Tuesday, May 10, 2011

Dua Mimpi untuk Salatiga


Bicara soal mimpi, siapa yang engga suka bermimpi angkat kaki temannya, hayoo! Oke, sejauh ini gue engga melihat kaki-kaki terangkat jadi gue ambil kesimpulan semuanya suka bermimpi (meksooo!!! biarin! wek :p). Kalau saja ada Om Jin dari Timur Tengah dan gue mendapat kesempatan untuk mengucapkan 3 permohonan yang akan dikabulkan, gue pasti sudah melonjak kegirangan dan langsung teringat kota kecil dimana gue menuntut ilmu saat ini, Salatiga. Jangankan 3 permhonan, 2 permohonan saja udah cukup karena memang ada dua hal yang gue ingiiiiiiiiinnnnn banget ada di Salatiga, yaitu Gramedia dan 21 (Bioskop 21). Kenapa Gramedia dan 21??? Apakah di Salatiga kurang punya banyak toko buku?? Apakah orang-orang di Salatiga butuh nonton gelap-gelapan di dalam dinginnya ruang berisi layar besar di Bioskop 21?? Oke, pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari pikiran gue sendiri itu yang mungkin pembaca juga bertanya hal yang sama, akan gue jawab dengan sekalian curhat mimpi-mimpi gue itu ya ^^

Kenapa Gramedia?


Gramedia adalah toko buku yang menurut gue besar dan komplit yang menyebar di kota-kota besar (mungkin itu salah satu alasannya engga adanya Gramedia di Salatiga karena Salatiga tidak cukup besar dibanding Jogja dan Semarang). Sebenarnya di Salatiga engga kekurangan toko buku juga sih, udah ada Toga Mas, Kharisma, Immanuel, dll, tapi entah namanya juga mimpi kan nyarinya yang engga ada (hehehe) jadi mimpi gue ya andaikan di Salatiga ada Gramedia. Gramedia itu bukan hanya toko buku yang besar dan nyaman untuk jadi tempat nongkrong (beneran nongkrong loh kalo lagi baca ngirit alias baca buku di tempat sambil mojok-mojok gitu, asal jangan sampe ketauan satpam hihihihihi), tapi juga merupakan toko buku terkomplit kalau boleh gue bandingin sama toko buku-toko buku lain. Mau cari buku soal duniawi, rohani, hobi, bisnis, yang bekaitan dengan materi kuliah, sampe buku-buku ngegombal juga ada di sono, komplit lah (engga pake telor ceplok), tinggal kita menyisiri rak-rak yang berjudul sesuai sama buku yang kita cari aja. Enaknya lagi dan yang jarang gue temukan di toko buku-toko buku lain adalah buku dengan sampul plastik yang sudah terbuka. Di Gramed hampir tiap satu judul buku dengan apapun genre-nya pasti paling engga ada satu buku yang sudah terbuka sampulnya, entah itu berkat keisengan pengunjung atau memang sengaja disediakan yang sudah terbuka, nah alhasil itu yang membuat pengunjung termasuk gue betah nongkrong berlama-lama di sana (ya kalau emang maniak buku bisa-bisa baca satu buku langsung habis tanpa harus membeli, tapi gue belum pernah, maklum masih ngantukan tiap 30 menit membaca).


Meskipun ada buku yang sampulnya engga kebuka engga jadi masalah karena buat gue cukup baca referensi di balik bukunya aja udah nyenengin dan karena variasi judul buku yang gue baca referensinya lebih banyak, menarik, dan up to date. Bayangin aja, pernah gue ke salah satu toko buku di Salatiga dan mencari buku terbarunya Raditya Dika engga ketemu-ketemu, gue tanya Mbak-Mbak penjaganya dia bilang "engga ada, Mbak" sambil tersenyum gitu. Apa??? (kalau versi bulenya, WHAT????)  Raditya Dika kan penulis yang engga jadul-jadul amat walaupun emang tampangnya masuk kategori wajah jadul tapi kan bukunya harusnya eksis dong (T.T). Akhirnya gue pulang dengan kecewa yang menganga (asssseeeeekkkk). Selain itu seandainya ada Gramedia di Salatiga gue yakin itu akan menambah minat mahasiswa, siswa, ataupun yang tidak bersekolah untuk membaca. Yakin gue! Karena sudah jadi cerita lama kalau perpustakaan itu (memang) membosankan dan dari sisi fasilitas ruangan juga kebanyakan perpustakaan di sekolahan-sekolahan "suram" (jadi inget perpustakaan di SMP gue kayak rumah hantu). So, menurut gue, untuk menimbulkan dan menggugah minat baca memang perlu adanya dukungan fasilitas sih, kita butuh tempat dimana ada banyak pilihan buku, banyak judul, banyak referensi, emang bakal bingungin sih tapi bukannya itu bisa menambah dan memperkaya pengetahuan juga? (bukaaaann.. woy! woy! ><)

Kenapa Bioskop 21?

Ini dari sisi non-akademis, tapi bisa jadi akademis juga sih kalau penonton bisa memilih film yang memang berbibit bebet dan bobot (kayak milih mantu ye). Oke, yang satu ini pastinya karena di Salatiga TIDAK ADA bioskop!!!!!!!!!!! (teriak-teriak sambil megangin kepala terus lari 7 kilo and balik lagi dengan muka depresi berat). Keinginan gue yang satu ini mewakili hasrat gue sebagai mahasiswa yang keHAUSan HIBURAN. Siapa yang engga setuju mahasiswa butuh hiburan??? (mana? mana? sini! sini! pulang lewat mana? biar gue anter pake piring terbang). Mungkin gue engga sendiri, mungkin ada banyak mahasiswa lain yang merasakan hal yang sama seperti gue kalau faktanya mahasiswa itu butuh (variasi) hiburan dan kami kekurangan hiburan di kota nan mungil ini. Sekedap sayeu curhat dulu yeu sekedap sekedap (logat Melayu, maap kalau kacau balau), jadi ini keluar dari lubuk hati gue paling dalem kalau mahasiswa terutama yang dari luar kota kayak gue sekali lagi butuh banget hiburan. Gue mewakili mahasiswa yang dari luar Salatiga (kalau engga keberatan gue wakili. hehe) udah tersiksa dengan serbuan tugas kuliah yang datang keseringan keroyokan tanpa kenal ampun, sekitar 4 bulan kita harus berkutat dengan tugas dan materi kuliah, bolak-balik kampus nyari-nyari sinyal wifi buat bikin tugas, ya emang itu konsekuensi seorang mahasiswa dan gue terima. Tambahannya lagi, selain teraniaya dengan tugas, kita juga teraniaya dengan rindu (aaahihihi) karena bundo dan sanak saudara nan jauh di kampung. Hasilnya, kombinasi antara stres dengan kuliah dicampur kangen rumah yang amat teramat melahirkan suntuk yang gue suka sebut "empet", sehingga kita sangat butuh hiburan yang bervariasi salah satunya 21. Biasanya kebanyakan mahasiswa di kampus gue kalau mau nonton bioskop harus menempuh jarak berkilo-kilo dan memakan waktu berjam-jam ke Semarang atau Solo, itu juga kalau sampe sana engga keabisan tiket. Katanya Ibu yang pernah kuliah satu tahun di Salatiga sih dulu ada bioskop tapi sekarang udah ditutup, engga tahu apa alasannya. Emang gue engga bisa me-list sisi positif dari adanya 21 di kota ini, hanya karena 1 alasan itu tadi "hiburan", mengingat juga kasian leptop jadi lemot karena kebanyakan ngoleksi film dan mata memerah karena harus menikmati film dalam kotak 14" itu.

Demikian 2 mimpi gue untuk Salatiga (kayaknya kebanyakan curhatnya daripada ngejelasin mimpinya. Maaf, khilaf). Sekali lagi ini hanya mimpi-mimpi pribadi saya yang syukur-syukur pembaca juga bermimpi yang sama jadi kita bisa bermimpi  dan berdoa bersama semoga ada om jin yang mau mengabulkan mimpi-mimpi tersebut atau semoga ada orang kaya banget banget banget yang baca kemudian hatinya tergugah untuk langsung mendirikan 2 mimpi itu di Salatiga. Once more, maaf kalau postingan ini kurang penting, maklum seperti judul blognya ini hanya gudang yang menampung banyak celotehan belaka^^
Oh iya, jangan takut untuk mengungkapkan mimpi-mimpimu karena itu salah satu gunanya menulis, hihihhi.
Thanks for reading ya!^^ GBU :)

Monday, May 9, 2011

untuk desing

sepi sampaikan ucapan perpisahan pada malam
kirimkan nada sayonara pada usangnya hati
seakan congkak pada kesepian yang mengelam
tak peduli pada kenyataan yang tak kuasa melawan kondisi
bermain-main dengan adanya rasa nada nada nananana

manisnya ketika kondisi melupakan kenyataan
bersenda gurau dengan kesenangan
efeknya terus terputar umpama kaset rusak
satu adegan yang terekam tidak melampaui jangka setengah jam
senandung sang pemimpi ulung nananana

kini logika berkuasa
tiba untuknya membersihkan kasetnya
tapi membiarkannya sedikit berdebu
agar sesungging senyum tercipta
kala teringat desing, manis

Mencicipi Biru (Sedih)

HOAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHMMM!!!!!!!!!!
Berasa beruang kutub habis bangun hibernasi.
Rasanya sudah berabad-abad gue ga nulis di gudang ini, untung belom jamuran binti lumutan ni blog. Sedari kemaren gue cuma nengokin ni blog tanpa menulis apapun di sini, rasanya saat itu gue benci menulis jadi mau nulis tuh beraaaaaaaaaaaaattttttt banget seberat kalau harus ngangkat Pretty cuma dibayar goceng (dibayar setriliun aja ga kuat, ini goceng? kebayang kan.hehe). Dan saat ini setelah gue menemukan kembali si mood-nulis yang ternyata ngumpet di ketek gue sendiri (he?), gue nulis lagi walaupun emang temanya engga penting, biasaa... cuma rongsokan isi hati.

Entah kenapa hari ini hati gue agak tersayat-sayat perih (uuggghh), sedih, dan rasanya mau nangis karena sepertinya hari ini gue banyak kehilangan sesuatu atau mungkin juga karena tinggal menghitung hari gue bakal balik ke Salatiga lagi, menjelma menjadi anak kos lagi dengan segala adat istiadat anak kosnya (><). Sesuatu yang terhilang hari ini dimulai dari bersenti-sentimenter rambut gue yang hilang (dipotong kali =____=') karena gerah. Juga, gue terlalu sibuk ngurusin jerawat di wajah dan sadar engga sadar rambut yang panjang itu turut mengambil andil atas menyeruaknya geng upil nyempil itu makanya segera gue pangkas, ya itung-itung buang sial juga (tampil beda mangsudnya). Tapi gue merasa kehilangan indahnya mahkota wanita karena pernah ada temen gue bilang gini "kalo cewek udah gede tuh bagusan rambutnya panjang, Ray" jadi gue merasa seperti kembali menjadi batita (bayi umur tiga tahun) lagi, maksudnya rasanya kehilangan aura "wanita dewasa"nya secara banyak mahasiswi yang rambutnya panjang menjuntai melambai-lambai bak nyiur di tepi pantai. Hal lain lagi yang turut membuat airmata gue ingin keluar adalah kabar yang gue dengar begitu buka facebook. Kronologisnya siang itu gue sengaja engga buka facebook karena bosen banget dan sorenya sepulang gue memangkas rambut, gue membuka facebook, dan langsung datang chat dari Elizabeth Novia Tayl, temen kampus gue yang mengabarkan kalau Pak Nico meninggal. Deg. Sekilas tentang Pak Nico, nama lengkapnya Nico Likumahuwa, dosen yang udah engga lagi muda dengan rambut dan kumis tebal yang sudah memutih itu pernah ngajar gue di kelas IC (Integrated Course) di semester pertama gue masuk kuliah. Banyak hal yang gue kagumi dari beliau selain karena pengalaman mengajarnya yang sudah kelas kakap, beliau juga satu-satunya dosen yang paling kocak dan dekat dengan mahasiswa (kesan pertama gue sejak menjadi mahasiswa baru yang masih meneliti tipe-tipe dosen dan sampai sekarang belum pernah gue menemukan dosen yang seperti beliau lagi). Banyak kenangan tercipta saat beliau mengajar yang engga akan pernah gue lupakan dan memang unforgettable because he was the one and only lecturer yang seperti itu. Rasanya gue ingin membuat entri khusus tentang beliau. Pokoknya Pak Nico, if more than 4 thumbs up I can give for you, surely I will give! :) Selamat jalan untuk beliau yang sudah tenang dan damai di sisi Bapa di Surga dan turut beduka cita untuk keluarga yang ditinggalkan, menangislah lalu tetaplah kuat dan jangan lupa tersenyum. Satu hal lain lagi yang cukup mmbuat gue merasa kehilangan hari ini adalah perginya si "desing" yang engga tau kemana tapi gue yakin dia pasti kembali ke bukit, pondoknya. Sosok yang menabur rasa tanpa sengaja hanya dalam jangka kurang dari 30 menit itu mungkin pergi untuk menderai tawa bersama keluarga tapi entahlah, yang pasti gue merasa waktu libur di rumah yang masih tersisa ini akan gue jalani tanpa satu pijakan kaki yang sama dengannya, memang terlihat engga begitu penting tapi ya rasanya seperti itu... hmmhh indescriptive memang... Well, STOP MELLOW!!

Yah biarlah hari ini hati gue mencicipi rasanya sedih yang tanpa linangan air mata, engga harus menikmati tawa melulu. Seperti ada kata bijak "kesusahan hari ini biarlah untuk hari ini, esok punya kesusahannya sendiri", gue ingin menikmati hari ini dengan apa adanya hari ini, dengan usaha yang bisa gue lakukan, dan bersiap untuk hari esok yang memiliki kesusahannya sendiri tapi yang jelas Dia engga pernah lupa untuk membiarkan gue tertawa di waktuNya yang selalu pas itu. Well, enjoy today! Masih ada sekitar 6 jam lagi yang bisa gue nikmati di hari ini. Berharap esok hari tidak lagi biru tapi kuning, merah, hijau, coklat pokoknya mejikuhi(non bi)niu! ^^
thanks for reading! enjoy ur day and GOD bless :)

Wednesday, May 4, 2011

Ada Apa dengan Tarra?

Langit sore ini begitu cerah secerah kuning telor ceplok yang ada di penggorengan gue. Gue siap menyantapnya panas-panas dengan nasi putih, menikmatinya di teras depan sambil nunggu si Tarra datang buat ngebantuin gue ngerjain tugas kuliah. Inilah enaknya punya temen sejenis Tarra selain dia baek karena mau ngebantuin gue nyelesain tugas, dia juga ridho gue ajak laper-laperan bareng karena tiap dia dateng ke rumah gue, kagak pernah gue kasih makan bahkan untuk sebungkus sukropun engga, dia sabar aja cuma gue suguhin air putih.

“Hallo, Tarr! Aya naon?” ujar gue ketika si Tarra nelpon.
“Aduhh, Ben sori domori ya gue gak bisa lama-lama nih bantuin lo sekarang,” ujar si Tarra dengan nada suara buru-buru.
“Tapi jadi kan ke rumah gue?” tanya gue. “Kenapa sih lo? Buru-buru banget kayaknya.”
“Iya jadi tapi gak lama ya. Ada deh, mau tehe aje lu,” jawab Tarra.
“Ya gue sih asik-asik aje asal tugas gue kelar.”
“Dasar lo ya! Inget ya, gue cuma ngasih lo buku-buku referensi, selebihnya lo kerjain sendiri! Enak aja gue bantuin sampe kelar, jangan manja deh!” jelas Tarra galak.
“Biasanya lo manjain gue. Kenapa sih lo?” tanya gue lagi, heran.
“Idih, manjain bayi gorilla kayak lo males banget gue! Pokoknya gue lagi ada urusan yang lebih penting ketimbang manjain lo, oke! Bentar lagi gue nyampe nih. Udah ya.” Klik.

Gue meletakan ponsel butut gue di atas meja samping piring gue. Gue langsung melumat bulat-bulat telor kuning setengah mateng sambil mikir, masih terheran-heran kayaknya ada yang beda dari Tarra. Biasanya dia mengesampingkan urusan-urusannya kalo lagi sama gue, selaen karena dia juga kagak punya urusan penting. Kebiasaan begitu sama Tarra, gue jadi ngerasa dimanjain, abis enak kalo ada Tarra, makmur ditraktir terussss. Tapi ada urusan penting apaan sih si Tarra?

“BEN!!! WOY BEN!!!” teriak seorang cewek dari luar pagar pas gue mau masuk ke rumah.
“Eh, udah nyampe, non! Bentar bentar gue bukain,” gue membuka pintu pagar.

Mata gue membulat, heran, takjub, terkejut, engga percaya sama apa yang ada di depan biji mata gue. Beberapa kali gue mengerjap-ngerjapkan mata gue sampe akhirnya gue menampol cewek di depan gue buat liat responnya.

“Iiiihhh, dorongdong banget sih lo Ben! Sakit tau, bedak gue luntur nih! Rese lo!” tuh cewek balik nampol gue dengan tangan kirinya. Gue gak salah orang, yang gue liat di depan tuh emang Tarra. Buktinya, gue tampar dia malah nyuruh gue ngedorong terus balik nampar gue tuh Tarra banget!
“Hahahaha, mau ngapelin gue, Neng?” ledek gue sambil nyenggol tangannya.
“Enak aja! Dimana-mana tuh yang ngapelin cowok, ga waras lo! Masuk dong,” Tarra nyerebot gue masuk ke rumah.

Sampai di ruang tamu, tempat biasa gue sama Tarra ngerjain tugas, Tarra menyibakan rambut panjangnya. Tercium bau shampoo, jarang-jarangan biasanya bau apek. Tarra langsung mengeluarkan beberapa buku dari dalem tas warna pink-nya.

“Nih! Gue udah pilih-pilihin buku yang pas banget sama tugas lo, tinggal lo baca-baca en rangkum aja! Gampang kan?” jelas Tarra sambil nunjuk-nunjuk buku yang baru aja dia keluarin.
“Kacamata lo mana?” tanya gue, gue lebih tertarik mencari subab musabab Tarra berubah wujud gini.
“Kenapa emangnya? Aneh ya mata gue? Keliatan sipit banget ya?” balik tanya Tarra, keliatan banget dia masih belum pede non glasses gitu.
“Engga juga sih, tapi kayak lobang celengan,” jawab gue iseng. Tapi sebenarnya Tarra keliatan cewek oriental abis.
“Iiiiihhh, rese banget sih lo, Ben! Bukannya dukung gue, malah ngecengin!” Tarra ngambek, bibir manyunnya ngalahin Paman Gober.
“Kenapa sih lo? Sakit? Kok bisa jadi cewek gini?”
“Emang gue cewek! Emang kenapa kalo gue pengen berpenampilan beda? Bagus kan?”
“Jadi, lo jadi feminin abis gini cuma pengen diliatin ke gue?” tanya gue pede dahsyat sambil menyeringai lebar.
“Ya enggak lah! Rajin! Ini karena urusan penting!” Tarra merapihkan rambut panjangnya dan dress-nya yang selutut. Tapi tetep sepatu kets nyantol di kakinya, agak aneh sih tapi biarinin aja deh. “Udah ya, Ben! Gue ada urusan nih! Lo baca aja semua bukunya, gak nyampe semaleman kok! Oke, gue cabut ya!” Tarra bangkit, kemudian melambai ke gue.
“Kita engga ke BigBur sekarang, Tar?” tanya gue agak gak rela dia buru-buru pergi.
“Kan gue bilang gue ada urusan, Ben! Bye, kampret!” ujar Tarra kemudian pergi.

Tadinya gue mau ngintilin Tarra, sok-sok jadi Conan gitu, tapi berhubung gue langsung kebayang wajah angkernya Bu Laksmi yang bakal mencabik-cabik gue kalau besok tugas gue belom kelar juga, jadi gue prefer baca buku referensi dari Tarra aja, cari aman.

Tapi btw btw Tarra kenapa ya? Penyakit penasaran gue mulai kumat, gue bakal susah tidur nih malem kalau belum dapet jawabannya. Seumur-umur gue jadi temennya Tarra, dia gak pernah sedikitpun nyoelin lipstick ke bibirnya, ngebalut tubuhnya dengan kain megar yang disebut rok, ngegerai rambutnya dan menyibakkannya pun itu hal yang dia lakuin setelah mandi bukan di depan gue, satu hal lagi yang gue yakin ada yang aneh dengan urusan Tarra adalah she is nonglasses. Dengan berbagai analisa itu gue menyimpulkan Tarra Indramani Pradana sedang jatuh cinta. Gue garuk-garuk dengkul abis mikir bak professor tadi, kemudian langsung memijit handphone, mencari nama Tarra Indramayu Perdana Exiz, dan menelponnya.

Tut... tut… tut... tut… tut… emang gak modal banget dah Tarra! Pake nada sambung sebulan aja katanya ‘sayang pulsa gue Ben, mending buat beli perdana yang nawarin telfon-telfonan murah!’ dasar mak irit! AHA! Gue baru sadar sejak kapan si Ratu Sms itu doyan telfon-telfonan? Ya ya ya gue makin penasaran.
Bete dengerin nsp suara kentut mulu, akhirnya gue sms dia aja.
Tar, lagi dmana lo?
Uda makan blm?
Uda boker blm?
Sms dikirim.

Sms balesan nyampe dan isinya….
Bawel deh lo! Ganggu aja!
W ga mungkin bokerlah skarang! Gila x lo.
Gue bales lagi.
Nahan boker bsa bqin keriput!

Lima detik kemudian.
Masa sii?
W gak prcaya!

Dibilangin ga percaya yauuuudaaa.
Lo lg ngapz?
Bales gue sok gaul.

Mo tao aj dech. 
Dia bales.

Gue bales.
W penasaran, gilaa!

Dia bales.
Makanya jngan sering gaol sma ibu” paz beli sayur!
Jadi kebiasaan kan pngen tau urusan org!
Udh ya Ben. Ngladenin cmz lo bqin gue ke tabiat asli tau ga?!
Sory td ga diangkt. Lg sbukz!

Malah sok-sok nasehatin gue lagi, padahal dia juga yang nyuruh gue buat rajin-rajinlah bergaul dengan ibu-ibu sama tukang sayurnya sekalian pas beli sayur biar bisa ngutang. Dasar engga konsisten. Tarra benar-benar sukses bikin gue penasaran. Sebagai sahabat yang baik gue akan cari tahu karena ini menyangkut tali persahabatan gue sama Tarra.

***

Pagi-pagi gue udah tinggal landas dengan escudo hitam gue menuju rumah Tarra, sengaja mau ngejemput dia. Biasanya kalau dibaik-baikin dia mau cerita, gue pun tersenyum licik. Sambil nyetir gue kirim sms ke Tarra.
Tar, gw jmput ya !

Engga berapa lama, dia bales.
Gak usa dh Ben. Mkasih.

Gue bales lagi.
Tumben lo? Gue bawa si Iteung nih.

Dia bales.
Iya, laen x dh Ben.
Lo tlat sii.

Dengan mata yang mondar-mandir liat jalanan dan hape, gue bales lagi sms dia.
Siapa yg brani-brani nyolong start gw?! &#!/*;@!!

Dia bales.
Ada deh. Hhehe x-P
Utk skarang ini lo ga perlu ngeluh lg
krna w ga akn minta lo antr jmput w lg. ok.

Dengan bete yang semakin menumpuk di diri gue, gue terus melaju dengan Iteung ke rumah Tarra untuk mencari tahu siapa pria yang masih abu-abu itu. Sebelum nyampe pagar rumah Tarra, gue liat sebuah jeep hijau melaju keluar dari rumah Tarra dan gue yakin Tarra ada di dalam sana.
Jangan-jangan Tarra diculik? Itu kan mobil penculik! Pikir gue kayak anak TK, tapi mungkin aja kan. Eh, tapi engga mungkin juga sih masa tukang kebonnya Tarra nyantai-nyantai aja malah motongin rumput. Dengan pura-pura belum dikasih tau Tarra kalau gue engga usah jemput dia, gue turun dari mobil, dan menemui sang tukang kebun.

“Yahhh Kang Ben, Tarranya barusan ajah berangkat,” ujar sang tukang kebun yang diberi panggilan sayang oleh Tarra, Kang Sem Park, sebelum gue tanya.
Gue menepuk jidat, sok kecewa, “Yah, Tarra ga bilang! Tau gitu langsung aja gue ke kampus. Emang dijemput siapa dia, Park?” tanya gue.
“Wah, sayah kurang tau namanyah, tapi akhir-akhir inih Non Tarra emang sering dianter-jemput sama yang bawa jeep ijo ituh, Den,” jawab Akang Sem Park yang selalu memberi partikel ‘h’ pada tiap akhir katanya.
“Oh, gituh,” gue manggut-manggut jadi kebawa logat Sundanya dia. “Yaudah deh, tengkyuh yah Kang Sem Park,” gue cabut.

Ngebut. Siapa tahu jeep ijo itu masih bisa kekejar. Tapi kalau dipikir-pikir lagi ngapain juga gue ngebuntutin jeep itu ya? Tujuan Tarra kan sama kayak gue ke kampus. Gue langsung men-delete pemikiran gue tadi begitu jeep ijo itu belok bukan lurus padahal rute kampus harusnya lurus. Perasaan sahabat gue mulai gundah gulana. Gue terus mengikuti jeep hijau itu dengan tetap berhati-hati karena Tarra hafal banget sama Iteung. Ini mulai ga bener! Batin gue. Bersamaan dengan bayangan-bayangan negatif yang nongol di otak gue, Tarra sms gue.
Ben, nitip absen ya. Pliiiiiisssss. Nanti w traktir deh. Ok?

Gue bales buru-buru.
Emg kmna lo cabut? Lg jg kan lo bda jurusan sma gw nyong!

Dia membalas kilat. Emang Ratu Sms bangget deh.
Skali” Ben.
Ia mxud w tolong titipin ke Lyla. Tw kan? Tmen skelas w.

Gue langsung bales.
Yg centil itu?
Gila x lo ya, mo ngejerumusin gw ke neneng pea?

Sms balesan diterima.
Pliiiiiissssss Beeennn. Kan ntar lo w traktir.
Yauda, gue bantuin lo nyelesaiin tgs’a Pa Handoko deh. Puas??! :p

Sambil tersenyum licik, gue bales.
Oke. Transaksi sukses! :D

Gue langsung meng-sms Lyla sesingkat-singkatnya bisa-bisa dia ge-er.
Lyla, Tarra ntip absent. jgn lpa !
Sms dikirim.

Engga berapa lama, HP gue bergetar. Emang dasar agresif, Lyla langsung nelfon gue. Gue tekan tombol hijau dan ingat berbicara sesingkat-singkatnya.
“Halo, Ben?” sapa Lyla di seberang.
“Knapa?” tanya gue singkat. Gue masih fokus dengan jeep ijo yang berbeda satu mobil di depan gue.
“Emang Tarra kenapa?” tanyanya dengan suara memanja.
“Gak tau. Dia cuma bilang gitu. Jangan lupa ya.”
“Oke deh. Tapii….”
Gue mencium bau lintah darat lain. Si Lyla pasti ngasih syarat ga jelas dulu yang akan merepotkan gue.
“Kalo mau minta imbalan ke Tarra aja,” kata gue langsung dan gue yakin pipi dia turun kayak bulldog. Hahahaha gue tertawa bangga dalam hati.
“Iih, negatif aja sih kamu mikirnya…”
Gue langsung keselek. Kamu? Oh no!
“Knapa Ben kok batuk-batuk?”
“Ga pa-pah. Eh gue juga nitip absen dong, tolong bilangin ke Ridho ya, temen sekelas gue, tau kan?” gue teringat hari ini gue juga cabut karena ngikutin Tarra. Yang penting tugas Bu Laksmi… PLAK! Kali ini gue benar-benar menepuk jidat. Tugas si Jeung Killer itu harus gue kumpulin sekarang dan parahnya lagi ketika gue melirik jam. 08.30. Gue langsung putar balik dengan kecepatan lebih cepat dari tadi. GUE TELAT!
“Mmm….,” Lyla berdesis pengen minta imbalan ke gue.
“Gue ga jadi nitip absen! Tapi Tarra jadi. Tengs.” klik

***
Ssrupppp ahh!
Tetesan terakhir di teh botol ini bener-bener bisa bikin dahaga gue sirna dalam sekejap setelah sekian lama di kelas gue membuang-buang suara untuk me-loby Bu Laksmi biar tugas gue bisa diterima. Untungnya tugas yang udah tiga kali gue revisi ini diterima juga dengan sedikit kalimat rayuan gue kayak gini "Bu, hari ini pakaian ibu matching banget, very very eye-catching, catching my eyes juga, Bu. Seger kayak rujak Cianjur, Bu." Mendengar gombalan gue yang kelas teri gitu si dosen langsung nyelipin tugas gue di antara buku dan bahan matakuliah yang ia bawa, padahal sebelumnya ngelirik makalah gua aja kagak. Kemudian tuh dosen berlalu keluar kelas dengan dagu mendongak ke atas. Aslinya kostum yang tuh dosen pake bikin sakit mata parah, atasan kemeja biru muda dan bawahan span hijau lumut, udah kayak kostum bola nyentriknya.

Sekarang gue duduk manis di kantin selatan kampus bersama Ridho sambil menikmati semilir angin, menunggu kelas berikutnya. Bola mata Ridho sibuk mengikuti hilir mudik mahasiswi-mahasiswi yang berseliweran di kantin, gak tanggung-tanggung dia pun rela memutar body 180 derajat buat mandangin cewek yang setipe sama Luna Maya, cantik, tinggi, semampai, mempesona. Sementara gue, sibuk berkutat memikirkan subab musabab keanehan Tarra yang sumpah bikin gue gak tenang.

"Solmet lu mana?" tanya si Ridho ketika tidak menemukan lagi gadis yang bisa disiulin.
"Itu dia, ga tau gue juga," ujar gue dengan sedikit frustasi karena gue paling engga suka dibiarkan penasaran gini.
"Oh. Eh, hmh, anu.....," si Ridho yang suka lama kalo ngomong kumat lagi, kalau udah begini jurus terampuh untuk mengembalikan kelancaran bicaranya adalah dengan nampol pipinya dan gue tampol dia sejadinya. "Aduhh, men! ga usah pake emosi juga nampolnya!" keluhnya sambil mengelus-elus pipi yang eh ternyata sampe merah begitu.
"Sorry, Bro, kelepasan. Apaan?"
"Kelepasannya sampe cenut-cenut gini, Bray! Udah siap belom lu?"
"Siap ngapain?" gue langsung curiga melihat sohib gue satu ini nanyanya sampe mukanya maju gitu dan dengan erat-erat gue eratkan kerah baju gue, ngeri 'diapa-apain'.
"Ntar tes, Nyet. Kelasnya Pak Ngasito," ujar Ridho langsung mengklarifikasi.
"APA???" sial! ekspresi heran gue keren banget sampe si Ridho langsung berpaling dan mau muntah. "Gua lupa, Bro! Mampus! Gua belom belajar," kemudian gue kalang-kabut, panik.
tangan kuli Ridho pun dengan mulusnya mendarat dikening gue, noyor, "Gaya lu kayak anak SMA! Ayok, hampir telat nih!"
Ridho dan gue beranjak dari kantin selatan ke kelas Pak Ngasito yang berada di ujung koridor lantai 1 fakultas gue.
"Inget ye, Dho, gue batuk, lo nengok!" perintah gue. Dibalas dengan jempol Ridho yang teracung.

Seperti kata pepatah gaul 'posisi menentukan prestasi', gue pun kini sudah menjatuhkan pantat di kursi dengan posisi terbaik, di deretan belakang, di sebelah serong kiri gue ada Ridho dengan kemampuan hitung-menghitungnya bakat turunan dari babehnya, pengusaha matrial, dan emaknya, pengusaha grosiran sembako. Di depan gue pun ada Dini, si mojang Bandung yang engga enakan dan engga nolakan kalau dimintain contekan. Ah, mantap! Surga dunia! pikir gue sambil bersender santai di bangku sesaat sebelum Pak Ngasito masuk.

Sekelebat info tentang dosen gue yang satu ini. Dia dosen yang terhitung muda dibanding dengan dosen-dosen lain yang kebanyakan udah ubanan dan pitak eh botak di depan, umurnya mungkin berkisar 32-35 tahunan. Gelar dosen terkece sekaligus termuda pun jatuh pada dia, walaupun gelar dosen dengan nama terkatro pun juga dia sandang. However, dia tetep jadi dosen yang begitu dia lewat membuat para mahasiswi saling berbisik sambil senyum-senyum sendiri dan membuat beberapa mahasiswa 'lekong' mepet-mepet ke tembok sambil garuk-garuk tembok, cekikikan gemes sendiri. Itu semua berkat kekecean wajah dan tongkrongan dosen muda ini, oke, lupakan namanya, karena dia juga punya nama beken Mas Tito. Sayangnya, semua kelebihannya itu engga membuat gue silau, gue tetep bete tiap kali masuk kelasnya dia, bukan karena takut kesaing gantengnya, tapi karena dia mengajar matakuliah full hitung-hitungan.

Dosen belia itu mulai membagikan kertas lembar soal dan jawaban tanpa banyak basa-basi. Begitu kertas-kertas itu mejeng di depan gue, gue nyaris hilang kesadaran. Belum apa-apa, bulir-bulir keringat sudah menetas dengan mulus dari kening. Soalnya sih sedikit, cuma 5 biji, tapi jawabannya udah kayak mau bikin cerpen berhalaman-halaman. Argh! Menit-menit awal gue mencoba mengerjakan sendiri, mencoret-coret kertas buram dengan rumus-rumus senyantolnya di otak gue, dan akhirnya gue malah menggambar kacamata. Gue keingetan Tarra, walaupun dia anak Sastra tapi dia jago soal hitung-hitungan. Biasanya sehari sebelum tes kelasnya Pak Ngasito, gue selalu les privat sama dia. Tapi kemarin dia malah ninggalin gue dengan urusan pentingnya dan perubahannya yang aneh yang sukses bikin gue uring-uringan penasaran.

Uhuk! Gue batuk.
Ridho menengok perlahan seperti adegan di film-film horor, kayak lagi dipanggil setan. Gue dong setannya? Bayem! Gue mengacungkan jari telunjuk, tengah, dan manis gue seraya berkata tanpa suara, "Tiga...."
Baru si Ridho melemparkan buntelan kertas penolong gue, dari belakang, sebuah sepatu menendangnya. Sepatu siapa lagi kalau bukan Pak Ngasito. Kemudian, dengan muka garangnya dia berdiri di samping Ridho menghadap gue.
Apa-apaan ini?! Kalau di UAN, gue bisa menuntut pengawas ujian yang terang-terangan mengintimidasi siswa dengan jelas-jelas hanya mantengin gerak-gerik satu siswa saja, kayak yang lagi dia lakukan sama gue sekarang. Sepanjang ujian berlangsung sampai selesai, matanya terus tertuju pada gue, engga biasanya dosen ini berlaku begitu ke gue.

Waktu ujian selesai dan gue mengumpulkan lembar jawaban seadanya, tiga soal gue kerjakan dengan rumus yang menurut gue benar dan dua lainnya dengan rumus hasil imajinasi.
"Kamu... Ben?" tanya Pak Ngasito dengan sedikit ragu ketika gue mengumpulkan lembar jawaban.
"Iya, Mas. Ada apa ya?" balik tanya gue.
"Mau lulus kelas saya?" lanjutnya dengan nada santai tapi dingin.
"Pastinya, Mas," gue terkekeh sedikit.
"Kalau begitu, pastikan kamu tidak dekat-dekat lagi dengan Indramani," tandasnya kemudian pergi dengan membopong amplop berisi lembar jawaban ujian.
Gue hanya mengerutkan dahi. Loading. Maksudnya tuh dosen tadi apa?!

Di jalan pulang, sambil berjalan ke parkiran, gue berkonsultasi dengan Ridho tentang ucapan Pak Ngasito seselesainya ujian tadi.
"Wah, dia itu ehmmm ck... anu...." PLAK! "Ngancem lu itu, sob!" seru Ridho yakin sambil ngelus-elus pipinya.
"Ngancem? Emang gua salah apa? Biasanya kalau ketauan nyontek juga engga nyampe segitunya deh," jelas gue engga terima.
"Tadi dia bilang apa? Jangan deket-deket Indramani kan? Elo kali udah ngegebet calon bininya," ucap Ridho sekenanya.
"Siapa? Seinget gue yang pernah gue deketin itu namanya Nadia, Bellinda, Gadis, sama Puput, kayaknya engga ada Indramani. Mangga Indramayu iya gue doyan."
"Inget-inget lagi."
"Ahh! Mau Indramani, Indramayu, Indra Herlambang, gue gak tau! gue gak ngerasa punya masalah sama tuh dosen! Bayem!"
"Eh, itu kali Indramani!" sahut Ridho tiba-tiba pas kita udah di parkiran.

Selang lima mobil dari si Iteung, gue lihat Pak Ngasito membukakan pintu mobilnya untuk seorang wanita yang kelihatannya mahasiswi kampus ini juga. Kayaknya minus gue nambah, gue engga bisa begitu jelas menangkap sosok wanita yang bersama dengan Pak Ngasito, yang jelas cewek itu rambutnya ikal panjang sepunggung. Sejurus itupun gue merasa ada sedikit clue untuk kepenasaran yang menyiksa gue akhir-akhir ini.
"Masuk, Dho!" suruh gue, bersiap melaju.
"Mau ngapain lo?" tanya Ridho yang kebingungan.
"Main detektif-detektifan," jawab gue, menstrater, dan go!

Mata gue dibantu dengan mata Ridho memantau terus mobil Pak Ngasito yang berbeda beberapa mobil di dpean Iteung. Engga berapa lama, Tarra sms gue.

Ben, so'iiiiirrrrr bgt, tar mlm w gk jd nrktir lu. tnang2, trktirannya ttp jd, tp ga tar mlm. tggu kbr w slnjtnya y, oke? ;)

Gue bales secepat kilat karena ga mau kehilangan target penyelidikan.
knp emg?

Dia.
ad ajaaaaa :p

Gue.
ah, gt lo ye skrg?!

Dia.
haha, jgn ngmbek lo ah! kyk ank bulldog tau gk! tar ad saatnya w bkal crta k lo, ben. dah ya. bye!

Gue melempar hape butut gue begitu saja ke dashboard, makin geregetan sama Tarra. Setelah sekian lama hanya keheningan mengisi mobil gue, Ridho yang gue tugasi untuk jangan sampai melepaskan pandangan dari mobil Pak Ngasito pun akhirnya membuka suara.
"Dipikir-pikir ngapain sih lo buntutin Pak Ngasito?" tanyanya sambil garuk-garuk kepala.
"Gue penasaran."
"Katanya gak ngerasa punya masalah sama die?"
"Lu pernah nahan kentut?"
"Apa hubungannya sih, Ben?"
"Nahan kentut gak enak kan? Bisa bikin penyakit, sama aja kayak nahan penasaran, bisa gila gue!" jelas gue dan Ridho pun sepertinya sudah cukup jelas dengan ilustrasi gue, dia angguk-angguk aja, entah ngerti atau lagi mikir apa nama penyakit yang diakibatkan karena nahan kentut.

"Ben, belok! belok!" jerit Ridho melengking. Gue pun memutar kemudi dan memepetkan Iteung mendadak ke trotoar. Untung aja cuma kena semprot anak SMA yang lagi naik motor di belakang Iteung. Gue memantau dari dalem mobil pas si Ngasito keluar sama cewek yang keliatan cuma punggungnya doang.
"Salon, Men! Jangan-jangan Pak Ngasito tuh cowok metroseksual ye?" Ridho beranalisa sengarang-ngarangnya.
"Bisa jadi," gue timpali seadanya.
"Lo mau nungguin dia perawatan sampe selese? Ahh!" Ridho berdesah males. Gak enak juga gue udah seenaknya bawa-bawa dia main detektif-detektifan.
"Ben," panggil dia tiba-tiba. Kyaaa! Apaan nih suasananya jadi memellow!!

tunggu sambungnya ya... (sambung? kabel kali ah)

Tuesday, May 3, 2011

Keanehan si Boni

Boni itu nama anjing gue. Kata Bapak dia itu jenis anjing Pudel apaaaaaa gitu (gue lupa), tapi kok menurut gue si Boni gak imyut-imyut kayak Pudel ya, malah nyeremin kayak anjing gondrong (he? emang ada ya jenis anjing gondrong? ya begitulah pokoknya). Riwayat bergabungnya si Boni ke dalam keluarga gue berawal dari Bapak yang hobi melihara burung lagi liat-liat burung di toko burung (yainyadunnnn, masa toko onta, burung onta dong!) dan yang jaga toko burung itu nawarin anjing ke Bapak gue (loh katanya jualan burung? oke oke, sabar.). Jadi begini ceritanya, si tukang burung itu dititipin anjing sama temennya terus ditawarin ke Bapak gue, gitu. Usut punya usut katanya anjing itu sering dizhalimi sama anaknya si tukang burung, dibullying gitu (kayak Manoh*ra aje ye), sering dipukul-pukul, dijambak, mungkin si bocah gemes kali ya ngeliat tuh anjing tapi kayaknya die lupa kalo anjing tuh makhluk idup juga, dia pikir gundam kali ya dibanting juga hayuuuu. Eniwei, bapak beli tuh anjing dan resmilah dia menjadi personil di keluarga gue dan kita kasih nama Boni (Jangan tanya kenapa namanya mesti Boni ya, karena gue juga terima jadi.hehe. Karena boni ini anjing pertama di keluarga kami tapi bukan hewan peliharaan yang pertama karena ada burung, ikan, ayam, lele yang jadi kakak angkatannya dia, Bapak Ibu gue memperlakukannya dengan spesial karena peliharaan lain tidak diperlakukan sespesial dia. Ini bukti-bukti perlakuan spesial ortu ke mereka.

Ini si Boni pas lagi ngaso di Ancol
berasa lagi gendong bayi kan? ckckck

sampe Ibu ngajak main pok ame ame sama Boni

nih ade gue ikut-ikutan, ngajak main ular tangga panjangnya kali

Back to Boni, lama-lama diperhatikan, si Boni ini punya keanehan, entah ini itu disebut keanehan atau memang anjing-anjing lain juga melakukannya, gue juga ra pati mudeng (jawir mode on). Keanehan pertama adalah si Boni ini jarang gonggong. Pernah pas dia kita ajak jalan-jalan ke Pantai Karnaval Ancol, sampe ada kucing duduk di depan matanya dengan muka innocent, si Boni ini kalem aja, asik-asik aja dia duduk santai nikmatin angin semilir-semilir. Heran gue, apa dia udah ga suka kucing lagi ya (berasa cowok udah gak suka cewek lagi aja). Beda pas ada tukang kacamata lewat depan ujung idungnya, dia ngegonggong dengan hebohnya. Ckckckck sepertinya anjing udah ga musuhan lagi sama kucing tapi sama tukang kacamata (Lhoh?????).  Keanehan kedua adalah malam itu gue lagi bergadang ol (online) (kirain ngerjain tugas) dan seperti biasanya si Boni tidur di bawah kolong kursi yang gue dudukin. Pas gue lagi seriusnya ol dengan mata tak pernah lepas memandang si ganteng Blacky (lepi gue :)), si Boni tiba-tiba keluar dari kolong, berjalan sempoyongan ke arah ruang tamu, gue pikir si Boni tidur jalan tapi masa iya anjing juga bisa tidur jalan? gue juga ngira jangan-jangan si Boni ngigo atau kesurupan (bulu kuduk sempet berdiri juga tuh), tapi ternyata eh ternyata dia ke piring kuning yang isinya makanannya yang dia ga mau makan tadi sore, terus dia makan tuh makanan ampe kinclong piringnya. Selesai makan, dia terhuyung-huyung lagi masuk kolong bangku. Waduh, ini jangan-jangan anjing jelmaan ya? kok tingkah lakunya kayak orang? pikir gue, soalnya gue juga kadang tengah malam suka bangun terus ngobrak-ngabrik dapur buat cari sesesesuap (suapannya banyak) makanan, terus tidur lagi. Keanehan ketiga adalah Boni suka menimbun an menggali makanan. Jadi pernah Ibu, gue, bapak ngasih makanan ke dia sebagai wujud solidaritas kita sebagai sesama personil dari keluarga ini, dia pun menerimanya sambil jilat-jilat tuh makanan, dia bawa ke suatu pojokan di daerah yang bertanah, dia gali tuh tanah pake kaki (anjing kan ga punya tangan -____________-') dan mulutnya, terus diletakin makanan yang kita kasih, dan dia timbun. Selang beberapa jam kemudian, dia itik-itik lari ke tanah tempat dia nimbun makanannya tadi, dia bongkar dan dia makan. Hmh, sepertinya anjing punya naluri seperti tupai yang menyimpan kenari untuk persediaan makannya di musim dingin deh kayak di kartun-kartun gitu.

Ada banyak keanehan-keanehan lain dari makhluk berbulu (ehh berambut ehhh... hmmh apapun) yang satu ini, tapi yang paling nyentrik ya yang tiga itu. Karena gue bukan pakar anjing yang mengerti seluk-beluk tentang anjing makanya gue pemasaran eh penarasan ehh hedehhh penasaran ini adalah keanehan anjing gue atau memang anjing-anjing lain melakukan hal yang sama?? Apakah anjing Anda begitu juga?? Share ya^^ untuk memperkaya pengetahuan kita tentang anjing, hehehe :)

Monday, May 2, 2011

Sayangi Wajah Anda :)

Celotehan kali ini sebenarnya engga terlalu ada sangkut pautnya sama hari ini selain adegan Ibu yang dengan telaten memutar kepala gue ke kanan dan ke kiri dan mencocolkan gel di sana, tepatnya di muka. Seharusnya postingan kali ini gue luncurkan hari Jumat lalu, tapi berhubung pada hari itu gue lebih tertarik menanggapi fenomena model baju Jojon yang jadi trendsetternya gaya berseragam siswi SMA, jadi postingan yang satu ini ditunda (padahal karena emang baru muncul idenya sekarang, pas di kamar mandi lagi. Haha!).

Well, udah bisa ketebak dari judulnya kan kalo hari ini gue ingin membahas wajah? Di sini gue rela deh malu-maluin diri dengan mengumbar adegan dimana wajah gue dicaci maki, tapi untuk kebaikan. Dimulai dengan sebuah dialog antara Ibu, Gue, Bang Awang (Tukang bangunan) gue singkat BA, dan Mbak-mbaknya yang nyetrika gue singkat M2YN di minggu siang itu.

Ibu: Yie, kamu gak risih jerawat mulu gitu? (sambil melototin jerawat gue)
Gue: Biarin ah! (capek ngurusin jerawat)
BA: kenapa lagi, Bu? (tiba-tiba nyamber sambil ngolesin semen di batako)
Ibu: Ini si Rayi. Jerawatnya banyak bener.
BA: Eh manaa??? (berpaling dari semen, ikut ngeliatin jerawat gue (awas aja ampe nimpuk jerawat gue pake semen, hajar sinih!)) Tapi udah mendingan ituh dibanding pertama kali dateng, udah bersihan, kemaren sih balak*. (ngomong dengan logat Betawinya)
M2YN: Biarin Mbak! bilang aja langit tanpa bintang engga bagus. (ikut-ikutan nimbrung, belain gue(yesss!!!))
gue: Betul itu.

Dialog dengan topik jerawat gue itu cukup membuat gue gerah dan yang tadinya fine-fine aja dengan jerawat ini malah jadi risih lama-lama dan mendorong gue untuk meluncurkan tulisan ini. Tambahannya lagi, engga enaknya punya jerawat selain karena orang-orang akan mengganti topik obrolan dengan jerawat Anda, jerawat juga bisa menguras kocek Anda (waspadalah! waspadalah! ting!). Buktinya, saking prihatinnya Ibu melihat kondisi permukaan kulit wajah gue, dia memboyong gue ke RS Fatmawati buat berobat jerawat. Sayangnya berobat jerawat engga bisa memanfaatkan kartu Askes. Ya kebayang sih kalo ngobatin jerawat bisa pake kartu Askes, terus warga seRT berbondong-bondong dateng ke RS dengan muka-muka berpolkadot itu minta diobatin dengan potongan harga, lama-lama si dokter yang mukanya mulus alus itu jadi polkadot-polkadot juga lagi (hadeeeehhhh jangan deh!). Pengobatan jerawat ini masuk ke bagian pengobatan kulit dan kelamin (engga ada masalah sih sama bagian ini, sekedar info aja, hehe). Nah, karena engga make kartu Askes, alhasil total pengeluaran untuk bayar dokter plus obatnya yang 4 tahap itu sebesar... besarnya, pokoknya mahal deh! Ampun, gue kasian sama Ibu ngeluarin berlembar-lembar hepeng hanya untuk jerawat yang kecilnya kayak upil nyempil gini. Guepun berjanji akan setia memakai obatnya! (Hopefully). Oh iya! selain obatnya yang mahal, make obatnya juga ribet maksudnya banyak tahapannya. Jadi, ada obat oles pagi, malem, sabun muka, sampe kapsul yang harus diminum sehabis makan. Memang lebay obatnya padahal jerawat-jerawat ini engga parah-parah amat dibanding yang digambar-gambar iklan obat jerawat. So, belajar dari hidup gue yang udah berat ditambah berat sama masalah wajah ini, gue ingin kalian bisa belajar dari sini agar setelah membaca kisah hidup gue yang..... ahh..... ga kuat gue.... sungguhh.... LEBAY! Oke, belajar dari jerawat gue, semoga setelah baca ini kalian bisa langsung pegang-pegang pipi, ngelus-elus, disayang-sayang, dan dirawat wajah kalian agar terhindar dari si kecil upil nyempil itu yang nama ilmiahnya je..ra..wat.

Berikut, tips merawat wajah hasil dari googling, tips ini sifatnya universal (tsahhh elaahh) jadi dapat diterapkan untuk kulit pria dan wanita karena kulit pria dan wanita beda loh (denger-denger). let's read it! :)


Merawat kecantikan adalah sebuah keharusan bagi setiap wanita, tak terkecuali Anda. Cara yang dilakukan pun beragam. Namun ternyata banyak hal alami dan sederhana yang dapat Anda lakukan sendiri di rumah, di antaranya :

Biasakan basuh wajah dengan air hangat. Terutama setelah selesai beraktivitas di luar ruangan dan sebelum tidur di malam hari. Air hangat berfungsi membuka pori-pori wajah, sehingga pembersihan bisa dilakukan secara menyeluruh dan optimal, karena minyak dan kotoran pun akan ikut terangkat.

Rutin memakai masker alami. Buat masker sendiri dari buah-buahan di rumah Anda. dengan menumbuknya, lalu mengusapkan pada kulit wajah secara merata. Diamkan 15-30 menit lalu bilas dengan air hangat. Lakukan rutin 2-3 kali seminggu, wajah Anda pun akan halus, sehat dan bersih.

Melakukan pijatan dan senam wajah. Anda hanya tinggal menggerak-gerakkan mulut, mulai dari tersenyum lebar, menggerakkan bibir ke kiri atau ke kanan (seperti sedang manyun) atau membuka mulut, lalu menutupnya. Lakukan berulang-ulang agar otot wajah Anda menjadi lemas dan lebih rileks.

Mengompres wajah dengan irisan tomat atau mentimun. Saat tidur, dianjurkan untuk mengkompres wajah (bagian mata, pipi, dahi, dan dagu) dengan irisan tomat atau mentimun. Hal ini akan membantu melembutkan kulit wajah dan dapat menghilangkan kesan kusam di sekitar mata Anda.

Mengkonsumsi buah dan sayur. Kandungan vitamin dan zat-zat alami dalam sayur dan buah merupakan kunci penting untuk merawat kecantikan Anda dari dalam. Meminum air putih yang banyak juga dapat membantu mengeluarkan racun-racun dalam tubuh dengan cepat.

Tidur yang cukup dan berkualitas. Atur waktu tidur Anda sepintar mungkin. Jangan biasakan tidur larut karena akan menyebabkan mata tampak kusam dan berkantung hitam.

Jangan sekalipun memencet jerawat. Kulit Anda akan lecet, merah, dan terluka. Kulit wajah yang terluka akan memudahkan bakteri dan kotoran untuk masuk ke dalam kulit. Hasilnya pun akan meninggalkan bekas kehitaman atau bahkan justru memperbanyak jerawat yang bermunculan di wajah Anda. (pfa)

Ini situsnya kalau mau cari tambahan info tentang apapun yang ada di sana (hehehe)
http://www.lovelytoday.com/trendlifestyle/2011/04/17/4356/tips-sederhana-rawat-wajah-secara-alami

Oh iya! *Balak=kotor atau engga rapi pokoknya sesuatu yang minta diberesi lah biar lebih baik.

Sekian postingan hari ini. Semoga teman-teman tercinta sekalian bisa mulai menyayangi wajah kalian ya, yang udah sayang tambah sayang, yang tadinya cuek ya jadi lebih care, karena sehat dan cantik atau ganteng itu mahal, jadi dimulai dari diri sendiri untuk care sama wajah sendiri (saya juga sedang belajar peduli :D), daripada kere cuma gara-gara si upil nyempil tadi ya kan? Okay, thanks for reading!^^ semoga bermanfaat :) Gbu :)

diam

kalau mulut-mulut berbicara, aku ingin diam
kalau pribadi-pribadi mendominasi, aku ingin diam
kalau-kalau lama-lama aku tenggelampun, aku ingin diam
kalau sekalipun diam tak bermakna, aku tetap ingin diam

karena diam bukan palsu
karena diam bukan keluar kata sembunyi rupa
dia bukan lemah bukan mengalah
dia berusaha merajut hal apa adanya

kalau diam tak ada harga, tetap aku diam
saat Sang Empunya kerajaan datangpun toh hanya diam yang bisa dilakukan

Sunday, May 1, 2011

When U Love Some1 -Endah 'n Rhesa-

I love you but it’s not so easy to make you here with me
I wanna touch and hold you forever
But you’re still in my dream
And I can’t stand to wait ’till nite is coming to my life
But I still have a time to break a silence
When you love someone
Just be brave to say that you want him to be with you
When you hold your love
Don’t ever let it go
Or you will loose your chance
To make your dreams come true…
I used to hide and watch you from a distance and i knew you realized
I was looking for a time to get closer at least to say

enjoy ur manual karaoke! hehe^^
http://www.4shared.com/audio/kWTMu-sJ/ENDAH_N_RHESA_-_WHEN_YOU_LOVE_.htm

Koleksi Puisi AADC


Puisi Rangga 
 Aku lari ke hutan, kemudian menyanyiku
 Aku lari ke pantai, kemudian teriakku
 Sepi... Sepi dan sendiri aku benci.
 Aku ingin bingar. Aku mau di pasar.
 
 Bosan aku dengan penat,
 dan enyah saja kau, pekat!
 
 Seperti berjelaga jika aku sendiri
 Pecahkan saja gelasnya biar ramai
 Biar mengaduh sampai gaduh
 
 Ahh.. ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang
 di tembok keraton putih
 Kenapa tak goyangkan saja loncengnya?
 Biar terderah,
 atau... aku harus lari ke hutan belok ke pantai? 
perempuan datang atas nama cinta
bunda pergi karena cinta
atas dirinya digenangi air racun jingga
adalah...
wajahmu seperti bulan lelap tidur di hatimu
yang berdinding kelam dan kedinginan
ada apa dengannya?
meninggalkan hati untuk dicaci
percaya...
sampai darah ke lututpun aku tak percaya
lalu...
rumput tersabit
sekali ini aku lihat karya Surga
dari mata seorang hawa
percaya...
tak tahu...
ada apa dengan cinta?
dan aku akan kembali dalam satu purnama
untuk mempertanyakan kembali cintanya
bukan untuknya, bukan untuk siapa
tapi untukku
karena aku ingin kamu!
itu saja.
 
Satu nafas terhembus adalah kata
Angan, debur, dan emosi tercampur
Dalam jubah terpautan
Tangan kita terikat... bibir kita menyatu
Maka setiap apa yang terucap
Adalah sabda pandita ratu
Di luar itu pasir
Di luar itu debu
Hanya pasir meniup saja lalu hilang
Terbang tak ada
Tapi kita tetap menari
Tarian cuma kita yang tahu
Jiwa ini adalah tandu
Duduk saja...maka akan kita bawa semua
Karena kita adalah satu

Aku (puisi)

foto Chairil A. untuk lebih jelasnya

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.

Aku adalah sebuah puisi karya Chairil Anwar, karya ini mungkin adalah karyanya yang paling terkenal dan juga salah satu puisi paling terkemuka dari Angkatan '45. Aku memiliki tema pemberontakan dari segala bentuk penindasan. Penulisnya ingin "hidup seribu tahun lagi", namun ia menyadari keterbatasan usianya, dan kalau ajalnya tiba, ia tidak ingin seorangpun untuk meratapinya.

Syair:
AKU


Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu


Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang


Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri


Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi


Maret 1943

Pacar Gue Pacaran sama Bokap Gue!

Sebeeeeeelllll!!!!bel…bel…bel…!!! Dua jam lebih aku bernegosiasi sama bokap di ruang tengah. Tapi percuma, engga ada hasilnya. Bokap masih aja kolot, nurutin pendiriannya yang turun temurun dari kakek buyutku itu. Katanya ‘anak perempuan gak boleh pacaran kalau masih sekolah’. Yang bener aja!? Mau nunggu sampe aku keriputan, kulit-kulit pada kendor, trus pake tongkat baru boleh pacaran?! Bokap aja sana! Padahal aku udah jelasin kalau zaman sekarang ini jauuuuuuhhhhhhh beda sama zaman 40 tahun yang lalu waktu bokap masih pake seragam pramuka. Dan semua pikiran bokap yang sudah terkontaminasi sama berita-berita di koran plus di tv seperti gara-gara pacaran seorang gadis SMU hamil di luar nikahlah, bunuh dirilah, kawin larilah, udah aku coba jelasin kalo gak semua kayak gitu. Itu bukan aku! Gak bisa disama-samain. Dan aku juga tau mana yang boleh dan engga boleh dalam berpacaran, aku kan udah gak ngempeng lagi, udah pake rok abu-abu. Masa bokap masih gak percaya juga? Sampe kapan bokap pengen aku pake rok abu-abu sambil ngempeng gini kalo masih belum boleh pacaran.

“Buang-buang tenaga aja,” Agga, kakak cowokku. Dia korban pendirian temurun bokap juga.

Bener kata Agga, cuma ngabisin tenaga kompromi sama bokap. Buktinya Agga. Sampai kuliah semester 4, Agga tetep gak dibolehin pacaran sama bokap. Ternyata peraturan bokap gak hanya berlaku untuk aku, tapi juga kakakku yang kedua. Padahal Agga cowok. Tapi alasan bokap, ’mana ada cewek yang mau sama cowok yang masih numpang dirumah orang tuanya’. Yaa maksudnya harus bisa cari duit sendiri dulu. Makanya sekarang Agga sedang getol cari uang sendiri biar bisa beli rumah, paling engga buat nyicil kontrakan.

Yang sudah teriak merdeka dari peraturan bokap cuma Kak Arcia, setelah jadi sarjana dan setelah sekian lama menuntut ilmu untuk jadi dosen sastra Mandarin, dia baru mendapat izin resmi buat pacaran. Kak Arcia anak yang paling nurut. Itu membuat kepala bokap makin membesar karena produk pertama dari tata aturannya sukses.

“Pokoknya aku mau pacaran, Kak!” bisikku ngotot ke telinga Agga, biar gak kedengaran bokap yang lagi baca koran sambil mlintirin kumis.

“Coba aja kalo bisa. Taruhan bensin sebulan, bokap gak bakal ngijinin lo. Lo gak liat siapa di depan lo nih, joker, jomblo keren!” balas Agga.

Taruhan bensin sebulan? Lumayan juga tuh! Tapi apa yang aku pikirin gak jauh beda kayak Agga. Kalau Agga Joker, lama-lama aku bakal bergabung dengan ijo lumut (ikatan jomblo lucu dan imut).

“Emang udah ada cowok yang mau sama lo?” tanya Agga, nadanya ngeremehin.

Aku yang lagi panas, makin panas. “Tiga sekaligus! Tinggal pilih, tau!”

Mata Agga ngelirik gak percaya, makin ngeremehin omonganku. Dia gak bakal percaya kalo gak pake bukti. Aku langsung ke kamar, ngambil setumpuk surat pink. Aku masih simpen surat-surat penembakan itu. Beberapa sudah aku tolak, beberapa lagi masih nunggu jawabanku padahal itu sama aja aku udah menolaknya, dan sisanya dari secret admirer yang gak jelas asal-usul dan wujudnya, yang itu aku gak peduli.

“Nih!”

Agga gedeg-gedeg, “Mau lo ambil semua?”

“Ya enggalah. Yang ini nih, namanya Raden Anggara Cahyo Putro Diningkusumo… tunggu, tunggu gue lupa…,” aku mencoba mengingat-ingat.

“Panjang amat!”

“Bantuin gue ngerayu bokap donk!”

“Lo gak liat!” Agga ngebusungin dadanya lagi, nunjukin kalo sampe sekarang dia gak berhasil ngerayu bokap.

“Masa elo gak backstreet aja sih, Kak?” mataku menyelidik.

Gantian mata Agga melirik sinis bokap. “Pernah… tapi gagal! Ketauan, cewek gue yang diomelin ama bokap, dibilang nyulik anak orang, besoknya gue diputusin.”

Mataku mengiba. Apes banget nasib abangku ini. Aku gak mau seapes dia. Padahal tadinya aku niatan untuk backstreet, tapi gak kebayang kalau nanti Raden dimaki-maki bokap jelmaan kolor ijo, nyulik anak perempuan orang. Aku menghadap ke langit-langit. Bukan nyariin cicak, tapi berpikir…..


“Mmm… mikir, mikir… Bantuin gue mikir donk lo! Jangan ngupil aja!” Raden menoyor kening sohibnya, Dino. Dino emang jorok.

“Dapet nih gue!” tiba-tiba Dino ngeluarin ujung telunjuknya dari lubang hidungnya. Raden dan aku langsung ambil jarak 5 meter. “Kenape lo pada? Mau pada gue kasih tau idenya kagak? Gak, ya uuuuudah…,” Dino ngejawab sendiri pertanyaannya.

Raden balik ke tempat duduknya, “Apaan?”

Dino memicingkan matanya, sok misterius biar aku dan Raden makin penasaran. Telunjuknya menunjuk hidungku dengan tatapan detektif dan akupun menunjuk telunjuknya pakai garpu, ancang-ancang kalo tiba-tiba dia meperin bekas upilnya. Ternyata enggak, telunjuk bau itu berpindah ke hidung Raden, lalu telunjuknya muter-muter gak jelas seenggak jelas si pemilik telunjuk itu.

“Lama banget!!” protes Raden.

“Sabar!”

“Sebenernya lo dapet ilham gak sih dari upil lo tadi?” aku capek nungguin idenya Dino.

“Kalo gak salah ilham tadi ke kamar mandi,” Dino meringis. “Oke, oke… lo kudu macarin bokapnya dulu, baru si Sasha!” akhirnya…

Aku keselek ludah, lalu batuk-batuk. Raden nepuk-nepuk punggungku sambil nunggu penjelasan selanjutnya dari Dino. Kadang upilnya Dino ada manfaatnya juga, seengaknya itu yang dia percaya. Tapi masa Raden harus ngeduain aku sama bokap? Aku agak ragu.

“Ya iya donk, sebelum lo makan mangga, kupas dulu kulitnya,” Dino make perumpamaan yang mungkin hanya segelintir orang yang bisa ngerti.

“Artinya, Din?” tanya Raden engga ngerti.

“Ya iyalah, masa lo mau makan mangga utuh-utuh gitu, makan ama kulit-kulitnya, yang bener aje? Mokat iye lu!” Dino bikin aku geram. Gak bisa diajak serius.

Tapi yang dibilang Dino ada benernya juga sih, aku manggut-manggut sedikit mengerti, mungkin kalo Raden mau pedekate ke bokapku dulu, bokap bakal ngijinin aku pacaran. Boleh dicoba.

Pulang sekolah aku kompromi ke Raden soal idenya Dino tadi. Mulanya Raden agak ragu, karena gosipnya bokapku kayak sipir penjara. Galak banget. Tapi dia bikin aku tersipu, dia bilang ’demi kamu, aku mau kok macarin sipir.’


Seumur hidup baru kali ini gue sengaja masuk ke kandang singa. Malem, Om. Ini buat Om, martabak telor, telornya tiga lho, Om! Masa dateng-dateng Dino nyuruh gue ngomong gitu sih, ntar disangkanya gue tukang martabak keliling lagi. Raden masih di dalam mobil Escudo hitamnya. Ngumpulin mental dan nyiapin kata-kata untuk berhadapan dengan singanya aku.

Sedang aku, engga bosen-bosen mengintip dari jendela depan. Lalu masuk ke dalam dan mondar-mandir cemas di depan Agga yang sibuk mantengin layar tv, nonton F1.

“Mondar-mandir aja lo kayak ingus! Ganggu konsen gue nih!” sewot Agga.

“Nonton aja mikir, giliran ujian nyontek,” aku masih sempat nimpalin Agga.

Detik berikutnya, “Kamu kok gak keluar-keluar sih, Yank? Lagi ngapain?” akhirnya aku telpon juga Raden. Aku gak sabaran.

“Mm… bokap kamu lagi kayak gimana?” Raden juga cemas disana.

“Kayak gimana, gimana?”

“Lagi marah atau engga?”

“Engga! Kamu buruan deh! Kalo ragu, gak usah aja! Jangan setengah-setengah,” sifat tempramen yang diwarisi bokap ke aku akhirnya kambuh.

“Jangan ngambek dong, Say… Iya, iya aku keluar.” Klik.

Dengan mental baja karatan, Raden keluar dari mobilnya. Sebenarnya Raden bukan tipe cowok pengecut, bukan juga pemalu, tapi penakut. Siapa yang nyalinya enggak menciut kalau harus berhadapan dengan calon mertua yang galaknya amit-amit. Raden menarik nafas panjang sebelum ngetuk pintu.

Tok.. tok! Dua kali Raden mengetuk pintu. Bokap yang telinganya selalu siap setiap saat kayak moto iklan deodoran, langsung ninggalin papan caturnya dan beralih ke pintu depan. Krriiieeet… serasa di film horor saat bokap membuka pintu dan mendapati…

“Eee… Mamalam, O..Om…,” Raden gagap efek nervous.

“Kembali satu bulan lagi setelah kamu lancar bicara!” balas bokap galak.

Gak tanggung-tanggung bokap nyuruh Raden balik setelah satu bulan cuma gara-gara Raden gagap. Bayangkan berapa tahun lagi Raden bakal balik buat pedekate sama bokap karena Raden emang gagapan. Aku melemas di balik dinding ruang tamu.

“Tu…tunggu, Om!” Raden menahan pintu yang akan bokap tutup.

“Mau apa?” tanya bokap sangar.

“Mau…,” belum sempat Raden ngeluarin satu kalimat utuh, bokap udah motong.

“Jangan bilang kamu mau ketemu Sasha!” ujarnya.

“Kekenapa, Om?”

“Saya engga suka! Kenapa?! Kamu gak suka?!”

Emang nyolotin nih bokapnya Sasha, belom-belom kayaknya udah mau ngajakin ribut! Huh! Raden cuma berani ngomong dari hati ke hati.

“Suka kok, Om. Kalo gitu… ini buat Om,” Raden nyerahin bungkusan martabak telor spesial.

Mata bokap meneliti, serasa di dalam bungkusan itu ada bomnya. “Apa itu?”

“Oh, ini martabak telor spesial saya beliin khusus buat Om! Telornya tiga lho, Om!” akhirnya Raden menggunakan kata-kata titipan Dino juga.

Bukannya seneng, bokap malah melotot, “Kamu kira saya gak mampu beli martabak telor dengan 3 telor?! Saya bisa beli martabak telor pake telor burung unta kalo perlu!! SANA…”

“Bubukan gitu maksudnya, Om tapi…”

“PULANG!!! Saya gak mau liat tukang martabak di sini!!!” gertak bokap galak.

Raden memelas, pipinya turun kayak anjing bulldog, “Tuh kan dikira tukang martabak…. Hiks…,” desisnya. Pada akhirnya pangeran martabak pergi dengan martabaknya. Tamat.

Aku ikutan cemberut, aku berkacak pinggang di belakang bokap. “Papa kok gitu?!” seruku bete.

“Itu tadi teman kamu?” balik tanya bokap. “Milih teman saja kamu belum bisa, apalagi milih pacar,” kata bokap jutek.

Aku menganga seperti ekspresi kaget cewek-cewek korea di film drama Asia yang biasa Mama tonton. “Ugh, Papa kejam! Tega sama Sasha!” aku menarik manja baju bokap.

“Sasha, Papa tau apa dan siapa yang terbaik buat kamu. Itu tadi pelajaran buat teman kamu. Digertak dikit aja, dia udah menciut. Dia engga baik buat kamu,” bokap mencoel ujung hidungku.

“Mm… dia… dia pacar Sasha, Pah!” dengan berat aku mengeluarkan serangkaian kata itu.

Agga yang nguping pembicaraanku, langsung menjerit kecewa. Menurutnya, seharusnya aku gak blak-blakan bilang kalau aku udah punya pacar secara Bokap ngelarang aku punya pacar.

“Kamu! Berani ya sama Papa. Kamu gak liat, ini nih…,” Papa nunjuk-nunjuk korannya. “Remaja usia belasan tahun dihamili pacarnya diluar nikah!”

“Itu kan dia, Pah bukan Sasha!” aku jengkel, alesan Papa selalu berita dikoran, kalau engga berita di tv.

“Pokoknya engga ada yang boleh pacaran!!! Kamu juga, Agga!” Agga yang engga ada sangkut pautnya, kena semprot juga.


“Kalo pake martabak telor gagal, gimana kalo lo tanya dulu apa yang bokap lo suka?”

Lagi-lagi aku dan Raden berkonsultasi sama Dino. Seperti biasa, Dino nyumbangin idenya sambil ngupil. Itu kayaknya jimatnya deh.

Raden menatapku. Bokap suka apa ya? Aku juga bingung. Aku gak pernah ngeliat bokap berekspresi gila seperti Pak Hendra kalau ngeliat artis idolanya. Jadi, seingatku engga ada yang bokap suka, kecuali… Anthurium. Itu tanaman yang lagi naik daun sekarang. Banyak kolektor tanaman yang sedang memburu tanaman itu. Padahal aku gak liat ada yang istimewa dari tanaman itu.

“Apa Yank yang bokap kamu suka?” Raden nanya dengan lemas. Dia masih tersinggung dibilang tukang martabak kemarin.

“Anthurium…,” jawabku.

“Weits, bahasa mana tuh?” sahut Dino yang kali pertama mendengar nama itu. “Itu sejenis makanan? Ahaa! Atau sejenis tempat kesukaan bokap lo?” kata Aha-nya Dino gak banget.

“Akuarium maksud lo?! Rese, jangan samain bokap gue kayak ikan lele!” belaku.

“Lele elit di akuarium. Sama kumisnya,” desis Raden sinis.

Aku plototin dia. “Becanda kok, Say…hehehe.”

“OKEY!!!” teriak Dino memecah suasana dengan bau mulutnya yang semerbak jengkol itu. Iyuwh. “Kalo gitu, kita pake jurus kedua. Elo Den, beliin Anthurium buat bokapnya Sasha.”

“Berapaan sih Anthurium?” tanya Raden enteng. Emang dasarnya Raden engga tau menahu soal tanaman.

“Kata bokap gue, yang kecil sih sekitar…. Lima…”

“Lima ribu? Oke, gue beliin satu truk!” potong raden sekenanya.

“Jangan dipotong! Maksudnya lima ratus ribu.”

“HWAA?! SERIUS?!” Raden melotot. Sontak langsung berdiri dari tempat duduknya. “Gak ada yang lebih mahal??!!”


Aku sempatkan diriku menemani Raden melihat-lihat ke toko tanaman. Banyak dedaunan hijau dimana-mana. Terasa sejuk karena banyak oksigen yang aku hirup. Tapi tetep aja engga bisa nyejukin batin Raden yang nanti terpaksa harus beli Anthurium buat bokap. Tapi melihat itu, aku makin suka sama dia. Dia ngelakuin hal-hal yang konyol buat pedekatein bokapku, lalu macarin aku. Pujianku buat Raden terhenti saat kulihat bokap nongol dari balik pohon palem.

“Say, bokap….,” bisikku.

“Terus kenapa, Yank?” tanya Raden polos.

“Bokap bisa marah kalo ngeliat kita berdua, Say! Mending kita kabur, yuk!” aku panik dan manarik tangan Raden.

“Jangan!” Raden menarik tanganku. Ada angin apa tiba-tiba dia jadi pemberani. Sengaja menghampiri bokap lagi. Walaupun tangannya berkeringat dingin.

“Halo, Om! Kebetulan sekali ya ketemu di sini,” sapa Raden dengan senyum sumringah.

Bokapku memasang tampang jutek, matanya menatapku. Aku tersenyum sebisanya dan melepaskan gandengan Raden. “Hahalo, Pah!”

“Tertarik Anthurium juga, Om?” dengan sok taunya Raden memulai percakapan sambil megangin sepot tanaman hias.

“Itu soka bukan Anthurium!” kata bokap jutek. Kena. Raden ketauan telak begonya.

“Oh, iya kalo dilihat-lihat Soka juga bagus ya, Om… hehehe,” Raden cengengesan.

“Sedang apa kalian di sini? Ngapain kamu, Sasha?!” tanya bokap gak jauh-jauh dari kesan galak.

“Mm…,” aku gelagapan, “Ada tugas Biologi, Pah…,” jawabku seadanya.

“Iya, Om sekalian ngeliat-liat Akhuarium, Om…,” Raden sok liat-liat tanaman.

“Hah?! Ini toko tanaman bukan toko ikan!” gertak Bokap.

“Saya juga tau, Om, makanya saya kesini pengen nyari akhua…rium… eh?”

“Sasha! Ikut Papa!” Papa langsung menyeret tanganku. Sekarang aku berada di samping Papa hanya karena akuariumnya Raden.



Sepanjang pelajaran Biologi berlangsung, aku melirik Raden yang bertampang muram durja sambil nutupin kedua telinganya pake tangan. Entah apa yang dia pikirkan, tapi yang jelas aku tahu dia trauma dengan apa aja yang berbau tanaman termasuk biologi gara-gara kejadian kemarin. Kali ini bokapku benar-benar marah dengan Raden, dia melarang keras aku berteman dengan Raden apalagi pacaran, aku hampir hopeless. Tadi pagi sudah aku ceritakan semua ke Raden, tapi responnya hanya diam.

”What’s matter, my man?” tanya Dino dari bangku sebelah ke Raden.

”Puyeng gue!” Raden kelihatan stress. Aku gak tega ngeliatnya.

”Masih bermasalah dengan singa berkumis tebal itu?” bisik Dino.

”Masalahnya tambah parah, No! Gue bingung harus gimana? Heran gue lama-lama, cewek secantik Sasha bisa punya bokap segarang itu?! Sekarang gue mati langkah gimana pedekate sama tuh bokap-bokap! Tapi gue sayang, No sama Sasha, gue gak mau ngelepasin dia. Cuma satu yang ngehalangin perjalanan cinta gue, No…,” Raden bercerita panjang-lebar dengan emosi yang menggebu-gebu sampai Pak Tagor si guru Biologi tertarik ikutan nimbrung.

“Siapa?” tanya Pak Tagor yang tiba-tiba udah ada di dekat Dino dan Raden tanpa mereka sadari.

”Singa berkumis itu!” seru Raden yakin.

”Eerrggghhemm!!!! Saya maksud kalian, hah?!” gertak Pak Tagor yang ke-pede-an. Aku was-was memerhatikan tingkah mereka.

“Ehh, Bapak… hehehe bubukan, Pak…,” Raden mulai gagap-nya.

Pada akhirnya mereka harus hormat ke tiang bendera ditengah siang bolong sebagai hukuman dari Pak Tagor gara-gara gak fokus belajar. Aku menghampiri cintaku, Raden saat jam istirahat. Menyodorkan sebotol air untuknya. Aku prihatin melihatnya.

”Den, kamu masih sayang kan sama aku?” tanyaku tiba-tiba membuat Raden sedikit keselek.

”Iyalah, Sha! Kok nanya kayak gitu?” balik tanya Raden.

”Abis aku takut kamu capek sama aku gara-gara bokap aku kayak gitu.”

Raden mengelus-elus kepalaku dengan lembut, membuat rasa sukaku padanya membesar dan membesar. ”Tenang aja, Say! Itu belum seberapa, aku pantang menyerah kok untuk menaklukan bokap kamu. Kamu percaya gak sama kekuatan cinta? Kekuatan cinta aku di sini bisa ngelembutin kerasnya bokap kamu,” ujarnya sambil menunjuk ke dadanya.

”Kamu yakin? Terus gimana?”

”Aku mutusin untuk pacaran sama bokap kamu.”

”Hah?! Kamu...”

”Kenapa? Cemburu ya? Yang jelas dengan gitu, aku bisa jelasin semuanya ke bokap kamu. Aku rasa bokap kamu cuma khawatir aja sama gaya pacaran jaman sekarang, wajar kok. Dan aku bakal buktiin aku bisa jagain kamu dan kamu aman sama aku, kan aku sayaaanngg....”

”Wooooo gombal, gombal!” sahut Dino yang langsung merampas botol minuman Raden.


Malam ini Raden dateng lagi ke rumah dengan mengumpulkan segenap keberanian yang ada di dirinya, mungkin bukan keberanian tapi kekuatan cintanya yang dia bilang ke aku tadi siang. Raden tarik ulur nafas sebelum mengetuk pintu rumahku.

”Malam, Om,” sapa Raden. Engga percuma Dino ngajarin Raden biar engga gagap sepulang sekolah tadi.

”Malam, ada perlu apa? Sasha sudah tidur!” ujar bokapku seperti biasa galak. Matanya mengamati Raden yang membawa papan catur.

”Bukan Om, saya ke sini ingin ketemu Om. Saya ingin ajak Om main catur,” ucap Raden kelihatan yakin. Aku senang kali ini Raden memang pemberani.

”Nantangin kamu? Saya bisa mengalahkan kamu dalam waktu 2 menit saja,” jawab bokap sombong. Aku tahu bokap memang jago main catur. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Raden sekarang, mengajak bokap main catur sama saja minta dianterin ke kandang buaya.

”Mm, bukan nantangin sih Om. Oke, Om kita coba.”

”Ya sudah, masuk.”

Suatu kemajuan pesat, Raden bisa duduk satu sofa dengan bokap di ruang tamu. Diletakkannya papan catur di atas meja. Bokap mengeluarkan bungkus rokoknya, mengambil sepuntung untuk dihisap, itu kebiasaan bokapku sebelum main catur. Aku mengintip dari belakang.

”Pasti kalah,” sahut Agga yang ikutan melirik.

Aku tidak mengindahkannya, aku yakin Raden pasti bisa. ”Chayoo, Den!!” seruku menyemangati. Bokap melirikku dan menggerakan dagunya, menyuruhku masuk ke dalam. Ini acara laki-laki. Privat. Ini yang menjadi penentuan hubunganku dengan Raden selanjutnya.

”Tapi Om sebelumnya aku pengen nego dulu sama Om,” ujar Raden.

”Apa?”

”Gini, Om kalau aku yang menang, aku mohon banget Om ngizinin aku jalan sama Sasha. Tapi kalau Om yang menang, aku... akan ngejauhi Sasha, Om. Gimana?” jelas Raden.

”Kenapa kamu berani ngomong gitu?” tanya bokap serius.

”Saya engga akan seberani ini Om kalau bukan karena saya sayang sama Sasha dan saya ingin menyakinkan Om kalau Sasha aman sama saya, saya bakal jagain dia.” jawab Raden yakin. Bokap hanya diam. Tapi dibalik diemnya itu, aku yakin bokap punya pujian buat Raden.

”Oke, Om! Silakan Om jalan duluan,” ujar Raden sambil menarik nafas.

Pertarungan catur antara Raden dan bokapku kelihatan sengit. Sepertinya sama-sama kuat. Aku yang tidak tahu menahu soal catur tetap berharap Raden yang menang. Raden menyeka keningnya yeng berkeringat, ternyata main catur juga memerlukan tenaga sampai berkeringat gitu. Aku melihat bokap angguk-angguk, tampangnya serius, aku baru pertama kali melihat bokap seserius ini selama bermain catur. Hebat, berarti Raden bukan lawan yang lemah.

”Skak mat, Om!” seru Raden sambil tersenyum lebar.

Bokap memundurkan tubuhnya ke sandaran sofa, engga percaya, dia menatap Raden tajam. ”Boleh juga permainan kamu. Lain kali saya akan ngalahin kamu, ya,” bokap tersenyum. Aku menajamkan pandangan mataku, melihat senyum bokap yang pertama kali untuk Raden.

”Sip, Om! Jadi, saya boleh... boleh nih Om?” Raden speechless, seneng banget.

”Sekali saja!” jawab bokap sedikit menyelamatkan hubunganku dengan Raden. Tapi walaupun begitu aku tetap senang. Raden menang. Aku menghempaskan nafas lega.

”Engga pa-pah deh, Om! Makasih banget ya, Om,” Raden langsung sungkeman sama bokap. Rasanya kayak habis menang olimpiade. ”YESS!!”

”Yeeesssss!!!” jeritku kecil.

”Keren... keren...,” Agga geleng-geleng kepala.

”Tapi...,” bokap ngomong lagi.

”Tapi apa Om?”

Aku deg-degan juga mendengar omongan bokap selanjutnya. Agga yang tadi cuek bebek sama usaha Raden, sekarang ikut-ikutan tercengang. Dia merasa kalah juga sama Raden. Seharusnya dulu dia memperjuangkan cintanya juga seperti yang Raden lakukan saat ini.

”Saya ikut, mengawasi kalian berdua. Saya tidak ingin terjadi apa-apa dengan anak saya. Oke?” lanjut bokap tenang.

Agga langsung tertawa terbahak-bahak sampai tidur-tiduran di lantai. Aku cemberut kecut, ngebayangin nge-date bareng Raden diawasi Bokap, nonton bioskop di sebelah kanan Raden, sebelah kiri bokap. Raden bener-bener pacaran sama bokapku. Wwuuuuaaaa.

Raden langsung menciut, engga bisa berbuat apa-apa lagi. Daripada engga boleh jalan selamanya, mending nge-date bersama bokapku aja. Engga ada pilihan lain. Ini yang terbaik.

”Oke, Om!” Raden melempar senyum maksa.

Kalau Dino tau hal ini aku pastikan dia engga segan-segan ketawa guling-gulingan di lapangan, mempermalukan diri sendiri sambil nge-cengin kita berdua, ”Hahahaha... selingkuh sama bokap lo, Sha! Ooh, lo doyan daon tua juga, sob! Hahahaha sekalian aja lo kawinin tuh bokapnya Sasha.” Dasar Dino.

TAMAT

Waspada Gudang Celotehan Bajakan!

Belakangan ini gue iseng buka blog gue setelah sekian lama gak terjamah. Gue iseng aja ketik keyword "Gudang Celotehan" di Googl...