Still War!

Selasa (28) lalu, gue mendatangi second reader (sejenis kayak dosen pembimbing 2) gue untuk menjemput kepulangan skripsi gue yang udah nginep di beliau seminggu ini. Gue berharap mendengar kabar kalau hanya ada sedikit revisian lagi. Tapi, sayangnya…. Harapan tinggal harapan. :(



Gue sempet sakit hati sih mendengar beberapa komentar dari beliau. Terlebih sakit adalah ketika analisa data gue dibilang belum seperti analisa data, melainkan hanya baru pengumpulan data. Padahal, skripsi gue ini produk berulang-ulang kali revisi dengan dosen pembimbing 1 gue. Sakiiiiiiiiiit banget gue dengernya, walopun saat itu gue masih bisa menanggapinya dengan senyum, senyum getir. Secara dia bilang skrispsi gue ini masih setengah jadi dan katanya topik skripsi gue ini sebenarnya gampang. Gue mendengar pernyataan menyiratkan hinaan di sana, meskipun maksudnya si dosen ini mungkin bukan untuk menghina atau menjatuhkan gue. Tapi, ya tetep aja, paiiiiiit, bu! Saat itu juga, gue patah hati demi kebaikan. :(

Begitu sampe kost, rasanya gue udah engga sanggup lagi mau memotivasi diri sendiri kayak apa. Apalagi melihat status beberapa temen yang udah berhasil dengan skripsinya. Rasanya pertahanan gue runtuh malam itu. Gue engga mau ngelakuin apa-apa, gue mau nangis aja! :'(


Sakit banget sih kalau inget kata-kata second reader gue itu, tapi apa daya, pilihan ada di tangan gue. Mau membiarkan skripsi gue tetap dinilai dengan nilai yang sudah pasti buruk atau direvisi lagi dan dirombak semua susunan penulisannya. Jelas gue milih yang kedua lah dan susahnya bukan main, berooooh. Rasanya itu seperti lo sudah amnesia apa yang harus lo perbuat lagi ketika susunan yang udah rapih ini harus diutak-utik lagi. Rasanya tuh kayak lo udah bikin menara sutet capek-capek, terus tau-tau lo disuruh ngubah menara sutet lo jadi menara Eiffel.

Malem itu gue nangis sejadi-jadinya. Gue merasa dunia ini ironis banget. Di satu sisi gue liat ada banyak pengusaha sukses yang bahkan gak lulus SD, tapi bisa jadi “orang.” Sementara gue mau lulus kuliah harus banting tulang begini, itu juga begitu lulus, gue masih harus peres keringet cari kerjaan. Tapi, ketika gue berpikir ulang. Tuhan tetap adil. Ada persamaan antara mahasiswa dan pengusaha gak lulus SD: kita sama-sama melalui masa SUSAH sebelum sukses. Gue yakin pengusaha-pengusaha yang bahkan tidak lulus SD itu pun engga ujug-ujug sukses, pasti ada jerih payah dan pengorbanan yang perlu dibayar sebelumnya. Pasti ada masa susahnya.

Ya Tuhan, sekarang gue udah engga mikir lagi deh skripsi gue ini mau dapet nilai berapa. Terserah. Gue sudah berusaha dan memberikan yang terbaik. Apapun hasilnya nanti, gue yakin Tuhan pasti memberikan hasil yang setimpal dengan usaha gue selama ini. Toh juga bukan karena usaha gue sendiri skripsi gue kelar, tapi karena Tuhan juga yang udah memampukan gue. Jadi, gue percaya aja lah sama DIA yang kuasaNya melebihi apapun dan siapapun. Amin. :D


Comments

  1. Aaaaaaaah saat-saat kaya gini :(

    SEMANGATTTT! Mami mendukungmu >.<

    ReplyDelete
  2. mamiiiiiiiihhh... peluuuukkkk... >.<
    makasihh ya semangaaat dan dukungannya, mih. it's over now! *terharu hiks*
    semangaaaaaat buat kamu ya, Manda! :D

    ReplyDelete

Post a Comment

monggo komentar membangunnya. saya dengan senang hati akan membaca dan membalasnya. :) makasih juga sudah melipir ke blog saya, jangan jera-jera untuk datang kembali, ya, hehehe. God bless you :).

Popular posts from this blog

Seragam SMA = Baju Jojon

Postingan Galau

Demam Itazura na Kiss, Mischievous Kiss: Love in Tokyo