Saturday, August 8, 2015

"Gue emang gitu orangnya" Vs. "Gue mau bertumbuh lebih baik"

I used to think that being myself is all I need. But, I've just realized that being myself and being ignorant to grow up is nearly the same.

Dulu gue pernah mati-matian menanamkan dalam kepala, gue ya gue, dia ya dia, do not dare to compare! Memang setiap orang memiliki keunikkan masing-masing dan baik untuk dipertahankan. Tapi, sering kali anggapan "menjadi diri sendiri" itu digunakan dengan keliru. Pula, ternyata anggapan "menjadi orang lain" dan "pertumbuhan menjadi dewasa" nyaris sama dan sulit dibedakan. Namun, jika kita sedikit saja lebih peka dan berpikir positif, dengan sangat mudah mereka dapat dibedakan.


Gue pernah bertemu seseorang, yang gue percaya lagi-lagi setiap pertemuan dengan orang baru pun bukan hal kebetulan, dia berusia lebih tua dari gue dan memiliki lebih banyak pengalaman di bidang yang kami geluti. Secara kami adalah dua insan yang berbeda, cara kami menghadapi sesuatu pun berbeda, tapi sudah banyak "makan asam garam" pun menjadi faktor penting dan berpengaruh di dalam menghadapi segala sesuatu.

Beberapa kali kami sering saling bercerita dan berpendapat tentang banyak hal. Gue pernah sangat ngotot kalo apa yang gue udah lakukan adalah paling benar, that's me and the way I deal with a thing. Namun, di matanya cara gue salah, lalu dia sampaikan pendapat juga sarannya. Gue bersikukuh dengan pendapat gue sendiri, dan menolak untuk "mejadi orang lain" dengan mengikuti sarannya yang engga "gue banget." However, that's not the end.

Gue mikirin lagi saran sekaligus kritik darinya dan tiba pada suatu pemahaman bahwa gue sudah terlalu tinggi membangun tembok hingga menutupi diri dari semua hal yang mungkin lebih baik efeknya buat diri gue sendiri. Saran dan kritikan dari orang lain yang lebih berpengalaman bukanlah pemaksaan untuk menjadi orang lain. Mereka telah beberapa langkah di depan gue, pernah melewati jalan-jalan yang saat ini gue lewati, dan tahu bagaimana baiknya melewatinya. Mereka justru sangat baik karena mau berbagi ilmu, bahkan mungkin sedang menolong kita agar tidak jatuh di jalan dimana dulu mereka pernah jatuh. Gue akhirnya berterimakasih pada teman gue itu dan berjanji untuk gak lagi ngotot dengan pikiran "gue mau jadi diri sendiri, gue engga mau jadi orang lain."

Setelah saat itu, gue mulai membuka pikiran dan menemukan anggapan yang keliru tentang "menjadi diri sendiri". Contohnya seperti ini, gue adalah orang yang lebih suka diam. Ketika di sebuah pertemuan besar membahas beberapa hal, sering kali gue menemukan ide, namun menyimpannya dan menyampaikannya ke teman dekat. Ketika ada orang lain yang bilang, "sampein aja di forum," gue akan menolak dengan malu-malu sambil bilang dalam hati "itu kan elo, gue kan engga gitu orangnya." Padahal yang sebenarnya adalah gue sudah terlalu lama membatasi diri gue pada kemampuan sebatas menyimpan ide, belum menyuarakannya. Gara-gara paham "gue emang gini orangnya" yang terlalu lama tertanam di kepala, perkembangan menjadi pribadi yang lebih baik pun terhambat.

Itu hanya satu contoh. Tanpa sadar, mungkin ada lebih banyak lagi hal-hal baik dan membangun yang sudah kita tolak gara-gara anggapan yang keliru tentang menjadi diri sendiri. Hati-hati ya, guys. Coba dipikirkan lagi, bisa jadi hal-hal yang kita anggap berusaha mengusik kita untuk menjadi orang lain bukanlah hal-hal yang harus ditolak mentah-mentah. Lo memang akan jadi orang lain, orang lain yang lebih baik dari sekarang.

Lalu, "menjadi diri sendiri" seperti apa yang benar? Benar dan salah bukan gue yang memutuskan. Namun, bagi gue, yang terpenting adalah tidak menutup diri dan membatasi diri dengan pikiran "gue ya gini orangnya." As time goes by, we should grow up, shouldn't we? So, open our mind and grow up. When you can be better than who you are now, why get stuck to be just you? Let's be better you! :)

Tuesday, June 30, 2015

Tiny Little Miracles

Kalau lo percaya, di hidup ini ada banyak sekali keajaiban kecil yang disediakan Tuhan, yang sedikit saja lo abaikan, dia menjadi hal biasa yang lo inget aja engga.

Gue, orang yang percaya dengan keajaiban-keajaiban kecil dalam keseharian. Yang gue maksud dengan keajaiban-keajaiban kecil dalam keseharian adalah segala sesuatu yang tidak disangka-sangka terjadi di dalam hidup dan membuat gue sontak amazed dengan semua yang sudah atau sedang terjadi itu. Ini bukan kebetulan, tetapi seperti ada sebuah rancangan lain di dalam rancangan yang gue buat sendiri sehari-hari. Did you get the point? Jadi, kayak ada "sesuatu" yang merencanakan "keajaiban-keajaiban" itu terjadi di waktu yang tepat.


Keajaiban-keajaiban kecil ini biasanya akan lebih terlihat atau terasa pada seseorang yang suka bikin agenda atau perencanaan, sebutlah an organized person. Jadi, ketika lo sudah membuat rencana atau agenda tentang apa yang akan lo kerjakan dalam sehari dengan sangat rapih, eh ternyata, ada hal yang tidak berjalan sesuai rencana lo, tapi pas lo pikir-pikir lagi ternyata hal yang tidak berjalan sesuai rencana lo itu justru like "a brilliant idea" dibanding apa yang udah direncanain sebelumnya. Something like a brilliant idea itu yang gue sebut "keajaiban kecil" dalam keseharian. Dan, gue percaya itu kerjaannya Tuhan, Pencipta semesta dan seisinya ini, yang sudah sangat baik, teliti, dan peduli sama lo, gue, kita semua. Hal-hal yang "missed" dari perencanaan, ditel-ditel yang lupa kita pikirkan, Tuhan tahu itu semua dan He is working on it, even in your best plan ever, you're never best in it anyway. But, God completes you. You must be amazed and thankful.

Jadi, beberapa keajaiban yang telah terjadi di hidup gue belakangan ini cukup lengket di memori dan memohon untuk ditulis. Tapi, gue pilih 2 kejadian aja yang paling terngiang-ngiang. Oh iya, karena gue menyebutnya keajaiban kecil, jadi ini memang kejadian kecil bahkan sepele, bukan suatu kejadian besar atau wow.

1. Keajaiban kecil pertama: Batik
Semalaman gue sudah merencanakan baju batik mana yang akan gue kenakan ke kantor di Jumat Batik esok hari. Ya, batik pemberian dari salah seorang teman kantor gue sendiri. Kenapa? Karena besok adalah Jumat Batik terakhir yang gue ikuti sebelum gue pindah bekerja. Gue belum pernah pakai batik dari dia sebelumnya dan ingin sekali pakai untuk besok. Alasan lainnya sederhana, gue berharap temen gue bisa lihat dan senang kalau gue pakai batik pemberiannya yang indah tersebut. Maka, gue pakailah batik itu esoknya. Aktifitas bekerja berjalan dari pagi hingga sore. Namun, sepanjang waktu bekerja tersebut, gue belum juga ketemu dengan temen gue itu, bahkan berpapasan aja belum, mungkin karena hari itu kesibukkan merajai kami. 


Gue sempat sedikit kecewa karena niat buat nunjukkin gue make batik dari dia engga kesampean, padahal ini Jumat Batik terakhir. Tapi, ya sudahlah, gue ikhlasin aja, yang penting niatnya udah baik, begitu pikir gue. Gue lalu bersiap pulang ke kost, tapi sebelumnya mampir ke ruangan teman dahulu untuk mengembalikan barang yang gue pinjem. Sesampainya di ruangan temen gue, orangnya malah engga ada. Lalu, berbelok arahlah gue untuk kembali ke ruangan. Di ujung koridor, tanpa disangka, temen gue yang ngasih batik ini sedang ngunci pintu ruangannya, bersiap pulang. Tersenyumlah gue dengan sumringah dan menghampirinya sambil memamerkan baju batik darinya. Dirinya balas tersenyum lebar sambil bilang "bagus!" Seraya menyusuri koridor bersama, gue ceritakanlah betapa hopeless-nya gue tadi karena gue pikir engga akan ketemu dirinya sama sekali hari ini dan gagal pamer batik, tapi ternyata engga. 

Hal-hal tak terduga di luar rancangan gue, yang nyaris seperti kebetulan, tapi gue sih percayanya Tuhan tahu dan peduli dengan niat gue (yang lumayan kekanak-kanakan) itu. Maka, terjadilah semesta mempertemukan gue dengan teman gue itu saat jam pulang bekerja. Cara bekerja Tuhan terhadap hal-hal kecil atau sepele yang bikin gue amazed itulah yang gue sebut "keajaiban kecil." Dan, keajaiban kecil selalu berakhir pada kebaikan bagi diri kita sendiri.


2. Keajaiban kecil kedua: Pesan Terkirim
Gue inget banget, gue pernah bersungut-sungut karena harus mengerjakan satu hal bersama dengan teman gue. Bukan temen gue yang ngeselin, tapi cara bekerja yang melibatkan orang lain untuk satu hal tersebutlah yang awalnya gue pikir menyebalkan dan ribet.

Jadi, gue harus mengirim email berisi PowerPoint hampir setiap minggu ke teman gue ini untuk membagikan apa yang gue sudah persiapkan. Begitu juga sebaliknya, dia kirim PPT ke gue. Berjalanlah terus seperti itu pola bekerja gue dan dia. Terkadang gue merasa pola bekerja seperti ini menghambat kelancaran dan kecepatan gue dalam bekerja. Tapi, tunggu dulu.


Ada satu hari dimana gue kehilangan semua data di flashdisk gue karena flashdisknya rusak. Semua data di dalamnya tidak terselamatkan. Gue dengan sangat jenius pun tidak pernah mem-backup semua data itu ke komputer kantor atau laptop gue yang udah uzur di kost. Padahal, gue memiliki tanggung jawab untuk membuat laporan dari setiap pertemuan yang harus segera dikumpulkan. Di sini gue merasa galau sebenar-benarnya arti galau.

Di saat galau dengan musibah rusaknya flashdisk, gue inget kalo gue bekerja barengan sama temen gue dimana gue selalu share PPT ke email dia. Berasa dapet duren mateng jatoh di ember, gue bisa menyelesaikan laporan berkat nge-scroll-down-in bagian Pesan Terkirim di email untuk menyimpan PPT-PPT lama. Ternyata, Pesan Terkirim ini sudah menjadi back-up beberapa data gue, bahkan data terpenting. Ngirim-ngirim email yang dulunya nyebelin itu sekarang jadi sangat membantu.

Dari kejadian ini, gue sangat bersyukur. Tuhan mampu membuat gue melihat yang tadinya "kenapa begini? kenapa begitu?" menjadi "UNTUNG begini, untung begitu." Lagi-lagi, gue dibuat terkagum dengan cara Tuhan campur tangan dalam hal-hal kecil dan sepele di hidup gue. Itulah "keajaiban kecil."


See? Those are examples of tiny little miracles that God made. Gue yakin, setiap orang pernah mengalami keajaiban-keajaiban kecil, baik disadari atau tidak disadari. Tuhan itu penuh kejutan dan manusia itu lemah sehebat apapun dia. Untung, Tuhan baik, makanya Ia turut terlibat di dalam setiap detik yang terjadi di hidup kita. Tapi, bukan berarti kita engga perlu lagi bikin perencanaan. Melainkan, teruslah membuat perencanaan dan bawa itu ke dalam doa. Inget, Tuhan itu baik, peduli, dan teliti.

Selamat menikmati dan bersyukur akan hal-hal kecil dan keajaiban-keajaiban kecil. Tuhan bersama kita. :)

Sunday, June 21, 2015

Don't Forget to Be Happy! (Meeting Up with Jenny and Meykke)

Apapun yang sedang terjadi di hidup lo, don't forget to be happy because you deserve to be happy. ;)

Salah satu hal yang membuat gue bahagia adalah bertemu dengan kawan-kawan lama. Lalu, bercerita tentang banyak hal dari mulai mengenang masa lalu bersama mereka sampai meng-update kabar terbaru di hidup masing-masing, seperti soal pekerjaan atau rencana ke depan.

Beberapa hari lalu, tepatnya Selasa, 16 Juni 2015, gue ketemuan dengan 2 kawan lama semasa perjuangan di bangku kuliah 2 tahun silam, Jenny dan Meykke. Kami dulu seangkatan di UKSW (Universitas Kristen Satya Wacana). Di jurusan yang sama, kami pun sempet sekelas untuk beberapa mata kuliah. Pun, kami berjuang bersama menempuh medan yang bernama "skripsi" dan puji Tuhan lulus pun di tahun yang sama.

Gue percaya engga ada yang kebetulan, termasuk bagaimana akhirnya kami bertemu setelah 2 tahun lamanya tak bersua. Serunya lagi, kami bertemu di Jakarta, kota yang tak pernah kami duga menjadi titik pertemuan kami yang pertama, kota yang selalu sibuk dengan segala rutinitas penduduknya. Di antara kesibukan itu, kami akhirnya bertemu. Meski hanya beberapa jam karena Jenny harus segera menuju stasiun kereta untuk kembali ke Semarang, namun beberapa jam itu lebih dari cukup untuk mengobati rasa kangen dengan cerita dan foto-foto.


Saat itu Jenny sedang berlibur beberapa hari di Jakarta, Meykke pun sedang libur dari pekerjaannya di Cibubur, gue juga lagi libur di Depok. Waktu yang sangat pas untuk mengusahakan pertemuan bukan? Maka, Atrium Senen siang itu menjadi meeting point kami. Kami mencari lokasi yang tidak terlalu jauh dari Stasiun Senen.

Ada yang bilang "kalo di Jakarta itu masa muda kita bisa abis di jalan," gue mengartikannya dengan "lama di jalan." You know, Jakarta yang super padat, macet di sana-sini, jadi sepertinya sebagian penduduk Jakarta udah biasa menghabiskan waktu berjam-jam di jalan untuk menuju ke suatu tempat. Jadi, begitulah yang juga gue dan Meykke alami demi pertemuan yang langka ini. And, that was paid off by our fun gathering. ^^

Gue ditemani dengan adik yang saat itu juga mau beli buku tiba paling terakhir. Kami berempat langsung menuju Es Teller 77 untuk mengisi perut dan memulai saling bercerita banyak hal. Di sinilah kebahagiaan itu. Meng-update kabar dari temen-temen lama dengan sangat seru karena tentunya banyak tantangan sudah kami lewati dalam 2 tahun kami menempuh jalan masing-masing selepas kuliah. Betapa bersyukurnya! :)

Ngopi. Ini kegiatan yang paling gue senangi, apalagi kalau ditambah dengan teman-teman lama sepaket dengan cerita-ceritanya. Di perhentian kedua ini, kami pun saling bercerita dan mendengar. Dan, satu hal yang teramat wajib, orang-orang menyebutnya "groufie" atau "wefie," nama lain dari selfie rame-rame. None is taking a picture of something they want to forget. Therefore, we were so excited that we took lots of groufies, and we did want more gatherings like this with the other college friends.


Pukul 1 siang, temu kangen kami mau tak mau harus disudahi. Peluk hangat mengantar Jenny yang saat itu harus segera kembali ke kost mengambil barang-barangnya, lalu menuju stasiun Senen. Sedih hanya bisa berjumpa beberapa jam, tapi bersyukur karena masih bisa berjumpa di sela-sela rutinitas kami. See you in another time, Jenny. I miss you already. :'))

Meykke, gue, dan adik gue lalu menuju ke tempat lain, tujuan utama adik gue tepatnya, tapi berhubung gue dan Meykke juga suka baca jadi kami dengan bersemangat menuju ke Pasar Buku Senen di dekat Terminal Pasar Senen. Kami hanya perlu berjalan kaki sebentar dari Atrium Senen untuk ke sana.
Setibanya di sana, berjejer rapi kios-kios dengan tumpukan-tumpukan buku yang menjulang tinggi. Wah! Gue bertanya-tanya dalam hati, berapa banyak buku yang sudah para pedagang buku tersebut baca ya? Siapa duga, mereka bisa jadi berwawasan sangat luas. Tawar menawar pun terjadi dan kami berhasil memboyong beberapa buku yang tak sabar untuk dibaca. Selesai dengan belanja buku, gue harus berpisah dengan Meykke. It's been a good day with you, Meykke. See you next time. :')) *soundtrack: See You Again mengalun di dalam kepala.*

Gue sangat bersyukur hari itu bisa bertemu mereka, Jenny dan Meykke. Perjalanan yang kami saling ceritakan saat bertemu tadi pun menunjukkan betapa Tuhan sangat baik sudah memelihara kehidupan kami sampai saat ini. Sampai ketemu lagi ya. I'm looking forward to meet you guys again and the other college friends too. Keep in touch! Don't forget to be happy because you deserve to be happy. God bless us as always. :)

Wednesday, June 10, 2015

Kotoran Kambing Tetaplah Kotoran Kambing

Aku sudah kenyang. Kenyang dengan pemanis-pemanis buatan. Tak hanya kenyang, ini sudah sampai level muak. Ya, segala sesuatu yang berlebihan memang tidak baik, termasuk pemanis buatan yang berlebihan. Sebagai penikmat kehidupan, aku tak bisa mengatur kadar manisnya karena tugasku hanya menikmati apa yang disajikan oleh kehidupan ini.

Semua itu tergantung sudut pandang, ada yang bilang. Semua, entah itu masa-masa sulit atau hal-hal yang menyenangkan. Memang iya, semua tergantung penikmatnya. Kotoran kambing pun terlihat baik dan bermanfaat jika dipandang sebagai salah satu komposisi pupuk yang baik untuk tanaman. Dalam sudut pandang lain, kotoran kambing pun akan terlihat menjijikan dan kotor jika dipandang sebagai makanan. Namun, kotoran kambing tetaplah kotoran sebagaimana dia diciptakan. Sebaik apapun ia dipindang, kotoran kambing tetaplah kotoran kambing.

Hal-hal buruk pun tidak akan begitu menyiksa jika kita berhasil memandangnya sebagai hal yang tidak menyiksa. Yang membuatmu tersiksa akan sesuatu ialah dirimu sendiri yang menganggap atau membiarkan hal itu menyiksamu, ada yang bilang. Tapi, ada yang berbeda dengan ketidakadilan. Dari segala sudut pandang, bagiku, ketidakadilan bukanlah hal yang bisa dikategorikan ke dalam hal yang baik atau yang dinikmati saja atau yang dijalani saja. Memang bisa hal itu dianggap "biasa saja" namun ingatlah kotoran kambing tetaplah kotoran kambing sebagaimana dia ada. Oleh karenanya, aku percaya bahwa ada beberapa hal buruk di kehidupan ini yang tidak bisa dianggap atau dipandang wajar atau umum atau biasa atau dinikmati saja. 

Hei, kau penikmat kehidupan. Cara menikmati kehidupan bukan menikmati segala yang baik dan buruk menjadi hal-hal yang nikmat-nikmat saja. Pun, cara memandang kehidupan bukanlah memandang yang buruk menjadi baik-baik saja. Itu bukan menikmati ataupun memandang positif, itu membiarkan! Jika suatu saat bangsa ini menjadi bobrok dan hancur (resiko dalam skala besar), jangan kau memaki-maki dan bersungut-sungut, karena kau bagian di dalamnya yang membiarkan segala hal yang buruk itu terjadi begitu saja, bahkan kau nikmati keberadaannya, atau malah kau sedang melestarikannya. Jika kau tidak merasa di dalamnya, bersyukur dan lanjutkanlah. Jika kau sadar berada di dalamnya, bertobat dan bersuaralah melawannya. Tuhan tidak tidur. Tuhan tidak diam. Tuhan tidak bodoh.

Wednesday, February 11, 2015

Dimana Tuasnya?

Terlalu ramai.
Aku harus menghindar.
Terlalu bising.
Aku perlu ketenangan.
Bahkan saat tiba di sana,
di dalam kepala masih saja bicara.
Aku bertanya-tanya,
Kenapa kepalaku terus berbicara?
Aku bingung,
Ada apa di dalam kepalaku?

Dimana tuasnya?
Tuas untuk menghentikan semua suara
Kok rasanya susah mengontrol pikiran sendiri

Ah, mungkin hanya perasaan saja
Tapi, nanti begitu lagi
Jadi, ini hanya perasaan atau memang ada yang salah?

Monday, January 26, 2015

Nyapa Blog Aja

Udah lama banget gak nulis, keyboard jadi kaku-kaku. Engga ada topik khusus yang mau gue tulis sih. Makin lama blog ini makin mirip kayak kotak saran di restoran-restoran deh. Diisi kadang-kadang, tapi toh jarang juga dilongok. Iya, dilongok sama bloggernya sendiri. Oke, gue tau, blog gue pasti udah jengaaaaaaah soal gue yang minta maaf karena jarang ngeblog.

Sore ini, entah sore yang keberapa dari Senin yang kesian yang udah gue lewati sebagai seorang manusia yang udah engga terbilang baru lagi menjejaki dunia pekerjaan. Ya, sore yang rasanya masih sama seperti awal-awal gue lompat dari anak kuliahan ke anak kerjaan (anak kerjaan? ya you know what I mean lah :p). Jadi, karena rasanya masih sama, gue mau berterimakasih pada Pencipta yang mengizinkan banyak cara terlintas di otak gue untuk tetap maju, melewati hari demi hari, menghitungnya.

Pertama, terimakasih pada MP3 di ponsel yang akhir-akhir ini lebih sering gue denger, teristimewa untuk sederet lagunya abang ganteng John Mayer, Duo Couplenya Endah 'n Rhesa plus Banda Neira, juga Mocca, dan tak lupa abang Tulus dan Buble. Dengerin musik bisa mengalihkan pikiran gue dari momok yang itu-itu aja ke hal-hal lain, sangat membantu pula untuk merilekskan saraf-saraf yang kayaknya saling tarik persis main tarik tambang, itu dia gue takut ada saraf yang putus aja, hahaha. Untung ada musik. Bersyukur banget, gue yang engga jago nyanyi dan cuman bisa main suling sama keyboard kadang-kadang, bisa sangat menikmati musik. Gue sangat mensyukuri keahlian gue sebagai penikmat musik. Iya, modalnya cuman kuping sama hati aja. Haha.

Kedua, tentunya ucapan terimakasih teriring pada bercangkir-cangkir kopi yang gue minum. Sangat membantu. Emang sih kopi itu engga membantu gue buat engga tidur, tapi membantu untuk menenangkan pikiran dan hati. Seandainya air putih itu kopi.

Ketiga, menulis. Wahai pikiran dan jemari yang berkolaborasi dengan cantik, terimakasih ya. Gue merasakan betul kalo menulis itu menyembuhkan. Emang! Emang engga 100% menghilangkan penyakit. Itu mah lo ke dokter lah. Tapi, menulis itu membantu untuk menuangkan perasaan dan pikiran yang mau gue tuang. Sama kayak termos yang keisi kopi panas terus-menerus, sayang kalau kopinya dibuang, jadi harus ada wadah buat menumpahkan luberan kopi yang udah berlebihan tersebut. Yang pasti, setiap habis nulis, gue merasa lebih baik, meskipun gue harus berjuang untuk menyaring penggunaan kata-katanya. Sebenernya itu agak mengganggu, tapi kalau engga disaring, mungkin bakal kebaca terlalu pait.

Keempat, lawak. Diberkatilah para komedian atau pelawak di acara-acara TV, berkat mereka gue engga lupa caranya ketawa loh. Terimakasih!


Monday, December 15, 2014

Saat Gue Ngomongin Cinta

Ini memang bukan bulan Pebruari sih, tapi engga ada salahnya kan kalo gue ngomongin cinta di bulan Desember? Bukan kah cinta itu engga mengenal bulan, hari, bahkan detik? Asik banget ye bahasa gue. Haha. Oke, gue engga akan membawa topik "cinta" sebagai sesuatu yang pelik dan teoritis kok. Gue hanya lagi terinspirasi aja dengan sebuah film yang belakangan ini gue tonton. Engga akan gue sebut judul filmnya apa karena gue mau mencoba untuk menghargai setiap karya di negeri tercinta ini, entah itu karya dilatarbelakangi semata-mata oleh profit atau pure karya sastra yang dipersembahkan dari pelosok hati paling dalam, tanpa menaburkan serbuk opini gue ke dalamnya. Biar setiap orang menikmatinya sendiri.


Sebagai seorang penonton bioskop yang awam soal sastra dan.... cinta, gue cukup dibuat berpikir soal cinta ketika nonton film tersebut. Seakan-akan cinta adalah sebuah kumpulan benang ruwet yang sulit sekali diurai. Mungkin memang dia diciptakan bukan untuk diurai, tapi untuk dinikmati keindahannya sebagai benang ruwet.

Mungkin faktor usia juga kali, gue yang menginjak 20an engga begitu memusingkan soal cinta dan belum banyak tahu mengenai sederet teori tentang cinta. Emang ada ya teori cinta? Lalu, apa bedanya cinta dengan Matematika? atau cinta dengan Biologi? Gue hanya ngeri semakin seseorang memikirkan cinta dengan begitu rumitnya, ia malah lupa kalau tidak ada yang memintanya untuk mendefinisikan "cinta", melainkan melakukannya.

Nah ini, gue memandang cinta sebagai sesuatu yang sederhana dan ajaib. Sederhana bukan berarti bisa memainkan perasaan orang lain atas nama cinta atau merusak kesucian cinta atas nama cinta. Cinta engga pernah semurahan itu gue rasa. Sederhana sekaligus ajaib karena kita engga perlu mengenyam pendidikan setinggi menara Eiffel dulu demi memiliki, melakukan, menikmati, dan membagikan cinta. Semua orang dari kalangan manapun, siapapun dia, punya cinta di dirinya. Semua orang memiliki cinta di dalam dirinya. Ada yang hidup, tapi sayangnya juga ada yang tidur, parahnya lagi ada yang sudah mati, mati suri. Ya, gue percaya orang yang bilang kalau cinta di dalam dirinya sudah mati sebetulnya cintanya hanya sedang mati suri.

Film, buku, bahkan pengalaman orang-orang di sekitar gue cukup menjadi bukti kalau gue bisa ngomong "kenapa cinta jadi rumit ya?" Padahal, cinta adalah sesuatu yang sederhana dan dimiliki siapapun, lalu kenapa jadi rumit ya? Wait, sebetulnya yang rumit itu cinta atau manusianya? Gue emang tipe orang yang males mikir, tapi gue yakin kok yang bikin cinta jadi ribet ya manusia itu sendiri. Gini, kalau ada seorang istri muda yang selingkuh karena merasa suami dan maligai rumah tangganya tidak seindah dan semenyenangkan bayangannya, salah siapa? Siapa yang suruh ngebayangin yang berlebihan ketika kita tahu kalau kita engga pegang kunci masa depan? Jangankan kuncinya, bahkan masa depan pun engga punya jendela yang bisa dilongok orang.


Kalau cinta sama seseorang, ya tunjukkanlah. Kalau perlu, dikatakan ke orang tersebut. Tapi, kalau kau tak ingin orangnya tahu, ya nikmatilah keputusanmu untuk cukup mencintainya diam-diam. Kau sedang mencintai orang lain kan, bukan mencintai dirimu sendiri? Lalu, kenapa harus setres kalau orang yang kau cintai tak membalas cintamu atau tidak mencintaimu? Cinta yang tulus itu tidak pernah mengenal timbal balik atau balas membalas.

Kalau tidak cinta, kenapa kamu menerimanya saat dirinya mengajakmu jadian? Kalau tidak cinta, kenapa menikah dengannya? Kalau tidak cinta, kenapa pura-pura mencintainya dan bertahan dalam hubungan yang kamu sendiri engga tahu gimana ujungnya? Kalau cinta, kenapa mundur saat tahu orang tuanya tidak menyetujui hubungan kalian? Kalau cinta, kenapa harus malu dengan kebiasaan joroknya, dengan fisiknya, dengan kekurangannya?

Cinta itu anugerah. Tidak seharusnya gara-gara dia, hidup seseorang atau dua insan nelangsa. Kalaupun ada orang yang berkorban demi cinta, mungkin bagi orang lain dia menderita, tapi coba tanya hatinya, bisa jadi dia adalah orang paling bahagia sedunia karena sudah memberikan yang terbaik untuk orang yang ia cintai. Dan, satu lagi, kalau cintamu pada Tuhan jauh lebih besar dari apapun, kenapa masih memusingkan "cinta tapi beda"?

Tuesday, September 30, 2014

3 Alasan Rendah Diri itu Oke

Pernah ga ngerasa "Gue ini apa? Gue engga lebih dari seonggok daging bernyawa yang bisa jalan dan ngupil dengan handal. Bahkan upil gue aja bisa jadi lem, sementara gue merekatkan hatinya dengan hati gue aja gak bisa..." Oke, kalimat yang terakhir itu emang lebay. Gue serius, pernah ga lo ngerasa diri lo itu gak bisa diandelin, gak bisa apa-apa, cemen lah pokoknya? Pernah gak lo ngerasa gak guna, gak bisa jadi orang wow yang bisa melakukan atau menciptakan hal-hal yang wow? Pernah gak lo merasa diri lo gak lebih baik dari upil yang ternyata ada manfaatnya juga buat ngelem? Gue, pernah.

Satu istilah yang bisa mendeskripsikan wacana di atas, "rendah diri." Hal ini adalah momok hancurnya seseorang jika dibiarkan berlama-lama di dalam pikiran, perasaan, dan hidupnya. Masih mending juga nyimpen upil, daripada nyimpen "rendah diri" lama-lama. Kok dari tadi upil mulu ya? Ya, mungkin karena upil itu kasian, jarang dibangga-banggakan, gue cuma gak pengen aja dia jadi rendah diri. :(

Oke, jadi gue termasuk orang yang pernah rendah diri. Bahkan, sampai sekarang perasaan tersebut sesekali datang. Rasanya engga enak lho, seperti ingin melakukan sesuatu tapi terbentur dengan tembok yang dibangun sendiri. Gegara rendah diri kreativitas dalam berkarya jadi terhambat.

Bagi gue, rendah diri adalah merasa diri rendah. Rendah itu berarti berada di posisi bawah dari yang lebih tinggi. Merasa diri sendiri itu payah, tidak mampu, dan tidak percaya pada diri sendiri kalau bisa berbuat lebih dari yang dipikirkan.

Kalau bicara rendah diri sebenarnya ada banyak jenis rendah diri. Entah itu rendah diri dengan kemampuan, rendah diri dengan penampilan fisik, dan lain-lain. Kali ini, yang gue fokuskan lebih ke rendah diri dengan kemampuan. Tapi, kalau ada manfaatnya juga untuk kamu yang rendah diri dengan penampilan, sok atuh seraplah manfaatnya. :)

Seseorang yang rendah diri itu cenderung tidak sombong. Yaiyalah. Apa yang mau disombongin wong dia sendiri engga percaya sama dirinya. Tapi, jangan salah, orang yang rendah diri sebenarnya juga menyimpan kesombongan luarbiasa karena dia hanya berfokus pada kelemahan dirinya, engga terbuka dengan pertolongan-pertolongan di sekitarnya yang dapat membantunya maju, contoh pertolongan Tuhan.

Well, at the first time memang gue mendukung banget kalau rendah diri itu perasaan negatif yang engga bagus dipelihara. Namun, di sisi lain, ada baiknya gue merasa rendah diri. Kenapa? Bukan karena akhirnya gue bisa temenan sama upil karena merasa senasib, tapi karena alasan-alasan berikut, setelah pariwara yang satu ini..... *Eh, malah iklan. Maap. Berharap kalau pas nulis dibayar karena ada iklan lewat :p*

Alasan pertama. Tadi kan gue bilang kalau orang yang rendah diri itu sebenarnya sombong karena tidak terbuka dengan pertolongan-pertolongan Tuhan di sekitarnya. Nah, this is my point. Mengusir rendah diri itu engga semudah meniup gumpalan pasir di telapak tangan. Butuh proses. Salah satu bentuk proses adalah dengan terbuka. Seorang rendah diri yang sudah dan sedang terus mengalami pertumbuhan biasanya mulai peka melihat pertolongan-pertolongan di sekitarnya yang dapat membuatnya menjadi lebih baik. Jadi, rendah diri itu masih ada dengan kadar yang mulai berkurang. Pointnya adalah rendah diri menolong kita untuk peka dan terbuka menerima bantuan-bantuan dari Pencipta melalui ciptaan-ciptaanNya.

Alasan kedua. Rendah diri itu perlu agar kepala kita engga besar. Bukan literally, maksudnya adalah agar tidak sombong. Menyadari diri ini tidak ada apa-apanya dan perlu bantuan menolong kita untuk mengakui bahwa jika sesuatu yang baik berhasil kita kerjakan berarti itu bukan hasil kerja keras kita semata. The first point will always go to The Lord. Indeed. Karena pertolongan Tuhan melalui banyak hal di sekitar lah yang menolong dan memampukan kita mengerjakan atau menyelesaikan sesuatu. So, kita engga seharusnya membanggakan diri berlebihan karena tanpa campur tangan Tuhan hal-hal tersebut tidak akan terjadi atau selesai.

Alasan ketiga. Grace and grateful. Mereka bukan nama calon anak-anak gue nanti, tapi bagus juga ya buat jadi nama anak, hihihi, oke salah fokus. Well, as what i said before, jika kita yang rendah diri ini berhasil mengerjakan atau menghasilkan sesuatu berarti ada campur tangan Tuhan sehingga kita engga berhak sombong. Nah, in that case, we will see God's grace yang telah menolong kita melalui banyak perkara. Anugerah Tuhan dong kalau kita yang minder ini ternyata bisa melalui banyak perkara dengan baik dan masih bernafas. Anugerah adalah pemberian yang diberikan secara cuma-cuma dan tulus kepada orang yang engga layak menerimanya. Balik lagi, siapa sih kita? sering kali bahkan diri sendiri aja merasa engga lebih baik dari upil, emang layak dapat pemberian? Toh kalau kita dapat anugerah itu pasti karena Tuhan sendiri yang emang dasarnya penuh kasih dan mengasihi kita yang lemah ini. So, karena anugerahNya kita bisa mengerjakan banyak hal, melewati banyak tantangan, dan menjadi lebih baik. Bersyukurlah! Bersyukur karena bisa mencicipi manisnya kasih Tuhan dalam hidup kita. :)))

Merangkum semua alasan di atas, rendah diri menjaga kita untuk tetep menundukkan kepala mengingat siapa kita sesungguhnya dan memandang ke atas melihat, memohon, dan mensyukuri Pribadi yang sudah dengan penuh kasih menolong kita.

Jadi, siapa yang masih rendah diri? Rendah diri oke selama itu membuat kita semakin dekat dengan Pencipta. Ketika kita memiliki hubungan yang baik dengan Pencipta, kita tahu arah mana yang harus dituju dalam hidup ini. Logis bukan? Emang Allah itu luarbiasa. :)

i am just bored with similarities in routines

The sexiest reason for me to go home fast is my bed because i am so sleepy.
But, sometimes you want more than a bed. Am i right?
Something which is alive. Well, English has a term for it, "someone."
Is it clear enough?
No, i am not in the mood of finding mr. right as soon as possible.
I just feel bored with my bed, my room, my usual activities, my common zone.
That's comfort, but common.
I am in the mood of looking for differences out of my routines.
It's totally boring when you get up early in the morning, sometimes 5 or 10 minutes late.
Then, you take a bath in hurry.
You get dressed.
You say to the mirror that "you are awesome! today is gonna be a great day!"
Then, you go. You work.
You face your stuff.
You see the clock and wanna kill it for you are missing your bed so bad.
Then, you sleep.
Those daily things officially happen in most of the days in a week. Whatta!
So, here it comes. That feeling.
Am i the one and only person that feels bored towards routines and similarities on earth?
Or are you with me?
So you know what, at this point, i suggest you that please, laugh at your mistakes.
Mistakes happen to break the routines. You know, i mean mistakes which are under your good responsibility as human beings. human beings, not animals.
I am writing this for no special reasons, unless..
I just want you my reader(s) to know my "unique" feeling right now.
I am writing for taking my medicine to beat this feeling.
Ya, my blog. This is home. This is my medicine. This is my loyal listener.
A place that i will always come back.
I love you, blog.

sorry for you who accidentally read this posting till the end that it is not beneficial at all for you. but, thank you to listen to my words, my feeling. :)

This World is Lullaby

i have to still be awake
my eyes must keep opened
this world is lullaby
but if i sleep on it, i die.

some sleep on it, they're insane
they forget to wake up
this world is more than sleeping pills
it's a tender bed
once you lay on, forever you will sleep

this world is so nice
it is an apple with poison

we have to still be awake
our eyes must keep opened
this world is lullaby
but if we sleep on it, we die.

Thursday, August 28, 2014

aku ingin merdeka!

aku ingin merdeka!
merdeka dari beban di pundak.
merdeka dari kata-kata mereka.
merdeka menjadi apa adanya.
merdeka dari rasa terpaksa.
merdeka dari harus begini, begitu.
aku ingin merdeka untuk berkarya!
dengan apa yang kubisa
dengan diriku seutuhnya aku
tanpa topeng
tanpa tameng
tanpa menjadi orang lain!
aku ingin merdeka!
merdeka tertawa
merdeka membantu sesama
merdeka bersedih
merdeka menguras keringat
menjadi biasa aja. ya, aku ingin jadi biasa saja!
cukup dengan indomie, aku rela.
tak perlu makanan eropa yang selangit harganya.
cukup indomie saja.
aku ingin merdeka!
merdeka menjadi aku.
bukan menjadi yang mereka mau.
bukan dengan cara-cara untuk menopang wibawa.
bukan dengan upaya-upaya agar dihargai.
lihatlah mereka yang melukis.
ada tidak adanya pujian, tetap melukis.
ada tidak adanya cacian, tetap berkarya.
panas dingin, hujan badai, tetap melukis.
menumpahkan seluruh dirinya di atas kanvas.
menggapai kepuasan dengan menjadi diri sendiri.
persetan dengan menjadi orang lain tuk topang wibawa.
aku tidak perlu.
tidak perlu!

Waspada Gudang Celotehan Bajakan!

Belakangan ini gue iseng buka blog gue setelah sekian lama gak terjamah. Gue iseng aja ketik keyword "Gudang Celotehan" di Googl...