah perpindahan atau perubahan fisik Dika beserta saudara-saudara kandungnya yang semakin bertumbuh besar, yang akhirnya menyebabkan mamanya Dika memutuskan untuk pindah rumah karena rumah mereka mulai terasa semakin sempit. Contoh lainnya adalah tanpa disadari, Dika beserta teman-temannya sudah semakin dewasa karena ulah sang waktu. Terbukti ketika Dika menghadiri acara pernikahan teman sekolahnya dulu. Teman kecilnya tersebut sudah menikah, dan dia menghadiri resepsi pernikahan tersebut dengan renungan intinya "esensi kehidupan adalah perpindahan". Dirinya dan teman-teman semasa kecilnya kini sudah berpindah masa menjadi dewasa.

Tuesday, January 14, 2014

Waiting Doesn't Mean Doing Nothing.

Judul postingan gue kali ini kece yeh? Gue bilang itu kece karena hasil dari bertapa di bawah guyuran air hujan dan di dalam banjir. Tapi, bo-ong. Jadi, gini, siapa sih yang suka nunggu? Nunggu nasi goreng di antrian ke 10 aja udah bikin emosi, apalagi nunggu belahan jiwa. *eyaaaakkhh* udah lah, kayak anak sekolahan aja eyaakk eyaaak. *sok dewasa gitu gue*

Oke, kali ini kita bicara cinta. *benerin mic* Tau sendiri kan kalau banyak pasangan yang udah jadian bertahun-tahun, tapi ujung-ujungnya putus. Sehabis putus, galau pula, susah move on, kebayang-bayang mantan karena doi mantan terindah katanya. Gue heran deh, itu bertahun-tahun berhubungan ngapain aja coba? Nanem padi? Bisa dengan gampangnya putus, karena alesan "kita udah gak cocok lagi" misal. Bayangin aja, berapa banyak waktu yang sebenarnya bisa dialihkan buat berkarya atau mengembangkan potensi diri atau memperluas pengetahuan, terbuang gitu aja untuk berduaan dengan si pacar yang ujung-ujungnya putus, ninggalin kenangan manis, dan butuh waktu lama pula untuk move on? Udah rugi waktu banyak kayaknya tuh.

Fenomena pacaran lainnya adalah baru beberapa bulan jadian, lalu putus. Terus kenapa lo terima itu orang jadi pacar lo? Rugi waktunya engga begitu banyak sih. Lebih baik lah dari fenomena di atas selama alasan waktu lo nerima dia bukan untuk pelarian atau coba-coba doang. Hati bukan minyak kayu putih, cuy.

Lalu, ada lagi nih, orang yang suka gonta-ganti pacar. Udah ngorbanin waktu, uang, perasaan juga. Pula, parahnya lagi how you deal with love defines who you are. Gonta-ganti, main-main dengan perasaan orang lain, jelas-jelas menunjukkan seperti apa kepribadian orang tersebut, right? Kalau udah gini, inget aja, good people will get good people as their soulmates. Jadi, kalau lo yang masih memandang cinta dengan cara main-main seperti ini, peringatan nih, sebelum harga jual turun karena image yang terbentuk tentang lo, buru-buru tobat deh.

Dan, ada juga beberapa orang yang masih setia menunggu. *Uhuk* Gue cuma batuk aja kok. Ada banyak alasan pastinya di balik kata menunggu. Apapun alasannya, menunggu itu bukan berarti engga ada usaha sama sekali. Bicara soal cinta, ada usaha yang sangat esensial yang seharusnya dilakukan oleh seorang single yang sedang menunggu. Growing. Bertumbuh.


Percaya kalau Tuhan masih menulis cerita cinta untuk lo? Kalau gak, tulisan ini berakhir sampai di sini untuk lo. Tapi, kalau iya, Dia sedang mempersiapkan soulmate yang tepat dan sepadan untuk lo. Tunggu aja, dan bertumbuh. Tuhan engga pernah nyiapin pasangan yang seadanya buat lo, God prepare the best one for you. Nah, kalau orang yang Tuhan sedang persiapkan buat lo adalah pasangan yang terbaik, pastinya Dia juga akan mempertemukan orang itu dengan orang yang terbaik which is you. So, you both are actually being processed to be met at the right time. You both are the best ones that God prepare.

Jadi, kalau lo percaya Tuhan pertemukan lo dengan pasangan yang terbaik dan saat ini lo sedang menunggu, itu berarti lo pun sedang Tuhan persiapkan untuk menjadi pasangan terbaik buat pasangan lo nantinya. Intinya, waktu menunggu adalah waktu dimana lo sedang Tuhan proses menjadi pasangan yang sepadan dan terbaik untuk pasangan lo. Proses yang Tuhan kerjakan di dalam lo adalah pertumbuhan itu sendiri. Lebih dari sekedar pertumbuhan jasmani, tetapi pertumbuhan rohani dan karakter melalui banyak tantangan hidup yang Tuhan izinkan terjadi selama lo sedang dalam masa menunggu ini. 

Pertumbuhan rohani dan pembentukkan karakter seseorang butuh waktu. Pada waktu tersebut lah lo juga sedang menunggu. See? Waiting does not mean doing nothing. So, people in waiting, bertumbuhlah seperti kelak Tuhan pertemukanmu dengan dia yang juga bertumbuh. Sehingga, kalian menjadi pasangan yang sepadan.


While no one likes to wait, it's worth it to honor God's standards for marriage. By doing so, you'll be able to leap from your seat and run down the aisle if God leads you there. --Jennifer Benson Schuldt

Waspada Gudang Celotehan Bajakan!

Belakangan ini gue iseng buka blog gue setelah sekian lama gak terjamah. Gue iseng aja ketik keyword "Gudang Celotehan" di Googl...