Monday, May 5, 2014

I miss you, friends. :'(

Lagi-lagi lagi pengen curhat di blog kesayangan. Emang kamu blog tempat sampah yang setia. Jadi gini, beberapa hari yang lalu, tepatnya saat weekend, gue dan 3 teman lama berencana untuk kongkow bareng. Tentunya, kami berharap personil kongkow kali ini lebih banyak dari acara kumpul-kumpul sebelumnya. Tapi, ternyata... engga ada kemajuan. Dari sekitar belasan temen SMA yang sering barengan karena tergabung dalam sebuah komunitas rohani, sepertinya hanya kami berempat yang jarang absen di acara kongkow yang memang kami sendiri juga yang ngajakin dan ngadain. Miris.

Meskipun sedih, tapi gue bisa maklum karena memang jadwal kami sekarang bukan jadwal SMA lagi, udah beda-beda sesuai jadwal kuliah atau kerjaan masing-masing. Jadi, gue bisa maklum kalau ada beberapa temen yang engga bisa ikutan ngumpul atau sekedar dateng sebentar barang 30 menit atau sejam untuk ngobrol dikit atau minum beberapa teguk kopi.

Gue juga engga mau nyalahin siapa-siapa, apalagi waktu. Waktu hanya menjalankan fungsinya, bukan berniat sengaja mengubah sesuatu. Jadi, mungkin memang udah tiba masanya kita sulit (banget) nyamain jadwal buat kumpul bareng, kecuali memang sama-sama mau dan ikhlas ngorbanin kesibukan kalau emang saking sibuknya.

Kembali ke kami berempat yang tetep ketemuan meskipun cuma berempat. Kegiatan kami sederhana aja sih, hanya datang ke salah satu mall di Depok, langsung meluncur ke food court, pesan makan-minum, lalu ngobrol sambil menikmati hidangan makan siang kami masing-masing.

Lalu, ya namanya juga temen lama udah jarang ketemu jadi sekalinya ketemu kami sebisa mungkin bikin aksi-aksi yang memorable lah. Akhirnya jadilah kita berfoto dengan hash tag "suami bersama" ini. :p



Seusai makan dan ngobrol, kami beranjak ke mall sebelah untuk karaokean. Beberapa deretan lagu dengan berbagai genre sudah kami nyengnyongkan bersama. Lalu, seperti biasa, kami tutup sesi karokean dengan lagu Project Pop, "Ingatlah Hari Ini." Kami nyanyi, joget, teriak, semua terekam dalam video yang sengaja kami ambil pas nyanyiin lagu itu. Biar mellow campur kangen aja pas nonton videonya lagi suatu hari nanti.


Kesukacitaan kami berakhir oleh jarak saat kami harus pulang ke rumah atau kantor masing-masing. Hari itu gue bener-bener happy karena bisa jalan bareng mereka, tau kabar dan kesibukan mereka, menggila bareng mereka. Tapi, jauh di balik perasaan bahagia gue hari itu terpojok perasaan sedih, deh, yang sepertinya gue abaikan.

Jadi, esok pagi, gue bangun sambil mengingat-ingat mimpi semalem. Ternyata tadi malem gue ngimpiin kalau engga salah 3 orang teman SMA gue yang absen acara kumpul-kumpul kemarin. Di mimpi itu, kami seangkot bareng. Well, emang engga elit banget deh ya setting tempatnya, namanya juga mimpi. Nah, di angkot itu, kami ketawa-tawa entah karena apa. Yang gue inget, saat itu, di mimpi itu, gue seneng banget ternyata 3 orang temen gue ini bisa ikutan ngumpul setelah sekian lama engga ketemu. Eh, lalu gue terbangun, ternyata cuma mimpi.

Beberapa jam berikutnya, salah seorang teman SMA gue yang sedih juga karena engga bisa ikut kumpul kemarin nge-tag sebuah gambar tentang persahabatan di path. Panjang banget tulisan di gambar itu, bikin males bacanya. Tapi, tetep gue baca dong. Coba deh lo baca juga.


Jujur, gue merinding pas baca. Orang yang bikin tulisan ini pastinya mengalami apa yang ia tuliskan dong. Ternyata, gue ada temennya. At least penulis tulisan di gambar ini juga merasakan dan mengalami sebuah moment atau masa, temen-temen lama yang dulu sering bareng itu lama-kelamaan sulit diajak ngumpul, lalu mungkin hilang satu demi satu.

Gimana pun juga, gambar dari temen gue ini, bener banget, bener-bener mewakili apa yang gue rasakan dan pengen utarakan tapi gue memilih untuk let it be unspoken.


Hujan Bulan Juni


tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Pengarang: Sapardi Djoko Damono

surat penumpang busway

kepada bapak ibu yang dipilih dan dipercaya rakyat. 


keibuan ibukota sudah mulai menguap. 
dimana-mana ada asap. 
kendaraan berroda dua, tiga, empat merayap. 
sebelum kami kalap, 
karena diri kami penat dengan tempat kami hinggap, 
janganlah tambahi lagi gedung-gedung tinggi, 
di sepanjang jalan yang kami lewati, 
sepulang kami bekerja demi sesuap nasi. 
sudah cukup dengan polusi dan macet di sana sini. 
ingin kami ketika letih disuguhi pemandangan langit senja yang aduhai. 
karenanya, jangan tutupi pandangan kami dengan jajaran gedung tinggi berkaca. 
karena langit senja yang memerah itu terlebih menghibur diri yang letih 
dibanding kami saling menatap diri berdesak-desakan dalam kendaraan kebanggaan ibukota yang rutin kami tumpangi. 
untuk pengertiannya, kami berterimakasih. 

salam, 
penumpang setia busway.

Sunday, May 4, 2014

Wanita Spesial dan Berharga

seseorang merasa spesial ketika dirinya diperhatikan orang lain.

ada seorang wanita yang tak menyangka dirinya ternyata begitu diperhatikan oleh Seorang Pribadi. setiap saat dirinya diperhatikan. setiap hari dirinya tidak pernah berkekurangan. makanan, minuman, pakaian, semua disediakan untuknya. segala keperluannya tercukupi dan dirinya sungguh berterimakasih untuk bentuk perhatian itu.

terlebih tak menyangkanya lagi, dirinya tak hanya spesial, tapi juga berharga bagi Pribadi itu. tak pernah terpikirkan olehnya untuk merubah sifat-sifat buruknya menjadi baik. bahkan, ia pun tak menyadari sifat-sifat yang sudah sangat melekat itu ternyata buruk dan merugikan. ketika bertambah dewasa dan mulai menyadari sifat-sifat buruk dalam dirinya pun ia tidak ambil pusing untuk capek-capek merubahnya. toh orang-orang di sekitarnya pun tidak mengindahkan hal itu.

tapi, tanpa disangkanya, ada Pribadi yang peduli. ada Pribadi yang begitu perhatian memperhatikan dengan jeli dan ditel setiap sifat buruk yang wanita itu miliki. bukan hanya sampai memperhatikan, tetapi juga turun tangan capek-capek merubah pelan-pelan setiap sifat buruk yang sudah melekat tersebut. Ia memberikan kondisi-kondisi untuk melatihnya memberi respon yang tepat, bukan dengan sifat-sifat buruk yang selama ini selalu maju paling pertama.

awalnya, wanita itu meronta. tentu ia tak senang berada lagi dan lagi dalam kondisi yang selalu memancing sifat-sifat jeleknya keluar. tapi, seiring berjalannya waktu, ia mulai mengerti kalau Pribadi yang begitu mengasihinya ini sedang melatihnya menjadi seorang wanita yang lebih baik. secara perlahan, Pribadi yang begitu memperhatikannya ini sedang meruntuhkan sifat-sifat jelek yang selama ini berdiri kokoh di dalam dirinya.

untuk kesekian kalinya, ia makin terpesona dan tak habis pikir, betapa Pribadi ini sangat ingin ia menjadi wanita yang lebih baik dan lebih baik lagi, karena Ia begitu setia melatihnya. Ia tidak menghentikan usahaNya ketika sering kali wanita ini malah marah dan mencaciNya. Ia tidak meninggalkannya ketika wanita ini lelah dan datang saat ada maunya saja. hingga akhirnya, ia perlahan mengerti, Ia melakukan itu semua bukan semata-mata untuk menjadikannya wanita yang baik dan anggun, tapi karena Ia sangat mengasihinya.

kini, ia tidak lagi hanya merasa spesial, tapi ia memang spesial dan berharga bagi Pribadi ini.

kini, ia tidak perlu merasa menyedihkan dan mengemis perhatian, karena ternyata ada Pribadi yang mencurahkan segala daya usahaNya untuk memperhatikan dan membentuknya.

kini, ia memiliki Pribadi dengan kasih yang sejati. kasih yang tidak pernah pudar, yang tidak pernah terkikis, yang tidak pernah berkurang jumlahnya.

kini, ia berterimakasih akan Pribadi yang telah menemuinya dan memberi kasih yang tak tergantikan oleh siapapun dan apapun. dan kasihNya pun tersedia bagi siapapun, tidak mengenal suku, latar belakang kehidupan, warna kulit, jabatan, dan lain-lain.

kini, ia bersyukur dan berterimakasih karena sudah diperlakukan dan dikasihi dengan spesial oleh Pribadi yang ia kenal sebagai Yesus, Tuhan.


Thursday, May 1, 2014

Jakarta Under 3 Hours

Badan masih sehat, pikiran juga. Jadi, tidak ada salahnya jika esok hari libur, lalu malam sebelum esok diisi dengan travelling atau bahasa gaulnya “ngebolang”. Udah lama ga ngebolang, rasanya otot-otot kaku (padahal karena jarang olah raga :p). Tapi, tetap gue jabanin yang namanya ngebolang, apalagi ngebolang di tengah rutinitas harian yang… mengempetkan (halah bahasa apa itu -,-“).

Oke, ngebolang gue kali ini ga perlu jauh-jauh, karena memang waktunya tidak memadai, selain karena kocek juga gak merestui. Jadi, destinasi gue kali ini adalah Jakarta. Bosen ya sama Jakarta? Kalau dari orok sampe gede di Jakarta emang wajar sih kalau bosen, secara yang disuguhi ibukota ini cuma 3 hal: macet, polusi, dan paket macet plus polusi. Ya sudah lah ya, disyukuri aja. Berhubung gue bukan anak darah Jakarta, jadi masih banyak tempat di kota ini yang belum gue sambangi, salah duanya adalah Plaza Festival Kuningan dan Taman Suropati, yang mana menjadi target ngebolang gue.

Kali ini, gue bukan single bolang-er, tapi double alias gue pergi bareng sohib kerja, panggil aja dia miss Ina. Miss Ina ini adalah peta gue, karena kalau gak ngintilin dia, gue udah terdampar nunggu taksi karena aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulaaaaaaaang yeah~ (oke, Rumor, jangan lama-lama nyanyi di blog gue ntar pada galau).

Sepulang kerja, setelah disirami dengan santapan rohani, kita melenggang menaiki bus kota. Puji Tuhan, kami dapet duduk dan otomatis terlelap dibuai semilir angin berdebu dari jendela bus yang terbuka. Lumayan, mengistirahatkan mata. Setelah bus kota, kami berdesak-desakan di bus primadona Jakarta, bus apalagi kalau bukan BUSWAY.

Karena jam pulang kerja, alhasil kami harus rela dempet-dempetan dengan penumpang lain. Ilmu keseimbangan tubuh sangat berguna dalam kondisi ini. Gimana bisa dapet ilmu itu? Sering-sering aja naik busway di sore hari.

Oh iya, salah satu perlengkapan perang kalau kalian memilih naik busway adalah masker. Jangan lupa, selalu sedia dan pakai masker, karena lebih baik menghirup bau sendiri daripada bau orang-orang di busway yang beraneka rupa, ya kan?


Busway menibakan kami di destinasi pertama, Plaza Festival, Kuningan. Kata miss Ina, plaza ini udah berubah banget dari yang ia kunjungi dulu, sekarang bentuknya mall. Tapi, untung berubahnya jadi mall, bukan kebun binatang ya. Nah, biar gak sia-sia hanya ketemu mall, akhirnya kami melancong ke toko buku bekas. Toko buku bekas adalah toko yang jarang kami temui di daerah tempat kerja, jadi wajib kami kunjungi.

Pemilik toko buku bekas ini pasti orangnya rapi, karena buku-buku di toko ini tersusun rapi semua sampe gak tega mau ngambil bukunya. Takutnya pas gue ngambil satu buku di antara tumpukan buku lainnya, buku-buku lain langsung jatuh berantakan, terus gue disuruh rapihin lagi satu-satu. Kan males kan? Ya udah gue gak jadi ngambil buku, apalagi beli. Haha! Alasan yang bagus, bukan? (BUKAN! >.<)

Puas bernostalgia dengan buku-buku lama, kami melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya, Taman Suropati. Kami naik bus kota lagi.

Di dalam suatu perjalanan, sudah tidak aneh lagi kalau kita bisa bertemu siapa saja. Kalimat bijak berkata, “people come for a reason” bisa jadi mereka datang untuk menjadi teman, pengalaman, pelajaran, atau… cobaan.

Kayak kenek bus satu ini. Bersyukur kami dipertemukan dengan kenek bus ini karena dia memberi petunjuk jalan dan kendaraan mana yang harus kami tumpangi untuk sampai ke destinasi kedua, tapi gak pake ngejek juga keleeees. Masa doi cengar-cengir pas tau gue ngidam Suropati gegara belum pernah ke sana. Tau deh yang kenek, udah kemana-mana. Sabar… sabar… lalu, gue terpikir menjadi kenek biar bisa travelling kemana-mana (PLAK! -.-“).

Untuk sampai ke taman Suropati, kami perlu jalan beberapa meter dulu. Itung-itung jalan sehat. Setibanya kami di taman, alunan asik saxophone menyambut kedatangan kami. Wah! Bentuk taman ini memang serupa dengan alun-alun di beberapa kota di Jawa Tengah sih. Letaknya di tengah kota, sehingga menjadi spot favorit untuk nongkrong.


Agak kaget juga, di tengah hiruk pikuk Jakarta dengan gedung-gedungnya yang berusaha menyentuh langit dan merobek lapisan ozon, masih ada pepohonan rindang dan besar di taman ini. Bagai mata air di gurun sahara atau es teh pas kepedesan di bawah panas terik matahari.

Taman ini cukup luas. Banyak bangku dan ada kolam, juga sarang burung daranya. Entah kenapa ada burung dara di sana, mungkin biar jadi tambah rame aja, tapi semoga gak ditambahi rusa ya, bisa-bisa jadi kebun binatang nih taman.

Oh iya, kenapa ada saxophone? Karena memang ada orang yang memainkan saxophone di sana (Yaiyalaaaaah). Asiknya dan bedanya taman ini dengan alun-alun yang gue temui di Jawa Tengah adalah orang-orang yang nongkrong di taman ini kreatif-kreatif. Ada yang jogging sendirian, ada yang duduk sambil mainan hape sendirian, tentunya ada yang pacaran, ada juga komunitas-komunitas yang sedang beraktivitas di taman ini seperti komunitas dance, musisi, bahkan ada komunitas rohani yang lagi ibadah di tengah keramaian taman. Nah, semua perbedaan aktivitas dan komunitas tersebut tetap berjalan masing-masing dengan harmonis. Indah loh! Engga ada yang mengganggu satu sama lain, semua boleh beraktivitas positif masing-masing.

Bedanya lagi, taman ini bersih dari pedagang kaki lima. Tapi, kalian tetap bisa makan nasi goreng. Loh kok bisa? Bisa dong, karena  ada beberapa orang yang menjajakan menu makanan ke para pengunjung taman ini. Lalu, jika kita pesen, pesanan kita akan dibawakan ke taman ini. Gue belom liat juga sih mereka itu masak makanannya dimana, pastinya di tempat lain di luar taman.

Nah, bagi pelancong seperti kami, asiknya adalah sembari kami duduk santai dan ngobrol, telinga kami dimanjakan dengan alunan saxophone gratis dari sekelompok anak muda. Pasti saat pagi atau sore taman ini jadi lebih asik lagi. Kalau malam, gelap soalnya.

Mengingat perjalanan pulang kami masih jauh, jadi kami gak berlama-lama di taman ini. Setidaknya, rasa penasaran sudah terpuaskan. Kami pun menunggu bus kota yang mengantar kami pulang.

Jakarta oh Jakarta, memang satu-satunya ibu yang engga pernah tidur seharian. Sudah hampir tengah malam, masih banyak orang seperti kami, menunggu bus kota yang tak kunjung tiba di halte daerah Gambir, Merdeka Timur. Bosan dengan menunggu dan menahan lapar, akhirnya kami foto selfie, hahaha habis mau ngapain lagi.

Untunglah masih ada bus dan lebih untungnya lagi masih ada bangku kosong. Segera kami ambil posisi untuk meletakkan pantat dan kepala, lalu terlelap. Beneran deh, engga bisa nolak tidur kalau naik bus kota, kecuali kalo pas gak kedapetan tempat duduk.

Rasanya bahagia tiba di daerah kekuasaan kami (area kost-an) dengan sehat selamat. Buru-buru kami mencari apapun yang bisa kami makan karena lapar yang tak tertahankan. Sepiring nasi goreng ikan asin plus telur ceplok setengah mateng yang bersanding dengan segelas teh tawar hangat menjadi penutup sederhana yang memuaskan perut gue.


Terimakasih Tuhan untuk pengalaman melancong beberapa area di ibukota, terimakasih miss Ina sudah menjadi rekan ngebolang yang handal, saya senang bekerja sama dengan Anda. Hahaha. Next, ngebolang kemana lagi ya? Hmm… J

Sunday, April 27, 2014

Random Thought about GOD's Calling upon Me

Saat menulis postingan ini, gue sedang terduduk di ruang kelas tempat biasa gue berteriak-teriak. Yah, skill teriak gue semakin terasah semenjak memasuki dunia kerja. Jangan tanya kenapa, karena tidak semua pertanyaan gue berikan jawabannya dengan apa adanya.

Oke, rasanya bosan kalau harus terus-terusan merasa bersalah karena jarang mengunjungi blog. Jadi, kali ini langsung saja. Sebenarnya tidak ada topik khusus untuk postingan ini, tapi ya sudahlah kita bicara soal perasaan.

Terkadang gue berpikir, setiap orang lahir ke dunia tanpa ia minta. Tidak ada perjanjian di atas materai tentang persetujuan kita akan dilahirkan ke dunia bukan? Tau-tau lahir aja gitu. Dan, Tuhan punya rencana kenapa kita diizinkan lahir ke dunia. Kita lahir untuk menggenapi rencana Tuhan atas hidup kita. Nyebelinnya adalah kita tidak diberitahu terlebih dahulu apa rencana tersebut. Jika seseorang disuruh ke warung untuk membeli gula, ia akan sangat mudah ke warung dengan tujuan yang sudah pasti which is membeli gula. Sedangkan kita, ibaratnya seperti disuruh ke warung, diberi uang, tapi engga diberitahu apa yang harus dibeli, jadinya bingung.

Sepertinya sebelum kita menggenapi rencana Tuhan atas hidup kita, tugas kita yang pertama ialah untuk mencari tahu dahulu apa rencana Tuhan tersebut, baru bisa melaksanakan rencana itu. Nah, di sini pangkal uneg-uneg gue yang gue rasa beberapa orang juga memiliki kebingungan dan kerinduan yang sama.

Logikanya adalah ketika kita sudah tahu rencana apa yang Tuhan pengen kita lakukan, baru setelah itu kita mengerjakan rencana itu. Idealnya begitu. Tetapi, untuk tahu rencana Tuhan itu engga semudah membalikkan tempe yang udah garing di penggorengan. Kalo begitu, kapan ngelaksanain rencanaNya dong wong tahu rencanaNya aja belum? Naaaaaah, itu dia selagi kita mencari tahu rencana spesifik Tuhan atas hidup kita, kita sudah seharusnya tetap mengerjakan apa yang baik yang bisa kita lakukan. Toh, Tuhan Maha misterius, Dia engga akan terang-terangan ngasih tau rencanaNya itu. Kalau Ia terang-terangan ngasih tahu rencanaNya ke kita mungkin habis sudah perkara. Kita akan berhenti mendekat pada Tuhan, berhenti mencariNya. Mungkin itu juga kali ya alasan kenapa Tuhan engga terang-terangan ngasih tahu rencana spesifikNya buat kita? Biar kita terus datang ke Dia, terus tanya, terus kepo, terus cari tahu, terus mendekat padaNya. Karena Tuhan juga kasih janji. Siapa yang terus haus, ia akan dipuaskan. Siapa yang terus mencari, ia akan menemukan. Jadi, Tuhan juga berjanji kok kalau Dia akan membiarkan kita menemukan rencana spesifikNya untuk kita.

Wait. Sebelum lebih jauh, kenapa sih repot-repot cari tahu rencana Tuhan buat kita? Hidup ya tinggal hidup aja kali. Cari duit, nikmati hidup. Memang sih, bagaimana kita menjalankan hidup ini adalah pilihan kita. Tetapi, bagi gue, ketika gue engga tahu masa depan dan gue tahu Tuhan yang pegang masa depan, jadi mending gue nurut kata Tuhan aja. Lagijuga, ketika kita hidup bertahun-tahun, kaya raya, tetapi cuma dihabiskan untuk diri sendiri itu rasanya hambar. Ketika hidup kita bisa "menghidupkan" hidup orang lain alias kita bisa membantu dan bermanfaat bagi sesama, hidup itu jadi berarti, meaningful dan berharga.

Nah, yang jadi uneg-uneg gue adalah

Tuesday, February 25, 2014

Event Pena House kerjasama dengan Jay Wijayanti. (100 puisi terpilih akan dibukukan)

Hai hai Penatic, ketemu lagi sama Pena House Agency, kali ini PHA diajak kerja bareng sama Kak Jay Wijayanti, dalam 30 menit kulik-kulik punya cerita (baru saja), terbesit pula untuk melakukan kerjasama event. Dan PJ nya tentu saja saya si Princess PJ "Lavira Az-Zahra" dan Kakak Cantik "Jay Wijayanti". Bersamaan dengan event kami yang sedang berlangsung, event ini jadi pelengkap dalam bulan penuh cinta ini."Rerupa rindu itu, tak dapat kutafsirkan, hanya dapat kurasakan. Namun di sana, akankah kau merasa? Atau ini rahasia yang akan menjadi tirai penghalang di balik jiwa?"Yaps... ini mengenai rindu, cinta akan lengkap bila ada rindu kan ;) 

a secret box

i have a secret box
to keep many things inside safe
i put them every time
every second
regret
help
love
tears
i lock it then
even im scared to open it
so i throw the key to the bin

Sunday, February 23, 2014

biasanya datang, jan.

waktunya sudah pas, ditambah beberapa langkah untuk menyeduh kopi tambah pas, hanya tinggal menunggu kamu.
jemari ingin menari, melepas hasrat yang sudah tersumbat di ujung-ujung kuku.
ada yang ingin disampaikan di sini, tapi masih menunggu kamu.
tumben, tidak datang malam ini.
kurang bersedih? atau kurang tertawa hingga perih?
tumben, belum datang juga.
tulisan ini akan semakin tidak jelas sebelum kamu datang.
tulisan ini akan terus berlarian sesuka hatinya sebelum kamu tiba.
tulisan ini akan berakhir dengan payah seperti di awalnya sebelum kamu turun.
turun dari langit.
membangkitkan aroma khas. bau basah.
aroma yang dengan piawainya menggugah.
imajinasi bercampur haru, biasanya begitu.
hati nanti jadi sendu, tulisan menjadi kelabu.
tetapi, tetap namanya karya baru.
kamu belum datang juga. ya sudah.
relaku, tulisan ini berakhir dengan payah.

Jarak

baru kali ini aku benar-benar berterimakasih pada jarak. jarak yang tidak bermaksud kejam dengan memisahkan, karena pada akhirnya aku berterimakasih padanya. jarak yang menahan dua orang tetap berada pada tempatnya masing-masing, mengerjakan apa yang baik dalam daftar rutinitas.

bagaimana tidak? karena jarak, aku terselamatkan dari wajah melongo, hanya menatap kagum, bahkan mungkin sampai meneteskan barang setetes dua tetes liur untuk sosok yang tidak heran untuk dikagumi. karena jarak, aku terselamatkan dari fokus yang perlahan berantakan kembali pada fokus yang paling utama. karena jarak, aku didewasakan tentang usia: ia bukan lagi usia untuk membuang-buang waktu dan tenaga untuk angan-angan jaman anak-anak.

karena jarak, semua jadi terbatas. bukan bebas.

bisa jadi jarak ini adalah waktu yang Pencipta pakai dalam alur tulisanNya tentang kisah hidup manusia. semakin tiba waktunya untuk bertemu, semakin Ia perpendek jarak yang ada. entahlah, daripada menerka-nerka Sang Ahli menyembunyikan sesuatu lebih baik mengembalikan fokus pada apa yang ada di depan mata. lupakan dulu tentang jarak. siapa tahu secara tidak sadar jaraknya sudah semakin pendek, waktunya sudah semakin tiba. mana tahu.

"the moment when your old close friend will get married and you just feel 'idk how this feeling called'."

Seperti pernah kuceritakan dulu, topik skripsiku adalah seputar bukunya Raditya Dika yang berjudul Manusia Setengah Salmon. Buku tersebut intinya menceritakan tentang esensi kehidupan adalah perpindahan. Perpindahan yang terjadi ada beraneka macam bentuknya, mulai dari yang terlihat sampai yang tak terlihat, mulai dari yang terasa sampai yang tidak terasa.

Beberapa contohnya adalah perpindahan atau perubahan fisik Dika beserta saudara-saudara kandungnya yang semakin bertumbuh besar, yang akhirnya menyebabkan mamanya Dika memutuskan untuk pindah rumah karena rumah mereka mulai terasa semakin sempit. Contoh lainnya adalah tanpa disadari, Dika beserta teman-temannya sudah semakin dewasa karena ulah sang waktu. Terbukti ketika Dika menghadiri acara pernikahan teman sekolahnya dulu. Teman kecilnya tersebut sudah menikah, dan dia menghadiri resepsi pernikahan tersebut dengan renungan intinya "esensi kehidupan adalah perpindahan". Dirinya dan teman-teman semasa kecilnya kini sudah berpindah masa menjadi dewasa.

Waspada Gudang Celotehan Bajakan!

Belakangan ini gue iseng buka blog gue setelah sekian lama gak terjamah. Gue iseng aja ketik keyword "Gudang Celotehan" di Googl...