Thursday, June 9, 2016

Waspada Gudang Celotehan Bajakan!

Belakangan ini gue iseng buka blog gue setelah sekian lama gak terjamah. Gue iseng aja ketik keyword "Gudang Celotehan" di Google. Dan, whoolaaa! Ternyata blog gue udah berkembangbiak dengan sendirinya. Ada twitter dengan nama dan cover bikinan gue berjudul "Gudang Celotehan", begitu juga dengan facebook dan beberapa blog yg "nyomot" salah satu cerita dari blog gue dengan judul dan gambar dari cover yang gue bilang sebelumnya itu. Tapi, sayangnya, itu semua dibuat tanpa seizin gue dan pastinya merupakan tindakan tak bertanggungjawab, betul? Betul!
Apalagi, setelah gue telusuri twitter dan facebook yang tak bertanggungjawab menggunakan nama dan cover dari blog gue itu, ternyata isinya pun terbilang aneh dan gak gue banget, makanya agak risih juga apabila ada nama dan cover blog gue di sana dengan isi yang aneh untuk dibaca.

Berikut link-link yang nyomot postingan, judul blog, cover blog, dan mengatasnamakan nama blog gue untuk akun mereka dengan sembarangan:

Nah, karena gue sayang banget sama blog gue ini berasa kampung halaman gue sendiri jadi gue gak akan ngebiarin gitu aja nama blog gue tercemar. Jadi, apa yang bisa gue lakukan?

Tenang, tenang, gue gak akan panggil polisi kok. Gue hanya bikin postingan berjudul "Waspada Gudang Celotehan Bajakan" supaya kalau kalian menemukan blog Gudang Celotehan lain (bajakan) itu bukan blog gue dan postingan yang ia comot juga tanpa seizin gue.

Gue juga engga pernah bikin akun Twitter dan Facebook atas nama "Gudang Celotehan".

Jadi, berhati-hati ya. Kalau pengen baca postingan Gudang Celotehan asli ya dari blog ini. Haha, berasa blog dan penulis tenar aja gue ya. Aminin deh dulu.

Dan, tolong untuk orang-orang tak bertanggung jawab yang nyomot postingan, cover, judul blog, beserta bikin akun Twitter dan Facebook atas nama Gudang Celotehan dengan cover blog gue digiringnya juga di akun-akun tersebut, malu dong. Tolong hargai karya orang lain yang udah susah payah nulis pake ide sendiri dengan tidak membajak. Selain itu gue dan blog gue gak famous, jadi gak ada untungnya lho kalian bajak. Gue yang malah beruntung, blog gue jadi (rada) hits.

Atau, kalau mau ambil postingan atau foto bisa seizin gue atau tulis sumbernya dari gudangcelotehan.blogspot.co.id ya supaya setiap karya orang lain itu dihargai dengan baik. :))

Terimakasih untuk perhatiannya sama blog gue ya dan karya, karya orisinil apapun itu. Hihi. :)

Friday, February 12, 2016

Epic Family Trip to Bandung

Meski sudah lewat setahun, kenangannya masih berkesan di ingatan. Waktu itu, gue dan keluarga berkesempatan untuk menikmati libur di bulan Juli tahun 2015. Kami memilih Bandung sebagai destinasi untuk di-eksplore. Seluruh personil keluarga lengkap ikut trip kali ini. Ada Bapak, Ibu, Bagas, gue, dan Prita, juga satu orang supir.

Itinerary yang mungkin telah dibuat oleh Bapak dan Ibu sudah tertata apik di dalam kepala mereka, karena gue gak melihat ada lembaran itinerary. Jadi, gue menduga semua jadwal trip ini udah terekam di kepala ortu gue.

Perjalanan menuju Bandung dari Jakarta kala itu tidak melulu padat, jadi kami lebih cepat sampai di Bandung. Bapak langsung mengarahkan pak supir untuk ke destinasi pertama. Waduk Djuanda.



#1 Waduk Djuanda


Kami tiba di lokasi Waduk Djuanda cukup pagi, sekitar pukul 10 atau 11 gue lupa. Matahari sedang terik-teriknya bersinar. Gue udah engga peduli lagi kulit bakal tambah eksotis kalau melenggang di area waduk ini pukul segitu. Jadi, tanpa pikir panjang, gue dan keluarga langsung berjalan santai di area Waduk sambil menikmati semesta Bandung yang indah niah di kanan dan kiri kami.


Area waduk ini cukup sepi karena berdekatan dengan pemukiman warga sekitar yang mungkin tak lagi terpesona dengan keberadaannya. Mungkin juga bukan jadi destinasi favorit turis lokal yang traveling ke Bandung. Gue sih tetep suka. Justru yang sepi begini yang eksklusif dan bikin lebih puas. 

Sayang disayang, kami gak bisa masuk ke Waduk, karena menurut satpamnya sih sedang ada perbaikan gitu. Akhirnya, kami cukup berpuas diri dengan dimanjakan alam di sekitar waduk yang engga bikin nyesel. Puas berfoto di sekitaran Waduk Djuanda, kami meneruskan perjalanan untuk mencari "tempat ngadem" untuk menikmati bekal makan siang yang sudah disiapkan Ibu dari rumah. Biar travelling ini tetap fun dan terkontrol pengeluarannya. Hehehe.

By the way, untuk masuk Waduk Djuanda seharusnya tidak dikenakan biaya, menurut Bapak, karena tidak tercantum biaya masuk juga di sekitar pintu masuk waduk. Tapi, berhubung sedang musim liburan dan pak satpam di sana seperti melihat "peluang", maka ia minta Rp. 50.000 sebagai biaya masuk untuk kami semua, beserta mobil. Baiklah.




Tidak begitu jauh dari Waduk Djuanda, kami menemukan rerumputan luas berdekatan dengan danau. That looked suitable for our lunch place. Di bawah rindang pohon besar, kami menggelar tiker yang kami bawa, you know, "tiker" is a must for family trip, isn't it? Makanan dan minuman juga digelar. Ibu dengan telatennya menuangkan nasi beserta lauk, juga meracik kopi dan minuman lainnya untuk kami. Nah, that was a good idea to always bring your coffee sachets and a bottle of hot water wherever you travel to, I guess. That would perfect your moment.








Pemandangan di depan kami, juga semilir angin menjadi teman makan siang kami yang apik. Gue tidur-tiduran terlentang sebentar. Nikmatnya wajah diterpa sinar matahari yang menembus celah-celah dedaunan. Menatap ke kehijauan dedaunan di atas gue, gue bersyukur mudah sekali menikmati semesta.

Selesai dengan makan siang, kami melanjutkan destinasi. Berhubung kami tiba di Bandung lebih awal dari jadwal di dalam kepala Bapak. Jadi, kami masih punya cukup banyak waktu dan rencana diubah, dari yang harusnya langsung ke hotel menjadi meluncur langsung ke Ciwidey, Kawah Putih! YASSSS!!!!

Cukup jauh perjalanan yang ditempuh untuk menuju Kawah Putih. But, I really enjoyed it! Because travelling isn't all about arriving at the destinations, but being on the way to the destinations. So, sejak saat itu gue menyukai kata "on the way." Hahaha.

Ah! Bandung, I love you! Udara menuju Ciwidey dingin dan sejuk. Mata terus dimanjakan dengan hijaunya tanaman liar dan milik warga, kebun stroberi, pepinusan, menyambut kami, "WILUJENG SUMPING!"




#2 Kawah Putih


Here we go. Kawah Putih. Kami tiba cukup sore sekitar pukul 4, tapi lokasi wisata Kawah Putih belum ditutup. Malam sedikit, Kawah Putih ditutup untuk siapapun. Tak sabar, tak sabar!

Dari pintu masuk tempat membayar tiket, kami harus melalui jalanan berkelak-kelok terlebih dahulu untuk tiba di pelataran parkir Kawah Putih. Ramai, iya tempat parkirnya ramai. Berbeda dengan Waduk Djuanda sebelumnya.

Gue langsung turun dari mobil, cengar-cengir sendiri, muka otomatis sumringah kalau disuguhin tempat macem begini. Jaket sudah membalut badan gue dengan hangatnya, tak lupa bawa masker jaga-jaga kalau gak kuat dengan bau belerangnya.


Belum tiba di kawah, tukang foto keliling sudah menawari kami foto di tulisan besar Kawah Putih. Maka, berfotolah dulu kami. Lalu, langsung kami menuruni tangga kayu menuju kawah. Duh, ramai.

OMG! OMG! OMG! Is this Indonesia? This is amazingly aweeeeeesome!!!!!!! Pekik gue dalam hati. Saking takjubnya mungkin gue engga sadar mulut gue nganga dan aroma belerang dengan leluasanya masuk ke tubuh gue. Gue sungguh dibuat terpesona dan terkagum-kagum dengan keindahan alam Kawah Putih. Seperti di film-film, seperti di dunia peri, even like I'm in the heaven!

Pasir putih terhampar luas, air kawah yang terlihat berwarna kehijauan muda, pepohonan hanya berranting tanpa daun, bebatuan besar hitam nan kokoh berdiri di sekitaran kawah seperti seorang raja yang siaga dengan kedua lengan kekarnya menjaga permaisuri kecilnya yang cantik jelita, Kawah Putih. Perfect blend! Beautifully artistic colors blend! How could GOD have a good taste of art when HE created it? How great Thou Art!


My words aren't enough to describe how wonderful Kawah Putih is, no words could describe it though. Tuhan Maha Keren! AlamNya indah banget banget banget!!!

Tak lupa kami berfoto bersama di Kawah Putih, dan juga gue berfoto sendiri dan motoin alamnya. The best camera is my eyes anyway. Thank GOD, then, thank You so much.

Sebelum hari bertambah gelap, kami merelakan permaisuri cantik kembali ke pelukan sang raja dan kami kembali menelusuri Bandung menuju hotel. Selamat datang, kemacetan.




Hari berikutnya. Selamat pagi, Bandung. Kami siap menuju Tangkuban Perahu. WOOHOO!!!

Jalanan yang menanjak dan berkelak-kelok harus kami lalui sebelum sampai di tujuan. AC mobil kami matikan, lebih seru dan sejuk pakai AC alam. Gak pernah bosen gue menemui pepohonan dan sawah selama di jalan, karena pemandangan yang kayak begini yang dikangenin dari bosennya rutinitas di Jakarta, kan. Dan, semesta yang kayak gini yang bikin lupa semua beban di Jakarta, termasuk kerjaan, kemacetan, polusi, dan keriweuhan lainnya.




#3 Tangkuban Perahu




Setibanya di lokasi wisata Tangkuban Perahu, kami segera meng-eskplore. Berfoto dan berjalan. Ada tracking buatan untuk menuju lebih dekat melihat ke kawah dan bentuk gunung Tangkuban Perahu. Kalo tracking, tetep seruan ngedaki gunung beneran, lebih challenging. Hehehe.


Ramai waktu itu. Tapi, kami masih dapat ruang yang leluasa untuk berjalan dan berfoto. Pegunungan yang kokoh, aroma makanan dan minuman khas di pinggiran jalan menambah khas wisata Tangkuban Perahu. Memandang jauh ke bebatuan besar mengingatkan betapa kecilnya manusia. Kecil banget manusia di hadapan gunung, apalagi di hadapan Tuhan Pencipta semesta raya ini. Kadang kita harus ke gunung untuk mengecilkan segala ego, kesombongan, kesotoyan, dan kebesaran-kebesaran palsu buatan manusia.


Tak hanya turis lokal, banyak turis mancanegara juga turut menikmati keindahan Tangkuban Perahu. Kami bertemu dengan sepasang turis muda dari Jerman. Seperti biasa, Bapak yang begitu bangganya dengan negaranya dengan sukarela dan modal bahasa Inggris alakadarnya menceritakan legenda Tangkuban Perahu yang terkenal itu. Dan, pasangan turis ini mendengarkan dengan seksama sambil mengangguk-anggukkan kepala, entah benaran mengerti atau engga. Hahaha. Lalu, kami berfoto bersama untuk merayakan pertemanan.

Lelah berjalan menyusuri area setapak di sekitaran Tangkuban Perahu, kami rehat di sebuah warung kecil di pinggiran jalan, masih di area Tangkuban Perahu. Menikmati minuman dan cemilan hangat khas tempat dingin, bandrek dan ubi dan pisang goreng. Mak Nyessss!




Sisa hari kami di Bandung dihabiskan untuk wisata belanja dan beli oleh-oleh di Ciampelas. 

Dari semua destinasi wisata di Bandung, favorit gue adalah Kawah Putih, karena it felt like I was brought to a fairy world!^^ However, I loved all those tourism objects we visited. That was an epic family trip! Thank God for that!

Kami tutup family trip ini dengan ucapan syukur untuk kesempatan traveling bareng keluarga yang bikin lupa sama Jakarta ini. Katanya, liburan yang sukses itu liburan yang berhasil bikin kita lupa sama kerjaan. And, we, especially I did it! 



Selamat berkunjung ke Bandung! ^^
GOD bless you.

Sunday, January 3, 2016

Melancong Naik Kereta? Give It a Try!

Masa-masa kejayaan kereta sebagai moda transportasi di kehidupan gue adalah saat SMA. Rutenya lumayan jauh ukuran anak SMA yang kemana-mana naik angkot kayak gue, biasanya Depok-Jatinegara, sejauh-jauhnya Depok-Kota. Itu pun gue selalu naik kereta rame-rame bareng temen-temen, kalau sendiri sih mending gue diem aja di rumah kayak arca.

Waktu itu, sudah sangat jelas, gue seringnya naik kereta ekonomi. Kita harus bersyukur loh, kereta ekonomi sekarang gak se-neraka jaman gue SMA dulu. Gila, gue juga engga habis pikir kenapa dulu mau-maunya merelakan masa abege gue jadi pepesan di kereta ekonomi. Penuh, panas, dempet-dempetan, berdiri, baunya gak karuan, belom lagi was-was copet dan orang-orang mesum. Luar biasa kan nelangsanya.

Selain itu, dari sekian banyak rel dan jalur tujuan kereta di stasiun, gue selalu bingung yang mana jalur yang menjadi tujuan gue dan yang mana kereta yang bakal gue naikin. Itu dia, kenapa gue engga pernah naik kereta sendiri karena kengerian salah jalur atau salah kereta itu.

Namun, semua telah berubah. Seiring dengan semakin canggihnya telepon genggam, semakin canggih juga rasa percaya diri gue (yang mana hasil dimotivasi temen-temen kuliah juga. :p). Jadi, gue dan beberapa teman dekat semasa kuliah ngadain kumpul-kumpul, let’s say reunian kecil-kecilan, ya kita-kita aja sih ehh kami-kami aja, cuman berlima. Kami pilih Cirebon sebagai lokasi paling strategis berhubung gue dan sohib-sohib ini udah berpencar di berbagai daerah di pulau Jawa.



Bermodal pengalaman naik kereta semasa kuliah yang begitu mencekam, sebenarnya gue enggan naik kereta sendiri, ke luar kota pula. Tapi, berkat temen kuliah gue yang menyemangati dan meyakinkan dengan slogan “gak seserem bayangan elu kok, Cik” dan niat gue yang engga mau kalah canggih sama smart phone, akhirnya gue beranikan diri untuk menyanggupi tantangan ini. Ya, tantangan naik kereta ke Cirebon PP sendiri. Biar kayak solo backpacker juga sih.

Bersyukur acara kami ini deketan dengan ulang tahun KAI, jadi gue dapet tiket kereta eksekutif harga ekonomi, cing, buat pulang nanti. Berangkatnya gue dapet tiket kereta ekonomi.

Tiket dipesan di Ind*maret, dapet minuman teh botol, lalu gue sungguh engga sabar untuk naik kereta ke Cirebon PP sendiri. Sebelumnya gue udah minta tolong temen kerja untuk nemenin nyetak tiket kereta di Senen sekalian belajar cara nyetak tiket dan survey stasiun. Fyi, this was my very first time! Gue engga mau buang-buang waktu di hari H dengan muka pelancong plengo yang nyasar di stasiun. Jadi, sekalian nyetak tiket, sekalian gue survey dimana nanti gue akan mengantri masuk dan dimana kereta gue akan bertengger.

Ternyata! Sekarang udah enak ya di stasiun. I mean penumpang engga usah bingung harus kemana dan dimana keretanya, karena di Stasiun Senen khususnya sudah ada semacam lorong-lorong bertuliskan nama kereta sesuai jam keberangkatannya (jangan sampai telat, lho, keretanya in time banget!) dan jalur antrian penumpangnya, jadi untuk first timer kayak gue engga akan jadi pelancong plengo. Sohib gue bener, “engga seserem bayangan elu kok, Cik.”





Hari H. 

Tibalah harinya. Gue udah engga sabar. Pulang kerja, tanpa berganti kostum, gue langsung pesen g*jek melaju menuju Stasiun Senen. Sesampainya di sana, masih lumayan lama sih nunggu kereta gue berangkat, jadi gue mampir dulu di Es Teler 7*. Gak laper, tapi pesen makan supaya bisa duduk nunggu jam keberangkatan kereta. Gak laper, tapi abis makanannya. Haha.

You know, salah satu keseruan berpergian sendiri adalah you will definitely meet new people and places. You can be anyone you wanna be or you can be simply you, and none knows your history. Everyone you meet is new, kecuali kalo engga sengaja ketemu orang yang udah dikenal, terus bilang kalimat paling laris di dunia “dunia sempit ya.” Lalu, ada beberapa orang memutuskan untuk membuka obrolan dengan orang lain yang belum dikenal. Ya, pastinya liat-liat juga ya, kalau yang ngajak ngobrol tampilannya serem dan bawa senjata tajam, mending mundur teratur deh. Nah, saat gue makan di Es Teller 7* ini, ada seorang mbak berkerudung yang ngajak ngobrol, kebetulan kami sama-sama pergi sendiri dan ternyata sama-sama first timer di dunia perkeretaan. Kami ngobrol sebentar, biar otot-otot wajah juga tidak tegang. Saat sudah jamnya, kami berpisah.

Gue naik kereta ekonomi bernama Tegal Arum. Mencari bangku gue dengan beberapa kali tanya orang karena masih gak ngeh gerbong-gerbongnya. Lalu, gue duduk manis di bangku panjang bersama 3 orang lainnya.

Enak sih kereta ekonomi sekarang, sudah ber-AC, bersih, semua penumpang duduk di bangku masing-masing, ada colokan jadi gak usah khawatir baterai ponsel abis, dan gak ada tukang asongan yang wara-wiri di sepanjang gerbong, yang ada petugas kereta yang bawa troli makanan dan minuman untuk dibeli, bahkan katanya ada gerbong khusus kantin gitu yang jualan kopi dan minuman juga makanan lainnya.

Nah, soal bangkunya. Bangkunya itu sandarannya 90 derajat bentuknya, jadi bener-bener tegak lurus. Di situ yang kurang nyaman sih karena untungnya gue masih manusia yang komposisi punggungnya bukan dari triplek atau kayu, jadi pegel coyyy kalo sandarannya tegak lurus dan gak bisa di-setting agak mundur kayak bangku eksekutif gitu. Iya, emang itu sih kekurangannya kereta ekonomi. Tapi, gue rasa masih bisa dibuat lebih nyaman lah bangkunya, jangan 90 derajat banget lah. Ke Cirebon yang hanya makan waktu sekitar 2 jam aja udah bikin punggung gue pegel banget, gimana yang destinasinya lebih jauh lagi. Tapi, good job untuk PT. KAI karena kenyamanan kereta ekonominya udah much better than before.

Keseruan lainnya traveling ke luar kota naik kereta adalah lo bisa nambah temen dengan ngobrol sama orang-orang yang duduk bareng lo. Saat itu gue duduk dengan satu keluarga kecil, ada ayah, ibu, dan satu orang anak laki-laki. Kalau lo bukan orang yang menutup diri banget sih pasti deh bisa ngobrol sama orang-orang yang duduk bareng lo. Ngobrolin macem-macem dari mulai tujuannya kemana, main sama siapa, kerja dimana, bahkan sampe ngomongin enakan mana Jakarta dulu atau sekarang, random sih tapi seru kan nikmatin ngobrol ngalor-ngidul. Karena yang random itu yang bikin dapet temen baru. Dan, satu lagi, dengan ngobrol, di situlah waktu untuk menunjukan bahwa “kebaikan itu ada.” Orang gak perlu kenal deket sama lo, even gak perlu tau nama lo, tapi lo bisa bantu apapun yang lo bisa ke orang lain, sederhana aja kayak berbagi snacks dan minuman yang kita sendiri juga makan/minum, jadi orang pun gak curiga akan dihipnotis haha. That is awesome loh! Kenapa awesome? Karena saat seperti itu lah kita belajar berbuat baik secara tulus. Setulus-tulusnya tulus karena kita gak pernah tau kapan ketemu lagi sama orang itu, mungkin gak akan ketemu lagi, jadi gak akan ada “balas-membalas kebaikan” toh kita cuman punya waktu “saat itu” untuk ninggalin “kesan,” yang pastinya “kesan yang baik” dan nyiptain moment dan memory yang baik dan berkesan di perjalanan lo kan. Lalu, gue percaya, ketika orang lain mendapat kebaikan, hopefully they will be influenced to do the same to the other people because they know how it felt to be treated well. Efek domino gitu.

Ngomong-ngomong, berhubung gue adalah first timer di dunia melancong dengan kereta, jadi seluruh panca indera gue harus terus berfungsi dengan baik. Terutama, mata buat meratiin tiap kereta berhenti di stasiun mana, stasiun tujuan gue bukan, dan buat ngecek jam. Di tiket juga sudah ada jam berapa gue akan sampai di stasiun tujuan anyway.


Berkaitan dengan panca indera, hal lain yang seru ketika naik kereta adalah bisa denger deru kereta yang melaju cepat atau ketika satu kereta melaju bersebelahan dengan kereta lain yang berlawanan arah dengan kereta kita. Suaranya khas aja dan kadang ngagetin.

Setelah sampai di stasiun tujuan, maka turunlah. Yaiyalah yaa, jangan sampe kebablasan atau salah turun stasiun ya. Inget, ini kereta, bukan busway yang kalau salah turun bisa nunggu busway berikutnya tanpa bayar lagi. Hihihi.

Waktu itu gue disambut hangat dengan senyuman lebar dan pelukan dari sohib kuliah gue yang tercinta. Perjalanan naik kereta ke Cirebon PP sendiri ternyata benar seperti yang dia bilang, “gak seserem bayangan elu kok, Cik.”



Cobain, deh! Seru!
Selamat melancong menggunakan kereta api! ;)

Saturday, September 19, 2015

Saat Gue Ngomongin Cinta, Bareng Fedi Nuril #2

Di penghujung September ini, gue lagi pengen ngomongin cinta. Bukan apa-apa sih, lagi dapet ilham aja pas nongkrong anteng di depan TV di weekend yang aduhai ini. Seperti biasa, postingan ini hanya ungkapan opini tentang cinta dari kacamata seorang awam. Iya, gue. Jadi, feel free, kalau lo punya pendapat yang berbeda. Siapa tau kita malah bisa saling melengkapi. Siapa tau kita jodoh *ehh….

Jadi, tadi pagi agak siang ya begitulah, saat kebahagiaan menjelma menjadi sebuah moment dimana gue bangun tidur tanpa dibangunin alarm, remot TV yang teronggok kesepian di atas buffet pun gue temenin. Gue duduk anteng di depan TV. Tanpa pilah-pilih lagi, gue langsung nonton program TV di NET. Waktu itu program yang lagi main adalah Entertainment News. Seorang Fedi Nuril sedang diwawancarai soal “jodoh.” Nah, gimana engga langsung konsentrasi gue nontonnya kalau disuguhin Fedi Nuril yang lagi bicara soal “cinta” gini. Engga lama sih dia bicara, tapi pendapat atau prinsip yang dia sampaikan itu cukup berkesan buat gue.


Kira-kira begini adegannya.

Mungkin Fedi ditanya begini.
Fedi, kriteria calon isterinya seperti apa?

Fedi jawab kurang lebih seperti ini.
Hmm… yang mau belajar, karena orang kalau merasa udah bisa dan sombong itu udah parah banget. Yang penting dia mau terus belajar. Yang satu tujuan. Itu penting banget, jadi jangan karena kepepet usia atau ngincer harta atau apanya, tapi yang paling penting punya satu tujuan yang sama. Kalau cantik sih… kalau udah cinta sih keliatan cantik-cantik aja ya, pengalaman gue sebelum-sebelumnya gitu….

Mungkin Fedi ditanya lagi begini.
Oke deh, Fedi, usianya kan udah 33 nih, engga kepengen merit?

Fedi jawab kurang lebih seperti ini.
Hmm… Dari beberapa buku yang gue baca ya, menikah jangan buru-buru, jangan karena umur. Toh banyak yang nikah cepet, cerai juga, malah ada yang ngasih nasehat lagi “jangan buru-buru deh, Fed.” Hahaha. Yang penting sekarang gue terus menjadi lebih baik, terus belajar, biar nanti gue juga dapet pasangan yang lebih baik. Jodoh itu kan rahasia ya. Ada yang ketemu cepet, ada yang lama. Jadi yaa, gue yakin sih menikah yang penting punya satu tujuan yang sama lah, bukan karena usia, terus buru-buru nikah. Bokap gue juga nikah di usia 42 tahun, tapi kehidupan rumah tangganya baik, nyokap gue bahagia, meskipun gue yakin ada cekcok juga tapi engga pernah diliatin ke anak-anaknya. Jadi, jangan buru-buru.

Lalu, wawancara selesai. Padahal gue masih mau mandangin Fedi Nuril, ah sudahlah. Jadi, begitu kira-kira reka tayangan yang gue tonton tadi. Ada beberapa hal soal cinta yang gue mau soroti berkaitan dengan opini Fedi Nuril.


1. Membuka dan memperluas sudut pandang lewat Tuhan dan buku.
Pertama-tama, gue mau kasih jejempol dulu buat Bang Fedi karena gue setuju dengan caranya memandang soal “jodoh” atau bisa dibilang prinsipnya soal jodoh. Gue terpukau waktu dia bilang ada beberapa buku termasuk ilmu dari agamanya dan buku-buku lain yang ia baca tentang pernikahan.


Memang ada baiknya kita memperluas wawasan dan sudut pandang akan sesuatu, apalagi sesuatu itu sangat penting dan sakral seperti pernikahan. Sisa hidup akan kita habiskan di dalam sebuah maligai pernikahan. Iya, sisa hidup. Tidak mungkin kan kita mau sisa hidup kita menjadi sia-sia? Oleh karena itu, gue setuju dengan Bang Fedi untuk mengenal terlebih dahulu tentang apakah itu pernikahan, apa tujuan kita menikah, dengan siapa kita akan menikah, seperti apa seseorang yang akan menjadi pasangan hidup kita, dan lain-lain. 

Pernikahan bukan sesuatu yang main-main--yang bermodalkan niat, umur yang “sudah waktunya”, dan materi, lalu menikahlah. Gue rasa, ada hal lain yang lebih mendalam tentang pernikahan yang kalau kita sudah mengenalnya akan membuat kehidupan pernikahan menjadi lebih baik daripada kita belum mengenalnya. 


Bagaimana cara mengenal lebih dalam soal pernikahan? Beberapa caranya adalah dengan terus mendekatkan diri pada Tuhan Sang Pencipta segala sesuatu, mencari tahu isi hatiNya tentang kita dan pernikahan, mencari tahu tujuanNya bagi kita di dalam sebuah pernikahan; dan membaca buku-buku bagus tentang marriage life atau before marriage life, dari penulis-penulis yang bagus juga pastinya, sehingga lebih banyak lagi sisi tentang pernikahan yang perlu kita kenal atau ketahui sebelum melangkah ke dalamnya. Bukan kah lebih baik mencegah daripada mengobati?


2. Satu tujuan.
Ini juga gue setuju banget. Satu tujuan. Dua kereta berbeda jurusan tidak akan pernah berjalan di jalur yang sama dalam waktu yang sama. Aduh, oke, jelek banget analogi gue. Yang jelas, tujuan itu penting. Memang sih akan seru nyasar bareng dan temukan kejutan-kejutan selama nyasar. Tapi, mau sampai kapan? Kalau kita sudah punya tujuan yang jelas, nyasar pun engga jadi masalah, karena kita bisa buka peta lagi untuk mengarahkan perjalanan ke tujuan yang tepat, kan?


Pernikahan bukan acara perayaan ulang tahun yang selesai dalam semalam, it takes the rest of your life. Perlu ada 2 jiwa dengan 1 tujuan yang sama untuk mengemudikan perahu pernikahan. Sok tau banget ya gue kayak pernah nikah aja. Ada banyak pasangan yang menikah tanpa mengenal tujuan pernikahan toh pernikahannya baik-baik aja tuh. Puji Tuhan, kalau begitu. Tuhan pasti memberkati pernikahan anak-anak yang dikasihiNya. Tapi, gue yakin sih 2 insan berbeda pasti menyelaraskan tujuannya sebelum memasuki pernikahan dan sama-sama mengerjakan tujuan tersebut. 

Tujuan seperti apa sih yang dimaksud? Gue juga masih terus menanyakannya. Bisa jadi, pasangan hidup lo adalah orang yang Tuhan siapkan dan sediakan untuk mengerjakan misi tertentu di bidang tertentu. Mana tau. Bisa jadi.


3. Jangan buru-buru.
Kita perlu mengingat pernikahan sebagai sesuatu yang sakral dan penting, bukan sebuah trend. Apalagi suatu “paksaan” usia dan komentar para makhluk penuh perhatian di sekitar kita. Yang akan menjalankan pernikahan adalah kita dan pasangan, bukan orang lain. Jadi, bener tuh, nasehatnya temennya Fedi Nuril, “jangan buru-buru deh, Fed.”


Jodoh pun rahasia, bener kata Fedi Nuril. Ada yang ketemunya cepet, ada yang lama. Waktu yang ada saat ini, gimana kalau digunakan untuk terus memperbaiki diri, terus belajar, terus mengembangkan diri menjadi lebih baik, terus berkawan dengan baik? Gue juga percaya, Tuhan itu maha ditel. Kalau saat ini kelihatannya senyap-senyap saja bukan berarti Tuhan tidak memedulikan atau melupakan bagian percintaan di hidup kita. Akan indah pada waktunya. God don’t miss a thing. Tuhan tidak melewatkan sekecil apapun urusan hidup kita, bahkan jumlah helai rambut kita pun Ia tahu.


4. Yang mau belajar dan yang nyambung.
Kriteria Fedi Nuril satu ini boleh juga ditambah ke kriteria kita, Sob. Seseorang yang mau belajar itu selalu melihat hal baru untuk dipelajari, apapun itu. Seru kayaknya kalau belajar bareng sampai ajal memisahkan nanti, hahaha. Engga sampai di situ aja, tapi juga membagikan apa yang dipelajari ke orang lain, paling tidak ke pasangannya.


Satu lagi, gue pernah baca kalimat yang intinya seperti ini, “fisik yang bagus bisa menua, tapi pasangan yang nyaman dan nyambung kalo diajak ngobrol itu lebih dari itu. Karena kita akan hidup menua bersama dengan pasangan, kalau sama fisik bisa bosen, tapi kalau obrolan tetep nyambung dan nyaman sampai kapanpun engga akan bosen.” Seperti itu.


Begitulah omongan cinta gue kali ini. Terinspirasi secara tidak sengaja (tapi engga ada yang kebetulan, hehe) dari Fedi Nuril. Akan terinspirasi dari siapa lagi ya? Hm, yang pasti siapa mengetuk, pintu akan dibukakan. Siapa mencari akan menemukan. Jadi, kalau bener-bener kepo soal cinta dan pernikahan, kepoin Tuhan terus yang Empunya segala sesuatu ya. Dia bisa ajarkan lewat apapun. Bersyukur untuk Tuhan yang luar biasa. 

Semoga bermanfaat! Selamat menikmati proses Tuhan di bagian cinta. *ajiyeeeee J 

Saturday, August 15, 2015

Journalism is My First Love, Education is the True Love.

Jurnalistik adalah cinta pertama gue. Sebelum mengenalnya, seperti kebanyakan anak kecil suka membuat deretan cita-cita yang yaa lo tau sendiri gimana akhirnya, gue pun demikian dulu. Jurnalis masuk di dalam deretan cita-cita gue. Dulu, gue masih belum mengenal kata jurnalistik, yang gue tahu adalah menjadi penulis buku atau kerja (menulis) di majalah. Seiring melangkahnya waktu, cita-cita gue itu ternyata bagian di dalam bidang jurnalistik dan gue semakin jatuh cinta padanya. Lebaynya kayak gini, gue jatuh cinta padanya bahkan sebelum gue mengenalnya. Saik kan? Hahaha.



Gue semakin jatuh cinta pada jurnalistik semenjak Tuhan mempertemukan gue dengan banyak kesempatan untuk berkecimpung di dalamnya, meski belum terlalu dalam. Saat SMA dan kuliah, gue mulai sangat menikmati menulis yang diburu-buru, dikejar-kejar deadline, dan di bawah tekanan untuk segera terbit. Intinya sama, gue menikmati bekerja di bawah tekanan. You know why? Karena engga tau kenapa, para ide menawan itu selalu datang mepet deadline. Pada jurnalistik, semakin gue mengenalnya, semakin jatuh hati padanya. Ibarat cinta pertama. The first time you are wondering "is this love? whatever! I love you." and all you wanna do is being around your first love for it's the first time you know that you're falling in love.

However, life. It goes on. And, God. You can't predict what God have for you. Sama seperti manusia pada umumnya, semakin bertambah usia, gue bertemu dengan banyak hal baru, orang-orang baru, juga pengalaman-pengalaman baru. In this case, imagine that you just break up with your first love, but because that's the first love, who can win to forget it? Lalu, gue mulai mengenal bidang lain yang ternyata tidak kalah menarik dengan jurnalistik, meskipun jurnalistik masih terbayang dan jejaknya berbekas di benak gue. Saiiiik. Bidang itu adalah pendidikan.


Untuk bidang yang satu ini, gue engga pernah memasukkannya di deretan cita-cita ababil gue. Tapi, kalau lo tau istilah "cinta karena terbiasa", I think that's what's happening between education and I. Secara gue terjerembab di fakultas Pendidikan dimana gue lebih menyukai pelajaran sastra-nya, gue mulai sedikit demi sedikit mengenal dunia pendidikan. Segala teori pendidikan yang sebagian besar gue lupa (tanpa sengaja), gue lahap di bangku kuliah. Sebagian tercerna dengan baik, sebagian lagi tersendat, karena saat itu gue emang kurang minat berkutat di dalamnya. Namun, apa yang sudah dimulai harus diselesaikan, bukan? It's like you find a cute foe and unexpectedly fall in love with him. Gue pun mulai menyukainya.

Perjalanan cinta gue pada pendidikan tidak berhenti pada "pencekokan" materi-materi kuliah, tapi terlebih pada sebuah fakta yang terdengar seperti jerit tangis di telinga gue. Fakta dimana pendidikan di Indonesia ini masih memprihatinkan. Gue engga menyoroti bagian dalamnya Pendidikan, bahkan bagian permukaan pendidikan Indonesia masih memprihatinkan. Kualitas dan fasilitas pendidikan yang belum merata di berbagai pelosok Indonesia, kemiskinan yang berdampak pada banyak anak terpaksa tidak bisa sekolah bahkan beberapa jika ditanya lebih memilih "bekerja" ketimbang sekolah, belum lagi kemerosotan moral anak-anak sekolah di beberapa tempat, dan lain-lain. That's knocking my heart, that's calling me. Lalu, melihat semua itu, apa gue harus pura-pura gak lihat? mendengar semua itu, apa gue harus pura-pura engga denger? I found that education is my vision, my true love. Does it sound bullsh*t? Everyone may judge, but I don't care, I love it, my true love. Are you wondering what I have done for it? Well, I say, not yet, hmm... or in processing.

Gue yang saat itu seperti bayi yang baru terlahir di dunia bekerja pun masih bingung menentukan langkah. Dan, dengan berani (ukuran gue), memilih bekerja di dunia pendidikan bermodal cita-cita di bangku kuliah untuk memberi sumbangsih pada dunia pendidikan Indonesia, tapi entah apa rencana Tuhan, it isn't that easy to be a teacher and I think I wanna give up. Meskipun demikian, setiap kesempatan yang gue temui gue yakini bukanlah kebetulan, paling tidak menjadi pembelajaran.


Sempat gue berpikir mimpi gue di dunia pendidikan terlalu tinggi hingga gue menyederhanakannya dengan mendidik setiap anak yang Tuhan percayakan ke gue dengan baik dan mengenalkan mereka pada Tuhan sejak dini. Dan, ternyata itu pun tidak sesederhana kelihatannya. Namun, I keep setting it 5 cm afar from my forehead, so I keep trying my best with God's help to do it. Sampai sekarang, gue masih berharap dan berdoa bisa menuntaskan, apabila terlalu mustahil, ikut ambil bagian untuk mendidik anak-anak yang belum bersekolah karena tidak ada pilihan. May it doesn't sound great, but do come true. That's why I admit that education is my true love. That involves heart, prayers, time, passion, and most of all is God, to love and work for it. Because love is a verb, a continuous verb, education is my true love. 

I put my vision on God's hand for I'm just a tool and He is The Creator. God who is activating me for the things He wants me to do. May it doesn't sound great, but do come true.

Saturday, August 8, 2015

"Gue emang gitu orangnya" Vs. "Gue mau bertumbuh lebih baik"

I used to think that being myself is all I need. But, I've just realized that being myself and being ignorant to grow up is nearly the same.

Dulu gue pernah mati-matian menanamkan dalam kepala, gue ya gue, dia ya dia, do not dare to compare! Memang setiap orang memiliki keunikkan masing-masing dan baik untuk dipertahankan. Tapi, sering kali anggapan "menjadi diri sendiri" itu digunakan dengan keliru. Pula, ternyata anggapan "menjadi orang lain" dan "pertumbuhan menjadi dewasa" nyaris sama dan sulit dibedakan. Namun, jika kita sedikit saja lebih peka dan berpikir positif, dengan sangat mudah mereka dapat dibedakan.


Gue pernah bertemu seseorang, yang gue percaya lagi-lagi setiap pertemuan dengan orang baru pun bukan hal kebetulan, dia berusia lebih tua dari gue dan memiliki lebih banyak pengalaman di bidang yang kami geluti. Secara kami adalah dua insan yang berbeda, cara kami menghadapi sesuatu pun berbeda, tapi sudah banyak "makan asam garam" pun menjadi faktor penting dan berpengaruh di dalam menghadapi segala sesuatu.

Beberapa kali kami sering saling bercerita dan berpendapat tentang banyak hal. Gue pernah sangat ngotot kalo apa yang gue udah lakukan adalah paling benar, that's me and the way I deal with a thing. Namun, di matanya cara gue salah, lalu dia sampaikan pendapat juga sarannya. Gue bersikukuh dengan pendapat gue sendiri, dan menolak untuk "mejadi orang lain" dengan mengikuti sarannya yang engga "gue banget." However, that's not the end.

Gue mikirin lagi saran sekaligus kritik darinya dan tiba pada suatu pemahaman bahwa gue sudah terlalu tinggi membangun tembok hingga menutupi diri dari semua hal yang mungkin lebih baik efeknya buat diri gue sendiri. Saran dan kritikan dari orang lain yang lebih berpengalaman bukanlah pemaksaan untuk menjadi orang lain. Mereka telah beberapa langkah di depan gue, pernah melewati jalan-jalan yang saat ini gue lewati, dan tahu bagaimana baiknya melewatinya. Mereka justru sangat baik karena mau berbagi ilmu, bahkan mungkin sedang menolong kita agar tidak jatuh di jalan dimana dulu mereka pernah jatuh. Gue akhirnya berterimakasih pada teman gue itu dan berjanji untuk gak lagi ngotot dengan pikiran "gue mau jadi diri sendiri, gue engga mau jadi orang lain."

Setelah saat itu, gue mulai membuka pikiran dan menemukan anggapan yang keliru tentang "menjadi diri sendiri". Contohnya seperti ini, gue adalah orang yang lebih suka diam. Ketika di sebuah pertemuan besar membahas beberapa hal, sering kali gue menemukan ide, namun menyimpannya dan menyampaikannya ke teman dekat. Ketika ada orang lain yang bilang, "sampein aja di forum," gue akan menolak dengan malu-malu sambil bilang dalam hati "itu kan elo, gue kan engga gitu orangnya." Padahal yang sebenarnya adalah gue sudah terlalu lama membatasi diri gue pada kemampuan sebatas menyimpan ide, belum menyuarakannya. Gara-gara paham "gue emang gini orangnya" yang terlalu lama tertanam di kepala, perkembangan menjadi pribadi yang lebih baik pun terhambat.

Itu hanya satu contoh. Tanpa sadar, mungkin ada lebih banyak lagi hal-hal baik dan membangun yang sudah kita tolak gara-gara anggapan yang keliru tentang menjadi diri sendiri. Hati-hati ya, guys. Coba dipikirkan lagi, bisa jadi hal-hal yang kita anggap berusaha mengusik kita untuk menjadi orang lain bukanlah hal-hal yang harus ditolak mentah-mentah. Lo memang akan jadi orang lain, orang lain yang lebih baik dari sekarang.

Lalu, "menjadi diri sendiri" seperti apa yang benar? Benar dan salah bukan gue yang memutuskan. Namun, bagi gue, yang terpenting adalah tidak menutup diri dan membatasi diri dengan pikiran "gue ya gini orangnya." As time goes by, we should grow up, shouldn't we? So, open our mind and grow up. When you can be better than who you are now, why get stuck to be just you? Let's be better you! :)

Tuesday, June 30, 2015

Tiny Little Miracles

Kalau lo percaya, di hidup ini ada banyak sekali keajaiban kecil yang disediakan Tuhan, yang sedikit saja lo abaikan, dia menjadi hal biasa yang lo inget aja engga.

Gue, orang yang percaya dengan keajaiban-keajaiban kecil dalam keseharian. Yang gue maksud dengan keajaiban-keajaiban kecil dalam keseharian adalah segala sesuatu yang tidak disangka-sangka terjadi di dalam hidup dan membuat gue sontak amazed dengan semua yang sudah atau sedang terjadi itu. Ini bukan kebetulan, tetapi seperti ada sebuah rancangan lain di dalam rancangan yang gue buat sendiri sehari-hari. Did you get the point? Jadi, kayak ada "sesuatu" yang merencanakan "keajaiban-keajaiban" itu terjadi di waktu yang tepat.


Keajaiban-keajaiban kecil ini biasanya akan lebih terlihat atau terasa pada seseorang yang suka bikin agenda atau perencanaan, sebutlah an organized person. Jadi, ketika lo sudah membuat rencana atau agenda tentang apa yang akan lo kerjakan dalam sehari dengan sangat rapih, eh ternyata, ada hal yang tidak berjalan sesuai rencana lo, tapi pas lo pikir-pikir lagi ternyata hal yang tidak berjalan sesuai rencana lo itu justru like "a brilliant idea" dibanding apa yang udah direncanain sebelumnya. Something like a brilliant idea itu yang gue sebut "keajaiban kecil" dalam keseharian. Dan, gue percaya itu kerjaannya Tuhan, Pencipta semesta dan seisinya ini, yang sudah sangat baik, teliti, dan peduli sama lo, gue, kita semua. Hal-hal yang "missed" dari perencanaan, ditel-ditel yang lupa kita pikirkan, Tuhan tahu itu semua dan He is working on it, even in your best plan ever, you're never best in it anyway. But, God completes you. You must be amazed and thankful.

Jadi, beberapa keajaiban yang telah terjadi di hidup gue belakangan ini cukup lengket di memori dan memohon untuk ditulis. Tapi, gue pilih 2 kejadian aja yang paling terngiang-ngiang. Oh iya, karena gue menyebutnya keajaiban kecil, jadi ini memang kejadian kecil bahkan sepele, bukan suatu kejadian besar atau wow.

1. Keajaiban kecil pertama: Batik
Semalaman gue sudah merencanakan baju batik mana yang akan gue kenakan ke kantor di Jumat Batik esok hari. Ya, batik pemberian dari salah seorang teman kantor gue sendiri. Kenapa? Karena besok adalah Jumat Batik terakhir yang gue ikuti sebelum gue pindah bekerja. Gue belum pernah pakai batik dari dia sebelumnya dan ingin sekali pakai untuk besok. Alasan lainnya sederhana, gue berharap temen gue bisa lihat dan senang kalau gue pakai batik pemberiannya yang indah tersebut. Maka, gue pakailah batik itu esoknya. Aktifitas bekerja berjalan dari pagi hingga sore. Namun, sepanjang waktu bekerja tersebut, gue belum juga ketemu dengan temen gue itu, bahkan berpapasan aja belum, mungkin karena hari itu kesibukkan merajai kami. 


Gue sempat sedikit kecewa karena niat buat nunjukkin gue make batik dari dia engga kesampean, padahal ini Jumat Batik terakhir. Tapi, ya sudahlah, gue ikhlasin aja, yang penting niatnya udah baik, begitu pikir gue. Gue lalu bersiap pulang ke kost, tapi sebelumnya mampir ke ruangan teman dahulu untuk mengembalikan barang yang gue pinjem. Sesampainya di ruangan temen gue, orangnya malah engga ada. Lalu, berbelok arahlah gue untuk kembali ke ruangan. Di ujung koridor, tanpa disangka, temen gue yang ngasih batik ini sedang ngunci pintu ruangannya, bersiap pulang. Tersenyumlah gue dengan sumringah dan menghampirinya sambil memamerkan baju batik darinya. Dirinya balas tersenyum lebar sambil bilang "bagus!" Seraya menyusuri koridor bersama, gue ceritakanlah betapa hopeless-nya gue tadi karena gue pikir engga akan ketemu dirinya sama sekali hari ini dan gagal pamer batik, tapi ternyata engga. 

Hal-hal tak terduga di luar rancangan gue, yang nyaris seperti kebetulan, tapi gue sih percayanya Tuhan tahu dan peduli dengan niat gue (yang lumayan kekanak-kanakan) itu. Maka, terjadilah semesta mempertemukan gue dengan teman gue itu saat jam pulang bekerja. Cara bekerja Tuhan terhadap hal-hal kecil atau sepele yang bikin gue amazed itulah yang gue sebut "keajaiban kecil." Dan, keajaiban kecil selalu berakhir pada kebaikan bagi diri kita sendiri.


2. Keajaiban kecil kedua: Pesan Terkirim
Gue inget banget, gue pernah bersungut-sungut karena harus mengerjakan satu hal bersama dengan teman gue. Bukan temen gue yang ngeselin, tapi cara bekerja yang melibatkan orang lain untuk satu hal tersebutlah yang awalnya gue pikir menyebalkan dan ribet.

Jadi, gue harus mengirim email berisi PowerPoint hampir setiap minggu ke teman gue ini untuk membagikan apa yang gue sudah persiapkan. Begitu juga sebaliknya, dia kirim PPT ke gue. Berjalanlah terus seperti itu pola bekerja gue dan dia. Terkadang gue merasa pola bekerja seperti ini menghambat kelancaran dan kecepatan gue dalam bekerja. Tapi, tunggu dulu.


Ada satu hari dimana gue kehilangan semua data di flashdisk gue karena flashdisknya rusak. Semua data di dalamnya tidak terselamatkan. Gue dengan sangat jenius pun tidak pernah mem-backup semua data itu ke komputer kantor atau laptop gue yang udah uzur di kost. Padahal, gue memiliki tanggung jawab untuk membuat laporan dari setiap pertemuan yang harus segera dikumpulkan. Di sini gue merasa galau sebenar-benarnya arti galau.

Di saat galau dengan musibah rusaknya flashdisk, gue inget kalo gue bekerja barengan sama temen gue dimana gue selalu share PPT ke email dia. Berasa dapet duren mateng jatoh di ember, gue bisa menyelesaikan laporan berkat nge-scroll-down-in bagian Pesan Terkirim di email untuk menyimpan PPT-PPT lama. Ternyata, Pesan Terkirim ini sudah menjadi back-up beberapa data gue, bahkan data terpenting. Ngirim-ngirim email yang dulunya nyebelin itu sekarang jadi sangat membantu.

Dari kejadian ini, gue sangat bersyukur. Tuhan mampu membuat gue melihat yang tadinya "kenapa begini? kenapa begitu?" menjadi "UNTUNG begini, untung begitu." Lagi-lagi, gue dibuat terkagum dengan cara Tuhan campur tangan dalam hal-hal kecil dan sepele di hidup gue. Itulah "keajaiban kecil."


See? Those are examples of tiny little miracles that God made. Gue yakin, setiap orang pernah mengalami keajaiban-keajaiban kecil, baik disadari atau tidak disadari. Tuhan itu penuh kejutan dan manusia itu lemah sehebat apapun dia. Untung, Tuhan baik, makanya Ia turut terlibat di dalam setiap detik yang terjadi di hidup kita. Tapi, bukan berarti kita engga perlu lagi bikin perencanaan. Melainkan, teruslah membuat perencanaan dan bawa itu ke dalam doa. Inget, Tuhan itu baik, peduli, dan teliti.

Selamat menikmati dan bersyukur akan hal-hal kecil dan keajaiban-keajaiban kecil. Tuhan bersama kita. :)

Sunday, June 21, 2015

Don't Forget to Be Happy! (Meeting Up with Jenny and Meykke)

Apapun yang sedang terjadi di hidup lo, don't forget to be happy because you deserve to be happy. ;)

Salah satu hal yang membuat gue bahagia adalah bertemu dengan kawan-kawan lama. Lalu, bercerita tentang banyak hal dari mulai mengenang masa lalu bersama mereka sampai meng-update kabar terbaru di hidup masing-masing, seperti soal pekerjaan atau rencana ke depan.

Beberapa hari lalu, tepatnya Selasa, 16 Juni 2015, gue ketemuan dengan 2 kawan lama semasa perjuangan di bangku kuliah 2 tahun silam, Jenny dan Meykke. Kami dulu seangkatan di UKSW (Universitas Kristen Satya Wacana). Di jurusan yang sama, kami pun sempet sekelas untuk beberapa mata kuliah. Pun, kami berjuang bersama menempuh medan yang bernama "skripsi" dan puji Tuhan lulus pun di tahun yang sama.

Gue percaya engga ada yang kebetulan, termasuk bagaimana akhirnya kami bertemu setelah 2 tahun lamanya tak bersua. Serunya lagi, kami bertemu di Jakarta, kota yang tak pernah kami duga menjadi titik pertemuan kami yang pertama, kota yang selalu sibuk dengan segala rutinitas penduduknya. Di antara kesibukan itu, kami akhirnya bertemu. Meski hanya beberapa jam karena Jenny harus segera menuju stasiun kereta untuk kembali ke Semarang, namun beberapa jam itu lebih dari cukup untuk mengobati rasa kangen dengan cerita dan foto-foto.


Saat itu Jenny sedang berlibur beberapa hari di Jakarta, Meykke pun sedang libur dari pekerjaannya di Cibubur, gue juga lagi libur di Depok. Waktu yang sangat pas untuk mengusahakan pertemuan bukan? Maka, Atrium Senen siang itu menjadi meeting point kami. Kami mencari lokasi yang tidak terlalu jauh dari Stasiun Senen.

Ada yang bilang "kalo di Jakarta itu masa muda kita bisa abis di jalan," gue mengartikannya dengan "lama di jalan." You know, Jakarta yang super padat, macet di sana-sini, jadi sepertinya sebagian penduduk Jakarta udah biasa menghabiskan waktu berjam-jam di jalan untuk menuju ke suatu tempat. Jadi, begitulah yang juga gue dan Meykke alami demi pertemuan yang langka ini. And, that was paid off by our fun gathering. ^^

Gue ditemani dengan adik yang saat itu juga mau beli buku tiba paling terakhir. Kami berempat langsung menuju Es Teller 77 untuk mengisi perut dan memulai saling bercerita banyak hal. Di sinilah kebahagiaan itu. Meng-update kabar dari temen-temen lama dengan sangat seru karena tentunya banyak tantangan sudah kami lewati dalam 2 tahun kami menempuh jalan masing-masing selepas kuliah. Betapa bersyukurnya! :)

Ngopi. Ini kegiatan yang paling gue senangi, apalagi kalau ditambah dengan teman-teman lama sepaket dengan cerita-ceritanya. Di perhentian kedua ini, kami pun saling bercerita dan mendengar. Dan, satu hal yang teramat wajib, orang-orang menyebutnya "groufie" atau "wefie," nama lain dari selfie rame-rame. None is taking a picture of something they want to forget. Therefore, we were so excited that we took lots of groufies, and we did want more gatherings like this with the other college friends.


Pukul 1 siang, temu kangen kami mau tak mau harus disudahi. Peluk hangat mengantar Jenny yang saat itu harus segera kembali ke kost mengambil barang-barangnya, lalu menuju stasiun Senen. Sedih hanya bisa berjumpa beberapa jam, tapi bersyukur karena masih bisa berjumpa di sela-sela rutinitas kami. See you in another time, Jenny. I miss you already. :'))

Meykke, gue, dan adik gue lalu menuju ke tempat lain, tujuan utama adik gue tepatnya, tapi berhubung gue dan Meykke juga suka baca jadi kami dengan bersemangat menuju ke Pasar Buku Senen di dekat Terminal Pasar Senen. Kami hanya perlu berjalan kaki sebentar dari Atrium Senen untuk ke sana.
Setibanya di sana, berjejer rapi kios-kios dengan tumpukan-tumpukan buku yang menjulang tinggi. Wah! Gue bertanya-tanya dalam hati, berapa banyak buku yang sudah para pedagang buku tersebut baca ya? Siapa duga, mereka bisa jadi berwawasan sangat luas. Tawar menawar pun terjadi dan kami berhasil memboyong beberapa buku yang tak sabar untuk dibaca. Selesai dengan belanja buku, gue harus berpisah dengan Meykke. It's been a good day with you, Meykke. See you next time. :')) *soundtrack: See You Again mengalun di dalam kepala.*

Gue sangat bersyukur hari itu bisa bertemu mereka, Jenny dan Meykke. Perjalanan yang kami saling ceritakan saat bertemu tadi pun menunjukkan betapa Tuhan sangat baik sudah memelihara kehidupan kami sampai saat ini. Sampai ketemu lagi ya. I'm looking forward to meet you guys again and the other college friends too. Keep in touch! Don't forget to be happy because you deserve to be happy. God bless us as always. :)

Wednesday, June 10, 2015

Kotoran Kambing Tetaplah Kotoran Kambing

Aku sudah kenyang. Kenyang dengan pemanis-pemanis buatan. Tak hanya kenyang, ini sudah sampai level muak. Ya, segala sesuatu yang berlebihan memang tidak baik, termasuk pemanis buatan yang berlebihan. Sebagai penikmat kehidupan, aku tak bisa mengatur kadar manisnya karena tugasku hanya menikmati apa yang disajikan oleh kehidupan ini.

Semua itu tergantung sudut pandang, ada yang bilang. Semua, entah itu masa-masa sulit atau hal-hal yang menyenangkan. Memang iya, semua tergantung penikmatnya. Kotoran kambing pun terlihat baik dan bermanfaat jika dipandang sebagai salah satu komposisi pupuk yang baik untuk tanaman. Dalam sudut pandang lain, kotoran kambing pun akan terlihat menjijikan dan kotor jika dipandang sebagai makanan. Namun, kotoran kambing tetaplah kotoran sebagaimana dia diciptakan. Sebaik apapun ia dipindang, kotoran kambing tetaplah kotoran kambing.

Hal-hal buruk pun tidak akan begitu menyiksa jika kita berhasil memandangnya sebagai hal yang tidak menyiksa. Yang membuatmu tersiksa akan sesuatu ialah dirimu sendiri yang menganggap atau membiarkan hal itu menyiksamu, ada yang bilang. Tapi, ada yang berbeda dengan ketidakadilan. Dari segala sudut pandang, bagiku, ketidakadilan bukanlah hal yang bisa dikategorikan ke dalam hal yang baik atau yang dinikmati saja atau yang dijalani saja. Memang bisa hal itu dianggap "biasa saja" namun ingatlah kotoran kambing tetaplah kotoran kambing sebagaimana dia ada. Oleh karenanya, aku percaya bahwa ada beberapa hal buruk di kehidupan ini yang tidak bisa dianggap atau dipandang wajar atau umum atau biasa atau dinikmati saja. 

Hei, kau penikmat kehidupan. Cara menikmati kehidupan bukan menikmati segala yang baik dan buruk menjadi hal-hal yang nikmat-nikmat saja. Pun, cara memandang kehidupan bukanlah memandang yang buruk menjadi baik-baik saja. Itu bukan menikmati ataupun memandang positif, itu membiarkan! Jika suatu saat bangsa ini menjadi bobrok dan hancur (resiko dalam skala besar), jangan kau memaki-maki dan bersungut-sungut, karena kau bagian di dalamnya yang membiarkan segala hal yang buruk itu terjadi begitu saja, bahkan kau nikmati keberadaannya, atau malah kau sedang melestarikannya. Jika kau tidak merasa di dalamnya, bersyukur dan lanjutkanlah. Jika kau sadar berada di dalamnya, bertobat dan bersuaralah melawannya. Tuhan tidak tidur. Tuhan tidak diam. Tuhan tidak bodoh.

Wednesday, February 11, 2015

Dimana Tuasnya?

Terlalu ramai.
Aku harus menghindar.
Terlalu bising.
Aku perlu ketenangan.
Bahkan saat tiba di sana,
di dalam kepala masih saja bicara.
Aku bertanya-tanya,
Kenapa kepalaku terus berbicara?
Aku bingung,
Ada apa di dalam kepalaku?

Dimana tuasnya?
Tuas untuk menghentikan semua suara
Kok rasanya susah mengontrol pikiran sendiri

Ah, mungkin hanya perasaan saja
Tapi, nanti begitu lagi
Jadi, ini hanya perasaan atau memang ada yang salah?

Monday, January 26, 2015

Nyapa Blog Aja

Udah lama banget gak nulis, keyboard jadi kaku-kaku. Engga ada topik khusus yang mau gue tulis sih. Makin lama blog ini makin mirip kayak kotak saran di restoran-restoran deh. Diisi kadang-kadang, tapi toh jarang juga dilongok. Iya, dilongok sama bloggernya sendiri. Oke, gue tau, blog gue pasti udah jengaaaaaaah soal gue yang minta maaf karena jarang ngeblog.

Sore ini, entah sore yang keberapa dari Senin yang kesian yang udah gue lewati sebagai seorang manusia yang udah engga terbilang baru lagi menjejaki dunia pekerjaan. Ya, sore yang rasanya masih sama seperti awal-awal gue lompat dari anak kuliahan ke anak kerjaan (anak kerjaan? ya you know what I mean lah :p). Jadi, karena rasanya masih sama, gue mau berterimakasih pada Pencipta yang mengizinkan banyak cara terlintas di otak gue untuk tetap maju, melewati hari demi hari, menghitungnya.

Pertama, terimakasih pada MP3 di ponsel yang akhir-akhir ini lebih sering gue denger, teristimewa untuk sederet lagunya abang ganteng John Mayer, Duo Couplenya Endah 'n Rhesa plus Banda Neira, juga Mocca, dan tak lupa abang Tulus dan Buble. Dengerin musik bisa mengalihkan pikiran gue dari momok yang itu-itu aja ke hal-hal lain, sangat membantu pula untuk merilekskan saraf-saraf yang kayaknya saling tarik persis main tarik tambang, itu dia gue takut ada saraf yang putus aja, hahaha. Untung ada musik. Bersyukur banget, gue yang engga jago nyanyi dan cuman bisa main suling sama keyboard kadang-kadang, bisa sangat menikmati musik. Gue sangat mensyukuri keahlian gue sebagai penikmat musik. Iya, modalnya cuman kuping sama hati aja. Haha.

Kedua, tentunya ucapan terimakasih teriring pada bercangkir-cangkir kopi yang gue minum. Sangat membantu. Emang sih kopi itu engga membantu gue buat engga tidur, tapi membantu untuk menenangkan pikiran dan hati. Seandainya air putih itu kopi.

Ketiga, menulis. Wahai pikiran dan jemari yang berkolaborasi dengan cantik, terimakasih ya. Gue merasakan betul kalo menulis itu menyembuhkan. Emang! Emang engga 100% menghilangkan penyakit. Itu mah lo ke dokter lah. Tapi, menulis itu membantu untuk menuangkan perasaan dan pikiran yang mau gue tuang. Sama kayak termos yang keisi kopi panas terus-menerus, sayang kalau kopinya dibuang, jadi harus ada wadah buat menumpahkan luberan kopi yang udah berlebihan tersebut. Yang pasti, setiap habis nulis, gue merasa lebih baik, meskipun gue harus berjuang untuk menyaring penggunaan kata-katanya. Sebenernya itu agak mengganggu, tapi kalau engga disaring, mungkin bakal kebaca terlalu pait.

Keempat, lawak. Diberkatilah para komedian atau pelawak di acara-acara TV, berkat mereka gue engga lupa caranya ketawa loh. Terimakasih!


Waspada Gudang Celotehan Bajakan!

Belakangan ini gue iseng buka blog gue setelah sekian lama gak terjamah. Gue iseng aja ketik keyword "Gudang Celotehan" di Googl...