Showing posts with label feeling good. Show all posts
Showing posts with label feeling good. Show all posts

Friday, February 12, 2016

Epic Family Trip to Bandung

Meski sudah lewat setahun, kenangannya masih berkesan di ingatan. Waktu itu, gue dan keluarga berkesempatan untuk menikmati libur di bulan Juli tahun 2015. Kami memilih Bandung sebagai destinasi untuk di-eksplore. Seluruh personil keluarga lengkap ikut trip kali ini. Ada Bapak, Ibu, Bagas, gue, dan Prita, juga satu orang supir.

Itinerary yang mungkin telah dibuat oleh Bapak dan Ibu sudah tertata apik di dalam kepala mereka, karena gue gak melihat ada lembaran itinerary. Jadi, gue menduga semua jadwal trip ini udah terekam di kepala ortu gue.

Perjalanan menuju Bandung dari Jakarta kala itu tidak melulu padat, jadi kami lebih cepat sampai di Bandung. Bapak langsung mengarahkan pak supir untuk ke destinasi pertama. Waduk Djuanda.



#1 Waduk Djuanda


Kami tiba di lokasi Waduk Djuanda cukup pagi, sekitar pukul 10 atau 11 gue lupa. Matahari sedang terik-teriknya bersinar. Gue udah engga peduli lagi kulit bakal tambah eksotis kalau melenggang di area waduk ini pukul segitu. Jadi, tanpa pikir panjang, gue dan keluarga langsung berjalan santai di area Waduk sambil menikmati semesta Bandung yang indah niah di kanan dan kiri kami.


Area waduk ini cukup sepi karena berdekatan dengan pemukiman warga sekitar yang mungkin tak lagi terpesona dengan keberadaannya. Mungkin juga bukan jadi destinasi favorit turis lokal yang traveling ke Bandung. Gue sih tetep suka. Justru yang sepi begini yang eksklusif dan bikin lebih puas. 

Sayang disayang, kami gak bisa masuk ke Waduk, karena menurut satpamnya sih sedang ada perbaikan gitu. Akhirnya, kami cukup berpuas diri dengan dimanjakan alam di sekitar waduk yang engga bikin nyesel. Puas berfoto di sekitaran Waduk Djuanda, kami meneruskan perjalanan untuk mencari "tempat ngadem" untuk menikmati bekal makan siang yang sudah disiapkan Ibu dari rumah. Biar travelling ini tetap fun dan terkontrol pengeluarannya. Hehehe.

By the way, untuk masuk Waduk Djuanda seharusnya tidak dikenakan biaya, menurut Bapak, karena tidak tercantum biaya masuk juga di sekitar pintu masuk waduk. Tapi, berhubung sedang musim liburan dan pak satpam di sana seperti melihat "peluang", maka ia minta Rp. 50.000 sebagai biaya masuk untuk kami semua, beserta mobil. Baiklah.




Tidak begitu jauh dari Waduk Djuanda, kami menemukan rerumputan luas berdekatan dengan danau. That looked suitable for our lunch place. Di bawah rindang pohon besar, kami menggelar tiker yang kami bawa, you know, "tiker" is a must for family trip, isn't it? Makanan dan minuman juga digelar. Ibu dengan telatennya menuangkan nasi beserta lauk, juga meracik kopi dan minuman lainnya untuk kami. Nah, that was a good idea to always bring your coffee sachets and a bottle of hot water wherever you travel to, I guess. That would perfect your moment.








Pemandangan di depan kami, juga semilir angin menjadi teman makan siang kami yang apik. Gue tidur-tiduran terlentang sebentar. Nikmatnya wajah diterpa sinar matahari yang menembus celah-celah dedaunan. Menatap ke kehijauan dedaunan di atas gue, gue bersyukur mudah sekali menikmati semesta.

Selesai dengan makan siang, kami melanjutkan destinasi. Berhubung kami tiba di Bandung lebih awal dari jadwal di dalam kepala Bapak. Jadi, kami masih punya cukup banyak waktu dan rencana diubah, dari yang harusnya langsung ke hotel menjadi meluncur langsung ke Ciwidey, Kawah Putih! YASSSS!!!!

Cukup jauh perjalanan yang ditempuh untuk menuju Kawah Putih. But, I really enjoyed it! Because travelling isn't all about arriving at the destinations, but being on the way to the destinations. So, sejak saat itu gue menyukai kata "on the way." Hahaha.

Ah! Bandung, I love you! Udara menuju Ciwidey dingin dan sejuk. Mata terus dimanjakan dengan hijaunya tanaman liar dan milik warga, kebun stroberi, pepinusan, menyambut kami, "WILUJENG SUMPING!"




#2 Kawah Putih


Here we go. Kawah Putih. Kami tiba cukup sore sekitar pukul 4, tapi lokasi wisata Kawah Putih belum ditutup. Malam sedikit, Kawah Putih ditutup untuk siapapun. Tak sabar, tak sabar!

Dari pintu masuk tempat membayar tiket, kami harus melalui jalanan berkelak-kelok terlebih dahulu untuk tiba di pelataran parkir Kawah Putih. Ramai, iya tempat parkirnya ramai. Berbeda dengan Waduk Djuanda sebelumnya.

Gue langsung turun dari mobil, cengar-cengir sendiri, muka otomatis sumringah kalau disuguhin tempat macem begini. Jaket sudah membalut badan gue dengan hangatnya, tak lupa bawa masker jaga-jaga kalau gak kuat dengan bau belerangnya.


Belum tiba di kawah, tukang foto keliling sudah menawari kami foto di tulisan besar Kawah Putih. Maka, berfotolah dulu kami. Lalu, langsung kami menuruni tangga kayu menuju kawah. Duh, ramai.

OMG! OMG! OMG! Is this Indonesia? This is amazingly aweeeeeesome!!!!!!! Pekik gue dalam hati. Saking takjubnya mungkin gue engga sadar mulut gue nganga dan aroma belerang dengan leluasanya masuk ke tubuh gue. Gue sungguh dibuat terpesona dan terkagum-kagum dengan keindahan alam Kawah Putih. Seperti di film-film, seperti di dunia peri, even like I'm in the heaven!

Pasir putih terhampar luas, air kawah yang terlihat berwarna kehijauan muda, pepohonan hanya berranting tanpa daun, bebatuan besar hitam nan kokoh berdiri di sekitaran kawah seperti seorang raja yang siaga dengan kedua lengan kekarnya menjaga permaisuri kecilnya yang cantik jelita, Kawah Putih. Perfect blend! Beautifully artistic colors blend! How could GOD have a good taste of art when HE created it? How great Thou Art!


My words aren't enough to describe how wonderful Kawah Putih is, no words could describe it though. Tuhan Maha Keren! AlamNya indah banget banget banget!!!

Tak lupa kami berfoto bersama di Kawah Putih, dan juga gue berfoto sendiri dan motoin alamnya. The best camera is my eyes anyway. Thank GOD, then, thank You so much.

Sebelum hari bertambah gelap, kami merelakan permaisuri cantik kembali ke pelukan sang raja dan kami kembali menelusuri Bandung menuju hotel. Selamat datang, kemacetan.




Hari berikutnya. Selamat pagi, Bandung. Kami siap menuju Tangkuban Perahu. WOOHOO!!!

Jalanan yang menanjak dan berkelak-kelok harus kami lalui sebelum sampai di tujuan. AC mobil kami matikan, lebih seru dan sejuk pakai AC alam. Gak pernah bosen gue menemui pepohonan dan sawah selama di jalan, karena pemandangan yang kayak begini yang dikangenin dari bosennya rutinitas di Jakarta, kan. Dan, semesta yang kayak gini yang bikin lupa semua beban di Jakarta, termasuk kerjaan, kemacetan, polusi, dan keriweuhan lainnya.




#3 Tangkuban Perahu




Setibanya di lokasi wisata Tangkuban Perahu, kami segera meng-eskplore. Berfoto dan berjalan. Ada tracking buatan untuk menuju lebih dekat melihat ke kawah dan bentuk gunung Tangkuban Perahu. Kalo tracking, tetep seruan ngedaki gunung beneran, lebih challenging. Hehehe.


Ramai waktu itu. Tapi, kami masih dapat ruang yang leluasa untuk berjalan dan berfoto. Pegunungan yang kokoh, aroma makanan dan minuman khas di pinggiran jalan menambah khas wisata Tangkuban Perahu. Memandang jauh ke bebatuan besar mengingatkan betapa kecilnya manusia. Kecil banget manusia di hadapan gunung, apalagi di hadapan Tuhan Pencipta semesta raya ini. Kadang kita harus ke gunung untuk mengecilkan segala ego, kesombongan, kesotoyan, dan kebesaran-kebesaran palsu buatan manusia.


Tak hanya turis lokal, banyak turis mancanegara juga turut menikmati keindahan Tangkuban Perahu. Kami bertemu dengan sepasang turis muda dari Jerman. Seperti biasa, Bapak yang begitu bangganya dengan negaranya dengan sukarela dan modal bahasa Inggris alakadarnya menceritakan legenda Tangkuban Perahu yang terkenal itu. Dan, pasangan turis ini mendengarkan dengan seksama sambil mengangguk-anggukkan kepala, entah benaran mengerti atau engga. Hahaha. Lalu, kami berfoto bersama untuk merayakan pertemanan.

Lelah berjalan menyusuri area setapak di sekitaran Tangkuban Perahu, kami rehat di sebuah warung kecil di pinggiran jalan, masih di area Tangkuban Perahu. Menikmati minuman dan cemilan hangat khas tempat dingin, bandrek dan ubi dan pisang goreng. Mak Nyessss!




Sisa hari kami di Bandung dihabiskan untuk wisata belanja dan beli oleh-oleh di Ciampelas. 

Dari semua destinasi wisata di Bandung, favorit gue adalah Kawah Putih, karena it felt like I was brought to a fairy world!^^ However, I loved all those tourism objects we visited. That was an epic family trip! Thank God for that!

Kami tutup family trip ini dengan ucapan syukur untuk kesempatan traveling bareng keluarga yang bikin lupa sama Jakarta ini. Katanya, liburan yang sukses itu liburan yang berhasil bikin kita lupa sama kerjaan. And, we, especially I did it! 



Selamat berkunjung ke Bandung! ^^
GOD bless you.

Sunday, January 3, 2016

Melancong Naik Kereta? Give It a Try!

Masa-masa kejayaan kereta sebagai moda transportasi di kehidupan gue adalah saat SMA. Rutenya lumayan jauh ukuran anak SMA yang kemana-mana naik angkot kayak gue, biasanya Depok-Jatinegara, sejauh-jauhnya Depok-Kota. Itu pun gue selalu naik kereta rame-rame bareng temen-temen, kalau sendiri sih mending gue diem aja di rumah kayak arca.

Waktu itu, sudah sangat jelas, gue seringnya naik kereta ekonomi. Kita harus bersyukur loh, kereta ekonomi sekarang gak se-neraka jaman gue SMA dulu. Gila, gue juga engga habis pikir kenapa dulu mau-maunya merelakan masa abege gue jadi pepesan di kereta ekonomi. Penuh, panas, dempet-dempetan, berdiri, baunya gak karuan, belom lagi was-was copet dan orang-orang mesum. Luar biasa kan nelangsanya.

Selain itu, dari sekian banyak rel dan jalur tujuan kereta di stasiun, gue selalu bingung yang mana jalur yang menjadi tujuan gue dan yang mana kereta yang bakal gue naikin. Itu dia, kenapa gue engga pernah naik kereta sendiri karena kengerian salah jalur atau salah kereta itu.

Namun, semua telah berubah. Seiring dengan semakin canggihnya telepon genggam, semakin canggih juga rasa percaya diri gue (yang mana hasil dimotivasi temen-temen kuliah juga. :p). Jadi, gue dan beberapa teman dekat semasa kuliah ngadain kumpul-kumpul, let’s say reunian kecil-kecilan, ya kita-kita aja sih ehh kami-kami aja, cuman berlima. Kami pilih Cirebon sebagai lokasi paling strategis berhubung gue dan sohib-sohib ini udah berpencar di berbagai daerah di pulau Jawa.



Bermodal pengalaman naik kereta semasa kuliah yang begitu mencekam, sebenarnya gue enggan naik kereta sendiri, ke luar kota pula. Tapi, berkat temen kuliah gue yang menyemangati dan meyakinkan dengan slogan “gak seserem bayangan elu kok, Cik” dan niat gue yang engga mau kalah canggih sama smart phone, akhirnya gue beranikan diri untuk menyanggupi tantangan ini. Ya, tantangan naik kereta ke Cirebon PP sendiri. Biar kayak solo backpacker juga sih.

Bersyukur acara kami ini deketan dengan ulang tahun KAI, jadi gue dapet tiket kereta eksekutif harga ekonomi, cing, buat pulang nanti. Berangkatnya gue dapet tiket kereta ekonomi.

Tiket dipesan di Ind*maret, dapet minuman teh botol, lalu gue sungguh engga sabar untuk naik kereta ke Cirebon PP sendiri. Sebelumnya gue udah minta tolong temen kerja untuk nemenin nyetak tiket kereta di Senen sekalian belajar cara nyetak tiket dan survey stasiun. Fyi, this was my very first time! Gue engga mau buang-buang waktu di hari H dengan muka pelancong plengo yang nyasar di stasiun. Jadi, sekalian nyetak tiket, sekalian gue survey dimana nanti gue akan mengantri masuk dan dimana kereta gue akan bertengger.

Ternyata! Sekarang udah enak ya di stasiun. I mean penumpang engga usah bingung harus kemana dan dimana keretanya, karena di Stasiun Senen khususnya sudah ada semacam lorong-lorong bertuliskan nama kereta sesuai jam keberangkatannya (jangan sampai telat, lho, keretanya in time banget!) dan jalur antrian penumpangnya, jadi untuk first timer kayak gue engga akan jadi pelancong plengo. Sohib gue bener, “engga seserem bayangan elu kok, Cik.”





Hari H. 

Tibalah harinya. Gue udah engga sabar. Pulang kerja, tanpa berganti kostum, gue langsung pesen g*jek melaju menuju Stasiun Senen. Sesampainya di sana, masih lumayan lama sih nunggu kereta gue berangkat, jadi gue mampir dulu di Es Teler 7*. Gak laper, tapi pesen makan supaya bisa duduk nunggu jam keberangkatan kereta. Gak laper, tapi abis makanannya. Haha.

You know, salah satu keseruan berpergian sendiri adalah you will definitely meet new people and places. You can be anyone you wanna be or you can be simply you, and none knows your history. Everyone you meet is new, kecuali kalo engga sengaja ketemu orang yang udah dikenal, terus bilang kalimat paling laris di dunia “dunia sempit ya.” Lalu, ada beberapa orang memutuskan untuk membuka obrolan dengan orang lain yang belum dikenal. Ya, pastinya liat-liat juga ya, kalau yang ngajak ngobrol tampilannya serem dan bawa senjata tajam, mending mundur teratur deh. Nah, saat gue makan di Es Teller 7* ini, ada seorang mbak berkerudung yang ngajak ngobrol, kebetulan kami sama-sama pergi sendiri dan ternyata sama-sama first timer di dunia perkeretaan. Kami ngobrol sebentar, biar otot-otot wajah juga tidak tegang. Saat sudah jamnya, kami berpisah.

Gue naik kereta ekonomi bernama Tegal Arum. Mencari bangku gue dengan beberapa kali tanya orang karena masih gak ngeh gerbong-gerbongnya. Lalu, gue duduk manis di bangku panjang bersama 3 orang lainnya.

Enak sih kereta ekonomi sekarang, sudah ber-AC, bersih, semua penumpang duduk di bangku masing-masing, ada colokan jadi gak usah khawatir baterai ponsel abis, dan gak ada tukang asongan yang wara-wiri di sepanjang gerbong, yang ada petugas kereta yang bawa troli makanan dan minuman untuk dibeli, bahkan katanya ada gerbong khusus kantin gitu yang jualan kopi dan minuman juga makanan lainnya.

Nah, soal bangkunya. Bangkunya itu sandarannya 90 derajat bentuknya, jadi bener-bener tegak lurus. Di situ yang kurang nyaman sih karena untungnya gue masih manusia yang komposisi punggungnya bukan dari triplek atau kayu, jadi pegel coyyy kalo sandarannya tegak lurus dan gak bisa di-setting agak mundur kayak bangku eksekutif gitu. Iya, emang itu sih kekurangannya kereta ekonomi. Tapi, gue rasa masih bisa dibuat lebih nyaman lah bangkunya, jangan 90 derajat banget lah. Ke Cirebon yang hanya makan waktu sekitar 2 jam aja udah bikin punggung gue pegel banget, gimana yang destinasinya lebih jauh lagi. Tapi, good job untuk PT. KAI karena kenyamanan kereta ekonominya udah much better than before.

Keseruan lainnya traveling ke luar kota naik kereta adalah lo bisa nambah temen dengan ngobrol sama orang-orang yang duduk bareng lo. Saat itu gue duduk dengan satu keluarga kecil, ada ayah, ibu, dan satu orang anak laki-laki. Kalau lo bukan orang yang menutup diri banget sih pasti deh bisa ngobrol sama orang-orang yang duduk bareng lo. Ngobrolin macem-macem dari mulai tujuannya kemana, main sama siapa, kerja dimana, bahkan sampe ngomongin enakan mana Jakarta dulu atau sekarang, random sih tapi seru kan nikmatin ngobrol ngalor-ngidul. Karena yang random itu yang bikin dapet temen baru. Dan, satu lagi, dengan ngobrol, di situlah waktu untuk menunjukan bahwa “kebaikan itu ada.” Orang gak perlu kenal deket sama lo, even gak perlu tau nama lo, tapi lo bisa bantu apapun yang lo bisa ke orang lain, sederhana aja kayak berbagi snacks dan minuman yang kita sendiri juga makan/minum, jadi orang pun gak curiga akan dihipnotis haha. That is awesome loh! Kenapa awesome? Karena saat seperti itu lah kita belajar berbuat baik secara tulus. Setulus-tulusnya tulus karena kita gak pernah tau kapan ketemu lagi sama orang itu, mungkin gak akan ketemu lagi, jadi gak akan ada “balas-membalas kebaikan” toh kita cuman punya waktu “saat itu” untuk ninggalin “kesan,” yang pastinya “kesan yang baik” dan nyiptain moment dan memory yang baik dan berkesan di perjalanan lo kan. Lalu, gue percaya, ketika orang lain mendapat kebaikan, hopefully they will be influenced to do the same to the other people because they know how it felt to be treated well. Efek domino gitu.

Ngomong-ngomong, berhubung gue adalah first timer di dunia melancong dengan kereta, jadi seluruh panca indera gue harus terus berfungsi dengan baik. Terutama, mata buat meratiin tiap kereta berhenti di stasiun mana, stasiun tujuan gue bukan, dan buat ngecek jam. Di tiket juga sudah ada jam berapa gue akan sampai di stasiun tujuan anyway.


Berkaitan dengan panca indera, hal lain yang seru ketika naik kereta adalah bisa denger deru kereta yang melaju cepat atau ketika satu kereta melaju bersebelahan dengan kereta lain yang berlawanan arah dengan kereta kita. Suaranya khas aja dan kadang ngagetin.

Setelah sampai di stasiun tujuan, maka turunlah. Yaiyalah yaa, jangan sampe kebablasan atau salah turun stasiun ya. Inget, ini kereta, bukan busway yang kalau salah turun bisa nunggu busway berikutnya tanpa bayar lagi. Hihihi.

Waktu itu gue disambut hangat dengan senyuman lebar dan pelukan dari sohib kuliah gue yang tercinta. Perjalanan naik kereta ke Cirebon PP sendiri ternyata benar seperti yang dia bilang, “gak seserem bayangan elu kok, Cik.”



Cobain, deh! Seru!
Selamat melancong menggunakan kereta api! ;)

Tuesday, June 30, 2015

Tiny Little Miracles

Kalau lo percaya, di hidup ini ada banyak sekali keajaiban kecil yang disediakan Tuhan, yang sedikit saja lo abaikan, dia menjadi hal biasa yang lo inget aja engga.

Gue, orang yang percaya dengan keajaiban-keajaiban kecil dalam keseharian. Yang gue maksud dengan keajaiban-keajaiban kecil dalam keseharian adalah segala sesuatu yang tidak disangka-sangka terjadi di dalam hidup dan membuat gue sontak amazed dengan semua yang sudah atau sedang terjadi itu. Ini bukan kebetulan, tetapi seperti ada sebuah rancangan lain di dalam rancangan yang gue buat sendiri sehari-hari. Did you get the point? Jadi, kayak ada "sesuatu" yang merencanakan "keajaiban-keajaiban" itu terjadi di waktu yang tepat.


Keajaiban-keajaiban kecil ini biasanya akan lebih terlihat atau terasa pada seseorang yang suka bikin agenda atau perencanaan, sebutlah an organized person. Jadi, ketika lo sudah membuat rencana atau agenda tentang apa yang akan lo kerjakan dalam sehari dengan sangat rapih, eh ternyata, ada hal yang tidak berjalan sesuai rencana lo, tapi pas lo pikir-pikir lagi ternyata hal yang tidak berjalan sesuai rencana lo itu justru like "a brilliant idea" dibanding apa yang udah direncanain sebelumnya. Something like a brilliant idea itu yang gue sebut "keajaiban kecil" dalam keseharian. Dan, gue percaya itu kerjaannya Tuhan, Pencipta semesta dan seisinya ini, yang sudah sangat baik, teliti, dan peduli sama lo, gue, kita semua. Hal-hal yang "missed" dari perencanaan, ditel-ditel yang lupa kita pikirkan, Tuhan tahu itu semua dan He is working on it, even in your best plan ever, you're never best in it anyway. But, God completes you. You must be amazed and thankful.

Jadi, beberapa keajaiban yang telah terjadi di hidup gue belakangan ini cukup lengket di memori dan memohon untuk ditulis. Tapi, gue pilih 2 kejadian aja yang paling terngiang-ngiang. Oh iya, karena gue menyebutnya keajaiban kecil, jadi ini memang kejadian kecil bahkan sepele, bukan suatu kejadian besar atau wow.

1. Keajaiban kecil pertama: Batik
Semalaman gue sudah merencanakan baju batik mana yang akan gue kenakan ke kantor di Jumat Batik esok hari. Ya, batik pemberian dari salah seorang teman kantor gue sendiri. Kenapa? Karena besok adalah Jumat Batik terakhir yang gue ikuti sebelum gue pindah bekerja. Gue belum pernah pakai batik dari dia sebelumnya dan ingin sekali pakai untuk besok. Alasan lainnya sederhana, gue berharap temen gue bisa lihat dan senang kalau gue pakai batik pemberiannya yang indah tersebut. Maka, gue pakailah batik itu esoknya. Aktifitas bekerja berjalan dari pagi hingga sore. Namun, sepanjang waktu bekerja tersebut, gue belum juga ketemu dengan temen gue itu, bahkan berpapasan aja belum, mungkin karena hari itu kesibukkan merajai kami. 


Gue sempat sedikit kecewa karena niat buat nunjukkin gue make batik dari dia engga kesampean, padahal ini Jumat Batik terakhir. Tapi, ya sudahlah, gue ikhlasin aja, yang penting niatnya udah baik, begitu pikir gue. Gue lalu bersiap pulang ke kost, tapi sebelumnya mampir ke ruangan teman dahulu untuk mengembalikan barang yang gue pinjem. Sesampainya di ruangan temen gue, orangnya malah engga ada. Lalu, berbelok arahlah gue untuk kembali ke ruangan. Di ujung koridor, tanpa disangka, temen gue yang ngasih batik ini sedang ngunci pintu ruangannya, bersiap pulang. Tersenyumlah gue dengan sumringah dan menghampirinya sambil memamerkan baju batik darinya. Dirinya balas tersenyum lebar sambil bilang "bagus!" Seraya menyusuri koridor bersama, gue ceritakanlah betapa hopeless-nya gue tadi karena gue pikir engga akan ketemu dirinya sama sekali hari ini dan gagal pamer batik, tapi ternyata engga. 

Hal-hal tak terduga di luar rancangan gue, yang nyaris seperti kebetulan, tapi gue sih percayanya Tuhan tahu dan peduli dengan niat gue (yang lumayan kekanak-kanakan) itu. Maka, terjadilah semesta mempertemukan gue dengan teman gue itu saat jam pulang bekerja. Cara bekerja Tuhan terhadap hal-hal kecil atau sepele yang bikin gue amazed itulah yang gue sebut "keajaiban kecil." Dan, keajaiban kecil selalu berakhir pada kebaikan bagi diri kita sendiri.


2. Keajaiban kecil kedua: Pesan Terkirim
Gue inget banget, gue pernah bersungut-sungut karena harus mengerjakan satu hal bersama dengan teman gue. Bukan temen gue yang ngeselin, tapi cara bekerja yang melibatkan orang lain untuk satu hal tersebutlah yang awalnya gue pikir menyebalkan dan ribet.

Jadi, gue harus mengirim email berisi PowerPoint hampir setiap minggu ke teman gue ini untuk membagikan apa yang gue sudah persiapkan. Begitu juga sebaliknya, dia kirim PPT ke gue. Berjalanlah terus seperti itu pola bekerja gue dan dia. Terkadang gue merasa pola bekerja seperti ini menghambat kelancaran dan kecepatan gue dalam bekerja. Tapi, tunggu dulu.


Ada satu hari dimana gue kehilangan semua data di flashdisk gue karena flashdisknya rusak. Semua data di dalamnya tidak terselamatkan. Gue dengan sangat jenius pun tidak pernah mem-backup semua data itu ke komputer kantor atau laptop gue yang udah uzur di kost. Padahal, gue memiliki tanggung jawab untuk membuat laporan dari setiap pertemuan yang harus segera dikumpulkan. Di sini gue merasa galau sebenar-benarnya arti galau.

Di saat galau dengan musibah rusaknya flashdisk, gue inget kalo gue bekerja barengan sama temen gue dimana gue selalu share PPT ke email dia. Berasa dapet duren mateng jatoh di ember, gue bisa menyelesaikan laporan berkat nge-scroll-down-in bagian Pesan Terkirim di email untuk menyimpan PPT-PPT lama. Ternyata, Pesan Terkirim ini sudah menjadi back-up beberapa data gue, bahkan data terpenting. Ngirim-ngirim email yang dulunya nyebelin itu sekarang jadi sangat membantu.

Dari kejadian ini, gue sangat bersyukur. Tuhan mampu membuat gue melihat yang tadinya "kenapa begini? kenapa begitu?" menjadi "UNTUNG begini, untung begitu." Lagi-lagi, gue dibuat terkagum dengan cara Tuhan campur tangan dalam hal-hal kecil dan sepele di hidup gue. Itulah "keajaiban kecil."


See? Those are examples of tiny little miracles that God made. Gue yakin, setiap orang pernah mengalami keajaiban-keajaiban kecil, baik disadari atau tidak disadari. Tuhan itu penuh kejutan dan manusia itu lemah sehebat apapun dia. Untung, Tuhan baik, makanya Ia turut terlibat di dalam setiap detik yang terjadi di hidup kita. Tapi, bukan berarti kita engga perlu lagi bikin perencanaan. Melainkan, teruslah membuat perencanaan dan bawa itu ke dalam doa. Inget, Tuhan itu baik, peduli, dan teliti.

Selamat menikmati dan bersyukur akan hal-hal kecil dan keajaiban-keajaiban kecil. Tuhan bersama kita. :)

Sunday, June 21, 2015

Don't Forget to Be Happy! (Meeting Up with Jenny and Meykke)

Apapun yang sedang terjadi di hidup lo, don't forget to be happy because you deserve to be happy. ;)

Salah satu hal yang membuat gue bahagia adalah bertemu dengan kawan-kawan lama. Lalu, bercerita tentang banyak hal dari mulai mengenang masa lalu bersama mereka sampai meng-update kabar terbaru di hidup masing-masing, seperti soal pekerjaan atau rencana ke depan.

Beberapa hari lalu, tepatnya Selasa, 16 Juni 2015, gue ketemuan dengan 2 kawan lama semasa perjuangan di bangku kuliah 2 tahun silam, Jenny dan Meykke. Kami dulu seangkatan di UKSW (Universitas Kristen Satya Wacana). Di jurusan yang sama, kami pun sempet sekelas untuk beberapa mata kuliah. Pun, kami berjuang bersama menempuh medan yang bernama "skripsi" dan puji Tuhan lulus pun di tahun yang sama.

Gue percaya engga ada yang kebetulan, termasuk bagaimana akhirnya kami bertemu setelah 2 tahun lamanya tak bersua. Serunya lagi, kami bertemu di Jakarta, kota yang tak pernah kami duga menjadi titik pertemuan kami yang pertama, kota yang selalu sibuk dengan segala rutinitas penduduknya. Di antara kesibukan itu, kami akhirnya bertemu. Meski hanya beberapa jam karena Jenny harus segera menuju stasiun kereta untuk kembali ke Semarang, namun beberapa jam itu lebih dari cukup untuk mengobati rasa kangen dengan cerita dan foto-foto.


Saat itu Jenny sedang berlibur beberapa hari di Jakarta, Meykke pun sedang libur dari pekerjaannya di Cibubur, gue juga lagi libur di Depok. Waktu yang sangat pas untuk mengusahakan pertemuan bukan? Maka, Atrium Senen siang itu menjadi meeting point kami. Kami mencari lokasi yang tidak terlalu jauh dari Stasiun Senen.

Ada yang bilang "kalo di Jakarta itu masa muda kita bisa abis di jalan," gue mengartikannya dengan "lama di jalan." You know, Jakarta yang super padat, macet di sana-sini, jadi sepertinya sebagian penduduk Jakarta udah biasa menghabiskan waktu berjam-jam di jalan untuk menuju ke suatu tempat. Jadi, begitulah yang juga gue dan Meykke alami demi pertemuan yang langka ini. And, that was paid off by our fun gathering. ^^

Gue ditemani dengan adik yang saat itu juga mau beli buku tiba paling terakhir. Kami berempat langsung menuju Es Teller 77 untuk mengisi perut dan memulai saling bercerita banyak hal. Di sinilah kebahagiaan itu. Meng-update kabar dari temen-temen lama dengan sangat seru karena tentunya banyak tantangan sudah kami lewati dalam 2 tahun kami menempuh jalan masing-masing selepas kuliah. Betapa bersyukurnya! :)

Ngopi. Ini kegiatan yang paling gue senangi, apalagi kalau ditambah dengan teman-teman lama sepaket dengan cerita-ceritanya. Di perhentian kedua ini, kami pun saling bercerita dan mendengar. Dan, satu hal yang teramat wajib, orang-orang menyebutnya "groufie" atau "wefie," nama lain dari selfie rame-rame. None is taking a picture of something they want to forget. Therefore, we were so excited that we took lots of groufies, and we did want more gatherings like this with the other college friends.


Pukul 1 siang, temu kangen kami mau tak mau harus disudahi. Peluk hangat mengantar Jenny yang saat itu harus segera kembali ke kost mengambil barang-barangnya, lalu menuju stasiun Senen. Sedih hanya bisa berjumpa beberapa jam, tapi bersyukur karena masih bisa berjumpa di sela-sela rutinitas kami. See you in another time, Jenny. I miss you already. :'))

Meykke, gue, dan adik gue lalu menuju ke tempat lain, tujuan utama adik gue tepatnya, tapi berhubung gue dan Meykke juga suka baca jadi kami dengan bersemangat menuju ke Pasar Buku Senen di dekat Terminal Pasar Senen. Kami hanya perlu berjalan kaki sebentar dari Atrium Senen untuk ke sana.
Setibanya di sana, berjejer rapi kios-kios dengan tumpukan-tumpukan buku yang menjulang tinggi. Wah! Gue bertanya-tanya dalam hati, berapa banyak buku yang sudah para pedagang buku tersebut baca ya? Siapa duga, mereka bisa jadi berwawasan sangat luas. Tawar menawar pun terjadi dan kami berhasil memboyong beberapa buku yang tak sabar untuk dibaca. Selesai dengan belanja buku, gue harus berpisah dengan Meykke. It's been a good day with you, Meykke. See you next time. :')) *soundtrack: See You Again mengalun di dalam kepala.*

Gue sangat bersyukur hari itu bisa bertemu mereka, Jenny dan Meykke. Perjalanan yang kami saling ceritakan saat bertemu tadi pun menunjukkan betapa Tuhan sangat baik sudah memelihara kehidupan kami sampai saat ini. Sampai ketemu lagi ya. I'm looking forward to meet you guys again and the other college friends too. Keep in touch! Don't forget to be happy because you deserve to be happy. God bless us as always. :)

Tuesday, September 30, 2014

3 Alasan Rendah Diri itu Oke

Pernah ga ngerasa "Gue ini apa? Gue engga lebih dari seonggok daging bernyawa yang bisa jalan dan ngupil dengan handal. Bahkan upil gue aja bisa jadi lem, sementara gue merekatkan hatinya dengan hati gue aja gak bisa..." Oke, kalimat yang terakhir itu emang lebay. Gue serius, pernah ga lo ngerasa diri lo itu gak bisa diandelin, gak bisa apa-apa, cemen lah pokoknya? Pernah gak lo ngerasa gak guna, gak bisa jadi orang wow yang bisa melakukan atau menciptakan hal-hal yang wow? Pernah gak lo merasa diri lo gak lebih baik dari upil yang ternyata ada manfaatnya juga buat ngelem? Gue, pernah.

Satu istilah yang bisa mendeskripsikan wacana di atas, "rendah diri." Hal ini adalah momok hancurnya seseorang jika dibiarkan berlama-lama di dalam pikiran, perasaan, dan hidupnya. Masih mending juga nyimpen upil, daripada nyimpen "rendah diri" lama-lama. Kok dari tadi upil mulu ya? Ya, mungkin karena upil itu kasian, jarang dibangga-banggakan, gue cuma gak pengen aja dia jadi rendah diri. :(

Oke, jadi gue termasuk orang yang pernah rendah diri. Bahkan, sampai sekarang perasaan tersebut sesekali datang. Rasanya engga enak lho, seperti ingin melakukan sesuatu tapi terbentur dengan tembok yang dibangun sendiri. Gegara rendah diri kreativitas dalam berkarya jadi terhambat.

Bagi gue, rendah diri adalah merasa diri rendah. Rendah itu berarti berada di posisi bawah dari yang lebih tinggi. Merasa diri sendiri itu payah, tidak mampu, dan tidak percaya pada diri sendiri kalau bisa berbuat lebih dari yang dipikirkan.

Kalau bicara rendah diri sebenarnya ada banyak jenis rendah diri. Entah itu rendah diri dengan kemampuan, rendah diri dengan penampilan fisik, dan lain-lain. Kali ini, yang gue fokuskan lebih ke rendah diri dengan kemampuan. Tapi, kalau ada manfaatnya juga untuk kamu yang rendah diri dengan penampilan, sok atuh seraplah manfaatnya. :)

Seseorang yang rendah diri itu cenderung tidak sombong. Yaiyalah. Apa yang mau disombongin wong dia sendiri engga percaya sama dirinya. Tapi, jangan salah, orang yang rendah diri sebenarnya juga menyimpan kesombongan luarbiasa karena dia hanya berfokus pada kelemahan dirinya, engga terbuka dengan pertolongan-pertolongan di sekitarnya yang dapat membantunya maju, contoh pertolongan Tuhan.

Well, at the first time memang gue mendukung banget kalau rendah diri itu perasaan negatif yang engga bagus dipelihara. Namun, di sisi lain, ada baiknya gue merasa rendah diri. Kenapa? Bukan karena akhirnya gue bisa temenan sama upil karena merasa senasib, tapi karena alasan-alasan berikut, setelah pariwara yang satu ini..... *Eh, malah iklan. Maap. Berharap kalau pas nulis dibayar karena ada iklan lewat :p*

Alasan pertama. Tadi kan gue bilang kalau orang yang rendah diri itu sebenarnya sombong karena tidak terbuka dengan pertolongan-pertolongan Tuhan di sekitarnya. Nah, this is my point. Mengusir rendah diri itu engga semudah meniup gumpalan pasir di telapak tangan. Butuh proses. Salah satu bentuk proses adalah dengan terbuka. Seorang rendah diri yang sudah dan sedang terus mengalami pertumbuhan biasanya mulai peka melihat pertolongan-pertolongan di sekitarnya yang dapat membuatnya menjadi lebih baik. Jadi, rendah diri itu masih ada dengan kadar yang mulai berkurang. Pointnya adalah rendah diri menolong kita untuk peka dan terbuka menerima bantuan-bantuan dari Pencipta melalui ciptaan-ciptaanNya.

Alasan kedua. Rendah diri itu perlu agar kepala kita engga besar. Bukan literally, maksudnya adalah agar tidak sombong. Menyadari diri ini tidak ada apa-apanya dan perlu bantuan menolong kita untuk mengakui bahwa jika sesuatu yang baik berhasil kita kerjakan berarti itu bukan hasil kerja keras kita semata. The first point will always go to The Lord. Indeed. Karena pertolongan Tuhan melalui banyak hal di sekitar lah yang menolong dan memampukan kita mengerjakan atau menyelesaikan sesuatu. So, kita engga seharusnya membanggakan diri berlebihan karena tanpa campur tangan Tuhan hal-hal tersebut tidak akan terjadi atau selesai.

Alasan ketiga. Grace and grateful. Mereka bukan nama calon anak-anak gue nanti, tapi bagus juga ya buat jadi nama anak, hihihi, oke salah fokus. Well, as what i said before, jika kita yang rendah diri ini berhasil mengerjakan atau menghasilkan sesuatu berarti ada campur tangan Tuhan sehingga kita engga berhak sombong. Nah, in that case, we will see God's grace yang telah menolong kita melalui banyak perkara. Anugerah Tuhan dong kalau kita yang minder ini ternyata bisa melalui banyak perkara dengan baik dan masih bernafas. Anugerah adalah pemberian yang diberikan secara cuma-cuma dan tulus kepada orang yang engga layak menerimanya. Balik lagi, siapa sih kita? sering kali bahkan diri sendiri aja merasa engga lebih baik dari upil, emang layak dapat pemberian? Toh kalau kita dapat anugerah itu pasti karena Tuhan sendiri yang emang dasarnya penuh kasih dan mengasihi kita yang lemah ini. So, karena anugerahNya kita bisa mengerjakan banyak hal, melewati banyak tantangan, dan menjadi lebih baik. Bersyukurlah! Bersyukur karena bisa mencicipi manisnya kasih Tuhan dalam hidup kita. :)))

Merangkum semua alasan di atas, rendah diri menjaga kita untuk tetep menundukkan kepala mengingat siapa kita sesungguhnya dan memandang ke atas melihat, memohon, dan mensyukuri Pribadi yang sudah dengan penuh kasih menolong kita.

Jadi, siapa yang masih rendah diri? Rendah diri oke selama itu membuat kita semakin dekat dengan Pencipta. Ketika kita memiliki hubungan yang baik dengan Pencipta, kita tahu arah mana yang harus dituju dalam hidup ini. Logis bukan? Emang Allah itu luarbiasa. :)

Sunday, June 8, 2014

Keep Calm and Enjoy Free Time

Hai!
Salah satu penyakit dari seorang pecinta deadline yang menikmati kesibukkan di detik-detik akhir adalah "merasa ada yang salah dengan waktu lowong atau kosong." Entah penyakit ini dialami oleh semua deadliner atau cuman gue doang. Tapi, beberapa orang pecinta kesibukan di detik-detik akhir deadline yang gue tanya mengakui hal yang sama, bahwa sering kali kita merasa aneh kalau ada jam kosong.

Biasanya rempong nyelesein pekerjaan yang berceceran mepet deadline. Lalu ketika mereka sudah terselesaikan, tibalah gue di waktu-waktu lowong. Waktu-waktu lowong buat gue adalah waktu-waktu tanpa deadline, tanpa ada list pekerjaan yang harus diselesaikan satu demi satu dengan sesegera mungkin. Nah, di waktu lowong macam ini, gue sering banget ngerasa aneh atau ngerasa ada yang salah atau ngerasa "ini yakin gak ada kerjaan yang harus gue beresin? jangan-jangan i miss a thing." Nah, efek selanjutnya setelah tidak yakin dengan waktu lowong, biasanya gue mulai menduga-duga ada pekerjaan yang kelewat atau malah takut jangan-jangan ada pekerjaan yang lupa gue kerjain. Terus, gue akan berada dalam lingkaran "ngerasa ada yang salah" dan "jangan-jangan ada yang lupa dikerjain" itu melulu selama waktu lowong. Pernah ngalamin kayak gitu juga gak?

Hal di atas gue sebut penyakit karena gue jadi kurang menikmati waktu lowong yang mungkin memang sudah jatahnya atau sudah waktunya gue terima buat nyantai atau "atur nafas" sejenak. Bete kan.

Tapi, makin ke sini, gue belajar untuk ngilangin penyakit itu sih. Caranya dengan sebisa mungkin bikin things to do list, beserta deadlinenya. Jangan lupa nyentang-nyentangin hal-hal yang udah beres. Nah, kalau sudah kecentang semua berarti tanggung jawab untuk nyelesein hal-hal tersebut udah kelar. Lalu, syukuri dan nikmati waktu-waktu lowong. Kalo kemudian penyakit itu dateng di waktu lowong gue, cuekin aja. Toh gue udah berusaha bertanggung jawab nyelesein tiap pekerjaan sebaik mungkin, buktinya adalah things to do list yang udah kecentang dan pekerjaan itu sendiri. Kalau ternyata benar ada pekerjaan yang kelewat atau lupa dikerjain, berharap Tuhan memberi orang-orang yang ngingetin pekerjaan tersebut, jadi bisa segera kita kerjain. Tapi, kalau engga ada tanda-tanda ada pekerjaan yang lupa dikerjain berarti semua udah beres, penyakit itu dicuekin aja. Kadang-kadang kita emang perlu nyuekin perasaan sendiri kalau itu engga ada manfaatnya.


Lagi pula, workers, sudah menjadi hak kita kok menikmati waktu-waktu lowong setelah bekerja keras. Jadi, jangan ngerasa aneh lagi and just enjoy your FREE TIME! kayak gue sekarang ini. Waktu lowong, daripada waktu kebuang buat ngebingungin mau ngapain, mending buat ngeblog. Yuhuuuuuu!


Monday, May 5, 2014

I miss you, friends. :'(

Lagi-lagi lagi pengen curhat di blog kesayangan. Emang kamu blog tempat sampah yang setia. Jadi gini, beberapa hari yang lalu, tepatnya saat weekend, gue dan 3 teman lama berencana untuk kongkow bareng. Tentunya, kami berharap personil kongkow kali ini lebih banyak dari acara kumpul-kumpul sebelumnya. Tapi, ternyata... engga ada kemajuan. Dari sekitar belasan temen SMA yang sering barengan karena tergabung dalam sebuah komunitas rohani, sepertinya hanya kami berempat yang jarang absen di acara kongkow yang memang kami sendiri juga yang ngajakin dan ngadain. Miris.

Meskipun sedih, tapi gue bisa maklum karena memang jadwal kami sekarang bukan jadwal SMA lagi, udah beda-beda sesuai jadwal kuliah atau kerjaan masing-masing. Jadi, gue bisa maklum kalau ada beberapa temen yang engga bisa ikutan ngumpul atau sekedar dateng sebentar barang 30 menit atau sejam untuk ngobrol dikit atau minum beberapa teguk kopi.

Gue juga engga mau nyalahin siapa-siapa, apalagi waktu. Waktu hanya menjalankan fungsinya, bukan berniat sengaja mengubah sesuatu. Jadi, mungkin memang udah tiba masanya kita sulit (banget) nyamain jadwal buat kumpul bareng, kecuali memang sama-sama mau dan ikhlas ngorbanin kesibukan kalau emang saking sibuknya.

Kembali ke kami berempat yang tetep ketemuan meskipun cuma berempat. Kegiatan kami sederhana aja sih, hanya datang ke salah satu mall di Depok, langsung meluncur ke food court, pesan makan-minum, lalu ngobrol sambil menikmati hidangan makan siang kami masing-masing.

Lalu, ya namanya juga temen lama udah jarang ketemu jadi sekalinya ketemu kami sebisa mungkin bikin aksi-aksi yang memorable lah. Akhirnya jadilah kita berfoto dengan hash tag "suami bersama" ini. :p



Seusai makan dan ngobrol, kami beranjak ke mall sebelah untuk karaokean. Beberapa deretan lagu dengan berbagai genre sudah kami nyengnyongkan bersama. Lalu, seperti biasa, kami tutup sesi karokean dengan lagu Project Pop, "Ingatlah Hari Ini." Kami nyanyi, joget, teriak, semua terekam dalam video yang sengaja kami ambil pas nyanyiin lagu itu. Biar mellow campur kangen aja pas nonton videonya lagi suatu hari nanti.


Kesukacitaan kami berakhir oleh jarak saat kami harus pulang ke rumah atau kantor masing-masing. Hari itu gue bener-bener happy karena bisa jalan bareng mereka, tau kabar dan kesibukan mereka, menggila bareng mereka. Tapi, jauh di balik perasaan bahagia gue hari itu terpojok perasaan sedih, deh, yang sepertinya gue abaikan.

Jadi, esok pagi, gue bangun sambil mengingat-ingat mimpi semalem. Ternyata tadi malem gue ngimpiin kalau engga salah 3 orang teman SMA gue yang absen acara kumpul-kumpul kemarin. Di mimpi itu, kami seangkot bareng. Well, emang engga elit banget deh ya setting tempatnya, namanya juga mimpi. Nah, di angkot itu, kami ketawa-tawa entah karena apa. Yang gue inget, saat itu, di mimpi itu, gue seneng banget ternyata 3 orang temen gue ini bisa ikutan ngumpul setelah sekian lama engga ketemu. Eh, lalu gue terbangun, ternyata cuma mimpi.

Beberapa jam berikutnya, salah seorang teman SMA gue yang sedih juga karena engga bisa ikut kumpul kemarin nge-tag sebuah gambar tentang persahabatan di path. Panjang banget tulisan di gambar itu, bikin males bacanya. Tapi, tetep gue baca dong. Coba deh lo baca juga.


Jujur, gue merinding pas baca. Orang yang bikin tulisan ini pastinya mengalami apa yang ia tuliskan dong. Ternyata, gue ada temennya. At least penulis tulisan di gambar ini juga merasakan dan mengalami sebuah moment atau masa, temen-temen lama yang dulu sering bareng itu lama-kelamaan sulit diajak ngumpul, lalu mungkin hilang satu demi satu.

Gimana pun juga, gambar dari temen gue ini, bener banget, bener-bener mewakili apa yang gue rasakan dan pengen utarakan tapi gue memilih untuk let it be unspoken.


Sunday, May 4, 2014

Wanita Spesial dan Berharga

seseorang merasa spesial ketika dirinya diperhatikan orang lain.

ada seorang wanita yang tak menyangka dirinya ternyata begitu diperhatikan oleh Seorang Pribadi. setiap saat dirinya diperhatikan. setiap hari dirinya tidak pernah berkekurangan. makanan, minuman, pakaian, semua disediakan untuknya. segala keperluannya tercukupi dan dirinya sungguh berterimakasih untuk bentuk perhatian itu.

terlebih tak menyangkanya lagi, dirinya tak hanya spesial, tapi juga berharga bagi Pribadi itu. tak pernah terpikirkan olehnya untuk merubah sifat-sifat buruknya menjadi baik. bahkan, ia pun tak menyadari sifat-sifat yang sudah sangat melekat itu ternyata buruk dan merugikan. ketika bertambah dewasa dan mulai menyadari sifat-sifat buruk dalam dirinya pun ia tidak ambil pusing untuk capek-capek merubahnya. toh orang-orang di sekitarnya pun tidak mengindahkan hal itu.

tapi, tanpa disangkanya, ada Pribadi yang peduli. ada Pribadi yang begitu perhatian memperhatikan dengan jeli dan ditel setiap sifat buruk yang wanita itu miliki. bukan hanya sampai memperhatikan, tetapi juga turun tangan capek-capek merubah pelan-pelan setiap sifat buruk yang sudah melekat tersebut. Ia memberikan kondisi-kondisi untuk melatihnya memberi respon yang tepat, bukan dengan sifat-sifat buruk yang selama ini selalu maju paling pertama.

awalnya, wanita itu meronta. tentu ia tak senang berada lagi dan lagi dalam kondisi yang selalu memancing sifat-sifat jeleknya keluar. tapi, seiring berjalannya waktu, ia mulai mengerti kalau Pribadi yang begitu mengasihinya ini sedang melatihnya menjadi seorang wanita yang lebih baik. secara perlahan, Pribadi yang begitu memperhatikannya ini sedang meruntuhkan sifat-sifat jelek yang selama ini berdiri kokoh di dalam dirinya.

untuk kesekian kalinya, ia makin terpesona dan tak habis pikir, betapa Pribadi ini sangat ingin ia menjadi wanita yang lebih baik dan lebih baik lagi, karena Ia begitu setia melatihnya. Ia tidak menghentikan usahaNya ketika sering kali wanita ini malah marah dan mencaciNya. Ia tidak meninggalkannya ketika wanita ini lelah dan datang saat ada maunya saja. hingga akhirnya, ia perlahan mengerti, Ia melakukan itu semua bukan semata-mata untuk menjadikannya wanita yang baik dan anggun, tapi karena Ia sangat mengasihinya.

kini, ia tidak lagi hanya merasa spesial, tapi ia memang spesial dan berharga bagi Pribadi ini.

kini, ia tidak perlu merasa menyedihkan dan mengemis perhatian, karena ternyata ada Pribadi yang mencurahkan segala daya usahaNya untuk memperhatikan dan membentuknya.

kini, ia memiliki Pribadi dengan kasih yang sejati. kasih yang tidak pernah pudar, yang tidak pernah terkikis, yang tidak pernah berkurang jumlahnya.

kini, ia berterimakasih akan Pribadi yang telah menemuinya dan memberi kasih yang tak tergantikan oleh siapapun dan apapun. dan kasihNya pun tersedia bagi siapapun, tidak mengenal suku, latar belakang kehidupan, warna kulit, jabatan, dan lain-lain.

kini, ia bersyukur dan berterimakasih karena sudah diperlakukan dan dikasihi dengan spesial oleh Pribadi yang ia kenal sebagai Yesus, Tuhan.


Thursday, May 1, 2014

Jakarta Under 3 Hours

Badan masih sehat, pikiran juga. Jadi, tidak ada salahnya jika esok hari libur, lalu malam sebelum esok diisi dengan travelling atau bahasa gaulnya “ngebolang”. Udah lama ga ngebolang, rasanya otot-otot kaku (padahal karena jarang olah raga :p). Tapi, tetap gue jabanin yang namanya ngebolang, apalagi ngebolang di tengah rutinitas harian yang… mengempetkan (halah bahasa apa itu -,-“).

Oke, ngebolang gue kali ini ga perlu jauh-jauh, karena memang waktunya tidak memadai, selain karena kocek juga gak merestui. Jadi, destinasi gue kali ini adalah Jakarta. Bosen ya sama Jakarta? Kalau dari orok sampe gede di Jakarta emang wajar sih kalau bosen, secara yang disuguhi ibukota ini cuma 3 hal: macet, polusi, dan paket macet plus polusi. Ya sudah lah ya, disyukuri aja. Berhubung gue bukan anak darah Jakarta, jadi masih banyak tempat di kota ini yang belum gue sambangi, salah duanya adalah Plaza Festival Kuningan dan Taman Suropati, yang mana menjadi target ngebolang gue.

Kali ini, gue bukan single bolang-er, tapi double alias gue pergi bareng sohib kerja, panggil aja dia miss Ina. Miss Ina ini adalah peta gue, karena kalau gak ngintilin dia, gue udah terdampar nunggu taksi karena aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulaaaaaaaang yeah~ (oke, Rumor, jangan lama-lama nyanyi di blog gue ntar pada galau).

Sepulang kerja, setelah disirami dengan santapan rohani, kita melenggang menaiki bus kota. Puji Tuhan, kami dapet duduk dan otomatis terlelap dibuai semilir angin berdebu dari jendela bus yang terbuka. Lumayan, mengistirahatkan mata. Setelah bus kota, kami berdesak-desakan di bus primadona Jakarta, bus apalagi kalau bukan BUSWAY.

Karena jam pulang kerja, alhasil kami harus rela dempet-dempetan dengan penumpang lain. Ilmu keseimbangan tubuh sangat berguna dalam kondisi ini. Gimana bisa dapet ilmu itu? Sering-sering aja naik busway di sore hari.

Oh iya, salah satu perlengkapan perang kalau kalian memilih naik busway adalah masker. Jangan lupa, selalu sedia dan pakai masker, karena lebih baik menghirup bau sendiri daripada bau orang-orang di busway yang beraneka rupa, ya kan?


Busway menibakan kami di destinasi pertama, Plaza Festival, Kuningan. Kata miss Ina, plaza ini udah berubah banget dari yang ia kunjungi dulu, sekarang bentuknya mall. Tapi, untung berubahnya jadi mall, bukan kebun binatang ya. Nah, biar gak sia-sia hanya ketemu mall, akhirnya kami melancong ke toko buku bekas. Toko buku bekas adalah toko yang jarang kami temui di daerah tempat kerja, jadi wajib kami kunjungi.

Pemilik toko buku bekas ini pasti orangnya rapi, karena buku-buku di toko ini tersusun rapi semua sampe gak tega mau ngambil bukunya. Takutnya pas gue ngambil satu buku di antara tumpukan buku lainnya, buku-buku lain langsung jatuh berantakan, terus gue disuruh rapihin lagi satu-satu. Kan males kan? Ya udah gue gak jadi ngambil buku, apalagi beli. Haha! Alasan yang bagus, bukan? (BUKAN! >.<)

Puas bernostalgia dengan buku-buku lama, kami melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya, Taman Suropati. Kami naik bus kota lagi.

Di dalam suatu perjalanan, sudah tidak aneh lagi kalau kita bisa bertemu siapa saja. Kalimat bijak berkata, “people come for a reason” bisa jadi mereka datang untuk menjadi teman, pengalaman, pelajaran, atau… cobaan.

Kayak kenek bus satu ini. Bersyukur kami dipertemukan dengan kenek bus ini karena dia memberi petunjuk jalan dan kendaraan mana yang harus kami tumpangi untuk sampai ke destinasi kedua, tapi gak pake ngejek juga keleeees. Masa doi cengar-cengir pas tau gue ngidam Suropati gegara belum pernah ke sana. Tau deh yang kenek, udah kemana-mana. Sabar… sabar… lalu, gue terpikir menjadi kenek biar bisa travelling kemana-mana (PLAK! -.-“).

Untuk sampai ke taman Suropati, kami perlu jalan beberapa meter dulu. Itung-itung jalan sehat. Setibanya kami di taman, alunan asik saxophone menyambut kedatangan kami. Wah! Bentuk taman ini memang serupa dengan alun-alun di beberapa kota di Jawa Tengah sih. Letaknya di tengah kota, sehingga menjadi spot favorit untuk nongkrong.


Agak kaget juga, di tengah hiruk pikuk Jakarta dengan gedung-gedungnya yang berusaha menyentuh langit dan merobek lapisan ozon, masih ada pepohonan rindang dan besar di taman ini. Bagai mata air di gurun sahara atau es teh pas kepedesan di bawah panas terik matahari.

Taman ini cukup luas. Banyak bangku dan ada kolam, juga sarang burung daranya. Entah kenapa ada burung dara di sana, mungkin biar jadi tambah rame aja, tapi semoga gak ditambahi rusa ya, bisa-bisa jadi kebun binatang nih taman.

Oh iya, kenapa ada saxophone? Karena memang ada orang yang memainkan saxophone di sana (Yaiyalaaaaah). Asiknya dan bedanya taman ini dengan alun-alun yang gue temui di Jawa Tengah adalah orang-orang yang nongkrong di taman ini kreatif-kreatif. Ada yang jogging sendirian, ada yang duduk sambil mainan hape sendirian, tentunya ada yang pacaran, ada juga komunitas-komunitas yang sedang beraktivitas di taman ini seperti komunitas dance, musisi, bahkan ada komunitas rohani yang lagi ibadah di tengah keramaian taman. Nah, semua perbedaan aktivitas dan komunitas tersebut tetap berjalan masing-masing dengan harmonis. Indah loh! Engga ada yang mengganggu satu sama lain, semua boleh beraktivitas positif masing-masing.

Bedanya lagi, taman ini bersih dari pedagang kaki lima. Tapi, kalian tetap bisa makan nasi goreng. Loh kok bisa? Bisa dong, karena  ada beberapa orang yang menjajakan menu makanan ke para pengunjung taman ini. Lalu, jika kita pesen, pesanan kita akan dibawakan ke taman ini. Gue belom liat juga sih mereka itu masak makanannya dimana, pastinya di tempat lain di luar taman.

Nah, bagi pelancong seperti kami, asiknya adalah sembari kami duduk santai dan ngobrol, telinga kami dimanjakan dengan alunan saxophone gratis dari sekelompok anak muda. Pasti saat pagi atau sore taman ini jadi lebih asik lagi. Kalau malam, gelap soalnya.

Mengingat perjalanan pulang kami masih jauh, jadi kami gak berlama-lama di taman ini. Setidaknya, rasa penasaran sudah terpuaskan. Kami pun menunggu bus kota yang mengantar kami pulang.

Jakarta oh Jakarta, memang satu-satunya ibu yang engga pernah tidur seharian. Sudah hampir tengah malam, masih banyak orang seperti kami, menunggu bus kota yang tak kunjung tiba di halte daerah Gambir, Merdeka Timur. Bosan dengan menunggu dan menahan lapar, akhirnya kami foto selfie, hahaha habis mau ngapain lagi.

Untunglah masih ada bus dan lebih untungnya lagi masih ada bangku kosong. Segera kami ambil posisi untuk meletakkan pantat dan kepala, lalu terlelap. Beneran deh, engga bisa nolak tidur kalau naik bus kota, kecuali kalo pas gak kedapetan tempat duduk.

Rasanya bahagia tiba di daerah kekuasaan kami (area kost-an) dengan sehat selamat. Buru-buru kami mencari apapun yang bisa kami makan karena lapar yang tak tertahankan. Sepiring nasi goreng ikan asin plus telur ceplok setengah mateng yang bersanding dengan segelas teh tawar hangat menjadi penutup sederhana yang memuaskan perut gue.


Terimakasih Tuhan untuk pengalaman melancong beberapa area di ibukota, terimakasih miss Ina sudah menjadi rekan ngebolang yang handal, saya senang bekerja sama dengan Anda. Hahaha. Next, ngebolang kemana lagi ya? Hmm… J

Waspada Gudang Celotehan Bajakan!

Belakangan ini gue iseng buka blog gue setelah sekian lama gak terjamah. Gue iseng aja ketik keyword "Gudang Celotehan" di Googl...