Showing posts with label Nge-Hang OUT. Show all posts
Showing posts with label Nge-Hang OUT. Show all posts

Friday, February 12, 2016

Epic Family Trip to Bandung

Meski sudah lewat setahun, kenangannya masih berkesan di ingatan. Waktu itu, gue dan keluarga berkesempatan untuk menikmati libur di bulan Juli tahun 2015. Kami memilih Bandung sebagai destinasi untuk di-eksplore. Seluruh personil keluarga lengkap ikut trip kali ini. Ada Bapak, Ibu, Bagas, gue, dan Prita, juga satu orang supir.

Itinerary yang mungkin telah dibuat oleh Bapak dan Ibu sudah tertata apik di dalam kepala mereka, karena gue gak melihat ada lembaran itinerary. Jadi, gue menduga semua jadwal trip ini udah terekam di kepala ortu gue.

Perjalanan menuju Bandung dari Jakarta kala itu tidak melulu padat, jadi kami lebih cepat sampai di Bandung. Bapak langsung mengarahkan pak supir untuk ke destinasi pertama. Waduk Djuanda.



#1 Waduk Djuanda


Kami tiba di lokasi Waduk Djuanda cukup pagi, sekitar pukul 10 atau 11 gue lupa. Matahari sedang terik-teriknya bersinar. Gue udah engga peduli lagi kulit bakal tambah eksotis kalau melenggang di area waduk ini pukul segitu. Jadi, tanpa pikir panjang, gue dan keluarga langsung berjalan santai di area Waduk sambil menikmati semesta Bandung yang indah niah di kanan dan kiri kami.


Area waduk ini cukup sepi karena berdekatan dengan pemukiman warga sekitar yang mungkin tak lagi terpesona dengan keberadaannya. Mungkin juga bukan jadi destinasi favorit turis lokal yang traveling ke Bandung. Gue sih tetep suka. Justru yang sepi begini yang eksklusif dan bikin lebih puas. 

Sayang disayang, kami gak bisa masuk ke Waduk, karena menurut satpamnya sih sedang ada perbaikan gitu. Akhirnya, kami cukup berpuas diri dengan dimanjakan alam di sekitar waduk yang engga bikin nyesel. Puas berfoto di sekitaran Waduk Djuanda, kami meneruskan perjalanan untuk mencari "tempat ngadem" untuk menikmati bekal makan siang yang sudah disiapkan Ibu dari rumah. Biar travelling ini tetap fun dan terkontrol pengeluarannya. Hehehe.

By the way, untuk masuk Waduk Djuanda seharusnya tidak dikenakan biaya, menurut Bapak, karena tidak tercantum biaya masuk juga di sekitar pintu masuk waduk. Tapi, berhubung sedang musim liburan dan pak satpam di sana seperti melihat "peluang", maka ia minta Rp. 50.000 sebagai biaya masuk untuk kami semua, beserta mobil. Baiklah.




Tidak begitu jauh dari Waduk Djuanda, kami menemukan rerumputan luas berdekatan dengan danau. That looked suitable for our lunch place. Di bawah rindang pohon besar, kami menggelar tiker yang kami bawa, you know, "tiker" is a must for family trip, isn't it? Makanan dan minuman juga digelar. Ibu dengan telatennya menuangkan nasi beserta lauk, juga meracik kopi dan minuman lainnya untuk kami. Nah, that was a good idea to always bring your coffee sachets and a bottle of hot water wherever you travel to, I guess. That would perfect your moment.








Pemandangan di depan kami, juga semilir angin menjadi teman makan siang kami yang apik. Gue tidur-tiduran terlentang sebentar. Nikmatnya wajah diterpa sinar matahari yang menembus celah-celah dedaunan. Menatap ke kehijauan dedaunan di atas gue, gue bersyukur mudah sekali menikmati semesta.

Selesai dengan makan siang, kami melanjutkan destinasi. Berhubung kami tiba di Bandung lebih awal dari jadwal di dalam kepala Bapak. Jadi, kami masih punya cukup banyak waktu dan rencana diubah, dari yang harusnya langsung ke hotel menjadi meluncur langsung ke Ciwidey, Kawah Putih! YASSSS!!!!

Cukup jauh perjalanan yang ditempuh untuk menuju Kawah Putih. But, I really enjoyed it! Because travelling isn't all about arriving at the destinations, but being on the way to the destinations. So, sejak saat itu gue menyukai kata "on the way." Hahaha.

Ah! Bandung, I love you! Udara menuju Ciwidey dingin dan sejuk. Mata terus dimanjakan dengan hijaunya tanaman liar dan milik warga, kebun stroberi, pepinusan, menyambut kami, "WILUJENG SUMPING!"




#2 Kawah Putih


Here we go. Kawah Putih. Kami tiba cukup sore sekitar pukul 4, tapi lokasi wisata Kawah Putih belum ditutup. Malam sedikit, Kawah Putih ditutup untuk siapapun. Tak sabar, tak sabar!

Dari pintu masuk tempat membayar tiket, kami harus melalui jalanan berkelak-kelok terlebih dahulu untuk tiba di pelataran parkir Kawah Putih. Ramai, iya tempat parkirnya ramai. Berbeda dengan Waduk Djuanda sebelumnya.

Gue langsung turun dari mobil, cengar-cengir sendiri, muka otomatis sumringah kalau disuguhin tempat macem begini. Jaket sudah membalut badan gue dengan hangatnya, tak lupa bawa masker jaga-jaga kalau gak kuat dengan bau belerangnya.


Belum tiba di kawah, tukang foto keliling sudah menawari kami foto di tulisan besar Kawah Putih. Maka, berfotolah dulu kami. Lalu, langsung kami menuruni tangga kayu menuju kawah. Duh, ramai.

OMG! OMG! OMG! Is this Indonesia? This is amazingly aweeeeeesome!!!!!!! Pekik gue dalam hati. Saking takjubnya mungkin gue engga sadar mulut gue nganga dan aroma belerang dengan leluasanya masuk ke tubuh gue. Gue sungguh dibuat terpesona dan terkagum-kagum dengan keindahan alam Kawah Putih. Seperti di film-film, seperti di dunia peri, even like I'm in the heaven!

Pasir putih terhampar luas, air kawah yang terlihat berwarna kehijauan muda, pepohonan hanya berranting tanpa daun, bebatuan besar hitam nan kokoh berdiri di sekitaran kawah seperti seorang raja yang siaga dengan kedua lengan kekarnya menjaga permaisuri kecilnya yang cantik jelita, Kawah Putih. Perfect blend! Beautifully artistic colors blend! How could GOD have a good taste of art when HE created it? How great Thou Art!


My words aren't enough to describe how wonderful Kawah Putih is, no words could describe it though. Tuhan Maha Keren! AlamNya indah banget banget banget!!!

Tak lupa kami berfoto bersama di Kawah Putih, dan juga gue berfoto sendiri dan motoin alamnya. The best camera is my eyes anyway. Thank GOD, then, thank You so much.

Sebelum hari bertambah gelap, kami merelakan permaisuri cantik kembali ke pelukan sang raja dan kami kembali menelusuri Bandung menuju hotel. Selamat datang, kemacetan.




Hari berikutnya. Selamat pagi, Bandung. Kami siap menuju Tangkuban Perahu. WOOHOO!!!

Jalanan yang menanjak dan berkelak-kelok harus kami lalui sebelum sampai di tujuan. AC mobil kami matikan, lebih seru dan sejuk pakai AC alam. Gak pernah bosen gue menemui pepohonan dan sawah selama di jalan, karena pemandangan yang kayak begini yang dikangenin dari bosennya rutinitas di Jakarta, kan. Dan, semesta yang kayak gini yang bikin lupa semua beban di Jakarta, termasuk kerjaan, kemacetan, polusi, dan keriweuhan lainnya.




#3 Tangkuban Perahu




Setibanya di lokasi wisata Tangkuban Perahu, kami segera meng-eskplore. Berfoto dan berjalan. Ada tracking buatan untuk menuju lebih dekat melihat ke kawah dan bentuk gunung Tangkuban Perahu. Kalo tracking, tetep seruan ngedaki gunung beneran, lebih challenging. Hehehe.


Ramai waktu itu. Tapi, kami masih dapat ruang yang leluasa untuk berjalan dan berfoto. Pegunungan yang kokoh, aroma makanan dan minuman khas di pinggiran jalan menambah khas wisata Tangkuban Perahu. Memandang jauh ke bebatuan besar mengingatkan betapa kecilnya manusia. Kecil banget manusia di hadapan gunung, apalagi di hadapan Tuhan Pencipta semesta raya ini. Kadang kita harus ke gunung untuk mengecilkan segala ego, kesombongan, kesotoyan, dan kebesaran-kebesaran palsu buatan manusia.


Tak hanya turis lokal, banyak turis mancanegara juga turut menikmati keindahan Tangkuban Perahu. Kami bertemu dengan sepasang turis muda dari Jerman. Seperti biasa, Bapak yang begitu bangganya dengan negaranya dengan sukarela dan modal bahasa Inggris alakadarnya menceritakan legenda Tangkuban Perahu yang terkenal itu. Dan, pasangan turis ini mendengarkan dengan seksama sambil mengangguk-anggukkan kepala, entah benaran mengerti atau engga. Hahaha. Lalu, kami berfoto bersama untuk merayakan pertemanan.

Lelah berjalan menyusuri area setapak di sekitaran Tangkuban Perahu, kami rehat di sebuah warung kecil di pinggiran jalan, masih di area Tangkuban Perahu. Menikmati minuman dan cemilan hangat khas tempat dingin, bandrek dan ubi dan pisang goreng. Mak Nyessss!




Sisa hari kami di Bandung dihabiskan untuk wisata belanja dan beli oleh-oleh di Ciampelas. 

Dari semua destinasi wisata di Bandung, favorit gue adalah Kawah Putih, karena it felt like I was brought to a fairy world!^^ However, I loved all those tourism objects we visited. That was an epic family trip! Thank God for that!

Kami tutup family trip ini dengan ucapan syukur untuk kesempatan traveling bareng keluarga yang bikin lupa sama Jakarta ini. Katanya, liburan yang sukses itu liburan yang berhasil bikin kita lupa sama kerjaan. And, we, especially I did it! 



Selamat berkunjung ke Bandung! ^^
GOD bless you.

Sunday, January 3, 2016

Melancong Naik Kereta? Give It a Try!

Masa-masa kejayaan kereta sebagai moda transportasi di kehidupan gue adalah saat SMA. Rutenya lumayan jauh ukuran anak SMA yang kemana-mana naik angkot kayak gue, biasanya Depok-Jatinegara, sejauh-jauhnya Depok-Kota. Itu pun gue selalu naik kereta rame-rame bareng temen-temen, kalau sendiri sih mending gue diem aja di rumah kayak arca.

Waktu itu, sudah sangat jelas, gue seringnya naik kereta ekonomi. Kita harus bersyukur loh, kereta ekonomi sekarang gak se-neraka jaman gue SMA dulu. Gila, gue juga engga habis pikir kenapa dulu mau-maunya merelakan masa abege gue jadi pepesan di kereta ekonomi. Penuh, panas, dempet-dempetan, berdiri, baunya gak karuan, belom lagi was-was copet dan orang-orang mesum. Luar biasa kan nelangsanya.

Selain itu, dari sekian banyak rel dan jalur tujuan kereta di stasiun, gue selalu bingung yang mana jalur yang menjadi tujuan gue dan yang mana kereta yang bakal gue naikin. Itu dia, kenapa gue engga pernah naik kereta sendiri karena kengerian salah jalur atau salah kereta itu.

Namun, semua telah berubah. Seiring dengan semakin canggihnya telepon genggam, semakin canggih juga rasa percaya diri gue (yang mana hasil dimotivasi temen-temen kuliah juga. :p). Jadi, gue dan beberapa teman dekat semasa kuliah ngadain kumpul-kumpul, let’s say reunian kecil-kecilan, ya kita-kita aja sih ehh kami-kami aja, cuman berlima. Kami pilih Cirebon sebagai lokasi paling strategis berhubung gue dan sohib-sohib ini udah berpencar di berbagai daerah di pulau Jawa.



Bermodal pengalaman naik kereta semasa kuliah yang begitu mencekam, sebenarnya gue enggan naik kereta sendiri, ke luar kota pula. Tapi, berkat temen kuliah gue yang menyemangati dan meyakinkan dengan slogan “gak seserem bayangan elu kok, Cik” dan niat gue yang engga mau kalah canggih sama smart phone, akhirnya gue beranikan diri untuk menyanggupi tantangan ini. Ya, tantangan naik kereta ke Cirebon PP sendiri. Biar kayak solo backpacker juga sih.

Bersyukur acara kami ini deketan dengan ulang tahun KAI, jadi gue dapet tiket kereta eksekutif harga ekonomi, cing, buat pulang nanti. Berangkatnya gue dapet tiket kereta ekonomi.

Tiket dipesan di Ind*maret, dapet minuman teh botol, lalu gue sungguh engga sabar untuk naik kereta ke Cirebon PP sendiri. Sebelumnya gue udah minta tolong temen kerja untuk nemenin nyetak tiket kereta di Senen sekalian belajar cara nyetak tiket dan survey stasiun. Fyi, this was my very first time! Gue engga mau buang-buang waktu di hari H dengan muka pelancong plengo yang nyasar di stasiun. Jadi, sekalian nyetak tiket, sekalian gue survey dimana nanti gue akan mengantri masuk dan dimana kereta gue akan bertengger.

Ternyata! Sekarang udah enak ya di stasiun. I mean penumpang engga usah bingung harus kemana dan dimana keretanya, karena di Stasiun Senen khususnya sudah ada semacam lorong-lorong bertuliskan nama kereta sesuai jam keberangkatannya (jangan sampai telat, lho, keretanya in time banget!) dan jalur antrian penumpangnya, jadi untuk first timer kayak gue engga akan jadi pelancong plengo. Sohib gue bener, “engga seserem bayangan elu kok, Cik.”





Hari H. 

Tibalah harinya. Gue udah engga sabar. Pulang kerja, tanpa berganti kostum, gue langsung pesen g*jek melaju menuju Stasiun Senen. Sesampainya di sana, masih lumayan lama sih nunggu kereta gue berangkat, jadi gue mampir dulu di Es Teler 7*. Gak laper, tapi pesen makan supaya bisa duduk nunggu jam keberangkatan kereta. Gak laper, tapi abis makanannya. Haha.

You know, salah satu keseruan berpergian sendiri adalah you will definitely meet new people and places. You can be anyone you wanna be or you can be simply you, and none knows your history. Everyone you meet is new, kecuali kalo engga sengaja ketemu orang yang udah dikenal, terus bilang kalimat paling laris di dunia “dunia sempit ya.” Lalu, ada beberapa orang memutuskan untuk membuka obrolan dengan orang lain yang belum dikenal. Ya, pastinya liat-liat juga ya, kalau yang ngajak ngobrol tampilannya serem dan bawa senjata tajam, mending mundur teratur deh. Nah, saat gue makan di Es Teller 7* ini, ada seorang mbak berkerudung yang ngajak ngobrol, kebetulan kami sama-sama pergi sendiri dan ternyata sama-sama first timer di dunia perkeretaan. Kami ngobrol sebentar, biar otot-otot wajah juga tidak tegang. Saat sudah jamnya, kami berpisah.

Gue naik kereta ekonomi bernama Tegal Arum. Mencari bangku gue dengan beberapa kali tanya orang karena masih gak ngeh gerbong-gerbongnya. Lalu, gue duduk manis di bangku panjang bersama 3 orang lainnya.

Enak sih kereta ekonomi sekarang, sudah ber-AC, bersih, semua penumpang duduk di bangku masing-masing, ada colokan jadi gak usah khawatir baterai ponsel abis, dan gak ada tukang asongan yang wara-wiri di sepanjang gerbong, yang ada petugas kereta yang bawa troli makanan dan minuman untuk dibeli, bahkan katanya ada gerbong khusus kantin gitu yang jualan kopi dan minuman juga makanan lainnya.

Nah, soal bangkunya. Bangkunya itu sandarannya 90 derajat bentuknya, jadi bener-bener tegak lurus. Di situ yang kurang nyaman sih karena untungnya gue masih manusia yang komposisi punggungnya bukan dari triplek atau kayu, jadi pegel coyyy kalo sandarannya tegak lurus dan gak bisa di-setting agak mundur kayak bangku eksekutif gitu. Iya, emang itu sih kekurangannya kereta ekonomi. Tapi, gue rasa masih bisa dibuat lebih nyaman lah bangkunya, jangan 90 derajat banget lah. Ke Cirebon yang hanya makan waktu sekitar 2 jam aja udah bikin punggung gue pegel banget, gimana yang destinasinya lebih jauh lagi. Tapi, good job untuk PT. KAI karena kenyamanan kereta ekonominya udah much better than before.

Keseruan lainnya traveling ke luar kota naik kereta adalah lo bisa nambah temen dengan ngobrol sama orang-orang yang duduk bareng lo. Saat itu gue duduk dengan satu keluarga kecil, ada ayah, ibu, dan satu orang anak laki-laki. Kalau lo bukan orang yang menutup diri banget sih pasti deh bisa ngobrol sama orang-orang yang duduk bareng lo. Ngobrolin macem-macem dari mulai tujuannya kemana, main sama siapa, kerja dimana, bahkan sampe ngomongin enakan mana Jakarta dulu atau sekarang, random sih tapi seru kan nikmatin ngobrol ngalor-ngidul. Karena yang random itu yang bikin dapet temen baru. Dan, satu lagi, dengan ngobrol, di situlah waktu untuk menunjukan bahwa “kebaikan itu ada.” Orang gak perlu kenal deket sama lo, even gak perlu tau nama lo, tapi lo bisa bantu apapun yang lo bisa ke orang lain, sederhana aja kayak berbagi snacks dan minuman yang kita sendiri juga makan/minum, jadi orang pun gak curiga akan dihipnotis haha. That is awesome loh! Kenapa awesome? Karena saat seperti itu lah kita belajar berbuat baik secara tulus. Setulus-tulusnya tulus karena kita gak pernah tau kapan ketemu lagi sama orang itu, mungkin gak akan ketemu lagi, jadi gak akan ada “balas-membalas kebaikan” toh kita cuman punya waktu “saat itu” untuk ninggalin “kesan,” yang pastinya “kesan yang baik” dan nyiptain moment dan memory yang baik dan berkesan di perjalanan lo kan. Lalu, gue percaya, ketika orang lain mendapat kebaikan, hopefully they will be influenced to do the same to the other people because they know how it felt to be treated well. Efek domino gitu.

Ngomong-ngomong, berhubung gue adalah first timer di dunia melancong dengan kereta, jadi seluruh panca indera gue harus terus berfungsi dengan baik. Terutama, mata buat meratiin tiap kereta berhenti di stasiun mana, stasiun tujuan gue bukan, dan buat ngecek jam. Di tiket juga sudah ada jam berapa gue akan sampai di stasiun tujuan anyway.


Berkaitan dengan panca indera, hal lain yang seru ketika naik kereta adalah bisa denger deru kereta yang melaju cepat atau ketika satu kereta melaju bersebelahan dengan kereta lain yang berlawanan arah dengan kereta kita. Suaranya khas aja dan kadang ngagetin.

Setelah sampai di stasiun tujuan, maka turunlah. Yaiyalah yaa, jangan sampe kebablasan atau salah turun stasiun ya. Inget, ini kereta, bukan busway yang kalau salah turun bisa nunggu busway berikutnya tanpa bayar lagi. Hihihi.

Waktu itu gue disambut hangat dengan senyuman lebar dan pelukan dari sohib kuliah gue yang tercinta. Perjalanan naik kereta ke Cirebon PP sendiri ternyata benar seperti yang dia bilang, “gak seserem bayangan elu kok, Cik.”



Cobain, deh! Seru!
Selamat melancong menggunakan kereta api! ;)

Monday, May 5, 2014

I miss you, friends. :'(

Lagi-lagi lagi pengen curhat di blog kesayangan. Emang kamu blog tempat sampah yang setia. Jadi gini, beberapa hari yang lalu, tepatnya saat weekend, gue dan 3 teman lama berencana untuk kongkow bareng. Tentunya, kami berharap personil kongkow kali ini lebih banyak dari acara kumpul-kumpul sebelumnya. Tapi, ternyata... engga ada kemajuan. Dari sekitar belasan temen SMA yang sering barengan karena tergabung dalam sebuah komunitas rohani, sepertinya hanya kami berempat yang jarang absen di acara kongkow yang memang kami sendiri juga yang ngajakin dan ngadain. Miris.

Meskipun sedih, tapi gue bisa maklum karena memang jadwal kami sekarang bukan jadwal SMA lagi, udah beda-beda sesuai jadwal kuliah atau kerjaan masing-masing. Jadi, gue bisa maklum kalau ada beberapa temen yang engga bisa ikutan ngumpul atau sekedar dateng sebentar barang 30 menit atau sejam untuk ngobrol dikit atau minum beberapa teguk kopi.

Gue juga engga mau nyalahin siapa-siapa, apalagi waktu. Waktu hanya menjalankan fungsinya, bukan berniat sengaja mengubah sesuatu. Jadi, mungkin memang udah tiba masanya kita sulit (banget) nyamain jadwal buat kumpul bareng, kecuali memang sama-sama mau dan ikhlas ngorbanin kesibukan kalau emang saking sibuknya.

Kembali ke kami berempat yang tetep ketemuan meskipun cuma berempat. Kegiatan kami sederhana aja sih, hanya datang ke salah satu mall di Depok, langsung meluncur ke food court, pesan makan-minum, lalu ngobrol sambil menikmati hidangan makan siang kami masing-masing.

Lalu, ya namanya juga temen lama udah jarang ketemu jadi sekalinya ketemu kami sebisa mungkin bikin aksi-aksi yang memorable lah. Akhirnya jadilah kita berfoto dengan hash tag "suami bersama" ini. :p



Seusai makan dan ngobrol, kami beranjak ke mall sebelah untuk karaokean. Beberapa deretan lagu dengan berbagai genre sudah kami nyengnyongkan bersama. Lalu, seperti biasa, kami tutup sesi karokean dengan lagu Project Pop, "Ingatlah Hari Ini." Kami nyanyi, joget, teriak, semua terekam dalam video yang sengaja kami ambil pas nyanyiin lagu itu. Biar mellow campur kangen aja pas nonton videonya lagi suatu hari nanti.


Kesukacitaan kami berakhir oleh jarak saat kami harus pulang ke rumah atau kantor masing-masing. Hari itu gue bener-bener happy karena bisa jalan bareng mereka, tau kabar dan kesibukan mereka, menggila bareng mereka. Tapi, jauh di balik perasaan bahagia gue hari itu terpojok perasaan sedih, deh, yang sepertinya gue abaikan.

Jadi, esok pagi, gue bangun sambil mengingat-ingat mimpi semalem. Ternyata tadi malem gue ngimpiin kalau engga salah 3 orang teman SMA gue yang absen acara kumpul-kumpul kemarin. Di mimpi itu, kami seangkot bareng. Well, emang engga elit banget deh ya setting tempatnya, namanya juga mimpi. Nah, di angkot itu, kami ketawa-tawa entah karena apa. Yang gue inget, saat itu, di mimpi itu, gue seneng banget ternyata 3 orang temen gue ini bisa ikutan ngumpul setelah sekian lama engga ketemu. Eh, lalu gue terbangun, ternyata cuma mimpi.

Beberapa jam berikutnya, salah seorang teman SMA gue yang sedih juga karena engga bisa ikut kumpul kemarin nge-tag sebuah gambar tentang persahabatan di path. Panjang banget tulisan di gambar itu, bikin males bacanya. Tapi, tetep gue baca dong. Coba deh lo baca juga.


Jujur, gue merinding pas baca. Orang yang bikin tulisan ini pastinya mengalami apa yang ia tuliskan dong. Ternyata, gue ada temennya. At least penulis tulisan di gambar ini juga merasakan dan mengalami sebuah moment atau masa, temen-temen lama yang dulu sering bareng itu lama-kelamaan sulit diajak ngumpul, lalu mungkin hilang satu demi satu.

Gimana pun juga, gambar dari temen gue ini, bener banget, bener-bener mewakili apa yang gue rasakan dan pengen utarakan tapi gue memilih untuk let it be unspoken.


Thursday, May 1, 2014

Jakarta Under 3 Hours

Badan masih sehat, pikiran juga. Jadi, tidak ada salahnya jika esok hari libur, lalu malam sebelum esok diisi dengan travelling atau bahasa gaulnya “ngebolang”. Udah lama ga ngebolang, rasanya otot-otot kaku (padahal karena jarang olah raga :p). Tapi, tetap gue jabanin yang namanya ngebolang, apalagi ngebolang di tengah rutinitas harian yang… mengempetkan (halah bahasa apa itu -,-“).

Oke, ngebolang gue kali ini ga perlu jauh-jauh, karena memang waktunya tidak memadai, selain karena kocek juga gak merestui. Jadi, destinasi gue kali ini adalah Jakarta. Bosen ya sama Jakarta? Kalau dari orok sampe gede di Jakarta emang wajar sih kalau bosen, secara yang disuguhi ibukota ini cuma 3 hal: macet, polusi, dan paket macet plus polusi. Ya sudah lah ya, disyukuri aja. Berhubung gue bukan anak darah Jakarta, jadi masih banyak tempat di kota ini yang belum gue sambangi, salah duanya adalah Plaza Festival Kuningan dan Taman Suropati, yang mana menjadi target ngebolang gue.

Kali ini, gue bukan single bolang-er, tapi double alias gue pergi bareng sohib kerja, panggil aja dia miss Ina. Miss Ina ini adalah peta gue, karena kalau gak ngintilin dia, gue udah terdampar nunggu taksi karena aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulaaaaaaaang yeah~ (oke, Rumor, jangan lama-lama nyanyi di blog gue ntar pada galau).

Sepulang kerja, setelah disirami dengan santapan rohani, kita melenggang menaiki bus kota. Puji Tuhan, kami dapet duduk dan otomatis terlelap dibuai semilir angin berdebu dari jendela bus yang terbuka. Lumayan, mengistirahatkan mata. Setelah bus kota, kami berdesak-desakan di bus primadona Jakarta, bus apalagi kalau bukan BUSWAY.

Karena jam pulang kerja, alhasil kami harus rela dempet-dempetan dengan penumpang lain. Ilmu keseimbangan tubuh sangat berguna dalam kondisi ini. Gimana bisa dapet ilmu itu? Sering-sering aja naik busway di sore hari.

Oh iya, salah satu perlengkapan perang kalau kalian memilih naik busway adalah masker. Jangan lupa, selalu sedia dan pakai masker, karena lebih baik menghirup bau sendiri daripada bau orang-orang di busway yang beraneka rupa, ya kan?


Busway menibakan kami di destinasi pertama, Plaza Festival, Kuningan. Kata miss Ina, plaza ini udah berubah banget dari yang ia kunjungi dulu, sekarang bentuknya mall. Tapi, untung berubahnya jadi mall, bukan kebun binatang ya. Nah, biar gak sia-sia hanya ketemu mall, akhirnya kami melancong ke toko buku bekas. Toko buku bekas adalah toko yang jarang kami temui di daerah tempat kerja, jadi wajib kami kunjungi.

Pemilik toko buku bekas ini pasti orangnya rapi, karena buku-buku di toko ini tersusun rapi semua sampe gak tega mau ngambil bukunya. Takutnya pas gue ngambil satu buku di antara tumpukan buku lainnya, buku-buku lain langsung jatuh berantakan, terus gue disuruh rapihin lagi satu-satu. Kan males kan? Ya udah gue gak jadi ngambil buku, apalagi beli. Haha! Alasan yang bagus, bukan? (BUKAN! >.<)

Puas bernostalgia dengan buku-buku lama, kami melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya, Taman Suropati. Kami naik bus kota lagi.

Di dalam suatu perjalanan, sudah tidak aneh lagi kalau kita bisa bertemu siapa saja. Kalimat bijak berkata, “people come for a reason” bisa jadi mereka datang untuk menjadi teman, pengalaman, pelajaran, atau… cobaan.

Kayak kenek bus satu ini. Bersyukur kami dipertemukan dengan kenek bus ini karena dia memberi petunjuk jalan dan kendaraan mana yang harus kami tumpangi untuk sampai ke destinasi kedua, tapi gak pake ngejek juga keleeees. Masa doi cengar-cengir pas tau gue ngidam Suropati gegara belum pernah ke sana. Tau deh yang kenek, udah kemana-mana. Sabar… sabar… lalu, gue terpikir menjadi kenek biar bisa travelling kemana-mana (PLAK! -.-“).

Untuk sampai ke taman Suropati, kami perlu jalan beberapa meter dulu. Itung-itung jalan sehat. Setibanya kami di taman, alunan asik saxophone menyambut kedatangan kami. Wah! Bentuk taman ini memang serupa dengan alun-alun di beberapa kota di Jawa Tengah sih. Letaknya di tengah kota, sehingga menjadi spot favorit untuk nongkrong.


Agak kaget juga, di tengah hiruk pikuk Jakarta dengan gedung-gedungnya yang berusaha menyentuh langit dan merobek lapisan ozon, masih ada pepohonan rindang dan besar di taman ini. Bagai mata air di gurun sahara atau es teh pas kepedesan di bawah panas terik matahari.

Taman ini cukup luas. Banyak bangku dan ada kolam, juga sarang burung daranya. Entah kenapa ada burung dara di sana, mungkin biar jadi tambah rame aja, tapi semoga gak ditambahi rusa ya, bisa-bisa jadi kebun binatang nih taman.

Oh iya, kenapa ada saxophone? Karena memang ada orang yang memainkan saxophone di sana (Yaiyalaaaaah). Asiknya dan bedanya taman ini dengan alun-alun yang gue temui di Jawa Tengah adalah orang-orang yang nongkrong di taman ini kreatif-kreatif. Ada yang jogging sendirian, ada yang duduk sambil mainan hape sendirian, tentunya ada yang pacaran, ada juga komunitas-komunitas yang sedang beraktivitas di taman ini seperti komunitas dance, musisi, bahkan ada komunitas rohani yang lagi ibadah di tengah keramaian taman. Nah, semua perbedaan aktivitas dan komunitas tersebut tetap berjalan masing-masing dengan harmonis. Indah loh! Engga ada yang mengganggu satu sama lain, semua boleh beraktivitas positif masing-masing.

Bedanya lagi, taman ini bersih dari pedagang kaki lima. Tapi, kalian tetap bisa makan nasi goreng. Loh kok bisa? Bisa dong, karena  ada beberapa orang yang menjajakan menu makanan ke para pengunjung taman ini. Lalu, jika kita pesen, pesanan kita akan dibawakan ke taman ini. Gue belom liat juga sih mereka itu masak makanannya dimana, pastinya di tempat lain di luar taman.

Nah, bagi pelancong seperti kami, asiknya adalah sembari kami duduk santai dan ngobrol, telinga kami dimanjakan dengan alunan saxophone gratis dari sekelompok anak muda. Pasti saat pagi atau sore taman ini jadi lebih asik lagi. Kalau malam, gelap soalnya.

Mengingat perjalanan pulang kami masih jauh, jadi kami gak berlama-lama di taman ini. Setidaknya, rasa penasaran sudah terpuaskan. Kami pun menunggu bus kota yang mengantar kami pulang.

Jakarta oh Jakarta, memang satu-satunya ibu yang engga pernah tidur seharian. Sudah hampir tengah malam, masih banyak orang seperti kami, menunggu bus kota yang tak kunjung tiba di halte daerah Gambir, Merdeka Timur. Bosan dengan menunggu dan menahan lapar, akhirnya kami foto selfie, hahaha habis mau ngapain lagi.

Untunglah masih ada bus dan lebih untungnya lagi masih ada bangku kosong. Segera kami ambil posisi untuk meletakkan pantat dan kepala, lalu terlelap. Beneran deh, engga bisa nolak tidur kalau naik bus kota, kecuali kalo pas gak kedapetan tempat duduk.

Rasanya bahagia tiba di daerah kekuasaan kami (area kost-an) dengan sehat selamat. Buru-buru kami mencari apapun yang bisa kami makan karena lapar yang tak tertahankan. Sepiring nasi goreng ikan asin plus telur ceplok setengah mateng yang bersanding dengan segelas teh tawar hangat menjadi penutup sederhana yang memuaskan perut gue.


Terimakasih Tuhan untuk pengalaman melancong beberapa area di ibukota, terimakasih miss Ina sudah menjadi rekan ngebolang yang handal, saya senang bekerja sama dengan Anda. Hahaha. Next, ngebolang kemana lagi ya? Hmm… J

Saturday, July 6, 2013

Reuni SDN Bojongsari 01 di Malam Minggu (yang single bacanya: Sabtu Malam)

Malam minggu (untuk yang single bacanya Sabtu malam ya *ehh*), 29 Juni 2013, berlokasi di Surabi Goen-Goen, akhirnya diadakanlah reuni SDN Bojongsari 01 angkatan… angkatan berapa yaaa, gue lupa, pokoknya 10 tahun yang lalu kira-kira hahaha.


Thursday, February 21, 2013

Setiap Tempat Punya Cerita [Rayi Winanti K.]

Merbabu, I'm in Love (with YOU)



Kalau beberapa waktu lalu gue udah memosting tentang perancanaan sampai persiapan pendakian perdana gue dan kawan-kawan sepelayanan ke Merbabu, kini saatnya melanjutkan perjalanan. So, please turn on your imagination, guys! karena kali ini gue akan berusaha sebisa mungkin nyeritain seditel-ditelnya perjalanan pendakian ke Merbabu ini. Oke, please, bayangin kalau kalian sedang ikut gue mendaki ya, hahaha :D

Wednesday, September 12, 2012

Es Krim Goreng Mentereng

Hollaaaaaaaaa, guys! How's life? Hope your life is happy as always!^^

Gue pun lagi bahagia karena setelah sekian lama engga berkuliner ria, kini gue hadir dengan rekomendasi jajanan Indonesia yang kreatif dan nendang di lidah.

Seperti kita denger di berita-berita kalau kekeringan melanda sebagian besar daerah di Indonesia, itu artinya kita sedang ber-musim kemarau. Begitu pun dengan Salatiga, panasnyaaaaa bukan main, beroooh! Tapi, bersyukur sih jemuran jadi cepet kering (ehh -__-") dan tukang es krim jadi laris manis tanjung kimpul. Siapa gak setuju kalau panas-panas itu paling maknyus kalau manjain tenggorokan dengan es krim? Oke, oke, setuju aja ya setuju (ehh maksa -__-").

Wednesday, September 5, 2012

Merbabu, I'm in Love (with YOU)

Serasa kejatuhan magnum bertubi-tubi dari langit, senangnya hati gue waktu seorang kakak bilang, “Tanggal 24 naik gunung yuk!”. Kalau dulu ketemu dan foto bareng Raditya Dika seperti mimpi yang jadi kenyataan, sama halnya dengan naik gunung. Dari dulu (entah dulunya kapan :p), gue pengeeeeeen banget naik gunung.  Apesnya, berkali-kali gue pernah melewatkan kesempatan naik gunung tersebut karena sedang pulang ke rumah tercinta. Nah, kali ini, saat gue di Salatiga dan ada kesempatan naik gunung lagi, I wouldn’t miss it!

Monday, August 27, 2012

Anak Kost Juga Bisa "Berlebaran"

Buat yang anak kost mana telunjuknya? Kali ini gue di pihak kalian loh (padahal kayaknya emang selalu berpihak deh -,-"). Ya, berhubung Lebaran tahun ini gue pas sedang menjelma jadi anak kost di kota rantauan, Salatiga, jadi elegan kayaknya kalau gue membeberkan nasib anak kost bahwasannya mereka ehh kita ding, juga bisa “berlebaran”. “Berlebaran” di sini mari kita persempit artinya menjadi bersilahturahmi beserta kebagian ngicip opor ayam sama ketupat (sah? sah? sah! :p).

Nah, sebelum masuk ke pembuktian bahwa anak kost juga bisa Lebaran berdasarkan pengalaman gue sendiri sebagai perwakilan anak kost (apa? ga mau diwakilin? yaudah salto zaja zanaah -_-"), gue mau kasih sedikit tips dulu gimana caranya anak kost bisa “berlebaran” juga. Cekidot di bawah ini ya! (yang ga mau diwakilin, gak usah cekidot, salto aja).

Saturday, August 18, 2012

Malam Takbiran di Salatiga, Hebring!

Kota orang, Salatiga, sekitar pukul 8 malam, di sana lah gue gak mau ketinggalan melewati malam takbiran bersama dengan teman-teman sepelayanan. Ini kali kesekian gue ber-malam takbiran di kota orang. Agak sedih sih karena malem takbiran kali ini gak kecium bau opor ayam bikinan nyokap yang sedap dan ketupat yang padet. Tapi, coba kasih tepuk tangan yang meriah dulu buat Tuhan karena Dia udah ngebuktiin keadilanNya. Gue tetap diberikan sukacita untuk menikmati malam takbiran yang menyenangkan dan berbeda di Salatiga.

Malam ini, gema takbir mengumandang dimana-mana, letupan-letupan kembang api gak berhenti pecah di udara, perasaan gue pun tiba di suatu moment yang sama tiap tahunnya hanya saja tempat dan kondisinya yang berbeda. Dan terasa sekali sukacita menyambut hari raya Idul Fitri yang tinggal menunggu jam, hari yang sudah dinanti-nanti untuk saudara-saudara yang beragama Islam. Selamat malem takbiran yaaa! :D

Sunday, July 22, 2012

Ohayouuuuuu! Gelaran Jepang, UI

おはようございます
  
Nah loh, pada ngerti ga tulisan di atas itu artinya apa? hehehe^^
Itu Hiragana, tulisan Jepang, boleh copas dari simbah Google Translate (wakakakak :P). Kalau dibaca Ohayou Gozaimasu (kalo ada salah penulisan, muhun mu'up, tulung diralat ya :D), artinya dalam Bahasa Indonesia adalah Selamat Pagiiiiiiiii.^^

Gue memulai intro dengan Ohayou Gozaimasu karena biar kalian yang baca selalu semangat sesemangat setiap kali memulai hari dan menyapa selamat pagiiiiiiii ke dunia :D. Pun, setiap mendengar kalimat sapa dalam bahasa Jepang tersebut gue selalu ingat dengan film kartun Jepang favorit gue seumur-umur hidup yang tayang waktu jaman gue kecil dulu. Cardcaptor Sakura. Kalau kalian penggila kartun Jepang atau semasa kecilnya sering dicekokin tontonan kartun Jepang pasti tau film kartun yang satu ini^^. Tokoh utamanya bernama Sakura Kinomoto. Tau gak sih, fyi aja sih, saking ngefans-nya gue sama kartun ini, email gue dulu ada kinomoto-kinomotonya gitu loh, maklum lah jaman ababil, hihihi. Well, back to Sakura. Nah, hampir di setiap episode-nya kartun ini menayangkan adegan saat si Sakura yang berambut pendek kecokelatan ini mengucapkan selamat pagi dengan semangat dan riang gembira ketika ingin bergabung sarapan dengan Ayah dan kakaknya yang rupawan itu, si Toya :3.

Waspada Gudang Celotehan Bajakan!

Belakangan ini gue iseng buka blog gue setelah sekian lama gak terjamah. Gue iseng aja ketik keyword "Gudang Celotehan" di Googl...