Sunday, August 7, 2011

Buka Bareng Pelatih :)

Satu hal lain lagi yang menjadi ciri khas bulan puasa dan pasti kebanyakan pembaca juga engga bakal ngelewatin hal ini, ow ow apa dia??? ya dia adalah gathering atau nama gaulnya sering banget disebut "Buka Bareng." Sekelebat tentang Buka Bareng, ini adalah sebuah kegiatan yang biasanya diadain di bulan puasa (yaiyalah pan buat buka puasa bersama) dimana sekelompok orang kumpul bareng di suatu tempat makan entah itu kafe, restoran, dapur rumah temen, atau warteg, buat buka puasa bersama sekaligus bercuap-cuap atau ngobrol girang bareng. Biasanya kesempatan Buka Bareng ini dimanfaatkan pula untuk temu kangen atau reunian, makanya akan ada serentetan topik untuk diobrolin dan waktu 5 jam itu GAK CUKUP!
Logo McD-nya keliatan kan? haha
Begitu pun dengan gue yang engga mau ngelewatin join Buka Bareng temen-temen SMP hari ini, berlokasi di McD Gaplek. Awalnya ini acara agak sedikit ambigu jadi atau engganya karena masalah nentuin tanggal yang pas biar semua personil bisa dateng itu sulit banget, lebih sulit dari ngupil pake jempol kaki (*iyuwh><), ya itu semua karena saking kangennya kita setelah berabad-abad eh bertahun-tahun ga ketemu dan pengen banget ketemu satu kelas komplit tanpa ada yang absen, tapi kerinduan itu gue rasa emang 10:100 sih, susah banget kecuali kalo emang kita balik ke masa-masa SMP dimana pasti ada satu hari satu kelas komplit personil. Kendala itu pun berhasil teratasi dengan kenekatan kalau tanggal 7 ini deal untuk Buka Bareng, walaupun jujur agak berat banget engga bisa ketemu beberapa temen lain yang engga bisa dateng (ayo, kapan-kapan buber lagi! *megangperut)
lihat apa yg sudah mereka makan, Tuhan? *sokdramatis:p
Well, sembari nunggu makanan dateng (maklum do'i ngaret, antriannya panjaaaanggg), topik yang jadi bahan obrolan kita pas buber ini engga jauh-jauh dari mem-flash-back masa-masa SMP, yang kocak, yang unik, yang malu-maluin semua diumbar-umbar lagi, nyaris membuka aib lah, haha! Tapi memang hal-hal itu yang bisa bikin kita menjerit "iiiiihhhhhh kangeeeeeeeennn!!" dan ketawa-ketiwi ngakak-ngikik sampai lupa waktu tapi tetep inget perut alias kita gak lupa makan. Topik obrolan yang paling kocak menurut gue adalah ketika ada salah seorang temen yang nyeletuk "Eh, dulu lo duduk paling belakang kan?", "Iya, dulu gue duduk di belakang lu," "Si ini kan temen sebangkunya si itu," de-el-el. Jadi, topik soal urutan tempat duduk saat kita masih berputih-biru di kelas pun kita bahas dan masih apal. Sumpah! Ngangenin!

Betewe, otewe, baswe, hal lain yang nyenengin dari buber plus-plus temu kangen ini adalah saat-saat kita ngeliat perubahan physically dari manusia-manusia yang "very long time no see" ini, ada yang berubah sangat drastis, ada yang still the same, dan ada yang berubah sedang-sedang saja maksudnya engga begitu berubah banget, masih dengan ciri khas-nya. Ya itulah yang kalau dipikir-pikir lucu juga kalo time has changed us and it will always be, pasti ada perubahan sekecil apapun itu, tapi sebuah kebanggannya adalah walaupun ada perubahan, tapi kita masih saling kenal, saling ingat, saling senyum, itu baru namanya "silahturahmi" buat gue. Dan sekali lagi kalau bisa dibilang time is the king, dia yang mempertemukan, dia pula yang memisahkan, tapi at least dia memberi kesempatan dengan adanya gathering ini. Terkadang untuk mendokumentasikan sebuah moment indah itu engga cukup hanya dengan kata-kata dan foto, tapi paling engga itu sudah mewakililah kalau ada satu hari dimana kita pernah kumpul-kumpul, cerita-cerita, seneng-seneng (jadi inget lagunya Project Pop -Ingatlah Hari Ini- *rampoktisu y.y).
<3 Pelatih
 Special thanks to the big fam of Pelatih, my nice junior high school pals ever for the memorable "Buka Bareng".
See you guys next time! :)

Friday, August 5, 2011

Sometimes When We Touch -Olivia Ong-

I heart this song and sing it loud over and over. I dunno recently I love mellow songs, probably that's the way I show my feeling and comfort myself. By the way, I found this song from another blog and at the same time I felt in love with it. Then, I searched for the mp3 and the lyrics. Afterward, I took my best position straight to the screen and do karoke-ing on my way. It's damn great! If you wanna join me karoke-ing this song, you can download it by clicking the title of the song below and just sing the lyrics ;) Enjoy! :D

-Olivia Ong-

You ask me if I love you
And I choke on my reply
Id rather hurt you honestly
Than mislead you with a lie
And who am I to judge you
In what you say or do
Im only just beginning
To see the real you

And sometimes when we touch
The honestys too much
And I have to close my eyes and hide
I want to hold you till I die
Till we both break down and cry
I want to hold you till the fear in me subsides

Romance and all its strategy
Leaves me battling with my pride
But through all the insecurity
Some tenderness survives
Im just another writer
Still trapped within my truth
A hesitant prize fighter
Still trapped within my youth

And sometimes when we touch
The honestys too much
And I have to close my eyes and hide
I want to hold you till I die
Till we both break down and cry
I want to hold you till the fear in me subsides

At times Id like to break you
And drive you to your knees
At times Id like to break through
And hold you endlessly
At times I understand you
And I know how hard you try
I watched while love commands you
And Ive watched love pass you by
At times I think were drifters
Still searching for a friend
A brother or a sister
But then the passion flares again

And sometimes when we touch
The honestys too much
And I have to close my eyes and hide
I want to hold ya till I die
Till we both break down and cry
I want to hold you till the fear in me subsides
Subsides

Es Ijo Lumut

Apa sih yang ngangenin di bulan puasa? Pasti banyak banget dari mulai kegiatan berpuasanya, petasan, sampai es buahnya, ya engga? ya engga? ya engga? Gue sendiri walaupun engga ikut menjalankan puasa, tapi ikut menikmati es buahnya, hahaha.

Seperti kata iklan-iklan, 'berbukalah dengan yang manis', itu bisa berati buka puasa sambil ngaca (narisistus :p), tapi kayaknya maksud itu kalimat adalah berbuka puasa dengan minuman yang manis-manis (secara itu kalimatnya iklan sirup :p). Ada buanyak buanget aneka minuman khas berbuka puasa yang pastinya seger dan manis, kayak kolak, es buah, cocktail, es timun suri, cendol, cincau, es pisang ijo, es sirup, apalagi ya? (*garuk-garuk kepala sambil ngeces), ya dan kawan-kawannya lah. Nah, terkadang juga para ibu rumah tangga suka berkreasi sendiri membuat minuman berbuka puasa sesuai kreatifitas masing-masing. Kebetulan hari ini Ibu dan gue juga berkolaborasi untuk menciptakan minuman segar dan kocaknya kita minumnya pas jamnya buka puasa, padahal kita kagak ikutan puasa (hahaha_red.)


This is it! Proudly present Moss Green Ice atau Es Ijo Lumut. Kenapa dinamakan Es Ijo Lumut bukan karena bahan bakunya dari lumut, tapi karena hasil akhirnya yang berwarna hijau melumut-lumut (mirip lumut) dan karena yang buat adalah member dari Ikatan Jomblo Lucu kayak Marmut (puas? puas? puas? haha), sebenernya ini minuman juga bisa dikasih judul Es Curhat (wkwkwk, fine!).

Sekedar untuk men-share hasil karya kami, di sini gue bakal membagikan bagaimana cara bikin Es Ijo Lumut ini. Aslinya ini es sama kayak es-es buah pada umumnya cuma diganti nama n komposisinya aja. Berikut komposisinya: Sirup rasa melon, melon, timun suri, blewah, kolang-kaling, ager-ager ijo, susu kental manis putih juga boleh. Cara bikinnya pun really really piece of cake alias 'kecil', mamen!

1. Di wadah atau mangkuk yang sudah disiapkan, diisi dengan air putih, lalu diberi sirup serasa-rasanya bakal manis. Aduk rata.
2. Melon dan blewah dikeruk pake tutup botol biar bentuknya artisitik binti abstrak.
3. Timun suri, kolang-kaling, dan ager-ager ijo dipotong dadu.
4. Terakhir tumplekin jadi satu semua bahan-bahan yang ada ke dalam larutan sirup melon dan tambahkan batu es biar makin semriwing.
5. Kalau suka yang lebih manis, bisa ditambahkan susu kental manis putih :9

Does it look nice? :D
Selamat berkreasi dengan minuman es kalian masing-masing ya, kalau mau berbagi tips membuat minuman-minuman segar yang lain juga boleh nih dishare :)

Akhir kata (berasa pidato 17-an), gue mau ngucapin met berbuka puasa eaa kakak :D

Thursday, August 4, 2011

Bohlam

Tarjo adalah seorang perantau dari desa pelosok. Si lelaki bujang berusia seperempatan abad ini memutuskan merantau ke kota hanya untuk mengadu nasib di tempat yang dirasanya lebih baik dari asal muasalnya. Hanya dengan modal nekat dan beberapa peser receh, ia sukses menjejaki kota akhirnya. Kini, wajahnya yang sudah lusuh kian makin parah nelangsanya berkat tangannya yang tak menemukan sepeser receh pun di dalam saku celana atau pun di sisipan kolornya. Namun, bak tersambar petir, dengan buru-buru ia buka kain besar yang membungkus pakaian-pakaiannya dan menemukan sebuah bohlam.

"Nak, Ibu hanya punya sebuah bohlam, semoga bisa bermanfaat suatu saat," terngiang kata-kata pengantar dari Bunda tercinta sebelum ia berangkat merantau.

Dengan lengkungan senyum yang tak indah-indah amat, ia segera melangkah ke jejeran toko. Dari sekian banyak toko, ia memilih satu toko untuk menjual bohlam pemberian Ibunya.

"Saya mau jual bohlam, Pak," ucapnya dengan muka memelas sambil menunjukan bohlamnya.
"Kamu tidak lihat?" si penjual menggerakan kepalanya ke kanan dan kiri, memandang dagangannya. "Apa gunanya kamu menjual bohlam di toko lampu? Lagi pula terlalu banyak bohlam bisa membuat saya sulit membedakan yang mana yang asli atau palsu. Juallah di toko lain yang belum punya bohlam!"

Si bujang itu hanya bisa menunduk, menatap bohlamnya. 'Aku salah tempat,' batinnya.

what if the light lights in the light area...

Tuesday, August 2, 2011

Recommended Books

Beberapa hari kemarin gue sempet singgah di Gramedia Depok sekedar buat ngabisin waktu nunggu temen yang mau janjian ketemu (ciee ciee ihirr *loh?!, padahal ketemuan buat bayar utang *tipuu) dan gambar di bawah ini cukup mendeskripsikan gimana ekspresi gue waktu berkeliaran di dalem Gramed dari satu sudut ke sudut lainnya, dari satu rak ke rak lainnya, dan dari satu buku ke buku lainnya. Unfortunately, gue hanya bisa meraba kocek yang kempes, apeeesss menn ><.
Begitu turun dari eskalator, rak berlabel "Buku Baru" dan "Buku Laris" udah menyambut kedatangan gue dengan beraneka judul dan cover buku yang eye-catching banget dan money-catching (hayahh mengundang untuk dibeli maksudnya). Tambahannya lagi, kebanyakan buku-buku itu ditulis oleh orang-orang yang namanya udah melejit duluan sebelum diketahui ternyata juga suka menulis, kayak artis Fitrop n Indra Herlambang. Juga, banyak nama-nama lain yang buku-bukunya bikin mupeng sangat dan mejadi topik timeline di Twitter ataupun di media-media lain. Pokoknya ibarat lagi puasa di siang hari bolong terus ada anak kecil dengan muka malaikatnya lagi nge-srooott es teh di depan kita.

Berhubung kantong lagi gak bisa diajak sohiban buat ngeborong buku-buku yang bikin ngiler itu, alhasil gue meluapkan hasrat ter-pending atau sadisnya ter-cancel (nangis bawang putih Y.Y) buat beli semua buku itu dalam bentuk postingan kali ini yang mana di sini gue akan naroh beberapa judul recommended-books yang wajib buat dibeli atau paling engga dibaca. Kalau wajib dibaca itu artinya bisa dalam bentuk "usaha" apapun pokoknya baca tuh buku, baik itu usaha modal ataupun ga modal (jiahh curhat!). Okay, check these books out!

1. Poconggg Juga Pocong
Diliat dari judulnya apakah bikin bulu roma kalian merinding karena disuguhin salah satu hantu yang udah eksis di dunia perfilman, yap! pocong!? Tapi jangan ngibrit dulu karena ini bukan buku horor sembarang horor. Buku terbitan dari penerbit yang sama dengan buku-bukunya Raditya Dika ini, Bukune, menyajikan cerita horor yang juga bikin ngakak, istilahnya horor komedilah. So, ada keseimbangan antara merinding dan ketawa sampe nungging guling-guling. Walaupun gue belum pernah baca bukunya, tapi denger punya denger dari orang-orang yang udah baca katanya sih jenis tulisan dan kekocakan buku ini mirip-mirip Raditya Dika. Selain itu juga promosi buku ini udah booming di dunia maya sejak sebelum ni buku terbit dengan berkeliarannya si Poconggg, penulis buku ini di dunia per-twitter-an (@poconggg) dan per-facebook-an (mungkin nama FB-nya sama kali ya, hehe), mungkin ada dari kalian juga yang udah jadi follower-nya atau friend-nya di FB.
Apa! penulisnya poconggg???!! Cepe buat Anda! Iya, ini buku ditulis asli oleh si Poconggg 94oL yang punya FB n Twitter itu. Lihat kan gimana sekarang hantu bukan hanya eksis sebagai aktor film, tapi juga penulis??! agak ngeri juga (_ _!!). Even so, gue tetep memasukan buku ini dalam recommended books list ala gue, ya karena ke-eksisan dan ke-misteriusan si penulis, pula kekocakan buku ini. Cocoklah ini buku untuk yang abis selesai UAS atau yang frustasi nyari kerjaan part-time buat liburan panjang (curhat lagi! :p).

2. Madre
Ini buku terbaru dari koleksi buku karya Dee, Dewi Lestari, yang laris manis kayak timun suri yang hits pas bulan puasa. Seperti buku-bukunya yang terdahulu, bukunya yang satu ini juga bakal calon buku laris pastinya. Udah ga ditanya lagi kalau dengan gaya penulisannya yang menyentil-nyentil bikin penggemar novel atau buku-buku lain buru-buru ingin memburu buku yang satu ini. Because ehh because gue belum pernah baca (lagi! *jedotin kepala ke tembok*), jadi masalah review buku ini bisa temen-temen baca di http://www.suzannita.com/review-buku-madre/, itu review-nya sudah cukup bikin iler makin menetes untuk segera beli dan baca bukunya. Yang jelas, gue suka banget gaya nulisnya Dewi Lestari yang nyentil, penuh imajinasi, indahlah intinya, dan itu bikin ketagihan, so gue recommend buku ini buat kalian :)

3. Kening

This is it! Another recommended book for ya guys! Tau artis wanita yang sukanya pecicilan atau bisa dibilang hiperaktif, loncat sana-loncat sini, ga bisa diem, dan ada aja ucapannya yang gahooollll yang bikin ketawa-ketawa geli dengernya??? Dia lebih sering tampil jadi host bawel, juga oke punya acting-nya, dan ternyata juga jago nulis, cing! Dialah yang beken dengan nama Fitrop, Fitri Tropica, yang nama aslinya Rakhmawati Fitri (gue baru tau loh itu nama aslinya, fufufu). Jujur, pas gue ngeliat buku ini di Gramed, sekilas covernya cukup bikin dahi berkerut karena gambar di covernya rada engga jelas, gue ga ngerti arti dari covernya maksudnya, dan gue balikin tuh buku di raknya begitu aja. Tapi, besoknya gue nonton salah satu infotainment yang bilang kalau Fitrop ngeluarin buku judulnya Kening dan gue langsung tepuk kening. "Pengeeennnnnn!" batin gue. Ini buku perdana Fitri Tropica yang bertajuk Kening terbitan Terrant yang terinspirasi dari ejekan waktu kecil soal kening. Oiya, ternyata setelah diliat-liat lagi dengan seksama cover bukunya Fitrop keren punya! Bikin penasaran banget kalau engga segera baca bukunya ><. Juga ada sedikit bocoran nih, coba klik, ini berisi salah satu postingannya Fitrop yang membacakan salah satu bagian dari si Kening yang dia suka.

Nah, gimana? bikin penasaran kan tuh buku-buku? Klop banget buat dibaca pas lagi nunggu buka puasa atau buat ngisi liburan panjang yang bikin overdosis boring. Betewe, herannya, kenapa ada banyak buku keren kayak ke tiga buku di atas yang publish di waktu yang hampir bersamaan, bikin ngiler bersamaan, bikin kere bersamaan (curhat meneh! aw!). Well, bagi temen-temen yang dompet masih tebal dan tertarik dengan judul-judul buku di atas, bisa langsung ke toko buku kesayangan kalian untuk segera memboyong mereka. Kalau udah dibeli, bilang-bilang saya ya, yaaaa itu tadiii "usaha" buat baca hahaha. Okay, selamat berbelanja buku! :)

Makasih sudah singgah :)
Enjoy your days! Gbu :D

Sunday, July 31, 2011

Petasan!!!

DORRR!!!
Kaget gak? kaget gak? *apasih*
Berhubung di lingkungan sekitar rumah gue lagi booming-boomingnya maen petasan yang dipelopori oleh bocah-bocah gank rumah gue dalam rangka menyambut bulan puasa, jadi gue mulai intro tulisan ini dengan kata DORR (ini bukan bunyi sembarang petasan, tapi bunyi petasan pas yang nyalain ketembak pistol tentara Belanda pada zamannya).

Enggak kerasa kalau bulan puasa sudah di depan jidat, sebelumnya gue sebagai penemu gudangcelotehan.blogspot.com (hehehe) mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa buat pembaca yang menjalankan, semoga puasa pembaca tahun ini bisa full, terus dapet gocap deh dari enyak-babeh (jaman gue kecil banget :p!). Okay, setelah ramah tamah eh halal bihalal singkat ding, kembali ke topik postingan ini bahwasannya (aseekk) gue mau ngebahas sekelumit tentang barang musiman yang kalau emang udah musimnya jadi trending topic ehm... trending stuff untuk kalangan bocah tingkat SD-SMP, SMA udah gede lah, udah ga zamannya main petasan tapi main wanita (loh?loh?loh? abaikan).

Entah kenapa petasan begitu berkharisma untuk bocah-bocah tengil itu, apakah sensasi memainkannya seperti sensasi naik odong-odong yang lagunya lagu ulang tahun? atau dengan memainkannya seperti nikmatnya makan permen kojek? Ya, apapun itu petasan akhir-akhir ini sudah menjadi primadonanya bocah-bocah di kampung manapun gue rasa. Barang yang satu ini pun bukan lagi menjadi barang langka, dimana ada warung jajanan di situ ada petasan, so pastinya dengan gampil si bocah-bocah yang masih ingusan itu bisa membeli dan memborongnya. Saking membludaknya peminat petasan--mayoritas anak-anak kecil--, tentu aja para pedagang engga mau ngelewatin dong mengeruk untung sebanyak-banyaknya dari fenomena tahunan ini. Mungkin kalau ada warung jajanan yang engga menjual petasan bisa-bisa disebut warung "gak g4oL" (ngarang). So, seperti hukum ekonomi, meningkatnya produksi karena meningkatnya permintaan (eh, iya engga sih? *toeng-toeng*), penjual petasan mulai melumut (kata ganti menjamur :P) di mana-mana. Contohya, warung jajanan Ibu gue menjual beberapa jenis petasan tapi petasan ringan (ada kali petasan berat -____-") kayak kembang api sampai petasan kretek kalo gak salah. Metode penjualan petasan di warung ibu gue ini juga terbilang unik, mungkin di beberapa warung lain juga sama. Jadi, gini:

Bocah: Beliiiiiii!!!!
Gue: Beli apa? (kebetulan gue yang ngejualin karena si nyokap lagi ngongseng)
Bocah: Tebak-tebakan.
Gue: Hah? (Elo mau beli apa ngajakin gue maen tebak-tebakan sih, Boc?!)
Bocah: Itu.. itu.. (si bocah nunjuk-nunjuk sebuah kertas karton besar yang tergantung di kusen pintu warung. Di kertas besar itu menempel banyak benda yang kayaknya sih sejenis petasan semua)
Gue: Ohh. (kemudian gue mengambil sebuah toples yang berisi kertas-kertas lipatan kecil yang di dalamnya terdapat nomer-nomer yang berbeda)
ini yg disebut tuh bocah "tebak-tebakan"
Si bocah nyelupin tangannya di toples serasa lagi ngambil lotre hadiah Alphard dengan ekspresi wajahnya yang penuh harap mendapat nomer apik sehingga tuh bocah berhak mendapat petasan yg harganya paling mahal yang tertempel di karton itu. Kemudian, dia mengeluarkan tangannya dan membuka lipatan kertas yang do'i ambil.

Gue: Dua lapan (gue membaca nomer di kertas tuh bocah, trus nyari dia dapet apa dengan nomer 28-nya itu)
Bocah: Ituh, Kretek (sahut tuh bocah apal sambil nunjuk salah satu benda yang terpajang di karton itu)
Gue: Apaan kretek?
Bocah: Petasan.

Dan di situlah titik awal gue mengernyitkan dahi karena baru aja memperluas pengetahuan tentang jenis-jenis petasan. Gue kira yang disebut kretek tuh cuma rokok aja, ternyata petasan juga, dan kedua benda tersebut sama-sama berbahaya sebenarnya (-_-"). Di sini gue cuma ingin berbagi info sama pembaca semua sekedar untuk iseng-iseng aja sih kalau ternyata ada berbagai jenis petasan yang bisa didapatkan oleh bocah-bocah dengan cara yang amat mudah dan murah, cuma gopai alias 500 perak. Berikut beraneka ragam bentuk petasan yang kemungkinan sering dibeli bocah-bocah di kebanyakan kampung manapun.

petasan kretek
Entah dari mana petasan yang satu ini dinamai Kretek, mungkin dari bunyinya yang kretek.. kretek.. kretek. Petasan kretek ini seperti yang pada gambar di atas (walaupun agak mblawur><) warnanya sangat menarik, warna-warni, gak kayak rokok kretek yang warnanya gitu-gitu aja (namanya juga rokok), jelas aja bocah-bocah tertarik untuk membeli dan memainkannya. Walaupun bentuknya yang kayak kecebong ketumpahan cat, tapi suaranya boo... tetep aja nyaring nendang-nendang gendang telinga dan cukup membuat tidur siang Anda seperti di neraka (berlebayan).

petasan cincin
Kalau yang satu ini kata Ibu sih namanya petasan cincin, ya mungkin karena bentuknya yang melingkar mirip cincin, tapi bukan berarti nyalainnya pas lagi dipake di jari ya, hoho.

petasan korek
Nah, yang satu ini dilihat dari bentuknya dan pamornya yang sudah lebih eksis dibanding petasan lain, gue yakin pembaca udah tau ini petasan punya nama (yaiyalah itu di bawah poto ada tulisannya :p), petasan korek. Betewe, ada petasan kretek, ada petasan korek, jangan-jangan juga ada petasan asbak ya.

Ketiga petasan di atas cukup mewakilkan jenis-jenis petasan yang sedang digandrungi kalangan bocah di berbagai kampung. Kalau cara mainnya kayaknya kebanyakan hampir sama dengan membakar sumbunya lalu lari jauh-jauh, dan doorrr, kretek-kretek, ctarr-ctarr. Para bocah cilik nan tengil ini sukanya main petasan keroyokan (baca: rame-rame), so kita sebagai si korban pendengar petasan yang bunyinya nyakitin telinga, terkadang hanya bisa geleng-geleng dan garuk-garuk kepala. Yang bikin gemesnya lagi, bocah-bocah tengil itu juga susah dibilangin untuk berhenti main petasan, kecuali kalau mereka sudah ngerasain sendiri dampak petasannya ke jari-jari mungil mereka (tampang antagonis, melintir-melintir ujung kumis Pak Raden).

Mengingat kalau para pemain petasan ini usianya masih hitungan jari tangan, so untuk pembaca semua yang punya adek, sodara, sepupu, tetangga, atau anak yang doyan main petasan, tetep perhatiin mereka ya. Namanya juga anak kecil, masih penasaranan dan suka coba-coba, siapa tahu aja kan ada bocah yang masang petasan di dalem celana temennya? Nah loh! So, selalu pantau mereka! :D
Once more, happy fasting!
Gbu :)

Monday, July 25, 2011

Dreams are the Reason

Tiap insan dikaruniakan kemampuan untuk bermimpi. Kalau tidak punya mimpi tidak beda dengan mati. Dreams make alive. Apalagi untuk si pemimpi yang kegemarannya bermimpi apapun sampai lupa waktu lupa kenyataan. Mimpi-mimpinya besar dan tak terjangkau dengan logika, begitu indah dan berapi-api untuk ingin diwujudkan, ingin sesegera mungkin agar tak kunjung padam. Ya, mimpi-mimpinya yang sebegitu rupa itu ada kalanya redup, ada kalanya terang hingga berjuta-juta volt. Bukan salahnya untuk terus bermimpi mimpi-mimpi yang seperti itu karena terasa itu semua seperti terprogram otomatis ketika dia diwujudkan di bumi ini. Hanya terkadang terlalu membiarkan alam mimpinya berkeliaran membuatnya tak kuasa mengontrolnya, untungnya dia belum hilang akal jiwa. Dia masih sadar kalau tak semua mimpinya akan menjadi nyata-nyata. Menyadari itu pun akhirnya membuatnya malah menikmati hanya sekedar bermimpi, ketika logika tak melampauinya, ketika kenyataan ada di sudut terbelakang dalam hidupnya, ketika segala candu-candu manis yang ia ingin kecapi yang begitu mahal harganya di alam nyata dengan mudahnya ia beli di mimpi, ketika ada kepuasan.
Mimpi. Mimpi. Dan untuk kesejuta-kalinya dia bermimpi.
Biarkan dia selama dia masih ingat kapan harus pulang, selama dia belum hilang ingatan.
Mimpi-mimpinya sampai bermimpi mimpi-mimpi lagi, lagi-lagi mimpi.
Terkadang mimpinya hanya basa-basi, namun ada juga mimpi-mimpi ambisi yang kelak ada daya upaya apapun yang baik untuk merealisasikannya.
Ya, terkadang dia lupa kata realisasi, tapi bukan hilang.
Mimpi menjadi pecandunya, juga obat penawarnya, untuk tetap bernafas dan hidup karena sering waktu yang nyata tak bisa diandalkan dan mematahkan.
Mimpi, salah satu alasan dia tetap bertahan.
Dreams make alive.
Si pemimpi, dunia mimpi

Tuesday, July 19, 2011

Bisul di Wajah Metropolitan

Awan beriringan pulang ke alamnya, gelap mulai mendominasi di angkasa, ratu malam sedang dalam perjalanannya untuk berdinas menggantikan raja siang. Jalanan mulai riuh rusuh, hiruk-pikuk, hilir-mudik, kendaraan sepaket dengan klakson dan asap knalpotnya mulai berbarengan memenuhi jagat raya, mengkreasikan polusi udara untuk keberibuan kalinya. Pejalan kaki yang melangkah gontai dengan kemeja dan wajah lusuhnya berkat mencari nafkah seharian pun meramaikan trotoar jagat raya senja itu. Lampu-lampu jalan mulai dinyalakan, sorot-sorot sinar pun bercahaya dari tiap kendaraan yang memadu-padatkan jalanan, tanda senja sebentar lagi akan berganti malam. Oh, 'jam pulang kerja' orang sering mengatakannya.

Melihat kondisi lingkungan rumahku yang sudah menyentuh saat-saat padatnya jalan raya, itu penanda jam mandi soreku. Aku pun beserta dengan teman-temanku yang lain, anak-anak tetangga sebelah rumahku, tak segan-segan membuka kain-kain rombeng yang menempel lengket di tubuh kami hingga kami benar-benar telanjang bulat. Mungkin pemandangan yang tak etis untuk dipandang di tengah keramaian, tapi untungnya kami masih terbilang anak kecil. Tampak raut wajahku dan kawan-kawanku yang lain tergesa-gesa penuh dengan keantusiasan untuk segera membasahi badan kami dengan air bercorak gelap pekat dan kental yang menganga lebar di hadapan kami. 'Hmh, sepertinya segar sekali mandi sore!' batinku tidak sabar. Ngomong-ngomong, hidungku sudah terbiasa dengan wangi kali hitam pekat ini, sehingga antusiasku untuk mandi sore tidak akan luntur.

BYURR!! kawanku yang berkulit lebih keling dariku sudah buru-buru melompat ke dalam air. Sungguh sangat kontras warna air dengan kulitnya. 'Dasar keling! tunggu!' aku pun tak mau kalah dan langsung melompat ke air bersama dengan kawan-kawanku yang lain. Aku dan sebagian anak yang lain sibuk saling menciprat-cipratkan air ke wajah anak-anak lain. 'Ini lah saat yang kutunggu-tunggu sejak seharian bekerja. Aku senang bermain air sambil mandi dengan sesamaku yang lain. Asyik!' Aku mencipratkan air pada wajah sahabatku dan tak sengaja bungkus mie instan dan rokok terlempar juga ke wajahnya. 'Ups, maaf, kawan!' Saat-saat ini lah yang aku irikan dari sesamaku yang lain yang beruntungnya mereka tidak perlu memikirkan cara menghasilkan pundi-pundi sebanyak-banyaknya untuk hidup, tapi paling tidak ada sepotong waktuku untuk bermain dengan kawan-kawan meski di kala mandi sore.
 
Setelah merasa cukup bermain air sampai-sampai wajahku ini pegal tertawa melulu, aku naik ke atas. Kuraih sabun dari tangan temanku, kuusapkan pada tubuhku dari leher, tangan sampai kaki. Tak peduli tak ada satupun gelembung busa di tubuhku, yang penting aku sudah sabunan. Aku pun menertawakan seorang temanku yang lain yang masih manja dengan Ayahnya, masih dimandiin sama Ayahnya, malu ih. Tak jauh dari kami pun, di pinggiran kali, aku melirik sambil terkekeh ke arah sohibku yang rambutnya paling keriting yang sedari tadi belum selesai dengan urusan membuang isi perutnya. Kembaliku pada tubuhku, selesai kusabunan, kuoper sabunku pada kawan yang lain. Kemudian, dari sebuah genangan berisi air yang kelihatannya tak jauh berbeda warna dengan kali besar di hadapanku, aku mengambil air dari sana dengan mangkok plastik dan menjatuhkannya di sekujur tubuhku. 'Brrrrr... dingin!' Aku sedikit menggigil. Tubuhku yang kehitaman karena terbiasa tersengat matahari ini kini sudah hmhhh.... bau sabun walaupun tak sebegitu wangi dan badanku sudah segar.

Menjadi pemandangan para pengguna jalan yang baru pulang beraktivitas seharian yang melintasi jalan-jalan setapak di sekitar kami sudah hal lumrah menjadi saksi mata kami mandi sore, buang air besar, buang air kecil, atau hanya sekedar main ciprat air. Mereka pun tak lagi begitu mengindahkan kami yang berada di pinggiran samping kali hitam, di bawah jembatan layang dan jembatan busway. Begitupun dengan kami, kami mandi ya mandi seperti menikmati nyamannya mandi di bath-tub hotel berbintang lima. Beginilah ekosistem kami dan mereka sehari-hari, kita menjalaninya beriringan, begini apa adanya setiap hari tanpa maksud kami untuk merusak keindahan kota ini. Ya, kami dan mereka hidup beriringan setiap hari dan semua terlihat baik-baik saja, walaupun kami tidak tuli kalau mereka suka bilang 'ini bisul di wajah metropolitan.'

Anak Jalanan, Grogol

Sunday, July 17, 2011

Motong Bawang di dalem Bioskop

Udah pada tau kan film Indonesia tentang seorang anak perempuan remaja SMP yang hidup bersama penyakitnya, kanker ganas, untuk mewujudkun mimpi-mimpinya? Film yang belakangan ini sedang beredar di bioskop-bioskop kesayangan Anda dan yang iklan promonya di hampir semua channel TV? Iya, Iya, yang iklannya ada anak perempuannya botak. Bukan, bukan, bukan Upin & Ipin. Nah, iya, bener, bener, judulnya Surat Kecil untuk Tuhan.

Mendengar judul film ini dan melihat tayangan iklannya di tivi, gue langsung teringat sebuah film barat yang bisa dibilang mirip dan memang itu film bagus binti keren banget, yang sudah beredar di dunia bioskop ataupun DVD jauh-jauh hari sebelum Surat Kecil untuk Tuhan. Judulnya pun kalau ditranslate ke Bahasa Indonesia memiliki hanya secuil perbedaan, Letters to God. Berhubung, gue ini salah seorang masyarakat Indonesia yang sensitif, geregetan, dan gemes sama film-film Indo yang lumayan banyak hasil copycat dari film luar, so awalnya gue kira Surat Kecil untuk Tuhan ini niru Letters to God, tapi pandangan itu lumayan sirna begitu gue nonton dan malah motong bawang di dalem bioskop.

Jalan cerita Surat Kecil untuk Tuhan sendiri engga begitu berbeda dengan Letters to God, sama-sama tentang seorang anak yang berjuang melawan dan hidup bersama penyakin kanker ganas, dan mengirim surat pada Tuhan, meski total surat yang dikirim untuk Tuhan banyakan di Letters to God. Juga, kedua film ini sama-sama mengangkat kisah berdasarkan kisah nyata. Namun, bedanya, kisah nyatanya diangkat dari dua orang yang berbeda, beda banget, yang satu kisah nyata dari seorang anak yang dari barat sono, yang satu lagi kisah nyata seorang remaja putri, Gita Sesa Wanda Cantika atau Keke, yang menderita Rhabdomyosarcoma (Kanker Jaringan Lunak) pertama di Indonesia. Jadi, karena kisah nyata yang diangkat itu dari orang yang berbeda, alur cerita kedua film tersebut juga berbeda, hanya saja ada beberapa adegan yang mirip menurut gue. However, kedua film ini mampu membuat gue bener-bener kayak lagi motong bawang, lebih lagi pas gue nonton Surat Kecil untuk Tuhan, ya karena faktor nonton di layar yang segede layar tancep juga sih.

Well, maksud gue ngasih judul postingan ini "Motong Bawang di dalem Bioskop" adalah karena ehh karena gue dan adek gue nonton Surat Kecil untuk Tuhan di bioskop bukan kesayangan kami. Awalnya, jujur gue rada males nontonnya karena pikir gue ini film niru Letters to God, tapi begitu gue duduk anteng mantengin satu layar nyaris segede spring bed dan mencoba menikmati alur ceritanya, alhasil sejadi-jadinya gue nangis. Padahal, gue udah sengaja ngeliat ke atas dan kemanapun selain ke layar untuk menghindari menonton adegan-adegan yang isinya nangis-nangisan semua biar gua gak ikut nangis, tapi apa daya air mata ngucur juga. Gilak! lo bayangin aja, ceritanya sih iya bagus, mengharukan dan menyentuh, tapi ya kenapa kebanyakan adegannya tuh isinya kayak orang lagi lomba nangis, ditambah backsound mendayu-dayu, dan dialog yang mengiris-iris hati yang mendengar, plus-plusnya lagi itu ada beberapa adegan yang bener-bener meng-shoot full face seorang sahabat pemeran utama yang lagi nangis. Nah, lo bayangin aje deh tuh, selayar segede spring bed isinya cuma muka seorang gadis yang lagi nangis kejer. Disuguhin adegan yang kayak gitu, jelas aja gue engga bisa melawan takdir buat ikutan nangis (takdir mennn! ;p), sepertinya gue sudah terhipnotis untuk ikutan mewek. Begitupun dengan pengunjung lain, di beberapa adegan yang sudah sungguh-sungguh miris, gue mulai mendengar desahan dari susut-sudut bioskop, desahan dan isakan tangis pengunjung lain maksudnya. Kocaknya lagi, begitu di tengah-tengah alur cerita, dimana sudah ingin mencapai titik klimaksnya plot tuh film, gue sengaja nengok ke sebelah, ke adek gue, dan adek gue pun menengok pula ke gua. Astajim! Adek gue udah kayak cuci muka pake aer mata sendiri, berasa abis motong bawang pake kuku dan gigi sendiri, aer mata bergelinangan di bawah matanya. Yang ada, setelah itu kita sama-sama ngakak karena saling melihat hal yang sama (nyahahahaha, ngerti maksud saya?).

Gue sengaja engga nyeritain kisah lengkapnya atau sinopsis lengkapnya Surat Kecil untuk Tuhan, karena nanti kalau udah diceritain sensasinya jadi beda dengan nonton langsung filmnya (<--alibi males ;p) dan biar pembaca yang akan nonton film ini juga merasakan sendiri sensasi motong bawang di dalem bioskop, itu juga kalau memang pembaca orangnya mudah tersentuh (kayak aye, ihir, *apaseh). Kalaupun kalian nonton sendiri, tenang... kalian gak nangis sendiri.

Makasih udah singgah dan baca. Enjoy your days! Gbu (:

Monday, July 4, 2011

Evolusi Becak

Seperti yang kebanyakan orang sudah tahu kalau becak itu adalah salah satu alat transportasi tradisional di Indonesia, khususnya di pulau Jawa. Kendaraan yang satu ini cukup banyak menciptakan kontreversi juga, karena pernah ada aturan yang dibuat si petinggi-petinggi kalau becak sudah tidak boleh lagi beredar di daerah-daerah tertentu, padahal harusnya dilestarikan, lagipula apa mereka mau rela rogoh kocek dalam-dalam buat ngegantiin pekerjaan para tukang becak? hah? (aduh, malah esmosi, sabar sabar #minumesteh). Becak tekenal dengan bentuknya yang khas, yaitu dengan rodanya yang tiga, bedanya sama sodaranya Bajaj, becak dikendarai dengan cara dikayuh oleh abang, mas, bapak tukang becaknya (belum pernah liat tukang becak wanita), bukan dengan mesin, tapi dengan tenaga MANUSIA. Di situlah sebagian besar hidup mereka diletakkan, ada pada kuatnya kedua kaki mereka dalam hal mengayuh.
pic by simbah gugel. Becak Sepeda
Itu sekilas info tentang becak versi gue (tumben intronya nyambung sama judulnya! #ma'atih eaa kakak). Lalu tujuan dibuatnya postingan tentang Evolusi Becak ini karena fenomena yang gue lihat beberapa bulan yang lalu, yang baru sempet gue tulis sekarang, jadi harap maaf dan maklum kalau banyak dari pembaca yang sudah keduluan lebih tahu tentang evolusi becak ini atau yang mau bilang gue "ketinggalan jaman" atau "ketinggalan becak" juga silakan, gue rela, asal jangan timpuki saya dengan es teh apalagi becak. Jadi, kira-kira bulan Mei yang lalu, waktu gue berniat mengunjungi Malioboro via Kartosuro (pake bis dari terminal Kartosuro), gue singgah di shelter busway-nya Jogja, shelter Prambanan tepatnya. Nah, jadi gini kronologisnya, gue lagi duduk nungguin buswaynya dateng, dan mata gue yang hobinya berkeliaran kalo lagi engga ada kerjaan menangkap satu benda yang membuat gue perlu memperjelas fokus penglihatan gue. Gue liat becak. Hmm... becak apa becak itu? begitu batin gue. Gue pun engga mau hilang kesempatan untuk menjepretnya.
pic by saya. Becak berpantat motor bebek.
pic by kulo juga. Sepasang becak berpantat motor bebek :D
Begitu liat penampakan itu, gue langsung mikir apakah ini sudah saatnya becak mengalami evolusi? Udah engga ada lagi sepasang kaki yang berurat menegang untuk mengayuh, udah engga lagi gowesan-gowesan penuh semangat dan asa dari kaki-kaki si tukang becak, mungkin sekarang mereka tidak perlu mengurut-urut kaki lagi setelah bekerja seharian, karena becak sudah berevolusi. Wujudnya tetap seperti becak pada umumnya yang bagian belakangnya seperi sepeda dan cara kerjanya digowes, sementara perubahannya terjadi pada bagian belakang becak itu. Sekarang bagian belakangnya seperti dan kelihatannya memang bagian belakang motor bebek. Secara kasat mata penampakan ini seperti hasil perkawinan silang antara becak dengan motor bebek, dan beranaklah seperti gambar di atas.

Senang juga melihat evolusi becak ini karena hal ini akan memudahkan para tukang becak untuk bekerja dengan becaknya, ditambah juga kecepatan becak jadi lebih cepat beberapa puluh km/jam dan menciptakan angin semilir untuk penumpang, kelihatannya juga lebih keren. Haha! Tapi, kalau begitu, berarti perlu ada tambahan lembaran uang untuk modal beli bensin atau kalau semisal mesin mogok, selain itu juga akan ada satu penyumbang polusi jalanan lagi dengan asap yang mengepul dari lubang knalpotnya, penikmat becak pun juga mesti merelakan kehilangan saat-saat menikmati pemandangan-pemandangan yang ada di sekitar mereka karena kini becak sudah bisa berjalan secepat ojek, dan tampilannya pun ga seeksotis becak sepeda yang menjadi salah satu daya tarik turis ataupun pelancong untuk memilih naik becak dibanding ngojek.

Bagaimanapun juga, ini suatu kemajuan yang perlu diacungi jempol. Tapi, ya semoga becak yang menjadi keunikan dan kekhasan Indonesia tetap dilestarikan walaupun kini sudah berevolusi. Juga, mesti tidak dilupakan kalau terkadang penghasilan menjadi tukang becak saja hanya cukup untuk memenuhi kehidupan sehari, apalagi kalau harus tambah modal buat beli bensin (berasa tukang becak yak, tau aja. Haha!). Betewe, entah evolusi ini terjadi hanya di wilayah sekitar Jogja saja atau sudah ada dimana-mana, tapi yang jelas, kemaren sore gue masih naik becak yang dikayuh dari terminal Tirtonadi sampai Ngarsupuro, Mangkunegaran, Solo.

Demikian celotehan saya tentang becak. Tenang, celotehan ini bukan celotehan berdasarkan karangan imajinasi, tapi didasari fakta yang gue lihat pake biji mata kepala gue sendiri. Semoga bisa menambah informasi atau jangan-jangan gue yang ketinggalan informasi ya? --a Wah, isin juga, tapi ya gapapa, sekedar men-share saja :D

Makasih sudah mau singgah dan membaca! (:
GOD bless you.

Sunday, July 3, 2011

Dalam Hingar bingarpun, Namamu Ada

Sengaja kutarik diriku dari segala kepenatan yang ada di pijakan bumi lamaku, ke pijakan lain yang penuh dengan kehingar bingaran, sebuah pentas pertunjukan seni. Mataku pun terbelalak melihat keindahan dan kemegahan penampil-penampil dan tata panggung yang terpampang di hadapanku. Awalnya kuberada di sana, masih terlintas namamu dan berbagai pertanyaan yang di awali kenapa dan itu serasa palu yang tak henti-hentinya membentur dinding kepalaku, sehingga meskipun mataku menikmati kemewahan lenggak-lenggok sang penari di tengah kilauan lampu-lampu sorot, hati dan otakku bersengkongkol memikirkan namanya, alhasil aku tidak bisa menikmati acara yang ada secara utuh. Namun, lambat laun, akupun terlarut dengan pesona yang ada di atas panggung megah dan simpel tersebut, keluwesan gerak tubuh mereka, keharmonian alunan musik perkusi, dan keindahan suara si penyanyi, hingga hati dan otakku mulai bisa menikmatinya, akhirnya. Tujuanku pun kalau begitu tidak sia-sia, aku pergi untuk lari dari bayang-bayang dia yang berkelahi dengan pikiran-pikiranku, perang di dalam tempurung kepalaku, dan aku lemah untuk membunyikan peluitku, menghentikan mereka. Sejenak aku merasakan kesuksesan dalam pelarian ini, sambil dalam hati mensyukuri keindahan seni dan menggugah asaku untuk ingin terlibat, mengembangkan, ya turut berkecimpunglah dengan si seni yang elok nian itu. Namun tak lama, sial dan anehnya dalam hingar bingarpun yang bak mendobrak-dobrak pintu hati untuk mengusir paksa para pegulat di dalam kepalaku tadi, namanya pun ada seperti hantu atau macam apa ini??!! Seorang yang duduk di depanku tanpa dosanya, memang seharusnya dia tak merasa berdosa juga karena hal ini, menyebutkan satu nama yang zlepp!! nama yang sama, nama yang sejak berhari-hari lalu berkeliaran di kepalaku, nama yang menjadi pemacu semangatku untuk melakukan pelarian ini, untuk melupakannya, meletakkannya di sudut terbelakang, dan nama itu dengan enaknya muncul tiba-tiba di tengah hingar-bingar. Detik itupun, aku merasa guci tanah liat yang hampir sempurna dengan sedikit lagi polesan, luruh lantah tak berbentuk lagi, kesuksesanku seperti piring pecah. Memang terdengar hiperbola dan aku akui, tapi rasanya memang satu adegan itu seperti bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Kenapa satu nama itu terlalu berpengaruh? Entah cara apa lagi yang kelak kulakukan untuk melarikan diri dari nama itu.

Waspada Gudang Celotehan Bajakan!

Belakangan ini gue iseng buka blog gue setelah sekian lama gak terjamah. Gue iseng aja ketik keyword "Gudang Celotehan" di Googl...