Thursday, August 28, 2014

aku ingin merdeka!

aku ingin merdeka!
merdeka dari beban di pundak.
merdeka dari kata-kata mereka.
merdeka menjadi apa adanya.
merdeka dari rasa terpaksa.
merdeka dari harus begini, begitu.
aku ingin merdeka untuk berkarya!
dengan apa yang kubisa
dengan diriku seutuhnya aku
tanpa topeng
tanpa tameng
tanpa menjadi orang lain!
aku ingin merdeka!
merdeka tertawa
merdeka membantu sesama
merdeka bersedih
merdeka menguras keringat
menjadi biasa aja. ya, aku ingin jadi biasa saja!
cukup dengan indomie, aku rela.
tak perlu makanan eropa yang selangit harganya.
cukup indomie saja.
aku ingin merdeka!
merdeka menjadi aku.
bukan menjadi yang mereka mau.
bukan dengan cara-cara untuk menopang wibawa.
bukan dengan upaya-upaya agar dihargai.
lihatlah mereka yang melukis.
ada tidak adanya pujian, tetap melukis.
ada tidak adanya cacian, tetap berkarya.
panas dingin, hujan badai, tetap melukis.
menumpahkan seluruh dirinya di atas kanvas.
menggapai kepuasan dengan menjadi diri sendiri.
persetan dengan menjadi orang lain tuk topang wibawa.
aku tidak perlu.
tidak perlu!

Sunday, June 8, 2014

Kusuka Tulus dan Lirik-liriknya


Siapa yang kenal Tulus? Nah kan, banyak yang kenal. Iya, pendatang yang cukup baru di bilantika musik Indonesia ini memang terkenal bersuara apik, adem ayem, dan jazzy banget. Belum lagi, beberapa lirik lagu di albumnya ia tulis sendiri. Ini dia yang bikin gue makin jatuh cinta sama dia. Lirik-lirik bikinannya meaningful dan positif. Nah, saking ngefansnya gue sama doi, postingan ini gue khususkan untuk menampung lirik-lirik lagu Tulus. Check 'em out!


-Gajah-

Setidaknya punya tujuh puluh tahun
Tak bisa melompat kumahir berenang
Bahagia melihat kawanan betina
Berkumpul bersama sampai ajal



Besar dan berani berperang sendiri
Yang aku hindari hanya semut kecil
Otak ini cerdas kurakit berangka
Wajahmu tak akan pernah ku lupa



Waktu kecil dulu mereka menertawakan
Mereka panggilku gajah, ku marah
Kini baru ku tahu puji di dalam olokan
Mereka ingatku marah
Jabat tanganku panggil aku gajah



Kau temanku kau doakan aku
Punya otak cerdas aku harus tangguh
Bila jatuh gajah lain membantu
Tubuhmu disituasi rela jadi tamengku



Kecil kita tak tahu apa-apa
Wajar bila terlalu cepat marah
Kecil kita tak tahu apa-apa


Yang terburuk kelak bisa jadi yang terbaik
Yang terburuk kelak bisa jadi yang terbaik



Kau temanku kau doakan aku
Punya otak cerdas aku harus tangguh
Bila jatuh gajah lain membantu
Tubuhmu disitu masih rela jadi tamengku



Kau temanku kau doakan aku
Punya otak cerdas aku harus tangguh
Bila jatuh gajah lain membantu
Tubuhmu disituasi rela jadi tamengku

courtesy of: http://www.metrolyrics.com/gajah-lyrics-tulus.html



Setau gue, lagu berjudul Gajah ini bercerita tentang masa kecil Tulus yang sering dipanggil "Gajah" oleh teman-temannya. Nah, di lagu ini Tulus kasih respon positif tentang panggilan "Gajah" tersebut, meskipun dulunya ia sempat marah dijuluki "Gajah." Wajar lah anak kecil.




-Baru-

Tak perlu kau ajak aku bicara
Tak akan pernah ku mendengar-nya
Ini aku yang dulu bahkan tak dapat sebelah dengar dari telingamu

Tak perlu pesolek berwangi bunga
Tak akan mampu luluhkan hatiku
Ini aku yang dulu bahkan tak dapat sebelah mata dari pandanganmu


(Reff)

Nikmatilah kejutanku
Ini aku yang baru
Nikmatilah rasa rindu
Tak lagi di kuasamu

Tak perlu gelitik aku tertawa
Tak lagi kulihat ada yang lucu
Ini aku yang dulu namanya terus jadi sisipan tiap leluconmu


(Reff 2x)

Dari dulu kamu tau
Patuh aku demi kamu
Dulu lalu tinggal dulu
Inilah aku yang baru


(Reff 2x)

courtesy of http://www.metrolyrics.com/baru-lyrics-tulus.html 


Lagu sepanjang 2 menit 57 detik di atas ini ditulis Tulus tahun 2013 dengan bantuan sahabatnya, Ferry Nurhayat. Aransemen musiknya ditangani langsung oleh produser Tulus sendiri: Ari Renaldi. (sumber)

Untuk sementara, dua ini dulu lirik-lirik lagu yang ditulis sendiri oleh Tulus dan gue favoritkan. Silakan kalau mau dipakai buat karaokean. Tapi, lagunya download sendiri ya. Hehehehe.

Keep Calm and Enjoy Free Time

Hai!
Salah satu penyakit dari seorang pecinta deadline yang menikmati kesibukkan di detik-detik akhir adalah "merasa ada yang salah dengan waktu lowong atau kosong." Entah penyakit ini dialami oleh semua deadliner atau cuman gue doang. Tapi, beberapa orang pecinta kesibukan di detik-detik akhir deadline yang gue tanya mengakui hal yang sama, bahwa sering kali kita merasa aneh kalau ada jam kosong.

Biasanya rempong nyelesein pekerjaan yang berceceran mepet deadline. Lalu ketika mereka sudah terselesaikan, tibalah gue di waktu-waktu lowong. Waktu-waktu lowong buat gue adalah waktu-waktu tanpa deadline, tanpa ada list pekerjaan yang harus diselesaikan satu demi satu dengan sesegera mungkin. Nah, di waktu lowong macam ini, gue sering banget ngerasa aneh atau ngerasa ada yang salah atau ngerasa "ini yakin gak ada kerjaan yang harus gue beresin? jangan-jangan i miss a thing." Nah, efek selanjutnya setelah tidak yakin dengan waktu lowong, biasanya gue mulai menduga-duga ada pekerjaan yang kelewat atau malah takut jangan-jangan ada pekerjaan yang lupa gue kerjain. Terus, gue akan berada dalam lingkaran "ngerasa ada yang salah" dan "jangan-jangan ada yang lupa dikerjain" itu melulu selama waktu lowong. Pernah ngalamin kayak gitu juga gak?

Hal di atas gue sebut penyakit karena gue jadi kurang menikmati waktu lowong yang mungkin memang sudah jatahnya atau sudah waktunya gue terima buat nyantai atau "atur nafas" sejenak. Bete kan.

Tapi, makin ke sini, gue belajar untuk ngilangin penyakit itu sih. Caranya dengan sebisa mungkin bikin things to do list, beserta deadlinenya. Jangan lupa nyentang-nyentangin hal-hal yang udah beres. Nah, kalau sudah kecentang semua berarti tanggung jawab untuk nyelesein hal-hal tersebut udah kelar. Lalu, syukuri dan nikmati waktu-waktu lowong. Kalo kemudian penyakit itu dateng di waktu lowong gue, cuekin aja. Toh gue udah berusaha bertanggung jawab nyelesein tiap pekerjaan sebaik mungkin, buktinya adalah things to do list yang udah kecentang dan pekerjaan itu sendiri. Kalau ternyata benar ada pekerjaan yang kelewat atau lupa dikerjain, berharap Tuhan memberi orang-orang yang ngingetin pekerjaan tersebut, jadi bisa segera kita kerjain. Tapi, kalau engga ada tanda-tanda ada pekerjaan yang lupa dikerjain berarti semua udah beres, penyakit itu dicuekin aja. Kadang-kadang kita emang perlu nyuekin perasaan sendiri kalau itu engga ada manfaatnya.


Lagi pula, workers, sudah menjadi hak kita kok menikmati waktu-waktu lowong setelah bekerja keras. Jadi, jangan ngerasa aneh lagi and just enjoy your FREE TIME! kayak gue sekarang ini. Waktu lowong, daripada waktu kebuang buat ngebingungin mau ngapain, mending buat ngeblog. Yuhuuuuuu!


Thursday, June 5, 2014

ada.

ada saat dimana seseorang sangat lelah, bahkan untuk memindahkan cangkir kopi. tubuhnya serasa remuk redam. apa yang ia kerjakan sebenarnya tidak seberapa karena ia tidak sedang berada dalam sebuah proyek pembangunan gedung yang menuntutnya untuk memindahkan bata-bata. tetapi, ia letih karena dirinya berkelahi. lawannya adalah dirinya sendiri. pikirannya tidak berhenti berargument, mempertanyakan, bahkan memutar ulang masa lalu. jika ia menang melawan dirinya berarti dirinya yang lain kalah. jika dirinya yang lain menang, maka dirinya kalah. lalu, makin letih lah tubuhnya ini. ketika bahkan ia lelah untuk memindahkan cangkir kopi, tapi tetap ia memindahkannya. ia tiba pada saat sebuah kata tidak ada pengaruhnya, karena saat ia berkata lelah, toh tangannya tetap harus memindahkan cangkir kopi. ia berharap bisa berdamai dengan kondisi. saat ini ada cerita yang sudah malas untuk diungkapkan karena akan sulit baginya untuk mempercayai lawan bicaranya akan mengerti atau malah menambah perih. kini, hanya ada sisa rintih yang tak terkatakan, "Tuhan, maaf, aku letih. Tolonglah aku yang lemah ini."

u wont really understand until we come to the end. now just believe that my God is good.

if u think it's easy, it isn't.
if u think im happy, im not.
if u think im proud, no.
if u think i wanna be longer here, unfortunately i dont.
the one and only reason to stay is a hope.
i still keep a hope.
that one day these tears are used to the glory of my God.
at the end, people will know and praise Him to the high.
cause this is about God's story, not mine.
im only a tool. a minor character in His whole story.
at the end those that mock me will praise Him because of His work through these painful paths.
i will not be willing to walk on the rough path if God dont go with me and put a grace of hope to keep me walking on.

Monday, May 5, 2014

I miss you, friends. :'(

Lagi-lagi lagi pengen curhat di blog kesayangan. Emang kamu blog tempat sampah yang setia. Jadi gini, beberapa hari yang lalu, tepatnya saat weekend, gue dan 3 teman lama berencana untuk kongkow bareng. Tentunya, kami berharap personil kongkow kali ini lebih banyak dari acara kumpul-kumpul sebelumnya. Tapi, ternyata... engga ada kemajuan. Dari sekitar belasan temen SMA yang sering barengan karena tergabung dalam sebuah komunitas rohani, sepertinya hanya kami berempat yang jarang absen di acara kongkow yang memang kami sendiri juga yang ngajakin dan ngadain. Miris.

Meskipun sedih, tapi gue bisa maklum karena memang jadwal kami sekarang bukan jadwal SMA lagi, udah beda-beda sesuai jadwal kuliah atau kerjaan masing-masing. Jadi, gue bisa maklum kalau ada beberapa temen yang engga bisa ikutan ngumpul atau sekedar dateng sebentar barang 30 menit atau sejam untuk ngobrol dikit atau minum beberapa teguk kopi.

Gue juga engga mau nyalahin siapa-siapa, apalagi waktu. Waktu hanya menjalankan fungsinya, bukan berniat sengaja mengubah sesuatu. Jadi, mungkin memang udah tiba masanya kita sulit (banget) nyamain jadwal buat kumpul bareng, kecuali memang sama-sama mau dan ikhlas ngorbanin kesibukan kalau emang saking sibuknya.

Kembali ke kami berempat yang tetep ketemuan meskipun cuma berempat. Kegiatan kami sederhana aja sih, hanya datang ke salah satu mall di Depok, langsung meluncur ke food court, pesan makan-minum, lalu ngobrol sambil menikmati hidangan makan siang kami masing-masing.

Lalu, ya namanya juga temen lama udah jarang ketemu jadi sekalinya ketemu kami sebisa mungkin bikin aksi-aksi yang memorable lah. Akhirnya jadilah kita berfoto dengan hash tag "suami bersama" ini. :p



Seusai makan dan ngobrol, kami beranjak ke mall sebelah untuk karaokean. Beberapa deretan lagu dengan berbagai genre sudah kami nyengnyongkan bersama. Lalu, seperti biasa, kami tutup sesi karokean dengan lagu Project Pop, "Ingatlah Hari Ini." Kami nyanyi, joget, teriak, semua terekam dalam video yang sengaja kami ambil pas nyanyiin lagu itu. Biar mellow campur kangen aja pas nonton videonya lagi suatu hari nanti.


Kesukacitaan kami berakhir oleh jarak saat kami harus pulang ke rumah atau kantor masing-masing. Hari itu gue bener-bener happy karena bisa jalan bareng mereka, tau kabar dan kesibukan mereka, menggila bareng mereka. Tapi, jauh di balik perasaan bahagia gue hari itu terpojok perasaan sedih, deh, yang sepertinya gue abaikan.

Jadi, esok pagi, gue bangun sambil mengingat-ingat mimpi semalem. Ternyata tadi malem gue ngimpiin kalau engga salah 3 orang teman SMA gue yang absen acara kumpul-kumpul kemarin. Di mimpi itu, kami seangkot bareng. Well, emang engga elit banget deh ya setting tempatnya, namanya juga mimpi. Nah, di angkot itu, kami ketawa-tawa entah karena apa. Yang gue inget, saat itu, di mimpi itu, gue seneng banget ternyata 3 orang temen gue ini bisa ikutan ngumpul setelah sekian lama engga ketemu. Eh, lalu gue terbangun, ternyata cuma mimpi.

Beberapa jam berikutnya, salah seorang teman SMA gue yang sedih juga karena engga bisa ikut kumpul kemarin nge-tag sebuah gambar tentang persahabatan di path. Panjang banget tulisan di gambar itu, bikin males bacanya. Tapi, tetep gue baca dong. Coba deh lo baca juga.


Jujur, gue merinding pas baca. Orang yang bikin tulisan ini pastinya mengalami apa yang ia tuliskan dong. Ternyata, gue ada temennya. At least penulis tulisan di gambar ini juga merasakan dan mengalami sebuah moment atau masa, temen-temen lama yang dulu sering bareng itu lama-kelamaan sulit diajak ngumpul, lalu mungkin hilang satu demi satu.

Gimana pun juga, gambar dari temen gue ini, bener banget, bener-bener mewakili apa yang gue rasakan dan pengen utarakan tapi gue memilih untuk let it be unspoken.


Hujan Bulan Juni


tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Pengarang: Sapardi Djoko Damono

surat penumpang busway

kepada bapak ibu yang dipilih dan dipercaya rakyat. 


keibuan ibukota sudah mulai menguap. 
dimana-mana ada asap. 
kendaraan berroda dua, tiga, empat merayap. 
sebelum kami kalap, 
karena diri kami penat dengan tempat kami hinggap, 
janganlah tambahi lagi gedung-gedung tinggi, 
di sepanjang jalan yang kami lewati, 
sepulang kami bekerja demi sesuap nasi. 
sudah cukup dengan polusi dan macet di sana sini. 
ingin kami ketika letih disuguhi pemandangan langit senja yang aduhai. 
karenanya, jangan tutupi pandangan kami dengan jajaran gedung tinggi berkaca. 
karena langit senja yang memerah itu terlebih menghibur diri yang letih 
dibanding kami saling menatap diri berdesak-desakan dalam kendaraan kebanggaan ibukota yang rutin kami tumpangi. 
untuk pengertiannya, kami berterimakasih. 

salam, 
penumpang setia busway.

Sunday, May 4, 2014

Wanita Spesial dan Berharga

seseorang merasa spesial ketika dirinya diperhatikan orang lain.

ada seorang wanita yang tak menyangka dirinya ternyata begitu diperhatikan oleh Seorang Pribadi. setiap saat dirinya diperhatikan. setiap hari dirinya tidak pernah berkekurangan. makanan, minuman, pakaian, semua disediakan untuknya. segala keperluannya tercukupi dan dirinya sungguh berterimakasih untuk bentuk perhatian itu.

terlebih tak menyangkanya lagi, dirinya tak hanya spesial, tapi juga berharga bagi Pribadi itu. tak pernah terpikirkan olehnya untuk merubah sifat-sifat buruknya menjadi baik. bahkan, ia pun tak menyadari sifat-sifat yang sudah sangat melekat itu ternyata buruk dan merugikan. ketika bertambah dewasa dan mulai menyadari sifat-sifat buruk dalam dirinya pun ia tidak ambil pusing untuk capek-capek merubahnya. toh orang-orang di sekitarnya pun tidak mengindahkan hal itu.

tapi, tanpa disangkanya, ada Pribadi yang peduli. ada Pribadi yang begitu perhatian memperhatikan dengan jeli dan ditel setiap sifat buruk yang wanita itu miliki. bukan hanya sampai memperhatikan, tetapi juga turun tangan capek-capek merubah pelan-pelan setiap sifat buruk yang sudah melekat tersebut. Ia memberikan kondisi-kondisi untuk melatihnya memberi respon yang tepat, bukan dengan sifat-sifat buruk yang selama ini selalu maju paling pertama.

awalnya, wanita itu meronta. tentu ia tak senang berada lagi dan lagi dalam kondisi yang selalu memancing sifat-sifat jeleknya keluar. tapi, seiring berjalannya waktu, ia mulai mengerti kalau Pribadi yang begitu mengasihinya ini sedang melatihnya menjadi seorang wanita yang lebih baik. secara perlahan, Pribadi yang begitu memperhatikannya ini sedang meruntuhkan sifat-sifat jelek yang selama ini berdiri kokoh di dalam dirinya.

untuk kesekian kalinya, ia makin terpesona dan tak habis pikir, betapa Pribadi ini sangat ingin ia menjadi wanita yang lebih baik dan lebih baik lagi, karena Ia begitu setia melatihnya. Ia tidak menghentikan usahaNya ketika sering kali wanita ini malah marah dan mencaciNya. Ia tidak meninggalkannya ketika wanita ini lelah dan datang saat ada maunya saja. hingga akhirnya, ia perlahan mengerti, Ia melakukan itu semua bukan semata-mata untuk menjadikannya wanita yang baik dan anggun, tapi karena Ia sangat mengasihinya.

kini, ia tidak lagi hanya merasa spesial, tapi ia memang spesial dan berharga bagi Pribadi ini.

kini, ia tidak perlu merasa menyedihkan dan mengemis perhatian, karena ternyata ada Pribadi yang mencurahkan segala daya usahaNya untuk memperhatikan dan membentuknya.

kini, ia memiliki Pribadi dengan kasih yang sejati. kasih yang tidak pernah pudar, yang tidak pernah terkikis, yang tidak pernah berkurang jumlahnya.

kini, ia berterimakasih akan Pribadi yang telah menemuinya dan memberi kasih yang tak tergantikan oleh siapapun dan apapun. dan kasihNya pun tersedia bagi siapapun, tidak mengenal suku, latar belakang kehidupan, warna kulit, jabatan, dan lain-lain.

kini, ia bersyukur dan berterimakasih karena sudah diperlakukan dan dikasihi dengan spesial oleh Pribadi yang ia kenal sebagai Yesus, Tuhan.


Thursday, May 1, 2014

Jakarta Under 3 Hours

Badan masih sehat, pikiran juga. Jadi, tidak ada salahnya jika esok hari libur, lalu malam sebelum esok diisi dengan travelling atau bahasa gaulnya “ngebolang”. Udah lama ga ngebolang, rasanya otot-otot kaku (padahal karena jarang olah raga :p). Tapi, tetap gue jabanin yang namanya ngebolang, apalagi ngebolang di tengah rutinitas harian yang… mengempetkan (halah bahasa apa itu -,-“).

Oke, ngebolang gue kali ini ga perlu jauh-jauh, karena memang waktunya tidak memadai, selain karena kocek juga gak merestui. Jadi, destinasi gue kali ini adalah Jakarta. Bosen ya sama Jakarta? Kalau dari orok sampe gede di Jakarta emang wajar sih kalau bosen, secara yang disuguhi ibukota ini cuma 3 hal: macet, polusi, dan paket macet plus polusi. Ya sudah lah ya, disyukuri aja. Berhubung gue bukan anak darah Jakarta, jadi masih banyak tempat di kota ini yang belum gue sambangi, salah duanya adalah Plaza Festival Kuningan dan Taman Suropati, yang mana menjadi target ngebolang gue.

Kali ini, gue bukan single bolang-er, tapi double alias gue pergi bareng sohib kerja, panggil aja dia miss Ina. Miss Ina ini adalah peta gue, karena kalau gak ngintilin dia, gue udah terdampar nunggu taksi karena aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulaaaaaaaang yeah~ (oke, Rumor, jangan lama-lama nyanyi di blog gue ntar pada galau).

Sepulang kerja, setelah disirami dengan santapan rohani, kita melenggang menaiki bus kota. Puji Tuhan, kami dapet duduk dan otomatis terlelap dibuai semilir angin berdebu dari jendela bus yang terbuka. Lumayan, mengistirahatkan mata. Setelah bus kota, kami berdesak-desakan di bus primadona Jakarta, bus apalagi kalau bukan BUSWAY.

Karena jam pulang kerja, alhasil kami harus rela dempet-dempetan dengan penumpang lain. Ilmu keseimbangan tubuh sangat berguna dalam kondisi ini. Gimana bisa dapet ilmu itu? Sering-sering aja naik busway di sore hari.

Oh iya, salah satu perlengkapan perang kalau kalian memilih naik busway adalah masker. Jangan lupa, selalu sedia dan pakai masker, karena lebih baik menghirup bau sendiri daripada bau orang-orang di busway yang beraneka rupa, ya kan?


Busway menibakan kami di destinasi pertama, Plaza Festival, Kuningan. Kata miss Ina, plaza ini udah berubah banget dari yang ia kunjungi dulu, sekarang bentuknya mall. Tapi, untung berubahnya jadi mall, bukan kebun binatang ya. Nah, biar gak sia-sia hanya ketemu mall, akhirnya kami melancong ke toko buku bekas. Toko buku bekas adalah toko yang jarang kami temui di daerah tempat kerja, jadi wajib kami kunjungi.

Pemilik toko buku bekas ini pasti orangnya rapi, karena buku-buku di toko ini tersusun rapi semua sampe gak tega mau ngambil bukunya. Takutnya pas gue ngambil satu buku di antara tumpukan buku lainnya, buku-buku lain langsung jatuh berantakan, terus gue disuruh rapihin lagi satu-satu. Kan males kan? Ya udah gue gak jadi ngambil buku, apalagi beli. Haha! Alasan yang bagus, bukan? (BUKAN! >.<)

Puas bernostalgia dengan buku-buku lama, kami melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya, Taman Suropati. Kami naik bus kota lagi.

Di dalam suatu perjalanan, sudah tidak aneh lagi kalau kita bisa bertemu siapa saja. Kalimat bijak berkata, “people come for a reason” bisa jadi mereka datang untuk menjadi teman, pengalaman, pelajaran, atau… cobaan.

Kayak kenek bus satu ini. Bersyukur kami dipertemukan dengan kenek bus ini karena dia memberi petunjuk jalan dan kendaraan mana yang harus kami tumpangi untuk sampai ke destinasi kedua, tapi gak pake ngejek juga keleeees. Masa doi cengar-cengir pas tau gue ngidam Suropati gegara belum pernah ke sana. Tau deh yang kenek, udah kemana-mana. Sabar… sabar… lalu, gue terpikir menjadi kenek biar bisa travelling kemana-mana (PLAK! -.-“).

Untuk sampai ke taman Suropati, kami perlu jalan beberapa meter dulu. Itung-itung jalan sehat. Setibanya kami di taman, alunan asik saxophone menyambut kedatangan kami. Wah! Bentuk taman ini memang serupa dengan alun-alun di beberapa kota di Jawa Tengah sih. Letaknya di tengah kota, sehingga menjadi spot favorit untuk nongkrong.


Agak kaget juga, di tengah hiruk pikuk Jakarta dengan gedung-gedungnya yang berusaha menyentuh langit dan merobek lapisan ozon, masih ada pepohonan rindang dan besar di taman ini. Bagai mata air di gurun sahara atau es teh pas kepedesan di bawah panas terik matahari.

Taman ini cukup luas. Banyak bangku dan ada kolam, juga sarang burung daranya. Entah kenapa ada burung dara di sana, mungkin biar jadi tambah rame aja, tapi semoga gak ditambahi rusa ya, bisa-bisa jadi kebun binatang nih taman.

Oh iya, kenapa ada saxophone? Karena memang ada orang yang memainkan saxophone di sana (Yaiyalaaaaah). Asiknya dan bedanya taman ini dengan alun-alun yang gue temui di Jawa Tengah adalah orang-orang yang nongkrong di taman ini kreatif-kreatif. Ada yang jogging sendirian, ada yang duduk sambil mainan hape sendirian, tentunya ada yang pacaran, ada juga komunitas-komunitas yang sedang beraktivitas di taman ini seperti komunitas dance, musisi, bahkan ada komunitas rohani yang lagi ibadah di tengah keramaian taman. Nah, semua perbedaan aktivitas dan komunitas tersebut tetap berjalan masing-masing dengan harmonis. Indah loh! Engga ada yang mengganggu satu sama lain, semua boleh beraktivitas positif masing-masing.

Bedanya lagi, taman ini bersih dari pedagang kaki lima. Tapi, kalian tetap bisa makan nasi goreng. Loh kok bisa? Bisa dong, karena  ada beberapa orang yang menjajakan menu makanan ke para pengunjung taman ini. Lalu, jika kita pesen, pesanan kita akan dibawakan ke taman ini. Gue belom liat juga sih mereka itu masak makanannya dimana, pastinya di tempat lain di luar taman.

Nah, bagi pelancong seperti kami, asiknya adalah sembari kami duduk santai dan ngobrol, telinga kami dimanjakan dengan alunan saxophone gratis dari sekelompok anak muda. Pasti saat pagi atau sore taman ini jadi lebih asik lagi. Kalau malam, gelap soalnya.

Mengingat perjalanan pulang kami masih jauh, jadi kami gak berlama-lama di taman ini. Setidaknya, rasa penasaran sudah terpuaskan. Kami pun menunggu bus kota yang mengantar kami pulang.

Jakarta oh Jakarta, memang satu-satunya ibu yang engga pernah tidur seharian. Sudah hampir tengah malam, masih banyak orang seperti kami, menunggu bus kota yang tak kunjung tiba di halte daerah Gambir, Merdeka Timur. Bosan dengan menunggu dan menahan lapar, akhirnya kami foto selfie, hahaha habis mau ngapain lagi.

Untunglah masih ada bus dan lebih untungnya lagi masih ada bangku kosong. Segera kami ambil posisi untuk meletakkan pantat dan kepala, lalu terlelap. Beneran deh, engga bisa nolak tidur kalau naik bus kota, kecuali kalo pas gak kedapetan tempat duduk.

Rasanya bahagia tiba di daerah kekuasaan kami (area kost-an) dengan sehat selamat. Buru-buru kami mencari apapun yang bisa kami makan karena lapar yang tak tertahankan. Sepiring nasi goreng ikan asin plus telur ceplok setengah mateng yang bersanding dengan segelas teh tawar hangat menjadi penutup sederhana yang memuaskan perut gue.


Terimakasih Tuhan untuk pengalaman melancong beberapa area di ibukota, terimakasih miss Ina sudah menjadi rekan ngebolang yang handal, saya senang bekerja sama dengan Anda. Hahaha. Next, ngebolang kemana lagi ya? Hmm… J

Sunday, April 27, 2014

Random Thought about GOD's Calling upon Me

Saat menulis postingan ini, gue sedang terduduk di ruang kelas tempat biasa gue berteriak-teriak. Yah, skill teriak gue semakin terasah semenjak memasuki dunia kerja. Jangan tanya kenapa, karena tidak semua pertanyaan gue berikan jawabannya dengan apa adanya.

Oke, rasanya bosan kalau harus terus-terusan merasa bersalah karena jarang mengunjungi blog. Jadi, kali ini langsung saja. Sebenarnya tidak ada topik khusus untuk postingan ini, tapi ya sudahlah kita bicara soal perasaan.

Terkadang gue berpikir, setiap orang lahir ke dunia tanpa ia minta. Tidak ada perjanjian di atas materai tentang persetujuan kita akan dilahirkan ke dunia bukan? Tau-tau lahir aja gitu. Dan, Tuhan punya rencana kenapa kita diizinkan lahir ke dunia. Kita lahir untuk menggenapi rencana Tuhan atas hidup kita. Nyebelinnya adalah kita tidak diberitahu terlebih dahulu apa rencana tersebut. Jika seseorang disuruh ke warung untuk membeli gula, ia akan sangat mudah ke warung dengan tujuan yang sudah pasti which is membeli gula. Sedangkan kita, ibaratnya seperti disuruh ke warung, diberi uang, tapi engga diberitahu apa yang harus dibeli, jadinya bingung.

Sepertinya sebelum kita menggenapi rencana Tuhan atas hidup kita, tugas kita yang pertama ialah untuk mencari tahu dahulu apa rencana Tuhan tersebut, baru bisa melaksanakan rencana itu. Nah, di sini pangkal uneg-uneg gue yang gue rasa beberapa orang juga memiliki kebingungan dan kerinduan yang sama.

Logikanya adalah ketika kita sudah tahu rencana apa yang Tuhan pengen kita lakukan, baru setelah itu kita mengerjakan rencana itu. Idealnya begitu. Tetapi, untuk tahu rencana Tuhan itu engga semudah membalikkan tempe yang udah garing di penggorengan. Kalo begitu, kapan ngelaksanain rencanaNya dong wong tahu rencanaNya aja belum? Naaaaaah, itu dia selagi kita mencari tahu rencana spesifik Tuhan atas hidup kita, kita sudah seharusnya tetap mengerjakan apa yang baik yang bisa kita lakukan. Toh, Tuhan Maha misterius, Dia engga akan terang-terangan ngasih tau rencanaNya itu. Kalau Ia terang-terangan ngasih tahu rencanaNya ke kita mungkin habis sudah perkara. Kita akan berhenti mendekat pada Tuhan, berhenti mencariNya. Mungkin itu juga kali ya alasan kenapa Tuhan engga terang-terangan ngasih tahu rencana spesifikNya buat kita? Biar kita terus datang ke Dia, terus tanya, terus kepo, terus cari tahu, terus mendekat padaNya. Karena Tuhan juga kasih janji. Siapa yang terus haus, ia akan dipuaskan. Siapa yang terus mencari, ia akan menemukan. Jadi, Tuhan juga berjanji kok kalau Dia akan membiarkan kita menemukan rencana spesifikNya untuk kita.

Wait. Sebelum lebih jauh, kenapa sih repot-repot cari tahu rencana Tuhan buat kita? Hidup ya tinggal hidup aja kali. Cari duit, nikmati hidup. Memang sih, bagaimana kita menjalankan hidup ini adalah pilihan kita. Tetapi, bagi gue, ketika gue engga tahu masa depan dan gue tahu Tuhan yang pegang masa depan, jadi mending gue nurut kata Tuhan aja. Lagijuga, ketika kita hidup bertahun-tahun, kaya raya, tetapi cuma dihabiskan untuk diri sendiri itu rasanya hambar. Ketika hidup kita bisa "menghidupkan" hidup orang lain alias kita bisa membantu dan bermanfaat bagi sesama, hidup itu jadi berarti, meaningful dan berharga.

Nah, yang jadi uneg-uneg gue adalah

Waspada Gudang Celotehan Bajakan!

Belakangan ini gue iseng buka blog gue setelah sekian lama gak terjamah. Gue iseng aja ketik keyword "Gudang Celotehan" di Googl...